ANOMALI SOSIAL DAN BUDAYA (Analisis Akar Penyimpangan Sosial Budaya di Indonesia dalam Beberapa Pendekatan dan Teori)

Standar

ANOMALI SOSIAL DAN BUDAYA

(Analisis Akar Penyimpangan Sosial Budaya di Indonesia dalam Beberapa Pendekatan dan Teori)

Oleh

Lalu Murdi

a.  Latar Belakang

Fenomena sosial dewasa ini banyak sekali yang membuat kita harus berpikir ulang (rethinking) pada masa lalu bangsa ini. Masyarakat Indonesia saat ini ditandai oleh masalah sosial multidimensi, mulai dari masalah ekonomi, pendidikan sosial dan budaya, membangkitkan analisa yang tidak sedikit untuk dapat menjelaskan bagaimana latar belakang, proses dan jalan keluar dari krisis multidimensi tersebut yang tidak sedikit pula. Mulai dari sejarawan yang melihat masa lalu masyarakat kita, sosiolog yang mencari akar permasalahan sosial saat ini, para psikolog yang mencari penyebab dari faktor kejiwaan, sampai pada penjelasan keagamaan oleh para tokoh agama dalam melihat fenomena yang sama. Namun dengan keterlibatan penjelasan dari beberapa disiplin ilmu di atas dapat memberikan pembelajaran pada masyarakat kita menjadi lebih baik?

Terlepas dari bagaimana dan dari sudut pandang mana para ahli seperti contoh di atas melihat dan mengkaji fenomena sosial baik dalam kesejarahannya untuk dapat menjelaskan keadaan sosial saat ini, struktur yang membentuk masyarakat dan paradigma dominan yang dianut masyarakat, yang paling jelas adalah bangsa kita yang dahulunya menurut Profesor Mestika Zed sebagai bangsa yang beradab, memiliki sopan santun, damai dan tenang, atau dengan kata lain masyarakat yang tetro tentem karto raharjo, kini hampir sudah tidak lagi menjadi ciri has masyarakat yang ada di negeri kita tercinta ini.

Pembunuhan terjadi dimana-mana, pemerkosaan, pencurian, mutilasi, bentrokan antar kelompok masyarakat, konflik sosial antar suku dan agama, dan lain sebagainya merupakan contoh dari memudarnya keIndonesiaan seperti yang digambarkan di atas. Dalam bidang pendidikan yang notabenenya sebagai pencetak generasi yang berpengetahuan, berilmu, berahlak mulia kini tidak lagi melangkah pada koridor tersebut, bahkan jauh bertolak belakang dari hasil yang diharapkan dari hasil (output) dari pendidikan tersebut (meskipun tidak untuk menggeneralisasikan semuanya). Hal ini bukan saja terjadi pada tingkat SD, SMP dan SMA, namun sampai pada Perguruan Tinggi (PT). Mulai dari tawuran pelajar, kecurangan dalam ujian, banyak pendirian yayasan yang hanya bertujuan hanya untuk mendapatkan dana, sex bebas, politisasi pendidikan, pembunuhan mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah seperti yang terjadi di UNM, pembelian nilai, guru yang menyiksa muridnya, seorang guru yang merusak masa depan siswinya, orang tua membunuh anaknya, dan banyak sekali masalah yang menjadikan bangsa ini semakin beragam permasalahan adalah warna tersendiri saat ini dari bangsa berpenduduk muslim terbesar di dunia ini.

Belum lagi pada ranah pemerintahan yang tidak kunjung membaik, para anggota DPR yang hidup bermewah-mewahan, korupsi yang sudah tidak terbendung, mulai dari kasus Wisma Atlit baru-baru ini, sampai pada Wisma Alit dalam sindiran dalam liputan 6 Award di SCTP, para anggota DPR yang bukan hanya adu mulut dengan saling menghina, mengungkap keburukan sampai pada saling tinju, perselingkuhan, dan banyak sekali penyimpangan yang terjadi di dalamnya, sekali lagi dalam hal ini sedang mewakili beberapa refresentasi dari pemerintahan kita di Indonesia.

Melihat semua fenomena di atas, satu kata yang bisa kita dapatkan di dalam konteks gejala tersebut adalah adanya anomali sosial budaya bangsa Indonesia tersendiri yang dahulunya dikenal dengan bangsa yang beradab, berbudaya, damai, tentram, ramah, dan lain sebagainya.

a.  Beberapa Contoh Anomali Sosial dan Budaya di Indonesia Saat ini.

Pada dasarnya tidak ada masyarakat yang tidak berubah, walaupun dalam tarap yang paling kecil sekalipun, masyarakat (yang di dalamnya terdiri atas banyak sekali individu) akan selalu berubah. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan kecil sampai pada taraf perubahan yang sangat besar yang mampu memberikan pengaruh yang besar pada aktivitas atau perilaku manusia. Perubahan dapat mencakup aspek yang sempit maupun yang luas. Aspek yang sempit dapat meliputi aspek perilaku dan pola piker individu. Aspek yang luas dapat berupa perubahan dalam tingkat struktur masyarakat yang nantinya dapat mempengaruhi perkembangan masyarakat di masa yang akan datang (Nanang Martono, 2011: 1).

Oleh sebab itu, karena kini kita berada pada masa yang sangat indah dan semuanya serba instan, namun sekaligus membingungkan. Masyarakat tidak lagi mengindahkan norma-norma  sosial yang sebelumnya menjadi kebanggaan dan ciri dari masyarakat kita, pendidikan tidak lagi sebagai agen pembentukan karakter masyarakat yang semakin membudaya, dan pemerintahan yang notabenenya dianggap orang-orang yang berkarakter ternyata jauh panggang dari pada api. Karena itu, hampir di segala lini kehidupan kita dalam bermasyarakat, beragama, dan berbngsa sedikit demi sedikit mengalami perubahan. Apakah perubahan tersebut menuju perubahan yang lebih baik atau sebaliknya? Tergantung dari perspektif mana kita melihatnya.

Namun yang jelas, perubahan dalam bentuk apa pun merupakan tantangan bagi ilmuan untuk dapat mencari jalan keluar dari permasalahan perubahan jika mengarah pada perubahan yang negatif dan pemberian gambaran keuntungan jika menuju arah perubahan yang positif. Gejala perubahan adalah gejala sosial dan budaya, karena itu dalam perspektif ini perubahan yang ingin kita lihat adalah perubahan dalam perspektif sosial dan budaya tersebut, terutama yang menyimpang dari norma-norma, adat-istiadat, kebiasaan, agama, yang pada intinya di dalamnya terdapat anomal sosial dan budaya.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka kita bungkus konsep pembahasan ini dengan istilah “Penyimpangan Sosial” atau anomali. Karena semua gejala sosial tadi tergolong pada anomali itu sendiri, selain itu juga secara umum para ahli tampaknya sepakat jika tindakan kelompok orang yang suka minum-minuman keras, penggunaan narkoba, pemerkosaan, perilaku seks bebas, orientasi seks yang salah, pencurian, kekerasan, perjudian dan pembunuhan, dapat dikatakan sebagai bentuk penyimpangan. Tindakan menyimpang yang dilakukan orang-orang tidak selalu berupa tindakan kejahatan besar, seprti merampok, korupsi menganiaya, atau membunuh. Melainkan bisa pula berupa tindakan pelanggaran kecil-kecilan, semacam berkelahi dengan teman, suka meludah di sembarang tempat, berpacaran hingga larut malam, dan makan dengan tangan kiri (Setiadi & Kolip, 2011: 187-188).

Karena itu dalam hal ini kita akan mencari latar belakang dari beberapa perubahan yang dampaknya di rasakan negatif dalam kehidupan kita bermasyarakat, beragama dan bernegara, dengan mencari sebagian kecil dari contoh kasus yang belakangan ini terjadi, pada bagian ini hanya sedikit sekali contoh yang akan kita pajangkan, namun pembicaraannya nanti akan lebih luas. Beberapa kasus tersebut sebagai berikut:

Pertama. sex bebas pada siswa. Seks bebas, sudah menjadi hal ‘biasa’ di kalangan pelajar apalagi mahasiswa. Baik atas dasar cinta ataupun motif ekonomi. Mengenai hal ini, dalam beberapa kesempatan saya sering ngobrol dengan teman atau warga terutama yang dekat dengan fenomena ini, terutamanya lagi yang terjadi di kalangan pelajar (siswa SMA dan setingkatnya).

Menurut penuturan beberapa kawan, ada beberapa siswa yang di DO (drop out) atau dikeluarkan dari sekolahnya karena hamil diluar nikah atau ada juga yang bahkan terbukti melacurkan diri ke om-om atau lelaki hidung belang (untuk di daerah… wow tarifnya ternyata luar biasa tinggi loh..)

Mari kita luruskan dulu sejenak, di tulisan curahan dari Pojok Redaksi ini saya tidak akan membahas mengenai tarif dan bagaimana perilaku seks dikalangan remaja ataupun pelajar. Namun, disini saya secara pribadi ingin sedikit mengkritisi tentang nasib mereka (para pelajar) yang sudah ketahuan.

Ya, rata-rata ketika pelajar ketahuan berbuat asusila baik itu terbukti hamil di luar nikah, terbukti melakukan seks diluar nikah melalui foto atau video amatir, atau bahkan beberapa ada yang dijebak oleh gurunya sendiri sehingga mengakui perbuatannya-  (si guru pura-pura menjadi pelanggannya) dll. Maka, tindakan ‘umum’ yang selama ini dilakukan khususnya oleh pihak sekolah adalah menghukum siswi atau siswa yang bersangkutan dengan mengeluarkannya atau men D.O nya dari sekolah. Melanggar aturan sekolah dan mencemarkan nama baik sekolah, kira-kira seperti itu alasannya. (diambil dari http://aksesdunia.com)

Kedua. Kekerasan terhadap anak. Kekerasan terhadap anak ternyata masih terus terjadi. Setiap hari ratusan ribu bahkan jutaan anak Indonesia mencari nafkah di terik matahari, di kedinginan malam, atau di tempat-tempat yang berbahaya,ada anak yang disiksa orangtuanya atau orang yang memeliharanya. Setiap malam, di antara gelandangan ada saja gadis-gadis kecil yang diperkosa preman jalanan, Setiap menit ada saja anak yang ditelantarkan orangtuanya karena kesibukan karier, kemiskinan, atau sekedar egoisme.  Mereka tidak masuk koran karena mereka tidak mati tiba-tiba. Umumnya mereka mati perlahan-lahan.  Mereka tidak muncul dalam media karena perlakuan kejam yang mereka terima tidak dilaporkan polisi.

Tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak masih sering terjadi. Data laporan K3JHAM selama tahun 2000 di Kota Semarang terjadi 29 kasus perkosaan yang terpublikasi, jumlah tersebut terbesar terjadi di antara 29 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang terlaporkan perempuan. Kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terpublikasi 26 kasus. Demikian juga kasus kekerasan terhadap anak secara kualitatif dilaporkan oleh Unicef sering terjadi di Kota Semarang baik di rumah, di sekolah maupun di komunitas. (di ambil dari http://ardansirodjuddin.wordpress.com).

Ketiga. Kasus geng motor. Insiden penembakan itu terjadi pada 13 April 2012. Pengemudi Yaris terganggu oleh ulah segerombolan lelaki pengendara sepeda motor. Dia keluar dari mobil dan melepaskan tembakan ke arah gerombolan itu. Belakangan diketahui, korbannya adalah Kelasi Sugeng Riyadi (anggota TNI Angkatan Laut) dan Prada Akbar Fidi Aldian (anggota TNI Angkatan Darat).

Peluru menyambar telinga Sugeng dan berhenti di punggung Akbar. Sugeng dirawat di RSAL Mintoharjo, sedangkan Akbar dirawat di RSPAD Gatot Soebroto. Menurut Rikwanto, penyidik sudah mengirim surat ke RSAL dan RSPAD untuk meminta hasil visum kedua korban. Penyidik juga meminta pakaian kedua korban sebagai barang bukti. Hasil visum dan pakaian itu sangat penting untuk penyelidikan. “Kami hanya memperoleh informasi bahwa mereka (Sugeng dan Akbar) masih dalam proses penyembuhan,” ujar Rikwanto.

Menurut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Toni Harmanto, proyektil yang bersarang di tubuh korban bisa dijadikan petunjuk untuk mengetahui jenis senjata api dan siapa pemilik senjata. Sedangkan pakaian kedua korban dibutuhkan untuk memastikan apakah mereka termasuk anggota geng pita kuning atau bukan.

TNI memiliki hukum militer untuk memeriksa anggotanya yang diduga terlibat tindak pidana. Karena itu, penyidik militer berkepentingan dengan barang-barang bukti itu. Namun, Toni berharap polisi juga bisa mengakses barang-barang bukti itu agar bisa menuntaskan kasus penembakan ini (di ambil dari http://www.tempo.co).

b.  Penjelasan Perilaku Menyimpang dan Anti Sosial

Setiap orang yang baru menempati suatu wilayah social tertentu, baik itu baru dilahirkan maupun pendatang, akan senantiasa diarahkan atau disosialisasi oleh kelompok di wilayah itu untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku di dalamnya kelompok tersebut. Melalui proses sosialisasi, akan diperoleh bentuk perilaku sosial yang selaras dengan harapan sosial (nilai dan norma sosial) atau lazim disebut conformity.

Namun, kita sadar bahwa tidak hanya keseragaman yang ada pada bentuk perilaku sosial tersebut, melainkan penyimpangan itu sendiri. Delequency (deviasi) adalah kebalikan dari konformitas atau nonkonformitas, yaitu bentuk interaksi yang di dalamnya seseorang atau sekelompok orang berperilaku tidak sesuai dengan harapan kelompok. Hal ini didasarkan pada suatu kenyataan bahwa tidak semua orang bertindak berdasarkan norma-norma dan nilai sosial yang berlaku di dalam masyarakat. Tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat atau tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku tersebut disebut sebagai perilaku menyimpang (Setiadi & Kolip, 2011: 190).

Jika orang di katakana menyimpang jika tindakannya tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma sosial yang ada di mana ia hidup, maka perlu di cari sebab musabab terjadinya perilaku menyimpang tersebut. Adapun beberapa hal yang bisa dikatakan sebagai sebab musabab terjadinya perilaku menympang tersebut. Elly M Setiadi dan Usman Kolip (2011) mengidentifikasi beberapa sebab musabab terjadinya perilaku menyimpang, adalah sebagai berikut:

1.    Sikap Mental yang Tidak Sehat

Yang dimaksud dengan mental adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan jiwa, kehendak, dan pikiran manusia. Adapun yang dimaksud dengan mental yang tidak sehat berarti keadaan jiwa seseorang atau sekelompok orang dalam keadaan sebagaimana perilaku sekelompok orang yang berada si sekitarnya. Ukuran normal dan tidak normalnya perilaku tersebut adalah tatanan nilai-nilai dan norma-norma ideal yang digolongkan ke dalam kelompok nilai dan norma yang seharusnya ada, bukan yang senyatanya ada.

2.    Ketidak Harmonisan dalam Rumah Tangga

Ketidakharmonisan di dalam struktur keluarga biasanya anggota keluarga saling mempertahankan egonya masing-masing sebagai wujud merasa benar di antara mereka, sehingga banyak di antara mereka mencari pelampiasan dengan melakukan tindakan penyimpangan, seperti suami istri melakukan perselingkuhan dengan orang lain. Sementara itu anak-anak juga mencari pelampiasan lain seperti terlibat dalam pergaulan bebas, mengosumsi narkoba, minuman keras, bergaul dengan anak-anak jalanan, dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya. Hal itu disebabkan semata-mata karena kontrol keluarga terhadap perilaku anak tidak menjadi perhatian, sehingga anak-anak mencari jati dirinya tanpa bimbingan orang tua. Akhirnya peran keluarga sebagai agen sosialisasi digantikan oleh pihak lain di luar keluarganya, di antaranya adalah peran teman sepermainan lebih dominan memainkan peranan sebagai agen sosialisasi.

3.    Pelampiasan Rasa Kecewa

Kekecewaan biasanya muncul tatkala seseorang atau sekelompok orang tidak terpenuhi keinginan dan harapannya. Bentuk kekecewaan sering di lampiaskan melalui tindakan menyimpang, contohnya adalah tindakan anarkis para supporter kebablasan tertentu terhadap pasilitas umum, toko, pasar, dan sebagainya sebagai buntut kekalahan timnya. Contoh lain adalah pembakaran kantor pemerintah di kabupaten Tuban beberapa waktu yang lalu dilakukan oleh kelompok pendukung salah satu pasangan calon bupati yang kalah dalam pemilihan wujud pelampiasan dari rasa kecewa akibat kekalahan yang alami.

4.    Dorongan Kebutuhan Ekonomi

Yang dimaksud dengan dorongan kebutuhan ekonomi adalah dorongan seseorang atau sekelompok orang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Akan tetapi untuk mendapatkan kepuasan dari terpenuhinya kebutuhan tersebut tidaklah mudah, lebih-lebih makin sempitnya jumlah lapangan pekerjaan. Akibatnya, seseorang atau sekelompok orang bisa saja melakukan tindakan penyimpangan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari frekuensi alasan sekelompok orang melakukan tindakan pidana seperti mencuri, merampok, dan korupsi, semuanya disebabkan oleh motif ekonomi.

Mengapa sekelompok wanita atau pria mau menjajakan dirinya sebagai pekerja seks komersial? Mengapa seorang pejabat Negara nekat melakukan tindakan pidana korupsi? Mengapa sekelompok orang memilih jalan menjadi pereman yang sangat meresahkan warga masyarakat lainnya? Semuanya itu dilakukan semata-mata karena motif ekonomi. Bahkan juga, karena kebutuhan yang tidak terbatas akan selalu mendorong manusia semakin keras untuk memenuhinya kendati ia berada dalam satu negara yang dikatagorikan sebagai negara makmur atau sejahtera.

5.    Pengaruh Lingkungan dan Media Massa

Lingkungan yang tidak sehat, seperti lingkungan dengan banyak anggota masyarakat yang menyimpang akan sangat berpengaruh pada perilaku anak-anak. Kebanyakan dari sifat anak adalah mengidentifikasi perilaku orang-orang yang di dalam lingkungan sosialnya. Karena itu dalam hadits Nabi dinyatakan bahwa keadaan anak yang baru lahir adalah suci, adapun anak tersebut akan menjadi Yahudi, Nasrani, adalah tergantung pada lingkungan keluarganya. Demikian juga Logeman menyatakan bahwa seorang anak yang baru lahir bagaikan selembar kertas putih bersih, sedangkan tulisan apa yang hendak digoreskan ke atas lembar kertas tersebut tergantung pada lingkungannya. Yang paling efesien adalah pengaruh teman sepermainan. Selain itu pengaruh media massa terutama televisi yang hampir dimiliki setiap rumah juga sangat efesien memengaruhi penyimpangan sosial.

6.    Keinginan Untuk Dipuji

Dalam proses pencarian jati diri, anak-anak terutama di kalangan remaja akan mencari idola-idola di luar lingkungannya seperti, misalnya dari kalangan artis tertentu. Kita sering kali melihat sekelompok anak-anak remaja dengan gaya potongan rambut yang tidak karuan, gaya pakaian la rocker, celana jeans yang di sobek bagian tertentu, ikat pinggang dengan gantungan rantai, dan sebagainya tidak lain adalah merupakan akibat dari bentuk pencarian yang tidak menemukan pelampiasan. Bahkan tidak jarang akhirnya diantara mereka yang akhirnya terlibat narkoba, minuman keras, berandalan, terlibat dalam kelompok geng tertentu, dan sebagainya.

7.    Proses Belajar yang Menyimpang

Yang dimaksud dengan proses belajar yang menyimpang adalah proses dimana anak-anak mengidentifikasi perilaku di lingkungannya yang menyimpang, terutama dari kelompok seusia dan sepermainan mereka. Ketika seorang remaja berkumpul dengan teman sepermainan mereka yang memiliki kebiasaan menyimpang sementara orang tua tidak mengetahui dengan siapa anaknya bergaul, atau tidak mempedulikan pergaulan anak, maka keadaan demikian berarti anak telah mempelajari perilaku yang menyimpang. Seorang anak bisa saja memiliki kecendrungan perilaku seks menyimpang walaupun secara kejiwaan anak tersebut sebenarnya normal hanya dikarenakan bergeul dengan teman-teman yang memiliki orientasi seks menyimpang.

8.    Ketidak Sanggupan Menyerap Norma

Seorang memiliki kebiasaan berjudi, menjadi wanita penghibur, mengosumsi narkoba, minuman keras, merampok, masuk dalam kelompok gangster tertentu merupakan akibat dari kelompok orang tersebut yang tidak sanggup menyerap norma-norma yang bersifat konformis. Suatu kenyataan bahwa orang-orang yang terjerumus ke dalam lembah hitam tersebut adalah akibat dari frekuensi mengidentifikasi nilai dan norma yang antisosial lebih besar disbanding ketika ia menerima nilai dan norma yang konformis.

9.    Proses Sosialisasi Nilai-nilai Subkultural Menyimpang

Asal mula terjadinya subkultural menyimpang karena ada interaksi di antara sekelompok orang yang mendapatkan status atau cap menyimpang. Melalui interaksi dan intensitas pergaulan yang cukup erat di antara mereka, maka terbentuklah perasaan senasib dalam menghadapi dilemma yang sama. Para anggota dari subkultural seperti itu memiliki perasaan saling pengertian dan memiliki jalan pikiran, nilai dan norma serta aturan bertingkah laku yang berbeda dengan norma-norma sosial masyarakat pada umumnya (kultur dominan).

Para anggota dari suatu subkultur menyimpang biasanya juga mengajarkan kepada anggota-anggota barunya tentang berbegai keterampilan untuk melanggar hokum dan menghindari kejaran agen-agen kontrol sosial. Dalam organized crime, misalnya kelompok perampok nasabah bank, pembuat dan pengedar uang palsu, atau jaringan pengedar narkoba, anggota seniornya akan lebih banyak mengajarkan keterampilan bersembunyi, melakukan penyamaran, berbelit, belit, dan menolak menunjukkan persembunyian kawannya jika diintrogasi oleh polisi.

10.     Kegagalan Dalam Proses Sosialisasi

Mengapa dalam dunia pendidikan disinyalir bahwa kebanyakan pengguna narkoba justru yang terbesar dialami dari kalangan anak-anak terpelajar. Mengapa anak-anak terpelajar, anak tokoh agama misalnya menjadi penyimpang. Inilah yang disebut kegagalan dalam proses sosialisasi. Ketika seorang anak sedang belajar di tempat yang jauh dari tempat tinggal orang tuanya (ngekos) yang bebas dari pengawasan, maka tidak menolak kemungkinan anak-anak tersebut bergaul dengan kelompok-kelompok tertentu yang memiliki kebiasaan menyimpang.

11.     Adanya Ikatan Sosial yang Berlainan

Perbedaan ikatan sosial antarkelompok dengan perbedaan nilai dan norma yang ada akan menimbulkan perbedaan penilaian tentang perilaku masing-masing anggota masyarakatnya. Misalnya kelompok penganut agama tertentu menganggap perilaku sosial tertentu bisa di anggap menyimpang karena memiliki aturan agama yang melarang perilaku tersebut.

c.   Beberapa Penjelasan Analisa Anomali Sosial Lainnya

1.    Penjelasan dalam Katagori Struktur Sosial Budaya

Williams seprti di tulis Kuntowijoyo (1999) menyebutkan bahwa dalam sosiologi budaya kita menemukan adanya tiga komponen pokok yang selalu terkait satu sama lain di dalamnya, yaitu lembaga-lembaga budaya, isi budaya dan efek budaya atau norma-norma. Dengan kata lain, lembaga budaya menanyakan siapa menghasilkan produk budaya, siapa mengontrol, dan bagaimana control itu dilakukan; isi budaya menanyakan apa yang dihasilkan atau simbol-simbol apa yang diusahakan; dan efek budaya menanyakan konsekuensi apa yang diharapkan dari proses budaya itu.

Lalu mengapa sebuah proses simbolis sosial budaya pada masyarakat mengalami transpormasi, bahkan kearah transpormasi yang sangat menyimpang sama sekali dari sistem sosial dan budaya masyarakat yang mendahului sebelumnya? Kebudayaan dapat menjadi tidak fungsional jika simbol dan dan normanya tidak lagi didukung oleh lembaga-lembaga sosialnya, atau oleh modus organisasi sosial dari budaya itu. Kontradiksi-kontradiksi budaya dapat terjadi sehingga dapat melumpuhkan dasar-dasar sosialnya (Kuntowijoyo, 1999: 7).

Pernyataan di atas cukup jelas. Karena itu pada bagian ini kita akan mencoba melihat perubahan sosial dan budaya yang akhir-akhir ini tidak lagi sejalan dengan sistem sosial dan budaya yang pernah ada dengan menjelasakan perubahan yang ada mulai dari tingkat yang paling tinggi dari lingkungan budaya tersebut yaitu lembaga budaya. Seperti di katakana di atas bahwa lembaga budaya bukan berarti, direktorat kebudayaan, lembaga-lembaga adat dan lain-lain yang secara formal sudah menjadi bagian dari pemerintah. Melainkan lembaga budaya yang dimaksudkan disini sesuai dengan apa yang di katakana William di atas adalah lembaga budaya yang luas dan umum yaitu masyarakat sebagai manusia yang menjalankan budaya tersebut, dan merekalah yang menjadi lembaga budaya yang sebenarnya. Masyarakat di sini juga yang dimaksudkan adalah masyarakat secara luas. Kalau begitu, perlu kita sepakati terlebih dahulu bahwa lembaga budaya dan masyarakat yang di maksud disini adalah masyarakat yang lebih luas.

Kembali pada lembaga budaya, bahwa lembaga budaya ini akan berubah seiring dengan perubahan paradigma pada masyarakat di mana ia berada (lebih jelas pada “penjelasan dalam faktor paradigma”). Jika pada saat ini masyarakat banyak di pengaruhi oleh budaya luar seperti hedonisme, individualisme, kapitalisme, dan paham kebebasan maka dengan sendirinya baik isi maupun fungsi budaya akan berubah.

Perubahan budaya pada lembaga budaya (dalam hal ini masyarakat secara umum) karena dipengeruhi paradigma hidup yang tidak lagi menjunjung tinggi sistem sosial dan budaya yang ada menjadi masyarakat hedonis, individualis, kapitalis seperti di katakana di atas, pada isi budaya telah simbol masyarakat yang ramah, saling kasih sayang dan lain sebagainya. Begitu juga pada efek budaya, kehidupan yang kolektif, gotong royong, menjunjung tinggi norma, bagi sebagian masyarakay saat ini sebagai lembaga budaya tidak berfungsi sehingga terjadi disfungsi, dan jelas yang terjadi adalah pola dan sistem sosial yang bertentangan dengan sistem sosial dan budaya masyarakat kita yang sebenarnya.

2.    Penjelasan Pendekatan Sejarah

Menurut Setiadi & Kolip (2011) ada beberapa faktor yang mendorong timbulnya perubahan sosial dan kebudayaan, antara lain: pertama, dalam sejarah hidup, manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah baru. Kedua, ketergantungan pada hubungan antarwarga pewaris kebudayaan. Ketiga, perubahan lingkungan. Ketiganya secara mendasar mempengaruhi perubahan dan sebagai faktor pendorong timbulnya perubahan sosial dan budaya. Namun pada bagian ini akan coba kita melihat perubahan sosial dan budaya tersebut dalam sejarahnya pada perubahan lingkungan. Perubahan lingkungan disini mengarah pada perubahan baik pada teknologi, pandangan hidup dan lain sebagainya. Terdapat beberapa fenomena sosial yang akan coba kita diskusikan disini, seperti korupsi yang tidak terbendung, politisasi pendidikan, dan gejala amoral lainnya dalam pendekatan sejarah, dan tentu dalam hal ini akan diuraikan sedikit saja sebagai gambaran.

Korupsi yang terjadi di negara kita dengan berbagai varian faktor, proses dan cara penyelesaiannya bukan hanya bentuk dari masyarakat kita saat ini, meliankan sudah merupakan cermin sejarah bangsa kita, mulai dari masa VOC, pemerintahan Hindia Belanda, terutama sekali pada masa Orde Baru. Pada masa Orde Baru dikenal dengan korupsi di bawah meja, namun saat ini, dimana media begitu menggeliatnya mengimpormasikan segala kecurangan politik uang dalam pemerintahan membuat korupsi tidak lagi di bawah meja, melainkan di atas meja, berjamaah lagi. Ini adalah fenomemena dalam negara kita, dalam hal ini kita tidak akan membicarakan varian bagaimana korupsi itu terjadi, dalam bentuk apa dan bagaimana tindak lanjutnya, namun yang jelas pada masyarakat kita (tidak semuanya) sudah terbiasa dengan korupsi tersebut, sehingga tidak heran jika Indonesia menjadi jawaran dalam hal ini.

Dalam bidang pendidikan kita yang carut marut, pembelian nilai, sex bebas, siswa tidak lagi menghormati guru, soal ujian bocor, pemukulan antara kelompok siswa, pembunuhan mahasiswa dan banyak lagi yang lain adalah ciri dari sebagian pendidikan kita. Lalu bagaimana kita melihatnya dalam pandangan sejarah? Untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan saya rasa dalam hal ini bukan tempatnya, karena saya akan coba menjelaskan sedikit saja dari kemungkinan faktor yang ada. Salah satunya adalah seperti yang di katakana Profesor Mestika Zed bahwa pendidikan kita dalam pengembangannya di jejali oleh pencarian kognitif siswa sehingga asfek yang lain seperti psikomotor tidak tergali. Sehingga siswa tidak lagi menghiraukan norma, moral dan lain sebagainya, dan yang ada hanya nilai. Hal ini memang tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi juga oleh paradigm masyarakat saat ini yang mengikuti pola hidup Barat yang hedonis dan individualistis.

Krisis ekonomi juga tidak memberikan sedikit akibat dalam perubahan sosial dan budaya pada sebagian masyarakat kita saat ini, kerisis keuangan yang memang sudah di mulai pada masa Orde Lama, Orde Baru, dan terlebih-lebih saat ini, serta didukung oleh ketidak siapan masyarakat kita menghadapi ancaman budaya barat telah merobek sendi-sendi sebagian dari sistem sosial dan budaya kita sehingga amoralitas terjadi dimana-mana, pembunuhan, pemerkosaan dan lain-lain saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dari tontonan kita di layar kaca.

3.    Penjelasan dalam Faktor Paradigma

Faradigma yang dimaksud di sini bukan dalam artian paradigma ilmu pengetahuan ala Thoma Khun, melainkan sudut pandang dari sebagian masyarakat dalam melihat dan meyakini realitas hidup saat ini. Pandangan hidup dari sebagian masyarakat kita saat ini yang sudah tidak lagi menghiraukan norma, adat-istiadat, agama, awik-awik dan lain sebagainya adalah salah satu ciri dari memudarnya sistem sosial dan budaya masyarakat yang pernah ada, dan akan tergantikan oleh pandangan baru baik yang berasal dari luar atau di ciptakan tersendiri oleh masyarakat tersebut. Namun melihat kasus di Indonesia yang sering di katakana oleh Mestika Zed sebagai “Build in” dari luar bukan hanya ciri dari banyak ilmuan dan teori sosial yang ada, melainkan budaya sehari-hari yang dikembangkan oleh sebagian masyarakat.

Budaya luar yang di maksud tersebut oleh sebagian masyarakat kita saat ini sudah dijadikan bagian dari norma, dan budaya tersendiri, seperti yang di sebut di atas, sifat hedonisme (hanya bagaimana untuk memenuhi kepantingan batin tanpa menghiraukan norma yang berlaku dalam masyarakat sebelumnya atau di lingkungannya), individualise (tidak lagi menjunjung tinggi kebersamaan, gotong-royong, dan yang ada adalah persekongkolan kepentingan), berpikir kapital, mendapatkan uang, barang dan lain sebagainya dengan cara apa pun tanpa menghiraukan apakah itu baik tau tidak menurut agama dan adat-istiadat yang berlaku. Semua ini adalah bagian dari paradigma (pola pikir) dari sebagian masyarakat kita saat ini. Hal ini sekali lagi terjadi oleh beberapa faktor  yang berkelindan di dalamnya, mulai dari pendidikan hingga ekonomi.

4.    Paktor Media Massa

O’Brien, 1996 dalam Burhan Bungin (2009:111) mengatakan bahwa, perilaku manusia dan teknologi memiliki interaksi di dalam lingkungan sosioteknologi. Lingkungan sosioteknologi secara luas memiliki lima komponen yaitu proses sosial, sistem dan teknologi informasi, strategi komunikasi, struktur masyarakat, serta masyarakat dan budaya. Kelima komponen itu berinteraksi dalam proses sosial, satu dan lainnya saling berintaraksi dan memengaruhi dimana setiap komponen memiliki visi masing-masing yang saling bersinergi serta menghasilkan output proses sosial bagaimana diherapkan oleh seluruh stakeholder sosioteknologi (Burhan Bungin, 2009: 111).

Pengaruh media massa seperti di jelaskan di atas mempengaruhi struktur masyarakat serta budaya masyarakatnya. Media massa seperti radio, TV,internet, surat kabar serta media lainnya telah berkembang secara missal, maka teknologi itu telah mengubah bentuk masyarakat manusia, dari masyarakat dunia lokal menjadi masyarakat dunia global, sebuah dunia yang sangat transparan terhadap perkembangan informasi, transpormasi serta teknologi yang begitu cepat dan begitu besar memengaruhi peradaban umat manusia , sehingga dunia juga dijuluki sebagai the big village, yaitu sebuah desa yang besar, dimana masyarakatnya saling kenal dan saling menyapa satu dengan yang lainnya (Burhan Bungin, 2009: 163).

Perkembangan media massa yang akhir-akhir ini sudah merambah masyarakat ke segala penjuru selain memiliki dampak positif seperti masyarakat bisa mengenal budaya luar, dan lain sebagainya. Namun di samping itu ada dampak negatif yang di timbulkan jika masyarakat kita tidak memiliki pondasi budaya yang memang menjadi pegangan hidup mereka. Pengaruh media pada generasi muda misalnya bisa dikatakan lebih banyak dampak negatifnya daripada dampak positif yang dapat di rasakan. Mulai dari anak SMP sudah mengenal sex bebas, menyiksa temannya seperti kasus belakangan ini, tawuran antara pelajar dan lain sebagainya.

Pada sebagian orang bukan saja pengaruh media massa ini pada tingkah laku sehari-hari, namun berdampak juga pada cara berpakaian, gaya berbicara dan style-style lainnya, terutama ala Barat. Bahkan yang paling miris adalah mereka merendahkan orang-orang yang masih memegang tegus agama, norma-norma sosial, budaya, kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang ada. Karena itu sebagian orang dari masyarakat kita seolah seperti masyarakat yang tidak memiliki jati diri, tidak beragama, tidak memiliki sopan santun dan segalanya.

Salah satu hal juga yang menjadi pemicu banyaknya pembunuhan antara siswa, kerusuhan masal, tawuran antar siswa, tawuran mahasiswa dan tindakan anarkis lainnya adalah akibat dari tontonan dan tidak ada batas dari media massa dalam mengekspose berita. Dengan begitu seolah masyarakat sudah terbiasa dengan segala kekerasan yang selalu dihadirkan di setiap layar kaca tersebut, dan semakin sering di tonton maka hal tersebut akan melekat, akhirnya pada sebagian masyarakat kebiasaan tersebut akan mengakibatkannya mereka berpikir bahwa hal tersebut biasa, dan bisa saja dia akan menjadi pelaku kekerasa selanjutnya.

Inilah yang membedakan antara demokrasi di Indonesia dengan demokrasi di daerah asalnya seperti Amerika dan dunia Barat lainnya. Di Eropa dan Amerika misalnya yang 600 tahun terlebih dahulu mengenal demokrasi, sangat berhati-hati dalam menjalankan demokrasi tersebut, karena demokrasi juga memiliki aturan. Dalam dunia media massa misalnya, dalam hal kekerasan yang diberitakan di televise atau surat kabar, tidak akan pernah diperlihatkan bamabar atau peristiwanya, melainkan hanya berita saja. Merka tidak akan menyuguhkan gambar penyiksaan, peristiwa pemukulan dan lain sebagainya yang anarkis. Dan sekali lagi mereka hanya mengimprmasikan apa yang terjadi tanpa harus memperlihatkannya. Karena mereka paham dengan idiom bahwa “semakin sering orang mendengar dan melihat maka akan semakin melekat hal tersebut, namun kalau sekedar mendengarkan tanpa melihat kemungkinan cepat untuk di lupakan”. Hal ini berbeda sekali dengan bagaimana media di Indonesia mengekspos pemberitaan.

5.    Kontrol Sistem Sosial dan budaya

Selain beberapa faktor di atas, yang penting juga dan dapat kita jelaskan sebagai faktor adanya anomali pada sistem sosial dan budaya pada sebagian masyarakat adalah tidak adanya/ kurang kontrol sistem sosial dan budaya. Beberapa kontrol  yang di maksud ialah internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi. Ketiga proses penguatan budaya ini satu sama lain saling mendukung dalam menciptakan masyarakat yang beradab, dan sesuai dengan sistem sosial dan budayanya. Namun bagaimana pun ketiga proses ini akan memberikan ciri tersendiri bagi seseorang. Karena seseorang akan tergantung dari bagaimana proses internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi ini.

Beberapa proses yang membentuk kepribadian seseorang tersebut kata I Gede Wiranata (2002) adalah sebagai berikut:

a.     Proses Internalisasi

Proses internalisasi berlangsung sepanjang hidup individu sejak dilahirkan samai hampir meninggal untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu, dan emosi dan kemudian membentuk kepribadiannya. Pada intinya pengaruh keluarga inti terutama Ibu, Ayah, adik, kakak dan lain-lain dalam keluarga tersebut sangat member pengaruh dalam tingkah laku nya. Walaupun sebenarnya kita tidak dapat menarik kesimpulan apakah pada keluarga yang kurang baik akan menghasilkan keturunan yang kurang baik pula, atau sebaliknya pada keluarga yang terkenal baik pada akhirnya akan menghasilkan keluarga yang baik pula. Karena bukan hanya proses internalisasi ini saja yang membentuk karakter individu melainkan masyarakatnya.

Tanpa harus melihat dia berasal dari keluarga apa pun yang paling penting adalah keluarga tersebut dapat memberikan dan mengajarkan mana yang baik dan mana yang kurang baik pada anak-anak mereka terutama dalam praktik kehidupan sehari-hari. Jangan sampai orang tua hanya menitik beratkan pengembangan karakter anaknya pada lembaga pendidikan yang notabenenya saat ini banyak yang sudah tidak memperhatiakan karakter lagi.

b.    Proses Sosialisasi

Proses sosialisasi adalah proses social dimana seorang individu menerima pengaruh, peranan, tindakan orang-orang di sekitarnya (milleu), seperti kakak, adik mertua, paman, pembantu dan lain-lain. Proses sosialisasi ini akan sangat bervariasi karena dipengeruhi oleh struktur masyarakat, susunan kebudayaannya serta lingkungan sosial yang bersangkutan. Oleh karena itu pengaruh lingkungan sosial akan sangat berpengaruh pada kepribadian seseorang. Namun, walaupun demikian terkadang pada lingkungan sosial yang baik tersebut sering muncul anomali, dengan begitu satu kata lagi bahwa kita tergantung pada sudut pandang orang dalam memahami hidupnya selain pengeruh lingkungan ini. Lingkungan sosial yang baik tidak menjamin akan membuat generasi atau orang yang ada di dalamnya menjadi baik semua, begitu juga sebaliknya.

c.    Kurangnya Proses Engkulturasi/ Pembudayaan

Proses enkulturasi adalah proses sosial di mana individu belajar menyesuaikan diri dan alam pikiran serta sikapnya terhadap adat, sistem norma, serta semua pertauran yang terdapat pada setiap lingkungan masyarakat. Berkaitan dengan proses-proses tersebut dalam kenyataannya di masyarakat tidak semua individu secara mulus melewati tahapan proses tersebut. Ada beberapa individu yang sukar untuk menerima dan menyesuaikan diri dengan berbagai faktor yang di jumpainya dalam masyarakat. Individu yang mengalami hambatan ini disebut deviants.

Deviants yang positif akan merupakan sumber dari berbagai kejadian dalam masyarakat dan kebudayaan sehingga menimbulkan perubahan kebudayaan. Sedangkan deviants yang negatif menimbulkan berbabagai ketegangan sosial, kerusuhan, kejahatan, bunuh diri masal, dan lain-lainnya. Karena itu jika deviants negatif yang mempengaruhi seseorang maka yang akan terjadi adalah seperti yang sering kita lihat saat ini seperti adanya pembunuhan baru-baru ini di UNM, pembuangan janin, pemerkosaan dan banyak lagi contoh negatif lainnya.

d.  Penjelasan Teori Struktural Fungsional dalam Perubahan Sosial dan Budaya di Indonesia

Fungsionalisme struktural adalah salah satu faham atau perspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan bagian yang satu tak dapat berfungsi tanpa ada hubungan dengan bagian yang lain. Kemudian, perubahan yang terjadi pada salah satu bagian akan menyebabkan ketidak seimbangan dan pada gilirannya akan menciptakan perubahan pada bagian lain. Asumsi dasar teori ini ialah bahwa semua elemen atau unsur kehidupan masyarakat harus berfungsi atau fungsional sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa menjalankan fungsinya dengan baik (Bernard Raho. 2007: 47).

Berdasarkan asumsi ini, maka dalam melihat perubahan sistem sosial dan budaya pada masyarakat tergantung dari apakah hal tersebut fungsional atau tidak, dan sistem soial dan budaya masyarakat akan berjalan dengan baik jika antara satu dengan yang lainnya fungsional. Hal ini sesuai juga dengan apa yang di katakana William di atas bahwa jika lembaga budaya melaksanakan budaya dengan keterikatan atau satu sama lain menjalankan sistem sosial dan  budaya berdasarkan konsesus yang sudah di buat maka sostem sosial dan budaya tersebut akan fungsional. Lalu bagaimana jika sistem sosial dan budaya tersebut tidak fungsional? Inilah yang oleh Robert. K. Merton di sebut dengan disfungsi. Lalu, mengapa bisa terjadi disfungsi yang mengakibatkan norma-norma sosial, kebiasaan-kebiasaan masyarakat, pelanggaran ajaran agama, anak tidak lagi menghormati orang tuanya, sex bebas para pelajar, tawuran, dan lain sebagainya, yang pada intinya pada sebagian masyarakat terjadi anomali pada sistem sosial dan budaya masyarakat?

Karena pada bagian ini kita sedang membicarakan fenomena sosial tersebut dalam ranah teori struktur fungsional, maka jawabannya pula akan kita cari dengan jawaban teori tersebut. Karena pada teori ini kita tidak hanya disuguhkan dengan pandangan yang saklek, melainkan pandangan yang beragam. Bahkan sampai ada yang bilang bahwa struktur fungional tercipta sebagai katup pengaman sehingga gejolak sosial yang terjadi bisa diredam. Karena itu struktur yang mapan tersebut tidak terbentuk dengan sendirinya melainkan ada juga yang disfungsi, dan susunan yang kelihatannya sebagai fungsional tersebut tercipta dari perbedaan manusia sntara satu sama lain. Sehingga sering terjadi disfungsi. Kenapa disfungsi ini bisa terjadi?

Menurut Parsons, dalam Burhan Bungin (2008: 35), seorang individu memang tak mungkin lepas dari ikatan-ikatan struktur sosial di mana ie berada. Meki tidak mungkin lepas dari ikatan-ikatan struktur dan norma-norma sosial yang berlaku, namun seorang individu memiliki kemampuan untuk memilih berbagai alternatif tindakan  secara aktif, kreatif, dan evaluatif yang memungkinkan tercapainya tujuan yang khas yang ia inginkan. Tindakan mana yang akan diambil sangat ditentukan oleh jenis motif dan nilai yang mendominasi pertimbangan seseorang.

Parsons dengan sadar memakai konsep “action”, dan bukan “behavior” dalam menyebut teorinya. Sebab, menurut Parsons, konotasi behavior mengandaikan adanya kesesuaian secara mekanik antara rangsangan dari luar (stimulus) dengan tingkah laku seseorang (respons). Asumsi itu menurut Parsons tidak benar. Manusia tidaklah sedemikian rupa pasif terhadap realitas yang dihadapinya. Manusia tidak harus dilihat sebagai “barang mati” yang tinggal dipermainkan oleh realitas objektif. Sesungguhnya, sampai derajat tertentu manusia memiliki kemampuan memberi makna secara subjektif terhadap realitas objektif yang  ia hadapi. Itulan sebabnya, tingkah laku manusia lebih sebagai action daripada behavior (Burhan Bungin, 2008: 35).

Terlepas dari bagaimana teori struktural fungsional menurut Parsons di atas yang memiliki kreatifitas untuk bisa mengembangkan diri di luar struktur yang ada, maka penjelasan ini belum mampu menjelaskan adanya fonomena sosial yang saat ini tidak lagi pada tataran struktural fungsional tersebut, karena walaupun ada tenaga kreatif seperti yang di katakana Parsonas, namun pada intinya tetap berada pada keharmonisan, sehingga tidak tergambar adanya disfungsi. Action yang dimaksud Parsons mengarah pada pengembangan dan perubahan dari struktur dalam artian positif yang tidak bertentangan dengan lingkungan yang ada, padahal saat ini gejala penyimpangan tersebut mewarnai masyarakat kita.

Mungkin apa yang di katakana Marton sebagai disfungsi adalah jawaban yang dapat kita gunakan untuk member gambaran pada anomali ini, meskipun tidak begitu cocok, karena sama artinya kita berada pada titik tengah yang tidak punya pendirian, padahal pendirian saya pada kembalinya norma-norma, dan lain sebagainya dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita melihat hal ini dengan pandangan Marton maka penyimpangan yang ada terjadi disfungi. Tetapi disfungsi berada pada pihak yang mana? Orang yang menjalankan sistem sosial dan budaya dengan baik atau orang yang menyimpang? Karena itu mungkin hal ini paling tepat kita jelaskan dengan pisau teori yang lain.

e.   Penjelasan Teori Konflik

Teori konflik yang coba kita bahas pada bagian ini adalah teori konflik masa kini (dalam istilahnya Setiadi & Kolip). Para penulis pendekatan konflik pada masa kini melihat perilaku kriminal misalnya sebagai refleksi dari kekuasaan yang memiliki perbedaan dan mendefinisikan kejahatan atau penyimpangan. Teori konflik kontemporer sering kali juga menganggap kejahatan sebagai tindakan rasional. Orang orang mencuri dan merampok telah di dorong masuk ke dalam tindakan tersebut melalui kondisi social yang disebabkan oleh distribusi kekayaan yang tidak seimbang, di mana kejahatan perusahaan dan berbagai kejahatan kerah putih secara langsung melindungi serta memperbesar modal kapital mereka. Kejahatan yang terorganisir adalah cara rasional untuk memenuhi kebutuhan illegal dalam masyarakat kapitalis.

Karena kelas bawah sering kali ditandai dengan rendahnya komitmen pada tertib sosial yang dominan, maka sering kali penjelasan yang di kemukakan oleh para ahli konflik berpihak pada kelompok-kelompok yang tertindas , misalnya remaja dilenquean atau kelas buruh dan pekerja klas rendah. Tekanan ekonomi yang dialami oleh para pekerja menciptakan keterasingan di tengah hiruk pikuk masyarakat dan keterasingan itu termanifestasi melaui lemahnya ikatan sosial dan kurang di taatinya tatanan sosial yang dominan. Akibat dari situsi semacam itu diantaranya adalah pada tingginya angka kriminalitas yang dilakukan oleh masyarakat kelas bawah.

Kesimpulan

para ahli tampaknya sepakat jika tindakan kelompok orang yang suka minum-minuman keras, penggunaan narkoba, pemerkosaan, perilaku seks bebas, orientasi seks yang salah, pencurian, kekerasan, perjudian dan pembunuhan, dapat dikatakan sebagai bentuk penyimpangan. Tindakan menyimpang yang dilakukan orang-orang tidak selalu berupa tindakan kejahatan besar, seprti merampok, korupsi menganiaya, atau membunuh. Melainkan bisa pula berupa tindakan pelanggaran kecil-kecilan, semacam berkelahi dengan teman, suka meludah di sembarang tempat, berpacaran hingga larut malam, dan makan dengan tangan kiri.

Ada beberapa sebab musabab terjadinya perilaku menyimpang, yaitu: sikap mental yang tidak sehat, ketidak harmonisan dalam keluarga, pelmpiasan rasa kecewa, dorongan kebutuhan ekonomi, pengaruh lingkungan dan media massa, kringinan untuk dipuji, proses belajar yang menyimpang, ketidak sanggupan menyerap norma, proses sosialisasi nilai-nilai subkultural menyimpang, kegagalan dalam proses sosialisasi, dan adanya ikatan social yang berlainan.

Di samping itu bebarapa hal penting terkait dengan adanya penyimpangan sosial ini tidak lepas dari bagaimana struktur sosial pada lingkungan masyarakat tersebut sebagai lembaga sosial yang merupakan tempat di mana berlakunya nilai-nilai dan norma yang ada, kedua, penjelasan sejarah juga sangat perlu untuk melihat perkembangan penyimpangan yang ada, misalnya korupsi yang seolah tiada henti. Ketiga, bagaimana paradigm yang tumbuh saat ini pada masyarakat perlu menjadi perhatian. Keempat, pengaruh media massa dalam hal yang lebih luas dan yang terakhir adalah proses sosialisasi nilai-nilai dan norma, seperti internalisasi, sosialisasi serta enkulturasi.   

DAFRAT PUSTAKA

 

Bungin Burhan. 2009. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana.

Bungin Burhan. 2008. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana.

Kuntowijoyo. 1999. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana

Martono Nanang. 2011. Sosiologi Perubahan Sosial: Perspektif Klasik, Modern, Posmodern, dan Pos Kolonial. Jakarta: Rajawali Pers.

Raho Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Pustaka Prestasi.

Setiadi & Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi: Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial. Jakarta: Kencana.

Soekanto Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers

Wiranata I Gede. 2002. Antropologi Budaya. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Media Internet

http://nasbahrygalery1.blogspot.com/2011/02/geneologi-ilmu-ilmu-sosial-di-indonesia_14.h

http://aksesdunia.com/2012/seks-bebas-di-kalangan-remaja/

http://ardansirodjuddin.wordpress.com/2008/05/14/kekerasan-terhadap-anak/

http://www.tempo.co/read/news/2012/04/26/064399797/Penyelidikan-Kasus-Geng-Motor-Terganjal-Barang-Bukti

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s