SISTEM KEKERABATAN MASYARAKAT DESA JEROWARU: SEBUAH KAJIAN SEJARAH SOSIAL

Standar
SISTEM KEKERABATAN MASYARAKAT DESA JEROWARU: SEBUAH KAJIAN SEJARAH SOSIAL

LALU MURDI

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Manusia sebagai individu maupun sebagai masyarakat merupakan bagian yang sangat kompleks untuk dibicarakan. Karena seperti yang kita ketahui bahwa suatu masyarakat mempunyai bentuk-bentuk struktur sosial seperti kelompok-kelompok sosial, kebudayaan, lembaga sosial, stratifikasi sosial, kekuasaan dan lain sebagainya. Akan tetapi semua itu mempinyai derajat yang berbeda-beda dalam beberapa aspek sosial di atas yang menyebabkan pola prilaku, adat-istiadat maupun budaya masyarakat yang berbeda-beda tergantung dari tempat serta situasi dan kondisi yang dihadapi masyarakat sebagai bagian dari anak lingkungan bahkan anak zamannya.

Salah satu dari struktur sosial dalam masyarakat adalah stratifikasi sosial, dimana keberadannya menjadi bagian yang tidak kalah penting dalam sejarah hidup manusia yaitu adanya golongan atas (upper class), golongan menengah (middle class) dan kelas menengah (lower class) yang secara umum mewarnai kehidupan masyarakat mulai dari zaman prasejarah, zaman Hindu-Budha sampai saat ini adalah adanya strata sosial dalam kehidupan masyarakat, yang sekaligus merupakan bagian yang kompleks dari perbedaan kelompok di tengah-tengah masyarakat, baik itu stratifikasi sosial yang horizontal maupun pelapisan sosial yang vertikal telah mewarnai kehidupan manusia baik dengan kita sendiri maupun tidak.

Terdapat dua macam sistem pelapisan sosial yang kita kenal, yaitu sistem pelapisan sosial yang bersifat tertutup ( closed social stratification) dan sistem pelapisan sosial yang bersifat terbuka (open social stratification) ( Soerjono Soekanto:1990), dimana yang disebut pertama sudah mengakar dalam sejarah kehidupan manusia dan yang terakhir secara umum baru berkembang sejak zaman modern.

Stratifikasi sosial yang ada di Indonesia pada umumnya jika dilihat dari sistem pelapisan social tertutup ( closed social stratification) dalam konteks sejarah maka secara jelas dapat dikatakan bahwa kedatangan agama Hindu dari India, berdirinya kerajaan-kerajaan besar di Indonesia yang bercorak Hindu telah membawa dan memperkenalkan stratifikasi social yang jelas seperti adanya beberapa golongan atau golongan status social dalam masyarakat seperti golongan Brahmana, golongan Ksatria, golongan Waisya, dan yan terakhir adalah golongan Sudra. Dimana dari keempat macam golongan dalam strata social masyarakat di India tersebut terdapat juga di Indonesia meskipun tidak seketat di India dalam implementasi perbedaan golongan strata sosialnya. Jadi bisa dikatakan walaupun dalam hal stratifikasi sosial ini juga berpengaruh pada kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Indonesia tidak pernah menyentuh kehidupan masyarakat secara kseluruhan melainkan hanya berpengaruh di kalangan Istana saja. Sedangkan di dalam kehidupan masyarakat luas pada umumnya stratifikasi sosial ini tidak begitu berpengaruh. Adapun yang sampai saat ini stratifikasi soaial yang dibawa dari India ini berdasarkan gelarnya dapat kita lihat pada masyarakat Bali, dimana walaupun berbeda nama gelarnya namun memiliki makna dan maksud yang sama. Adapun keempat gelar strata social yang di maksud yaitu golongan Brahmana, golongan Ksatria, golongan Waisya (triwangsa) dan golongan Sudra (Jaba) (Soerjono Soekanto, 1990:258).

Walaupun gelar tersebut tidak memisahkan setiap strata social secara ketat tetapi sangat berarti dalam melihatnya secara berbeda dalam adat-istiadat yang dikembangkam sesuai dengan tingkatan sosialnya. Di samping itu hukum adat-istiadatnya juga menetapkan hak-hak bagi pemakai gelar tersebut, misalnya dalam memakai gelar, perhiasan-perhiasan, pakaian-pakaian adat sesuai dengan golongan sosialnya. Perkembangan sistem kasta di Bali umumnya terlihat jelas dalam sistem perkawinan. Seorang gadis suatu kasta tertentu umumnya dilarang bersuamikan dari kasta yang lebih rendah (Soerjono Soekanto, 1990: 258).

Lain halnya dengan sistem pelapisan sosial (stratifikasi social ) yang terbuka ( open social stratification ), dimana di dalamnya pengembangan tingkat statusnya bukan atas dasar apa yang diwariskan secara turun temurun, namun prestasi seseorang, kemampuan seseorang serta kepemilikan seseorang dan lain sebagainya merupakan tolak ukur dalam tinggi rendahnya tingkat status seseorang yang pada suatu saat bisa berubah sesuai sesuai dengan kemampuan seseorang mempertahankan apa yang dimilikinya. Namun setiadaknya masyarakat yang pernah mengembangkan sistem ini karena tidak ada ukuran yang membedakan secara ketat dalam setiap golongan maka bisa dikatakan mulai sejak kedatangan Islam, masuknya imprealisme barat sampai saat ini, baik pada masyarakata umum maupun pada masyarakat bangsawan pada khususnya.

Adanya stratifikasi sossial ini terdapat dihampir semua lapisan masyarakat yang secara tidak sadar hal tersebut, namun keberadaannya tidak terkapling seperti pada masyarakat yang berlapiskan kasta seperti India yang begitu ketat, walaupun di Indonesia juga terdapat pelapian sosial tersebut namun keberadaannya masih ada toleransi dengan tingkatan di bawahnya. Di Nusa Tenggara Barat (NTB) misalnya pernah berdiri beberapa kerajaan sebagai tolak ukur dalam status sosial, seperti kerajaan Selaparang, kerajaan Pejanggik, kerajaan Langko, kerajaan Pujut, kerajaan Pene dan lain sebagainya masih menyisakan adanya bukti sejarah tentang adanya pelapisan sosial yang ditambah lagi dengan adanya pengaruh kerajaan Karang Asem Bali.

Gelar Lalu, Raden (laki-laki) ataupun Baiq, Dende, dan Lale (perempuan) adalah gelar-gelar bangsawan di NTB sekaligus dan Bape pada golongan bangsawan yang lebih rendah. Gelar-gelar yang disebut di atas ini merupakan serumpun status sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan golongan yang lain, dan khususnya di pulau Lombok ini menunjukkan adanya sertifikasi sosial dalam masyarakat, meskipun secara vertikal untuk saat ini tidak lagi menjadi pembeda dalam masyarakat, namun dalam kelompoknya menjadi kelas atau status sosial yang berbeda dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya.

Adanya Perwangse dan Jajar Karang merupakan salah satu bukti bahwa di Lombok juga setelah kerajaan-kerajaan yang disebut di atas sudah tidak ada lagi golongan bangsawan ini masih eksis melaksanakan adat-istiadat sesuai dengan golongannya membedakannya dengan golongan di bawahnya. Salah satunya adalah di desa Jerowaru, yang dulunya sebelum tahun 70-an masih memperlihatkan adanya stratifikasi sosial tertutup dalam masyarakatnya.

Terkait dengan kedatangan bangsawan di desa Jerowaru  dan asal usulnya, seperti banyak informasi mengatakan ada yang menyebutnya sebagai bangsawan pendatang dan bangsawan asli. Adapun oleh masyarakat sering disebut bangsawan pendatang adalah bangsawan yang berasal dari beberapa tempat seperti Kopang, Kediri, Pagutan dan lain sebagainya. Sedangkan yang dikatakan sebagai bangsawan asli Jerowaru adalah bangsawan yang saat ini tinggal di gubuk Tembok, merupakan keturunan bangsawan kerajaan Pene yang satu wilayah dengan desa Jerowaru.

Perpindahan bangsawan terutama yang berasal dari kawasan Mataram ini memang secara menyakinkan belum dapat kita pastikan, apakah perpindahannya ke Jerowaru setelah dikuasainya kerajaan-kerajaan Lombok pada umumnya atau sesudahnya. Namun jika setelah penguasaan kerajaan Lombok dikuasai baru mereka pindah maka bisa dikatakan sudah dimulai sejak tahun 1744 (166 saka) setelah puri Karang Asem Mataram berdiri sebagai pusat pemerintahan dengan Gusti Angluran Karang Asem sebagai rajanya (Muhsipuddin, 2004: 10).

Perpindahannya ke desa Jerowaru tujuan utama sebenarnya belum dapat diketahui secara pasti apakah karena keinginan mencari tanah dan tempat tinggal yang baru  atau terdesak atau seperti yang dikatakan Lalu Lukman meskipun seluruh kerajaan di Lombok berada dalam kekuasaan kerajaan Karang Asem Bali namun dalam system pemerintahannya termasuk cara menjalankan pemerintahan sampai tingkat yang paling bawah diserahkan kepada orang-orang kepercayaan dan petugas Sasak yang pada umumnya merupakan bangsawan ataupun keturunan dari bangsawan-bangsawan yang dulunya menjadi penguasa atau pejabat pemerintah ( L. Lukman, 2005:28-29). Oleh karena itu karena tidak adanya bukti yang dapat dirujuk secara pasti maka dapat disimpulkan tujuan kedatangannya ke desa Jerowaru.

Kehidupan para bangsawan di desa Jerowaru untuk saat ini atau setidaknya sejak tahun 70-an cukup berbeda dengan sebagian bangsawan yang masih kental memegang adat-istiadat lamanya. Namun yang jelas bisa dikatakan bahwa adat-istiadat bangsawan di desa Jerowaru yang dulunya merupakan kelas tersendiri dalam stratifikasi sosial masyarakat disana yang saat ini mulai hilang dengan sendirinya seiring  dengan perkembangan zaman.

Umumnya sejak awal kedatangannya sampai kira-kira generasi ketiga dihitung mundur dari sekarang para bangsawan memiliki tanah yang cukup luas sehingga hal ini menunjukkan juga status sosialnya yang cukup tinggi sekaligus ditunjang oleh statusnya sebagai bangsawan yang saat ini sangat dihormati. Namun bagaimanapun dengan proses waktu yang terus berjalan sampai saat ini status kebangsawanan di desa jerowaru yang ditunjukkan dengan adat-istiadat, bahasa, sistem perkawinan maupun kepemilikannya atas tanah sampai saat ini sudah tidak begitu menonjol atau bisa dikatakan sudah terjadi proses pergeseran. Oleh karena adanya proses pergeseran            tersebut maka sangat perlu untuk dikaji seperti adat-istiadat, bahasa, sistem perkawinan,dan lain-lain yang diterapkan pada awal kedatangannya. Proses interaksi dengan masyarakat maupun saat ini dalam kedudukannya sebagai golongan bangsawan yang dahulunya merupakan stratifikasi tersendiri dalam kehidupa masyarakat.

Pergeseran ini perlu dikaji bukan untuk membahas masalah pergesera itu saja namun yang penting disini juga karena adanya penghilangan yang cukup drastis dari beberapa aspek dari budaya yang dikembangkan oleh bangsawan, padahal seperti yang dikatakan Widjaya bahwa suatu bentuk proses perubahan sosial dari kebudayaan yang terwujud dalam masyarakat yang berkebudayaan  primitive maupun maju, yaitu adanya proses imitasi yang dilakukan oleh generasi muda terhadap generasi yang lebih tua, hal tersebut dilakukan dengan belajar mencari apa yag dilihat ( Widjaya, 1985: 106). Namun melhat realitas dan pergeseran dari bebrapa aspek pada golongan bangsawan tersebut maka dapat dikatakan proses imitasi tersebut tidak berjalan secara sempurna.

B.     Identifikasi Masalah

  1.  Dari manakah asal usul bangsawan di desa Jerowaru?
  2.  Apakah tujuan kedatangan para bangsawan ke desa Jerowaru?
    1.  Bagaimanakah aplikasi adat-istiadat, bahasa, maupun system perkawinan pada golongan bangsawan di desa Jerowaru?
      1. Bagaimanakah system kekerabatan dan pewarisan dari adat-istiadat   bangsawan di desa Jerowaru?
      2. Seperti apakah bentuk stratifikasi sosial pada masyarakat di desa Jerowaru?
      3. Apakah yang menjadi perbedaan antara masyarakat biasa dengan bangsawan dalam stratifikasi sosial?
      4. Faktor apa saja yang mengakibatkan terjadinya perubahan dalam beberapa aspek kehidupan sosial bangsawan?

C.    Batasan Masalah

Mengingat masalah yang teridentifikasi relatif banyak dan karena keterbatasan peneliti, maka penelitian ini dibatasi sebagai berikut:

1. Batasan Masalah

Alasan peneliti mengambil judul “ Sejarah Sistem Kekerabatan Masyarakat Desa Jerowaru: Sebuah Kajian Sejarah Sosial” ini adalah untuk mengamati dan mengetahui lebih jauh tentang stratifikasi sosial di desa Jerowaru baik dalam lintas sejarah maupun kekinian, sekaligus mengamati proses pergeseran status bangsawan di desa Jerowaru.

2. Batasan Spasial

Penulis sengaja mengambil lokasi di desa Jerowaru karena secara faktual di sana masih banyak terdapat golongan bangsawan sekaligus secara emosional  dan kedekatan secara geografis mudah dijangkau oleh peneliti.

3. Batasan Temporal

Penulis membatasi temporal pada penelitian ini berkisar pada tahun 1970 sampai tahun 2010, karena penulis ingin mengkaji bagaimana perubahan dalam stratifikasi sosial sebelum tahun 70-an dan sesudahnya di desa Jerowaru.

D.     Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan fokus masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah penerapan sistem adat-istiadat bangsawan pada golongan bangsawan di desa Jerowaru terkait dengan sistem kekerabatannya?
  2. Bagaimanakah perubahan pola kekerabatan pada golongan bangsawan di desa Jerowaru?

E.      Tujuan Penelitian

Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui dan menggambarkan system kekerabatan pada masyarakat di desa Jerowaru.
  2. Untuk mengetahui dan menggambarkan bagaimana proses terjadinya pergeseran sistem kekerabatan di desa Jerowaru kecamatan Jerowaru.

F.      Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoritis

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat positif terhadap pengembangan wawasan kita, walaupun hasil tulisan ini bukan sebagai text book to thinking namun hanya sebagai guide of line dalam stratifikasi sosial pada masing-masing kelompok kekerabatan di desa Jerowaru.

Sekaligus dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan motivasi dan dorongan bagi peneliti lain untuk dimanfaatkan sebagai bahan acuan ataupun perbandingan dalam melakukan penelitian yang lebih mendalam dan lebih lengkap.

  1. Manfaat Praktis
    1.  Bagi masyarakat umum hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan dan wawasan tentang dinamika stratifikasi sosial dalam kelompok kekerabatan di desa Jerowaru serta pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari.

b.   Bagi golongan bangsawan  pada khususnya hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan dan wawasan dalam kiprahnya selaku anggota masyarakat.

c.    Bagi institusi dan pemerintah, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan sekaligus refrensi untuk mencermati beberapa pola stratifikasi sosial yang ada dalam masyarakat.

KAJIAN PUSTAKA 

A.   Deskripsi Teori

  1. Sistem Kekerabatan

Sistem atau yang biasa disebut metode merupakan cara yang teratur untuk melakukan sesuatu. Sedangkan kerabat adalah keluarga,sanak famili, teman sejawat (teman kerja) (Sutan Rajasa,2002: 298). Jadi dengan begitu dapat dikatakan bahwa sistem kekerabatan merupakan cara untuk mengatur atau cara dalam mengatur  hubungan sesama keluarga, sanak famili, teman sejawat maupun teman kerja berdasarkan adanya aturan yang dibuat bersama secara turun temurun maupun berkala.

Untuk mengenal lebih jauh mengenai sistem kekerabatan tersebut sebelumnya kita harus terlebih dahulu memahami lahirnya sistem    kekerabatan tersebut yakni rumah tangga dan keluarga inti. Koentjaraningrat (2005) misalnya menjelaskan bahwa rumah tangga yang merupakan     keluarga inti adalah pemegang atau inti dari sistem kekerabatan.               Lebih lanjut seperti yang dikatakan Koentjaraningrat bahwa pasangan suami istri membentuk suatu kesatuan sosial yang mengurus ekonomi rumah tangganya. Rumah tangga biasanya terdiri dari satu keluarga inti, tapi mungkin juga terdiri dari dua sampai tiga keluarga inti (Koentjaraningrat,                 2005: 103). Sedangkan yang termasuk keluarga inti adalah suami, istri dan anak-anak mereka yang belum menikah, anak tiri dan anak yang secara          resmi diangkat sebagai anak, memiliki hak yang kurang lebih sama dengan hak anak kandung, dan karena itu dapat dianggap pula sebagai anggota dari suatu keluarga inti (Koentjaraningrat, 2003: 106). Jadi secara sederhana dapat dikatakan semakin meluasnya kekerabatan maka akan semakin kompleks pula sistem kekerabatannya, dalam artian kadang-kadang budaya yang dikembangkan oleh suatu kerabat yang serumpun kadang-kadang berbeda dengan kelompoknya yang satu kerabat, bisa karena perpindahan tempat tinggal maupun adanya pengaruh lingkungan, sosial, ekonomi maupun pendidikan. Namun bagaimanapun sistem kekerabatan yang disusun dalam suatu masyarakat dapa kita lihat dari status maupun tingkatan strata sosialnya dalam kehidupan masyarakat.

Adanya keluarga ini seperti yang djelaskan di atas walaupun di masing-masing kelompok masyarakat berbeda-beda, namun merupakan satu kesatuan yang dalam antropologi dan sosiologi seperti yang dikatakan Murdock dan dikutip oleh Koentjaranignrat (2005) disebutnya sebagai kingroup. Ada pun satu kelompok (kingroup) adalah kesatuan yang diikat oleh sekurang-kurangnya 6 unsur, yaitu:

1. System norma-norma yang mengatur tingkah laku warga kelompok.

2. Rasa kepribadian kelompok yang disadari semua warganya.

3. Interaksi yang intensif antar warga kelompok

4. Sistem hak dan kewajiban mengatur interaksi antar warga kelompok

5. Pemimpin yang mengatur kegiatan-kegiatan kelompok

6. System hak dan kewajiban terhadap harta produktif atau harta pusaka           tertentu. Dengan demikian hubungan kekerabatan merupakan unsur pengikat bagi suatu kelompok kekerabatan (Koentjarningrat, 2005:109).

Dari keenam elemen yang ada dalam satu kesatuan kelompok kekerabatan diatas tidaklah selalu sama ditempat dan status sosial yang lain. Misalnya pada masyrakat bangsawan di Lombokpada umumnya atau bangsawan di Jerowaru khususnya, dari keenam unsur pengikat diatas begitu mewarnai kehidupan masyarakat baik secara vertikal maupun hierarkis. Selain adanya perbedaan bentuk tergantung kelompok sosial adanya unsur-unsur yang melebur dalam kehidupan masyarakat secara umum walaupun bukan tergolong satu rumun kekerabatan yang sesuai dengan strata sosialnya, namun adanya unsur yang melebur ini di akibatkan oleh adanya interaksi sosial yang cukup intensif antara golongan starata sosial yang berbeda, jelasnya antara golongan bangsawan Mamiq dan Amaq misalnya di Jerowaru.

Ketidaksamaan setiap kelompok dalam praktik pada setiap kelompok kekerabatan dalam masyarakat terkait dengan adanya enam unsur diatas, maka Murdock (Koentjaraningrat, 2005) membedakan lagi tiga kategori kelompok kekerabatan berdasarkan fungsi-fungsi sosialnya, yaitu kelompok kekerabatan berkoprasi (corporate kingroups),kelompok kekerabatan kadangkala (occasinal kingroups) dan yang ketiga adalah kelompok kekerabatan menurut adat (circum scriptive kingroups) yang kadang kala   tidak memiliki salah satu atau dua dari keenam elemen pengikat kekerabatan diatas. Kelompok-kelompok ini bentuknya sudah demikian besar, sehingga warganya sering kali tidak saling mengenal. Mereka umumnya hanya mengetahui tentang kekerabatan seseorang (sebagai warga kelompok) berdasarkan tanda-tanda yang ditentukan oleh adat. Rasa kepribadian kelompok sering kali juga ditentukan oleh tanda-tanda adat tersebut (Koentjaraningrat, 2005:110).

Dari ketiga kategori yang disebutkan oleh Murdock di atas, kategori ketiga dapat dimasukkan dalam melihat ataupun mengkaji jenis kategori kelompok kekerabatan dalam masyarakat golongan bangawan di desa Jerowaru. Di mana walaupun kadang-kadang sesama warga dalam satu kelompok kekerabatan seringkali tidak saling mengenal. Namun bagaimanpun setidaknya ada adat-istiadat yang sama yang mengkategorikannya menjadi satu kelompok kekerabatan masyarakat  dalam status sosial yang berbeda sebagai golongan bangsawan.

  1.  Prinsip-prinsip keturunan yang mengikat kelompok sosial

Seseorang disebut berkerabat dengan seseorang apabila orang tersebut mempunyai ikatan darah atau (gen) dengan orang lain       sebagai individu tadi, baik melalui ibunya maupun melalui ayahnya. Walaupun orang-orang yang masih mempunyai hubungan darah tertentu sangat besar jumlahnya, mereka masing-masing tentu hanya mengenal beberapa saja diantara kerabat terdekatnya, dan mengetahui seluk-beluk ikatan kekerabatannya dengan mereka, karena dari seluruh kerabat yang dimiliki seseorang (yaitu kerabat biologisnya). Hanya sebagian kecilnya saja yang merupakan kerabat sosiologisnya. Bagi seorang individu, kerabat sosiologisnya itu dapat dibedakan berdasarkan:

  1. Adanya hubungan kekerabatan;
  2. Kesadaran akan hubungan kekerabatannya:
    1. Pergaulan berdasarkan hubungan kekerabatan (Koentjaraningrat, 2005:123)

Hubungan kekerabatan yang ditentukan oleh prinsip-prinsip keturunan yang bersifat selektif mengikat sejumlah kerabat yang bersama-sama memiliki hak dan kewajiban tertentu, misalnya hak waris atas harta peninggalan, gelar, pusaka, lambing-lambing dan lainnya. Selain itu ada juga hak atas suatu kedudukan, kewajiban untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan bersama, serta kewajiban unutk melakukan kegiatan-kegiatan produktif secara bersama-sama (Koentjaraningrat, 2005:123)

Adapun hubungan kekerabatan yang mengikat sejumlah kerabat secara bersama-sama di desa Jerowaru, khususnya pada golongan bangsawan dapat dilihat misalnya dalam hak waris atas harta, gelar, serta adat-istiadat terutama dalam hal perkawinan menjadi sebuah pengikat yang secara jelas dapat di bedakan dengan system kekerabatan dalam starata sosial yang lain.

  1. Sopan-santun Dalam Pergaulan Kekerabatan

Adat sopan santun memang sangat berpengaruh pada sikap orang terhadap individu, khususnya setiap kerabat yang dihadapinya. Bagaimana adat-istiadat sopan santun pergaulan di jalankan dapat dipahami dengan mengamati pola pergaulan setiap individu maupun golongan sosial kerabatnya. Ego, sebagai pusat kelompok kerabat, diamati sikapnya terhadap anak-anaknya, terhadap istri (atau istri-istrinya), terhadap ayahnya, terhadap ibunya dan lain sebagainya (Koentjaraningrat, 2005:137-38).

Dari pengalaman pribadi kita mengetuhui bahwa sikap dan tingkah laku kita berbeda terhadap setiap kelas terhadap kerabat kita tersebut. Dalam hampir semua masyarakat suku bangsa di dunia sopan santun menentukan bagaimana orang harus bertingkah laku dan sikap terhadap setiap  kelas kerabatnya (Koentjaraningrat, 2005:138).

Apa yang dikatakan Koentjaraningrat di atas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Desa Jerowaru khususnya golongan bangsawan serta masyarakat pada umumnya juga memilki adapt sopan santun tersendiri baik dalam golongannya (kelas) maupun kerabatnya misalnya dalam hal berbicara, bergaul, maupun dalam bertingkah laku dalam kegiatan dan hubungan sosial sehari-hari.

2.     Sejarah

  1. Pengertian Sejarah

Istilah “sejarah” berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata Syajaratun yang memiliki arti “pohon kayu”. Pengertian pohon kayu  disini menunjukan adanya suatu kejadian, perkembangan atau pertumbuhan tentang suatu hal atau peristiwa dalam suatu kesinambungan (kontinuitas) (Dadang Supardan, 2007: 341). Dalam bahasa lain, peristilahan sejarah disebut juga histore (Perancis), geschite (Jerman), histoire atau geschiedenis (Belanda), serta history (inggris) (Dudung Abdurrahman, 1999: 2). Semuanya sama-sama mengandung pengertian yang sama, yaitu masa lampau umat manusia. Sehingga menurut pengertian yang paling umum, kata sejarah atau history berarti masa lampau umat manusia.

Menurut Abromowitz (Supardan, 2007: 342) bahwa”…history is a chronology of ivents”. Selanjutnya Costa (Supardan, 2007: 342) mendifinisikan sejarah sebagai “…record of the whole human experience”. Jadi menurut Costa bahwa sejarah pada hakikatnnya merupakan catatan seluruh pengalaman baik secara individu maupun secara kolektif bangsa/ nation dimasa lalu tentang kehidupan umat manusia. Selain itu dalam kamus umum bahasa Indonesia oleh W. J. S Poerwadarminta (Tamburaka, 2002: 32) disebutkan bahwa sejarah mengandung tiga pengertian, yaitu:

(1). Kesustraan lama; silsilah; asal-usul.

(2). Kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.

(3). Ilmu pengetahuan, cerita pelajaran tentang kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.

Dari beberapa keterangan diatas, jelas pendapat mengenai       perhatian terhadap peristiwa-peristiwa masa lalu berada dibawah ruang lingkup penulisan sejarah, yang muncul lambat laun selama berabad-        abad. Namun untuk lebih jelasnya perlu dikutif beberapa definisi sejarah menurut beberapa ahli diantaranya:

1.    Prof. Bernheim (Rustam E. Tamburaka: 2002) mendifinisikan sejarah sebagai “diegerchite ist de wisenchaft von die entwietlung der menrechen bettetiegung als soziele warssen”. Artinya sejarah adalah pengetahuan yang mempelajari          tentang perbuatan manusia dalam perkembangannya sebagai   mahluk sosial.

2.  James Hervey Robinson (Helius Sjamsuddin: 2007) mengatakan bahwa sejarah, dalam arti yang luas adalah semua yang kita ketaahui tentang setiap hal yang pernah manusia lakukan , atau pikirkan, atau rasakan. (“history in the brodes sense of the world, is all that we know everything than man ever done, or thought or felt”)

3. R. G.kolingwood (rustam E. tamburaka: 2007) damal bukunya yang berjudul  “the of history”, sebagai orang dialis dia menemukan dua dalil tentang sejarah yaitu:

Pertama; sejarah mempunyai arti yang kokoh untuk mempelajari alam pikiran manusia dan pengalaman-permgalamannya.

Kedua:  sejarah bersipat unik, langsung dan dekat. Pengertian sejarah dapat menerobos hakikat yang mendalam dari kejadian yang sedang dipelajari serta dapat menghayati peristiwa yang sebenarnya dari alam. Mengerti sejarah berati menyelami untuk melihat dengan jelas pikiran pikiran yang didalamnya.

4  Prof. DR. Sartono Katordirdjo (Rusmen E. Tamburaka                 :2007) membagi sejarah menjadi dua pengertian yaitu:  sejarah dalam arti bsubjektif dan sejarah arti objektif. Sejarah dalam      arti subjektif adalah suatu kontrakjsi bangunan yang disusun penulis sebagai suatu uraian atau cerita. Sedangkan sejarah dalam arti yang objektif menujukkan kepada kajian atau peristiwa itu sendiri, ialah proses sejarah dalam aktualitasnya. Kejadian itu sekali terjadi  dan tidak dapat berulang kembali.

Dari beberapa definisi sejarah menurut para hali di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa sejarah adalah peristiwa masa lampau umat manusia yang hanya sekali terjadi (objektif) namun bisa dikonstuksi dalam penulisan sejarah sebagai manifestasi dari kehidupan manusia baik dalam kehidupannya sekarang maupun yang akan datang.

b.   Sejarah sosial

Sejalan dengan perkembangan  ilmu sejarah sampai saat ini telah muncul berbagai cabang ilmu sejarah menurut teman-teman yang memberikan sifat atau karaktistik tertentu pada berbagai ragam historiografi yang dihasilkan, diantara ada yang dikatagorikan sebagai sejarah sosial, sejarah ekonomi, sejarah politik, sejarah kebudayaan, sejarah mentalitas, sejarah intelektual, sejarah demografi dan lain sebagainya, (helius sjamsuddin, 2007: 306). Sedangkan dalam tulisan ini akan dibahas mengenai sejarah dengan mengunakan pendekatan sejarah sosial masyarakat yang sering jugak disebut sejarah sasyarakat yang terpinggirkan. Sehingga masyarakat dalam penulisan sejarah tidak sebagai manusia-manusia tanpa sejarah.

Sebagai mana yang terkandung dari tema sejarah yang di usungnya yaitu sejarah sosial, maka sudah barang tentu didalamnya mengkaji sejarah tentang sejarah masyarakat (kemasyarakatan)  (sjamsuddin, 2007: 307).

Adapun definisi sejarah sosial dan/atau sosiologi sejarah sebagai sejarah masyarakat, seringkali para sajarawan sendiri membuat definisi masing-masing yang tidak jauh berbeda, namun maksudnya sama yaitu mengkaji masyarakat. Beberapaa definisi yang di makdud tentang sejarah sosial memenurut beberapa ahli adalah sebabai berikut:

1. G. m. trevrlan  (sjamsuddin: 2007) menyebut sejarah rakyat dengan menghilangkan politiknya(the histoty of a people with the politics left out)

2  Asa brings (sjamsuddin: 2007) menyebutkan bahwa sejarah sosial mengkaji sejarah dari orang-orang mikin atau kelas bawah, gerakan-gerakan sosial, sebagai kegiatan manusia seperti tingkah laku, adat-istiadat, kehidupan sehari-hari , sejarah sosial dalam hubungan dengan sejarah ekonomi

3.  Desin smith (helius Sjamuddin:2007) mendefinisikan sejarah sosiah sebagai kajiaan tentang masa lalu untuk mengetahui bagaimana masyarakat-masyarakat bekerja dan berubah .

Sehubungan dengan beberapa definisi sejarah sosial diatas, ada kalanya juga sejarah sosial juga diartikan sebagai sejarah berbagai gerakan sosial, antara lain menycakup gerakan petani, buruh, mahasiswa, proses sosial dan lain sebagainya (saartono katordirdjo, 1993: 158).

Dari bebeerapa pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwasejarah sosial merupakan sejarah dari mayarakat bahwa pada umumnya baik itu merupakan kegiatan sehari-hari, kegiatan ekonomi, adat-istiadat, stratifikasi sosial dan lain sebagainya. Sekaligus mengkaji bagaimana masyarakat-masyarakt tersebut dalam kehidupan sosialnya, pekerjaannya maupun perubahannya dalam lintas sejarah…

Dengan mengunakan ilmu-ilmu sosial , sejarawan mempunyai kemampuan menerangkan yang lebih jelas, sekalipun kadang-kadang harus terikat pada model teoritisnya. Dan pada akhirnya sejarah sosial dapat mengambil paktor sosial sebagai bahan kajiannya (kuntowijoyo, 2003: 41).

Salah satu tema pokok dari bidang sejarah sosial sudah barang tentu yialah perubahan dalam konteks sejarahnya, dan merupakan dalam satu konsep yang sangat luas cakupannya, sesungauhnya proses sejarah dalam keseluruhannya, apa bila dikaji dari perspektif sejarah sosialnya, merupakan proses perubahan sosial dalam berbagai dimensi atau aspeknya.

Dipandang sebagainya proses modernisasi, prubahan sosial, yang kadang-kadang menjadi permasalahan sosial adalah adanya proses akulturasi. Artinya proses yang menycakup usaha masyarakat menghadapi pengaruh kultur dari luar dengan mencari bentuk penyesuaian komuditi berdasarkan kondisi berdasarkan nilai atau itiologi baru, suatu penyesuaian berdasarkan kondisi, disposisi, dan reprensi cultural, yang kesemuanya merupakan factor-faktor cultural yang menentukan sikap terhadap pengaruh baru (Sartono Kartodirdji, 1993: 160).

Sehubungan dengan pendapat di atas maka kehidupan sosial masyarakat di desa Jerowaru juga mengalami proses yang di sebut sebagai proses perubahan ini, atau lebih tepat dikatakan terjadinya proses adaptasi dengan pengaruh luar akibat adanya kontak sosial dalam masyarakt dan dalam beberapa aspek kehidupan.

C.  mampat ilmu sejarah

Sejarah selalu dikaitkan dengan peristiwa atau kejadian masa lampau umat manusia, selaku sebuah cerita, sejarah menberikan suatu keadaan yang sebelumnya terjadi, berbeda dengan dongeng yang juga berbentuk cerita, tetapi hanya pelibur lara, sedangkan cerita sejarah, sumbernya adalah kejadian masa lampau/ masa dilamberdasarkan peningalan sejarah. Peningalan tersebut berupahasil perubahan manusia sebagai mahluk sosial (Rustam E. Tamburaka 2007: 7). Dari pengalaman manuaia tersbut kita dapat bercermin dan pemiliki perubahan-perubahan nama yang dapat dijadikan inspirasi dan perbuatan dan tindakan mana yang seharusnya dihindari.

Dengan demikian, mamfaat yang dapat kita petik dengan mengetahui sejarah adalah kita dapat lebih berhati-hati agar kegagalan yang pernah perjadi tidak terulang kembali. Sehing tetaplah kata kompuse, seorang filsof cina berkata “ sejarah mendidik kita supaya bertindak bijaksana. Selanjutnya Cicero  (seorang ahli sejarah yunani) mengatakan “ history its magisstra vitae” artinya sejarah bermamfaat sebagai guru yang baik (bijaksana). Sehingga terciptalah sebuah cerita sejarah yang berdasar pada kenyataan, dalam bentuk peningalan atau sumber sejarah (Rustam E.Tamburaka, 2002: 7).

4.  Adat-istiadat masyarakat

a.  Idiom adat

                 Keanekaragaman budayaIndonesia dari daerah satu dengan daerah yang lain menujukkan arti yang penting adat istiadat sebagai perujudan budaya local. Dimana adat-istiadat memiliki makna yang luas, dan dimanapun diIndonesia adat-istiadat ini mempunyai penapsiran mampu manafestasi yang berlainan (Erni Budiwanti, 2008 : 47).

Adat-istiadat mendapatkan kesalihan nya dari masa lampao, yaitu ketika para nenek moyang kita menegakkan perantata yang diikuti tnpa batas waktu, kalau bukan masalah selamanya. Seperti yang dikatakan Alisyahbana bahwa adat addat merasuki hmpir segala asfek kehidupan komunitas yang mengakibatkan seluruh perilahu individu sangat dibatasi dan dikondifisikan (Budiwanti, 2000: 48).

Adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat selain memiliki local jenius juga bisa dipengaruhi kebudayaan luar lainnya. Di Lombok misalnya secara umum pengaruh Islam (abad ke XVI), Bai/  Hindu-Budha (abad ke-XIII), serta Makasar, yang semuanya itu meninggalkan dampak dan pengaruh  yang berbeda-beda pada masyarakat diLombok(Ahmad Amin, 1978: 21).

Sebelum kedatangan orang Bali di pulau Lombokhanya ada organisasi politik kecil yang melampoi batas-batas desa. Tetapi didalam desa tersebut satu golongan sudah terbentuk dengan sendirinya, yaitu: (1) Aristokrasi, yang pada mulanya adalah penduduk-penduduk desa terkemuka, (2) para petani bebas (kaula), (3)buruh tani (panjak) (Kraan, 1870: 9). Inilah yang dianggap sebagi cikal bakal terbentuknya kasta di Lombok sebelum diperkenalkan adanya sistem kasta yang dibawa dan diadopsi dari pengaruh Bali.

Erni Budiwanti (2000) menulis bahwa di Lombok secara umum dan Lombok Timur pada hususnya terdapat dua kelompok sosial yang berbeda dalam strata sosia, yaitu golongan Bangsawan (perwangse) dan orang biasa (jajar karang), dimana status seseorang sebagai perwangse atau jajarkarang dapat diidentifikasi dari gelar yang disandangnya. Gelar mengawali nama diri dan digunakan dalam komunkasi sehari-hari, seperti Rahadiah atau Raden (Budiwanti, 2002: 249).

Pada golongan bangsawan di Jerowaru kedudukan bangsawan yang paling tinggi kita kenal adalah gelar Mamik, Lalu ataupun Baiq, sedangkan gelar Raden dan Dende salama sekali tidak ada. Hal ini sangat cocok dengan apa yang dikatakan Erni Budiwanti terjadi akibat adanya percamouran perkawinan dengan masyarakat biasa (Budiwanti, 2002: 249). Untuk lebih jelasnya terdapat perbedaan dan persamaan adat-istiadat yang sudah menjadi bagian yang mendasar dalam golongan perwange dengan golongan jajarkarang diantaranya, ayitu:

  1. Sistem Perkawinan

Perbedaan status yang membedakan golongan perwangse dengan golongan jajarkarang salah satunya adalah dalam masalah perkawinan atau sistem perkawinan. Untuk mempertahankan kekerabatan mereka, dan mempertahankan status serta privelase mereka, golongan bangsawan pada awalnya mencegah anak atau saudara perempuan mereka kawin dengan orang yang golongan sosialnya berbeda atau status sosialnya lebih rendah. Kaum wanita mereka lebih banyak yang kawin secara endogami, sehaingga perkawinan antara misan, sepupu, baik paralel (dengan anak saudara laki-laki ayah atau saudara perempuan ibu) maupun sepupu silang (dengan anak saudara laki-laki ibu atau saudara perempuan ayah), merupakan perkawinan yang lebih dianjurkan di kalangan kaum bangsawan (Budiwanti, 2002: 250).

Namun jika terjadi perkawinan kaum bangsawan wanita dengan pria dari masyarakat biasa, maka dari pihak laki-laki itu harus membayar sajikrame tergantung tingkatan kebengsawanan wanita tersebut (Erni Budiwanti, 2002: 251). Begitu juga pada masyarakat desa Jerowaru ketika terjadi pernikahan untuk saat ini dan sudah dimulai sejak kuarang lebih tahun 1970-an, dan terjadi pernikahan seperti yang disebutkan di atas maka diharuskan membayar sajikrame tersebut.

Perbedaan sistem perkawinan pada masyarakat desa Jerowaru baik pada bangsawan maupun masyarakat biasa pada saat ini sebenarnya dalam prosesinya tidak ada perbedaan sama sekali, hanya saja yang berbeda adalah isi daripada setiap prosesianya tersebut. Misalnya ketika anak dari golongan bangsawan kawin dengan anak masyarakat biasa, maka adanya keharusan membayar sajikrame padapihak laki-laki tersebut

Salah satu tradisi lain dalam adat-istiadat perkawinan masyarakat Lombok adalah kwin lari.  Kawin lari atau nikah lari ini dalam bahasaa sasak disebut “melaian”, dan hal ini kadang-kadang menurut kebanyakan dari adat-istiadat yang berlaku pada kebanyakan masyarakat merupakan cara dalam pengambilan perempuan yang lebih ideal ketimbang meminta pada orang ruanya. Rencana pernikahan memang atas dasar persetujuan keluarga kedua belah pihak namun yang lebih dominan masyarakat menggunakan tradisi melaian ini. Dalam hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Solichin salam (1992) dipengaruhi oleh adat-istiadat Bali yang memperkenalkan adanya sistem kasta secara lebih jelas. Namn di Desa Jerowaru melaian adalah shal yang biasa dalam sistem perkawinan, baik pada golongan bangsawan maupun pada masyarakat biasa. Meskipun hususnya pada kaum bangsawan banyak yang menggunakan lamaran dengan persetujuan dari keluarga kedua belah pihak

  1. Bahasa Sehari-Hari

Penggunaan bahasa di Lombok umumnya dikenal adanya bahasa halus dan bahasa kasar. Bahasa kasar adalah bahasa sehari-hari yang dipergunakan oleh kasta yang lebih tinggi (perwangse) terhadap kasta yang lebih rendah (jajarkarang). Sedangkan bahasa halus dipergunakan oleh kasta-kasta lebih rendah terhadap kasta yang lebih tinggi. Selain adanya kedua bahasa diatas ada juga yang dikenal dengan sebutan bahasa antara/ pertengahan yang juga dipergunakan dalam bahasa pergaulan kekeluargaan. Misalnya seorang anak yang menyuruh anaknya makan mengatakan ngelor atau medahar bukan mangan atau bekakenan untuk kata makan (Ahmad Amin dkk, 1978: 24). Dan jika aturan tersebut dilanggar, Ahmad Amin (1978) melanjutkan maka orang tersebut dinamakan kasoan atao noak, dalam hal ini bahasa pergaulan sehari-hari masyarakat dari kedua golongan inilebih banyak untuk saat ini menggunakan bahasa pertengahan sekaligus bahasa kasar sebagai bahasa yang lebih dominan menjadi bahasa pergaulan sehari-hari, meskipun bahasa halus masih dipergunakan oleh golongan minoritas dan tempat yang tepat.

  1. Pergaulan Sehari-Hari

Abdurrahman (1989) telah mengidentifikasi beberapa tata kelakuan pada lingkungan masyarakat di pulau Lombok, seperti tata kelakuan di lingkungan pergaulan antara suami dan istri, tata kelakuan di lingkungan pergaulan antara ayah dan anak, dengan masyarakat sekitar   dan lainnya. Dicontohkan oleh Abdurahman (1989) misalnya dalam tatacara berpakaian, disini akan tampak jelas bahwa sang suami pantang akan menggunakan pakaian istrinya terutama kain batiknya (sasak : bendang ).

Tidak terkecuali pada masyarakat Desa Jerowaru yang mana banyak dari masyarakatnya yang masih mempertahankan adapt istiadat lama yang baik (sasak : rit ) dalam beberapa segi kehidupan,seperti sopan santun dalam berbicara, sopan santun dalm bertingkahlaku maupun cara bergaul sesama orang tua, sebaya dan anak-anak. Terutama pada golongan bangsawan tata krama ini sangat di perioritaskan, meskipun dari beberapa aspek adat-istiadat yang pernah dikembangkannya saat ini sebagian sudah luntur ataupun berkurang.


METODE PENELITIAN

  1. Pendekatan dan Metode Penelitian

Dalam penelitian ini akan mengkaji tentang sistem kekerabatan masyarakat di Desa Jerowaru, maka dengan demikian data-data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini adalah berbentuk keterangan-keterangan, kalimat-kalaimat, foto-foto, serta informasi yang berkaitan dengan bagaimana wujud kekerabatan pada masyarakat. Mengingat bahwa data-data yang dikumpulkan tersebut berupa dokumen-dokumen tertulis, informasi, kejadian-kejadian, dan foto-foto yang akan dianalisis dalam tinjauan sejarah, maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif.

Danzin dan Lincoln sebagaimana dikutip oleh Moleong menyatakan bahwa penelitian kualitatif  adalah penelitian yang menggunakan penelitian latar alamiah dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Lebih lanjut, Moleong menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk mengetahui fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya: perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain (Moleong, 2007: 6).

Penelitian kualitatif dari sisi definisi lainnya dikemukakan bahwa hal ini merupakan penelitian yang memanfaatkan wawancara terbuka untuk menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan dan perilaku individu atau sekelompok orang (Moleong, 2007: 6).

Penelitian kualitatif didasarkan pada upaya membangun pandangan mereka yang diteliti secara rinci, dibentuk dengan kata-kata, gambaran holistik dan rumit. Definisi ini lebih melihat perspektif emik dalam penelitian yaitu memandang atau upaya membangun pandangan subjek penelitian yang rinci, dibentuk dengan kata-kata, gambaran holistik dan rumit (Moleong, 2007: 6).

Sedangkan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Adapun metode sejarah dalam pengertian yang lebih umum adalah penelitian suatu atas masalah dengan mengaplikasikan jalan pemecahannya dari perspektif historis (Abdurrahman, 1999: 43). Pengertian yang lebih khusus, sebagaimana dikemukakan oleh Gibert J. Graham dalam bukunya Abdrrahman (1999), bahwa metode penelitian sejarah adalah seperangkat aturan dan prinsip sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara epektif, menilainya secara kritis, dan mengajukan sintesis. Sedangkan Abdurrahman sendiri menjelaskan metode sejarah sebagai proses menguji dan menganalisis kesaksian sejarah guna menemukan data yang otentik dan dapat dipercaya. Serta usaha sintesis atas data semacam itu menjadi kisah sejarah yang dapat dipercaya (Abdurrahman, 1999: 4).

Alasan peneliti menggunakan metode sejarah dalam penelitian ini karena dalam penelitian ini mengkaji perkembangan serta perubahan yang terjadi pada masyarakat desa Jreowaru terutama dalam latar sosialnya seperti perkembangan adat-istiadatnya, perubahan sistem perkawinan pada golongan bangsawan, perubahan dalam bahasa sehari-hari yang digunakan telah menarik peneliti untuk meneliti mengapa hal itu terjadi yang pada akhirnya menari peneliti untuk mengetahui perubahan serta perkembangannya, karena jika berbicra mengenai perkembangan maupun perubahan berarti kita berbicara dalam litas sejarah.

  1. Metode Penelitian

Karena dalam penelitan menggunakan metode penelitian sejarah maka jalan kerja penelitian ini juga menggunakan metode sejarah seperti tersebut diatas yaitu heuristik, kritik, interpretasi data, serta historiografi.

a. Heuristik

Heuristik  yaitu berasal dari kata yunani heurishein, artinya memperoleh. Menurut G. J. Reiner seperti yang ditulis Dudung Abdurrahman (1900), heuristik adalah suatu tehnik, suatu seni, dan bukan suatu ilmu. Heuristik seringkali merupakan suatu keterampilan dalam menemukan, mengenali dan memperinci bibliografi atau mengklasifikasi dan merawat catatan-catatan. Lebih jelasnya seperti apa yang dikatakan Carrad  bahwa heuristik adalah merupakan langkah awal sebagai sebuah kegiatan mencari sumber-sumber, mendapatkan data, atau materi sejarah atau evidensi sejarah (Sjamsuddin, 2007: 86). Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa heuristik merupakan langkah pertama dalam penulisan sejarah yaitu dengan pengumpulan data sebanyak mungkin untuk dijadikan sumber penelitian sejarah.

Adapun macam-macam fakta yang dikumpulkan dalam heuristik ini seperti adat-istiadat bangsawan, pegaulan sehari-hari, setratifikasi sosial, perubahan adat istiadat serta bahasa yang digunakan oleh golongan bangsawan di desa Jerowaru serta beberapa fakta yang sesuai dengan rumusan masalah seperti diajukan pada bagian sebelumnya.

Karena heuristik merupakan kegiatan pengumpulan data-data sejarah, maka ada beberapa tehnik dalam pengumpulan data tersebut yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

  1. Observasi

Observasi atau pengamatan adalah kegiatan manusia dengan menggunakan pancaindra lainnya seperti telinga, penciuman, mulut dan kulit. Karena itu, observasi adalah kemampuan seorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja pencarian mata serta dibantu dengan pancaindra lainnya (Burhan Bungin, 2008: 115). Sedangkan Sutrisno Hadi mengatakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang komplek, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantaranya yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan (Sugiono, 2008: 145).

Dalam penelitian ini proses pelaksanaan pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti yaitu observasi nonpartisipan (non participant observasion). Dalam hal ini tidak terlibat secara langsung terlibat sebagai anggota dari masyarakat tersebut, namun hanya sebagai pengamat independen. Dengan cara ini walaupun secara tidak langsung terlibat seperti masyarakat biasanya, namun dengan cara ini peneliti juga dapat mengamati bagaimana prilaku masyarakat, pergaulan masyarakat dengan masyarakat lain, serta bagaimana interaksi sosial pada masyarakat di desa Jerowaru.

Adapun fakta-fakta yang didapatkan peneliti selama melakukan observasi berkisar pada bagaima proses interaksi antara dua kelompok sosial yang berbeda, mengamati beberapa perbedaan yang menonjol antara golongan bangsawan dengan masyarakat biasa dalam hal bangunan terutama lumbung padi, memperhatikan tata krama pada golongan bangsawan, serta beberapa aspek dari segi lahiriah yang dapat peneliti dapatkan selama melakukan observasi.

  1. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan dilakukan oleh dua pihak orang, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2007: 186). Jadi disini terdapat elemen yang penting yaitu interviewer dan interviewee.

Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon). Dan dalam penelitian ini menggunakan wawancara terstruktur sebagai tehnik pengumpulan data. Oleh karena itu seperti apa yang dikatakan  Sugiyono, seorang peneliti dalam melakukan wawancara, pengumpulan data setelah penyiapan instrumen penelitian berupa pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Dengan terstruktur ini setiap responden diberi peranyaan yang sama, dan pengumpul data mencatatnya (Sugiyono, 141: 2008). Sedangkan metode wawancara yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara bertahap, karena karakter utama dari wawancara ini adalah dilakukan secara bertahap dan pewawancara tadak harus terlibat dalam kehidupan sosial formal. Sistem datang dan pergi dalam wawancara ini mempunyai kelebihan dalam mengembangkan objek-objek baru dalam wawancara berikutnya karena pewawancara memperoleh waktu yang panjang diluar informan untuk menganalisis hasil wawancara yang telah dilakukan serta dapat mengoreksinya (Burhan Bungin, 2008: 110).

Untuk mendapatkan data dari informan melelui wawancara ini meliputi, menemukan informan di lapangan dilakukan dengan menentukan orang-orangnya dengan alasan orang yang dipilih sebagai informan benar-benar tahu tentang sejarah mengenai asal-usul, proses interaksi, status sosial dan lain sebagainya. Adapun beberapa informasi dan dan fakta yang ingin peneliti dapatkan dalam wawancara ini berupa asal-usul bangsawan Jerowaru, perkembangannnya, pelaksanaan adat-istiadatnya, bagaimana implementasi adat-istiadat yang dikembangkan, bgaimana sistem perkawinan, bahasa yang digunakan dengan menggunakan pengumpulan data melelui wawancara ini. Serta beberapa informasi lainnya yang sesuai dengan tema dalam penelitian ini.

Berbagai pihak yang peneliti minta keterangannya dalam penelitian ini diantaranya, pejabat pemerintah yang ada di desa Jerowaru, tokoh adat, tokoh masyarakat, para bangsawan serta masyarakat biasa pada umumnya yang tahu tentang informasi yang penulis cari.

  1. Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data yang digunakan dalam metodologi penelitian ilmu sosial. Pada intinya metode dokumenter adalah metode yang digunakan untuk menelusuri data historis. Dengan demikian, pada penelitian sejarah, data dokmenter memang berperan sangat penting (Burhan Bungin, 2008: 121).

Metode penelitian ini merupakan salah satu yang harus digali oleh seorang peneliti sejarah, karena sebenarnya sejumlah besar fakta tentang sejarah tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi guna dijadikan kata-kata dan fakta historis.

Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-sura, catatan-catatan harian, cendramata, surat harian, laporan dan sebagainya. Sifat utama dari data ini tidak terbatas dari ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi pada masa silam.kumpulan data dalam bentuk tulisan ini disebut dokumen dalam arti luas. Adapun barang-barang yang termasuk dokumen diantaranya adalah artepak, caset tape, mikrofilm, dise, CD, flashdisk dan sebagainya (Burhan Bungin, 2008: 122). Secara detail bahan dokumenter terbagi beberapa macam yaitu:

  1. otobiografi
  2. surat pribadi, buku-buku atau catatan harian, memorial
  3. kliping
  4. dokumen pemerintah maupun suasta
  5. cerita roman dan cerita rakyat
  6. data server dan flashdisk
  7. data tersimpan di web site dan lain-lain.

Selain macam-macam bahan dokumenter diatas, bahan dokumenter ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu dokumen pribadi dan dokumen resmi.

a. Dokumen Pribadi

Dokumen pribadi adalah catatan atau karangan seseorang secara tertulis tentang tindakan, pengalaman, da kepercayaannya. Maksud mengumpulkan dokumentasi pribadi ialah untuk memperoleh kejadian nyata tentang situasi sosial dan berbagai faktor dis ekitar subjek penelitian (Sugiyono, 2008: 217). Dokumen pribadi ini bisa berupa buku harian, otobiografi dan sebagainya.

b. Dokumen Resmi

Dokumen resmi terbagi terbagi atas dokumen intern dan dokumen intern. Dokumen intern dapat berupa memo, pengumuman instruksi, ataupun dari lembaga untuk kalangan sendiri seperti risalah atau laporan rapat,keputusa pemimpin kantor, konvensi yaitu kebiasaab-kebiasaan yang berlangsung di suatu lembaga dan sebagainya. Sedangkan dokumen ekstern berupa bahan-bahan informasi yang dikeluarkan suatu pemerintahan (Burhan Bungin, 2008: 123).

Dalam penelitian ini dokumen yang akan dikaji sebagai bahan penulisan sejarah yang terkait dengan kebutuhan peneliti tidak begitu banyak maka peneliti dalam hal ini hanya menggunakan kitab kuno yang disebut sebagai Takepan untuk menelusuri sejarah tersebut, lebih dari itu ada juga monografi desa serta salinan daftar pemilih tetap pemilihan umum kabupaten Lombok timur tahun 2009/2019. Adapun dari takepan itu untuk mengetahui tentang sejarah awal masyarakat desa Jerowaru, kemudian dari monografi desa yaitu untuk memperoleh data yang jelas mengenai desa Jerowaru secara umum dari beberapa aspek dalam kekiniannya. Dan yang terakhir adalah daftar pemilih tetap tadi, yaitu digunakan untuk memastikan mengenai konsentrasi tempat tinggal bangsawan yang cendrung tinggal di satu tempat dengan sesama golongannya. Selain bahan dokumen yang berupa buku-buku diatas tadi, peneliti juga menggunakan foto-foto sebagai bahan kajian dokumenter ini.

b. Kritik

Setelah sumber sejarah dalam berbagai katagorinya itu terkumpul, tahap yang berikutnya adalah verifikasi atau lazim disebut juga dengan kritik untuk memperoleh keabsahan sumber. Dalam hal ini yang harus jug adiuji adalah keabsahan tentang keaslian sumber (otensitas) yang dilakukan melalui kritik ekstern, dan keabsahan tentang kesahihan sumber (kredibilitas) yang ditelusuri melalui kritik intern. Berikut ini kedua teknik verifikasi tersebut akan dijelaskan satu-persatu:

  1. Keaslian Sumber (otensitas)

Otensitas dari sumber ini minimal dapat diuji berdasarkan lima pertanyaan pokok sebagai berikut:

1. Kapan sumber itu dibuat ?

2. Dimana sumber itu dibuat ?

3. Siapa yang membuat ?

4. Dari bahan apa sumber itu dubuat ?

5. Apakah sumber itu dalam bentuk yang asli?

Kelima pertanyaan ini masih minimal untuk mengajukan pertanyaan dalam menentukan keabsahan dari dokumen sejarah yang diteliti untuk dijadikan sumber penulisan sejarah (Abdurrahman, 1999: 26). Lebih dari itu jika yang kita teliti tersebut adalah informasi dari informan dan bukan dokumen maka dalam hal ini Lucet sebagaimana dikutif Helius Sjamsudin (2007) mengatakan bahwa sebelum smber-sumber sejarah dapat digunakan dengan aman, paling tidak ada lima pertanyaan yang harus dijawab dengan memuaskan:

1. Siapa yang mengatakan itu?

2. Apakan satu atau dengan cara lain kesaksian itu telah diubah?

3. Apa sebenarnya yang dimaksud oleh orang itu dengan kesaksiannya itu?

4. Apakan orang yang memberikan keterangan itu seorang saksi mata (witnes) yang kompeten, apakah dia mengetahui faktor itu?

Oleh karena itu pada dasarnya kritik eksternal harus menegakkan fakta dari kesaksia bahwa :

  1. a.  Kesaksian itu benar-benar diberikan oleh orang ini atau pada waktu ini (authenticity)

b. Kesaksian yang telah diberikan itu telah bertahan tanpa ada perunahan (uncorupted), tanpa ada suatu tambahan-tambahan atau penghilangan-penghilangan yang substansial (itegriti) (Helius Sjamsudin, 2007: 134).

Karena fakta yang peneliti cari berkisar pada tahun 1970-an, maka tergolong sejarah yang kontemporek, sebab orang-orang yang terlibat langsung pada saat itu masih hidup jadi bisa dikatakan kesaksiannya karena merupakan sumber primer sangat bisa dipercaya, sekaligus dengan jalan memadukan diantara beberapa partanyaan yang sama dan diajukan pada informan yang berbeda, kemudian jika ada dari sebagian kecil dari informan yang pendapatnya berbeda serta penulis kurang meyakini pendapatnya karena sebagian besar bersaksi sama maka pendapat satu orang atau dua orang diantara sepuluh orang tersebut gugur dengan sendirinya.

  1. Kesahihan Sumber (kredibilitas)

Kritik internal sebagaimana yang disarankan oleh istilahnya menekankan aspek kedalaman yaitu isi dari sumber, kesaksian (testimoni). Oleh karenanya seperti yang ditulis Helius Sjamsudin (2007) dalam kritik intern ini  seorang peneliti harus memutuskan apakah kesaksian itu dapat diandalkan (reliable) atau tidak. Keputusan ini didasarkan atas penemuan dua penyidikan (inquiry), yaitu:

a. Arti sebenarnya dari kesaksian itu harus dipahami?

b. Setelah fakta kesaksian dibuktikan dan setelah arti sebenarnya dari isinya telah dibuat sejelas mungkin, selanjutnya kredibelitas saksi harus ditegakkan.

Adapun berkenaan dengan sumber lisan, bila ingin teruji kredibilitasnya sebagai fakta sejarah, maka harus memenuhi sebagaimana syarat-syarat yang diajukan Garraghan sebagaimana dikutif Dudung Abdurrahman (1999) sebagai berikut:

a. Syarat-syarat umum: sumber lisan (tradisi) harus didukung olek saksi berantai dan disampaikan oleh pelopor pertama yang terdekat. Sejumlah saksi itu harus sejajar dan bebas, serta mampu mengungkapkan fakta yang teruji kebenarannya.

b. Syarat-syarat khusus: sumber lisan mengandung kejadian penting yang diketahui umum; telah menjadi kepercayaan umum pada masa tertentu; selama masa tertentu itu tradisi dapat berlanjut tanpa protes atau penolakan perseorangan; lamanya tradisi relatif terbatas; merupakan aflikasi dari penelitian yang kritis; dan tradisi tidak pernah ditola oleh pemikiran kritis.

Dalam hal kredibilitas sumber ini peneliti sebagaimana penjelasan diatas dalam sumber lisan menggunakan saksi yang berantai, bahkan saksi tersebut merupakan sumber primer yang secara langsung mengalami dan merasakan mengenai fakta yang peneliti tanyakan terkait dengan sejarah masyarakat desa jerowaru tersebut. Dan dari beberapa saksi yang berantai itu jika seperti yang sudah dijelaskan diatas menyimpang dari pendapat umum maka kesaksiaanya tersebut ditolak untuk dijadikan sumber sejarah, yang sudah barang tentu dalam hal ini ke kredibelan informan tersebut juga peneliti ketahui.

c. Interpretasi

Interpretasi atau penafsiran data sejarah seringkali disebut juga dengan analisis sejarah. Kata analisis sendiri berarti menguraikan, dan secara terminologis berbeda dengan sintesis yang berarti menyatukan. Namun keduanya seperti yang dikatakan Kuntowijoyo dalam bukunya Dudung Abdurrahman (1999) bahwa analisis dan sintesis dipandang sebagai metode-metode utama dalam interpretasi.

Lebih jelasnya bahwa interpretasi data atau analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangtan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan dalam katagori,menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2008: 244). Dengan begitu analisis sejarah itu sendiri, seperti yang dikatakan Berkhofer (Abdurrahan:1999) bertujuan melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta itu kedalam suatu interpretasi yang menyeluruh.

Karena didalam penulisan sejarah sering juga terjadi interpretasi tidak sesuai atau bahkan terlalu meluas maka soerang peneliti dianjurkan memusatkan perhatiannya pada pos-pos tertentu yang membicarakan suatu maslah, misalnya: dengan mempelajari tokoh-tokoh, longkungan kejadian yang melingkupinya dan sebagainya. Selanjutnya perhatian diarahkan kepada analisis mengenai apa yang dipikirkan orang, diucapkan dan diperbuat orang yang menimbulkan perubahan melalui dimensi waku (abdurrahman, 1999: 61-62).

Adapun yang dilakukan peneliti dalam tahap iterpretasi data ini adalah mensintesiskan beberapa fakta agar sesuai dengan teori yang digunakan. Misalnya ada teori yang mengatakan bahwa kekerabatan ditentukan oleh keturunan yang selektif, dimana dalam kekerabatannya memiliki hak atas gelar, lambing, kepemilikan dan lain-lain, begitu juga fakta yang didapatkan mencari titik temu antara teori tersebut dengan hasil penelitian yang akan dijelaskan.

           d. Historiografi

Sebagai fase terakhir dalam penulisan sejarah, historiografi ini merupakan cara penulisan, pemaparan atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan. Layaknya laporan ilmiah, penulisan hasil penelitian sejarah itu hendaknya dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai proses penelitian, sejak awal (fase perencanaan) sampai dengan tahap terakhir (penarikan kesimpulan). Jadi dengan penulisan sejarah itu akan ditentukan mutu penelitian sejarah itu sendiri (Abdurrahman,1999: 67).

Diantara syarat umum yang harus diperhatikan peneliti didalam pemaparan sejarah, seperti yang dikatakan Hasan Usman dalam bukunya Dudung Abdurrahman (1999), adalah:

1. Peneliti harus memiliki kemampuan mengungkapkan bahasa secara baik.

2. Terpenuhinya kesatuan sejarah, yakni suatu penulisan sejarah itu sendiri sebagai bagian dari sejarah yang lebih umum, karena ia didahului oleh masa dan diikuti oleh masa pula. Dengan perkataan lain, penulisan itu ditempatkannya sesuai dengan perjalanan sejarah.

3. Menjelaskan apa yang ditemukan oleh peneliti dengan menyajikan bukti-buktinya dan membuat garis-garis umum yang akan diikuti secara jelas oleh pemikiran pembaca.

4. Keseluruhan pemaparan sejarah haruslah argumentatf, artinya usaha menyerahkan ide-idenya dalam merekonstruksi masa lampau itu didasarkan atas bukti-bukti tersendiri, buktri yang cukup lengkap, dan fakta-fakta akuarat.

Penyajian penelitian secara garis besar terdiri atas tiga bagian: (1) pengantar, (2) hasil penelitian, (3) kesimpulan. Setiap bagian biasanya terjabarkan dalam bab-bab atau sub bab yang jumlahnya tidak ditantukan swecara singkat. Asalkan antara satu bab dengan bab yang lain harus ada pertalian yang jelas (Abdurrahman, 1999: 69).

Jenis historiografi yang digunakan oleh peneliti adalah histiiriografi kritis, karena selain menggunakan pendekatan sosial yang merupakan bagian dari tema sejarah kritis yang multi disipliner (multy approach), sekaligus dalam melihat hubungan status sosial di jerowaru menggunakan dua pendekatan baik dari golongan bangsawan maupun masyarakat biasa tentang sejarahnya sehingga dalam penulisannya pada tahap historiografi tidak terjadi bias atau melihat dengan satu kacamata saja. Sekaligus dalam penulisan  ini selain mampu menghadirkan nuansa sejarahnya sekaligus nuansa sosial, budaya, ekonomi dan pendididak tercakup di dalamnya.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Gambaran Umum Lokasi Penalitian

Desa Jerowaru merupakan salah satu dari 4 (empat) Desa yang ada di kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur. Dengan luas 35,22 km dengan perincian untuk persawahan 2,320 Ha, perkebunan 532 Ha,perumahan atau pekarangan 406 Ha, perkuburan 41 Ha, dan lain-lain 282 Ha.

Desa Jerowaru terdiri dari 6 dusun definnitif dan 3 dusun perwakilan yaitu kadus Jerowaru daye (utara), kadus Jerowaru lauk (selatan), kadus Jerowaru timuk (timur), kadus Montong Wasi, dan kadus Sepapan. Sedangkan yang termasuk kadus perwakilan adalah kadus Jor, kadus Muhajirin, dan kadus Telong-Elong.

Adapun batas-batas desa Jerowaru adalah sebagai berikut: (a). sebelah utara berbatasan dengan desa Sepit, (b) sebelah timur berbatasan dengan desa Tanjung Luar, (c). sebelah selatan berbatasan dengan desa Pemongkong dan (d). sebelah barat berbsatasan dengan desa Sukaraja.

Total jumalah penduduk dari semua dusun yang ada di desa Jerowaru adalah 18.307 jiwa, dengan 5.372 kepala keluarga (KK), sedangkan perinciannya adalah sebagai berikut: (a) laki-laki dengan jumlah 8.579 jiwa, (b) perempuan 9.728 jiwa.

Perkebunan dan pertanian merupakan sektor pendapatan terbesar di desa Jerowaru, selain peternakan, perkebunan, perikanan dan perdagangan. Dilihat dari ukuran perkembangannya terutama dalam bidang pertanian memang ada kemajuan dari tahun ketahun bila dibandingkan dengan kebelum keadaan sebelumnya, namun dalam sektor ini yang menjadai kendala utama adalah sarana dan prasarana di bidang irigasi atau pengairan dan ketidak sesuaiannya harga kebutuhan petani denagan harga hasil produksi. Adapun hasil pertanian yang sangat menopang kehidupan petani di desa Jerowaru adalah hasil tanaman tembakau, selain padi dan semangka. Indikator perekonomian masyarakat di desa Jerowaru dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.1 indikator perekonomian masyarakat Desa Jerowaru 2009/ 2010

No Indikator Sub. Indikator Thn. 2009 Thn. 2010
1 Pendapatan Sumber pendapatan

  1. Pertanian
  2. Kehutanan
  3. Perkebunan
  4. Peternakan
  5. Perikanan
  6. Perdagangan
  7. Jasa
  8. Industri rumah tangga
Rp. 35.201.125.000

Rp. 400.000.000

Rp. 61.325.600.000

Rp.11.324.057.000

Rp. 4.180.866.000

Rp. 6.098.100.000

Rp. 3.441.800.000

Rp. 526.000.000

Rp. 41.878.550.000

Rp. 600.000.000

Rp. 72.246.600.000

Rp. 12.146.183.500

Rp. 4.952.197.000

Rp. 8.105.400.000

RP. 4.855.000.000

Rp. 794.000.000

(Sumber : monografi desa Jerowaru tahun 2009/ 20010)

Sedangkat tingkat pendidikan di desa Jerowaru masih bisa dibilang rendah, sehingga peningkatannya masih sangat diperlukan dukungan dari pemerintah, pihak swsata maupun dukungan dari masyarakat. Untuk itu pendidikan masyarakat desa Jerowaru perlu ditingkatkan lagi, karena keberhasilan dari suatu pembngunan sangat tergantung dari pendidikan penduduknya. Peningkatan pedidikan penduduk merupakan salah satu indikator penting dalam penentuan pencapaian angka indeks pembangunan manusia (IPM) yang tinggi. Permasalahan dalam bidang pendidikan ini disebabkan oleh kualitas sumber daya manusia yang masih rendah karena tingkat pendidikan yang belum memadai. Namun dalam melaksanakan sistem pendidikan nasional dan pendidikan dasar sembilan tahun, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia (SDM) baik melalui pendidikan formal maupun melalui pendidikan informa.

Pemerintah desa Jerowaru selalu mendukung kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat, tokoh agama, melalui organisasi sosial masyarakat atau pun pendidikan swasta, sehingga tercermin dengan tersedianya sarana dan prasarana pendidikan sebagai berikut:

  1. Sekolah Dasar                    : 14 buah
  2. Madrasah Ibtida’yah          : 2 buah
  3. SMPN Negeri                     : 1 buah
  4. Madrasah Tsanawiyah      : 5 buah
  5. Madrasah Aliyah               : 2 buah
  6. PKBM (Paket A, B dan C)  : 2 buah
  7. TK                                      : 2 buah
  8. PAUD                                 : 4 buah

(sumber: monografi desa Jerowaru tahun 2009/ 2010).

Untuk lebih jelasnya, data tingkat perkembangan pendidikan antara tahun 2009/ 2010 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.2 indikator perkembangan pedidikan masyarakat desa Jerowaru.

No Indikator Sub. Indikator Thn. 2009 Thn. 2010
1. Tingkat pendidikan penduduk usia 15 tahun 1. Buta Hurup

2. Tidak Tamat SD

3. Tamat SD

4. Tamat SLTP

5. Tamat SLTA

6. Tamat D-1

7. Tamat D-2

8. Tamat D-3

9. Tamat S1

3187 orang

721 orang

1562 orang

2644 orang

3485 orang

481 orang

841 orang

1682 orang

601 orang

2337 orang

600 orang

1487 orang

2608 orang

3782 orang

522 orang

783 orang

2087 orang

1174 orang

(Sumber: monografi desa Jerowaru tahun 2009/ 2010)

Selain dalam bidang ekonomi maupun pendidikan diatas masih sangat banyak dari gejala-gejala sosial pada masyarakat Jerowaru yang bisa di identifikasi, namun gejala sosial yang masih menjadi penomena sosial pada masyarakat Jerowaru adalah masalah kawin cerai yang cukup tinggi, dan hal ini sudah merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat sampai saat ini yang secara tidak sadar akan berpengaruh terhadap anak keturnannya. Dampak yang cukup dirasakan dalam hal ini adalah banyaknya anak dari hasil broken home yang kawin pada usia dini.

B.   Sejarah Singkat Penduduk Awal Desa Jerowaru

Bale Belek yang ada di Jerowaru Daye (utara) menurut Takepan yang ada di Bale Belek merupakan rumah yang dihuni pertama kali di desa Jerowaru. Pembuatannya menurut takepan yang selalu dibaca setiap tahun tersebut dibuat pada abad ke- XIII yaitu kurang lebih pada tahun 1257 yang lalu, atau sekitar 753 tahun silam. Pembuatan Bale Belek ini menurut Babad tersebut menunjukkan bahwa pembuatannya berlangsung satu hari saja yang dimulai dari jam enam pagi dan berahir pada jam enam sore hari yang bersamaan juga dengan dibangunnya Bale Belek yang ada di Senyiur. Pemimpin pembuatan Bale Belek ini adalah Datu Dewe Maspanji atau yang dikenal juga dengan nama Dewe Maspanji Raeng Jagat Manujae Lemper Subur Makmur Datu Tunggal Lek Dunie ie Sak Laek ie Sak nani ie Sak Lemak. Kedatangan Datu Dewe Mas Panji dengan rombongannya berasal dari arah selatan Jerowaru tepatnya di pantai Serewe, Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru sekarang. Sesampainya di painggir pantai, Raden Mas Panji istirahat bersama pengikutnya sebelum melanjutkan perjalanannya. Sebelum berangkat terlebih dahulu Datu Maspanji melepas dua busur panahnya sebagai petunjuk tempat mereka akan membangun tempat tinggal, kedua anak panahnya kemudian jatuh pada tempat yang tidak terlalu jauh, yang satunya jatuh di Jerowaru dan yang satunya lagi jatuh di Senyiur. Arah dan tempat jatuhnya busur panah inilah yang nantinya akan dijadikan patokan untuk membuat tempat tinggal. Sedangkan mengenai jumlah orang yang menyertai Datu Maspanji tdak diketahui secara pasti, namun secara logika jika benar karena dari buku sumber ini banyak sekali hal-hal yang tidak masuk akal, seperti bisa memanah dari Serewe sampai Jerowaru bahkan sampai Senyiur, namun kita abaikan hal itu dulu, maka bisa dikatakan jumlah pengikutnya banyak sekali sekaligus dengan ahli pertukangan yang cukup  berpengalaman sehingga pembangunannya bisa diselesaikan dalam satu hari (wawancara Marjun, kamis 8 juli 2010).

Lebih lanjut dari kisah Datu Dewe Maspanji ini tidak terlalu jauh diketahui karena menurut babadnya kemudian dia menghilang. Selanjutnya yang menghuni Bale Belek setelah penghuninya tidak ada lagi adalah Pe Belek, sedangkan yang di Senyiur dihuni oleh kakak dari Pe Belek, yang mana kedua-duanya berasal dari Islam Pena.

Sebelum membahas lebih lanjut Pe Belek dan Pe Balak terlebih dahulu akan dibahas mengenai kerajaan Pena yang merupakan asal usul Pe Belek dan Pe Balak.

Sebuah fakta sejarah di daerah tandus Lombok Timur bagian selatan berdiri sebuah kerajaan yaitu kerajaan Pena. Kerajaan tersebut awalnya berpusat di bukit Pena, desa Batu Nampar Jerowaru. Penyebaran agama Islam dan perpaduannya dengan adat istiadat di daerah kering itu tidak terlepas dari peranan kerajaan kecil tersebut.

Lebih lanjut Mastam dalam karangannya yang berjudul “ Peranan Kalangan Istana dalam Perjuangan Adat Agama di Lombok Timur “ mengatakan bahwa secara konkrit Pena lebih tepat di sebut sebagai keulamaan dari pada sebagai kerajaan Islam. Bahkan para budayawan lebih suka menyebutnya sebagai basis penyebaran agama Islam dari pada pusat politik. Hal tersebut didukung dengan peninggalan yang berupa situs Pena yang di dalamnya tidak terdapat benda-benda yang menunjukkan bekas bangunan istana.

Pena seperti yang dikatakan Mastam diperintah oleh seorang Pemban ( raja kecil, datu ) yang sekaligus menjadi ulama agama Islam. Datu yang terkenal adalah Raden Suryajaya Supeno. Dia digantikan oleh pangeran Mimjimak yang bergelar Pemban Tanggal Peras atau Baru Tanggan. Berbeda dengan Selaparang “ seri kedua “ Pena tidak banyak mendapat perhatian secara langsung dari para ulama di tanah Jawa.

Maka kalangan bangsawan banyak yang berguru ke Jawa untuk belajar pada para wali. Mereka mempelajari cara menyebarkan agama Islam yang disesuaikan dengan adat Sasak. Maka peradaban masyarakatLombokbagian selatan pun lebih bernuansa mengenal budaya leluhur dibandingkan dengan wilayah timur.

Misalnya kesesnian wayang, tari-tarian, pakaian dan tata krama. Untuk kepentingan itu, pangeran Tata Samin atau Sangupati sempat belajar ke Solo dan Demak sebagai pusat penyebaran agama Islam yang berbasis budaya Jawa. Kemudian dengan pola yang sama Ia menyebarkan agama Islam di sekitar Sakra. Sebelum akhirnya meninggal dan dimakamkandi Mengkuru,iamampu mengembangkan tradisi kesenian Sasak. Konon, ia pun berhasil memberantas tradisi main judi dan minum tuak masyarakat sekitar.

Meskipun tak sekaliber Selaparang dan Pejanggik, namun kemajuan yang dicapai Pena cukup meresahkan pihak musuh. Pena mengalami kemunduran karena sumber-sumber air di bawah bukit yang dikuasai pasukan Langko. Ketika itu menantu Banjar Getas telah menjadi penguasa di negeri dengan gelar Prabu Anom Langko.

Upaya pengisolasian Pena itu terkenal dengan sebutan Politik Rerepik Aik. Akibat langsung dari pemblokadean ini adalah kesulitan mendapatkan air minum bagi para bangsawan yang tinggal di atas bukit. Dalam perkembangannya, terjadi perpindahan pusat kegiatan dari bukit Pena ke Wangkek di desa yang sama maupun ke tempat-tempat lain yang memungkinkan keamanan bagi para bangsawan maupun rakyatnya. Tidak terkecuali desa Jerowaru sekarang merupakan tujuann isolasi dari akibat blokade yang dilakukan oleh kerajaan Langko tersebut.

Pe Belek yang merupakan bangsawan Pena beserta rekan-rekannya tinggal di sekitar Bale Belek yang sudah  ada. Adapun pengikut-pengikutnya yang lain memisahkan dirinya di tempat khusus yang nantinya dikenal denagn nama gubuk Tembok. Inilah keturunan asli Jerowaru. Adapun Pe Belek yang diperkirakan sebagai pemimpin para bangsawan ke desa Jerowaru menurunkan dua orang keturunan yaitu Dewi Ringgit dan Raden Panji. Raden Panji setelah memiliki keluarga kemudian pindah ke rumah Pelambik sekarang yang merupakan bagian dari kadus Jerowaru timuk (timur). Adapun peninggalan yang menjadi bukti adalah adanya Bale Belek di Pelambik, sedangkan Dewi Ringgit sendiri tetap tinggal di Bale Belek lama di Jerowaru pusat. Sebagai bukti dari pihak laki-laki maupun perempuan tinggal di mana, sampai saat ini oleh masyarakat serta buku Takepan di Bale Belek, adanya  rambut-rambut perempuan yang cukup banyak di sana. Sedangkan di Bale Belek Pelambik ditemukan sebilah keris yang mana menandakan bahwa anak Pe Belek yaitu Raden Panji yang tinggal disana.

Dewi Ringgit yang tinggal di Bale Belek pusat menurunkan empat orang anak, keempat anaknya tersebut memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Keempat anaknya itu adalah Datuk Masjid, Datuk Labang, Datuk Kebon dan Datuk Sabo. Lebih jelasnya perbedaan kepribadian dari anak-anak Dewi Ringgit adalah sebagai berikut, yaitu :

a.      Datuk Masjid

Sematan nama yang diberikan kebiasaan dari apa yang dikerjakan setiap hari dan menjadi kepribadian orang yang memiliki nama tersebut. Menurut keterangan, dia merupakan seorang ahli ibadah, bahkan lebih banyak menghabiskan hidupnya untuk beribadah di Masjid. Sampai-sampai hanya pulang ke rumahnya sekedar untuk makan, kemudian pergi lagi untuk beribadah ke Masjid.

Keturunan dari Datuk Masjid ini menurut Sineraf (kadus Jerowaro Daye) dan Marjun (mangku Bale Belek), namun belum diketahui secara pasti termasuk keturunannya yang ke berapa. Beliau adalah TGH. Jahye  yang merupakan bapak dari TGH Mutawalli pendiri pondok pesantren Darul Aitam Jerowaru. Sedangkan TGH Mutawalli memiliki an banyak putra maupun putri, salah satunya adalah TGH.M. Sibawaihi dan Lalu Abdul Mukib serta keluarganya yang lain.

b.      Datuk Labang

Kebiasaan dan kepribadian Datuk Labang sangat berbeda dengan kepribadian dan kebiasaan sehari-hari saudaranya yang lain. Aktifitas yang sering dilakukannya adalah ikut berperang. Namun tidak diketahui sescara pasti dengan siapa dan pihak mana dia berperang. Namun ada kemungkinan karena keluarganya pernah bermusuhan dengan kerajaan yang berada di utara Pane yaitu kerajaan Langko. Jadi tidak menutup kemungkinan untuk membalas atau sekedar untuk membantu keluarganya yang masih terisolasi di sekitar kawasan kerajaan Pene. Konon, biasanya ketika pulang ke rumahnya selalu berlumuran dengan darah-darah musuhnya. Karena tidak ada sumber kapan bangsawan Pene ini sudah bebas dari isolasi yang diakibatkan blokade kerajaan Langko maka jelasnya dengan siapa  dan pihak mana Datuk Labang ini berperang belum bisa dibuktikan secara jelas.

Adapun yang diperkirakan keturunan dari Datuk Labang seperti seperti yang dikatakan Mamik Tanom ( keturunan Datuk Labang ) dan Marjun diantaranya adalah Mamik Keran, Mamik Tanom, dan Mamik Sungkal serta saudara-saudara lainnya, yang saat ini tinggal di sekitar gubuk Tembok bersama keturunan keluarga bangsawan lainnya.

c.       Datuk Kebon

Kemungkinan besar sematan nama yang diberikan kepada Datuk Kebon tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang terjadi dengan Datuk Masjid. Jika kegiatan sehari-hari Datuk Masjid selalu beribadah ke masjid, sementara itu Datuk Labang disibukkan dengan ikut berperang, Datuk Kebon disibukkan oleh kegiatan rutinitas hariannya adalah bertani ( berkebon). Setiap tanah yang diperkirakan bisa ditanami tanaman kebutuhan sehari-hari selalu diusahakan oleh Datuk Kebon untuk ditanami. Bahkan bukan hanya berkisar di kawasan desa Jerowaru saja melainkan Keruak, Sepit, Mendane, Senyiur ada juga tanah garapannya. Menurut Marjun ada juga keturunan dari Datuk Kebon yang sampai saat ini tinggal di kawasan yang di sebut di atas.

d.      Datuk Sabo

Dengan gubuk Bawak Sabo yang oleh masyarakatsanadiperkirakan di tempat tersebut banyak sekali ditanam pohon Sabo oleh tokoh yang dikenal sesuai kebiasaaannya ini yaitu menanam Sabo. Meskipun saat ini sudah tidak banyak lagi,namun di sekitar gubuk Bawak Sabo bukti tersebut masih ada berupa adanya pohon Sabo dan sisa-sisanya.

Uraian sejarah singkat di atas memberikan gambaran mengenai asal usul para bangsawan ini,khususnya yang berada di Jerowaru bat ( barat ) terutama di gubuk Tembok dan Pelambik. Walaupun di tempat  yang disebut terakhir terdapat perbedaan dalam implementasi adat-istiadat nenek moyangnya. Adapun persebaran bangsawan ini ke Pelambik bertepatan dengan berpindahnya Raden Panji.sebelah satu yang menjadi permasPedalemalahan sekarang adalah asal usul dari bangsawan yang ada di gubuk pedaleman ( gubuk Nenek ) (wawancara Sinerap dan Marjun,  sabtu 10 juli 2010).

Mamik Karniati yang merupakan salah satu dari komunitas bangsawan yang tinggal di gubuk Nenek mengatakan bahwa sampai saat ini masih ada hubungan kekerabatan antara bangsawan yang ada di Jerowaru khususnya di gubuk Nenek dengan bangsawan yang ada di Gerung,Kediri, Pagutan, dan Kopang masih ada. Begitu juga dengan apa yang dikatakan Mamik Jamudin (80) bahwa asal usul dari bangsawan yang ada di gubuk Pedaleman ini bukan berasal dari satu tempat saja melainkan seperti yang dikatakan mamik Karniati di atas. Dari uraian di atas dapat diambil dua kemungkinan, yaitu : (1) Bangsawan yang ada di gubuk Nenek berasal dari berbagai tempat seperti Gerung,Kediri, Pagutan, Kopang dan lain-lain. (2) Bisa saja walaupun saat ini masih ada hubungan kekerabatan dengan tempat-tempat yang disebut tadi namun berasal dari satu tempat kemudian menyebar ke tempat lain. Misalnya asal muasal pertamanya yaitu dari Kopang kemudian menyebar keKediri, Pagutan dan lain-lain maka otomatis walaupun berpisah tempat tinggal namun masih memiliki hubungan kekerabatan. Namun yang lebih jelas kesimpulan yang pertama akan lebih kuat yang kemungkinan walaupun berasal dari daerah yang berbeda namun memiliki tingkatan sosial yang sama pada akhirnya membentuk komunitas tersendiri di tempat yang disebut gubuk Pedaleman (wawancara Mamik Jamudin dan Mamik Karniati,

C.    Stratifikasi Sosial Masyarakat Desa Jerowaru

Stratifikasi social pada masyarakat desa Jerowaru selain berbentuk stratifikasi social terututup ( closed social setratification ) dari sejarahnya, sekaligus juga terdapat stratifikasi social terbuka ( open social setratificaation ) untuk saat ini, bahkan menurut sebagian besar narasumber sudah mulai terasa sejak tahun 1970-1980-an. Stratifikasi sosial tertutup pernah mewarnai kehidupan masyarakat desa Jerowaru pada saaat masih sangat  dihormatinya status kebangsawanan, dimana sangat banyak sekali perbedaan antara golongan masyarakat bangsawan dengan golongan biasa baik dalam bidang ekonomi, sosial maupun budaya. Dalam bidang ekonomi misalnya sebelum tahun 1970-1980-an golongan bangsawan rata-rata memiliki sawah yang cukup luas bila dibandingkan dengan masyarakat biasa pada umumnya, dalam bidang sosial sudah barang tentu sangat dihormati, bahkan dalam bidang adat-istiadat  terdapat juga perbedaan yang dapat dikatakan menonjol, semua ini kata mantan kepala desa Jerowaru yang pernah menjabat selama lima periode, berlaku kurang lebih dari tahun 70-80-an ke bawah. Sementara dari tahun 70-80-an sudah dirasakannya kelonggaran-kelonggaran dalam adat istiadat bangsawan oleh masyarakat biasa yang mana ditunjukkan dengan beberapa sebab seperti berkurangnya kepemilikan atas tanah ynag sangat luas, berkurangnya pendidikan dari golongan bangsawan serta mulai berkembangnya masyarakat biasa baik dalam bidang pendidikan maupun ekonomi, dan juga ditandai dengan berkurangnya adat-istiadat yang dahulunya menjadi aturan yang diharuskan (rit) bagi golongan bangsawan.

Golongan bangsawan di desa Jerowaru konsentrasi tempat tinggalnya berbeda dengan masyarakat biasa pada umumnya. Terdapat dua tempat yang dikenal sangat memegang teguh adat-istiadat kebangsawanannya yaitu di gubuk Nenek atau yang biasa dikenal dengan gubuk Pedaleman dan gubuk Tembok di kadus Jerowaru, sedangkan gubuk Nenek berada di kadus Jerowaru bat (barat). Selain itu mereka juga bergaul dengan golongannya untuk sehari-harinya, begitu juga dengan golongan masyarakat biasa yang seolah-olah terdapat sekat yang memisahkan antara golongan bangsawan dengan golongan masyarakat biasa dan sampai saat ini adanya konsentrasi pemisahan tempat tinggal antara golongan bangsawan dengan golongan masyarakat biasa masih bisa ditunjukkan. Pada umumnya dapat dilihat dari masih berkumpulnya tempat tinggal golongan bangsawan di satu tempat meskipun untuk saat ini gubuk yang ditempati golongan bangsawan dan dahulunya hanya ditempati golongannya saja sudah ada masyarakat biasa. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa selama tahun 70-an  adanya stratifikasi sosial tertutup ini benar-benar dirasakan (wawancara Lalu Abdul Hamid, kamis 15 juli 2010).

Dari keenam kadus yang terdaftar secara administratif dan tiga kadus perwakilan, dimana konsentrasi tempat tinggal golongan bangsawan ini yaitu di kadus Jerowaru timuk (timur), Jerowaru bat (barat) dan kadus Jerowaru daye (utara). Sementara di kadus-kadus lain hanya segelintiran orang saja. Misalnya saja di kadus Jerowaru Bat. Dari 1047 warganya yang terbagi menjadi enam RT yaitu RT gubuk Tengak, RT gubuk Nenek, RT gubuk Gora, RT gubuk Sekilat dan RT gubuk Tutuk. Konsentrasi tempat tinggal keluarga bangsawan sampai saat ini yaitu di RT gubuk Nenek atau biasa disebut dengan istilah Pedaleman. Adapun bangsawan di kadus Jerowaru Bat adalah 61 orang, dengan perincian seperti tertera  pada table di bawah ini.

Tabel 4.3 Nama-nama penduduk bangsawan kadus Jerowaru Bat.

No Nama Lengkap Umur Status
1 Lalu Rasdin 25 tahun Belum kawin
2 Bq. Serah 20 tahun Sudah kawin
3 H. L. Lukmanul Hakim 58 tahun Sudah kawin
4 Mamik Sumiati 56 tahun Sudah kawin
5 Lalu Muhlis 22 tahun Sudah kawin
6 Mamik Abdul Munir 31 tahun Sudah kawin
7 Mamik Raehanun 49 tahun Sudah kawin
8 Lalu Mashur 21 tahun Belum kawin
9 Lalu Zakaria 29 tahun Sudah kawin
10 Baiq Ayuni 38 tahun Sudah kawin
11 Baiq Rahmawati 23 tahun Sudah kawin
12 L. Wire Bakti 18 tahun Sudah kawin
13 Mamik Aluh Harida 43 tahun Sudah kawin
14 Baiq Aluh Harida 24 tahun Belum kawin
15 Mamik Ida 41 tahun Sudah kawin
16 Baiq Masni 31 tahun Sudah kawin
17 Baiq Mundre 31 tahun Sudah kawin
18 Mamik Muhur 74 tahun Sudah kawin
19 Baik Lamijah 33 tahun Sudah kawin
20 Lalu Agus Satriadi 24 tahun Sudah kawin
21 Lalu Zulkarnain 26 tahun Sudah kawin
22 Lalu Satrah 57 tahun Sudah kawin
23 Lalu Agus Satriawan 24 tahun Belum kawin
24 Baiq Rusniati 33 tahun Sudah kawin
25 Mamik Mahrap 71 tahun Sudah kawin
26 Lalu Maswan 35 tahun Sudah kawin
27 Bq. Mulyana Darma Yanti 26 tahun Belum kawin
28 Lalu Sahirudin 23 tahun Belum kawin
29 Bq. Helisnaeni 30 tahun Belum kawin
30 Lalu Khaerul Furqan 18 tahun Sudah kawin
31 Lalu Ishak 45 tahun Belum kawin
32 Baik Asporiah 33 tahun Belum kawin
33 Bq. Suara Warti 24 tahun Belum kawin
34 Baiq Jumakiyah 30 tahun Sudah kawin
35 Lalu Hasbullah 41 tahun Sudah kawin
36 Lalu Umar 50 tahun Sudah kawin
37 Baiq Hadijah 45 tahun Sudah kawin
38 L. Juliadi Satriawan 31 tahun Sudah kawin
39 Bq. Mustika Riani 30 tahun Sudah kawin
40 Baiq Asriani 33 tahun Sudah kawin
41 Baiq Is Pujaiah 29 tahun Sudah kawin
42 Baiq Zurijah 31 tahun Sudah kawin
43 Lalu Burhanudin 20 tahun Belum kawin
44 Lalu Zul Pahri 31 tahun Sudah kawin
45 Baik Zakiyah 24 tahun Sudah kawin
46 Baiq Rini 18 tahun Belum kawin
47 Lalu Jaelani 25 tahun Sudah Kawin
48 Lalu Abd. Hanan 45 tahun Sudah kawin
49 Bq. Ainul Mariana 22 tahun Belum kawin
50 Lalu Mustafa Kamal 20 tahun Belum kawin
51 Baiq Saodah 49 tahun Sudah kawin
52 Lalu Dodik 19 tahun Belum kwin
53 Lalu Purnama Haji 19 tahun Belum kawin
54 Lalu Darman Huri 30 tahun Sudah kawin
55 Lalu Darwisah 46 tahun Sudah kawin
56 Bq. Nurwati 19 tahun Belum kawin
57 Mamik Sumaini 72 tahun Sudah kawin
58 Mamik Jamudin 80 tahun Sudah kawin
59 Baiq Jaminah 18 tahun Belum kawin
60 Mamik Jamirah 23 tahun Sudah kawin
61 Lalu Agus 20 tahun Sudah kawin

(Sumber: Salinan daftar pemilih tetap pemilihan umum kabupaten Lomb-

timur tahun 2009.)

Lebih khusus lagi dari keenam puluh satu warga di kadus Jerowaru Bat (barat) yang tergolong bangsawan ini 80%nya tinggal di RT gubuk Nenek. Dari 101 jumlah warga di gubuk Nenek terdapat 48 warga yang tergolong bangsawan. Jadi dari 61 warga bangsawan di kadus Jerowaru bat (barat) terdapat 43 warga berada di gubuk Pedaleman, hingga jelas dari data yang ada menunjukkan pernah adanya konsentrasi bangsawan. Untuk lebih jelasnya nama warga yang tergolong bangsawan dan tinggal di gubuk Nenek dapat dilihat dari table di bawah ini.

Tabel 4. 4 Nama penduduk bangsawan Jerowaru bat gubuk Nenek.

No Nama Lengkap Umur Status
1 Lalu Zakaria 29 tahun Sudah kawin
2 Bq. Ayuni 38 tahun Sudah kawin
3 Bq. Rahmawati 23 tahun Belum kawin
4 Lalu Wire Bakti 18 tahun Belum kawin
5 Mamik Aluh Harida 43 tahun Sudah kawib
6 Mamik Ida 41 tahun Sudah kawin
7 Baiq Masni 33 tahun Sudah kawin
8 Baiq Mundre 31 tahun Sudah kawin
9 Mamik Muhur 74 tahun Sudah kawin
10 Baiq Lamijah 33 tahun Sudah kawin
11 Lalu Agus Satriadi 24 tahun Sudah kawin
12 Mamik Rustam 66 tahun Sudah kawin
13 Lalu Zulkarnaen 26 tahun Sudah kawin
14 Lalu Satrah 57 tahun Sudah kawin
15 Lalu Agus Satriawan 24 tahun Sudah kawin
16 Bq. Rusniati 33 tahun Belum kawin
17 Mamik Mahrap 71 tahun Sudah kawin
18 Lalu Maswan 35 tahun Sudah kawin
19 Bq. Mulyana Darma Yanti 26 tahun Sudah kawin
20 Lalu Sahirudin 23 tahun Belum kawin
21 Bq. Hajjah Karniati 55 tahun Sudah kawin
22 Bq. Helis Naeni 30 tahun Belum kawin
23 Lalu Kaherul Furqon 18 tahun Belum kawin
24 Lalu Ishak 45 tahun Sudah kawin
25 Baiq Asporiah 33 tahun Belum kawin
26 Bq. Suara Warti 24 tahun Belum kawin
27 Baiq Jumakyah 30 tahun Belum kawin
28 Lalu Sahabullah 41 tahun Sudah kawin
29 H. L. Umar 51 tahun Sudah kawin
30 Bq. Hadijah 45 tahun Sudah kawin
31 Lalu Juliadi Sariyawan 31 tahun Sudah kawin
32 Baiq Mustika Yani 30 tahun Sudah kawin
33 Baiq Asriani 31 tahun Sudah kawin
34 Bq. Is Pujaiah 29 tahun Sudah kawin
35 Baiq Zarijah 31 tahun Sudah kawin
36 H. L. Karniati 59 tahun Sudah kawin
37 Lalu Burhanudin 20 tahun Belum kawin
38 Lalu Dodik 20 tahun Belum kawin
39 Baik Haeruni 32 tahun Sudah kawin
40 Lalu Purnama Hajji 21 tahun Sudah kawin
41 Lalu Zul Fahri 31 tahun Sudah kawin
42 Baiq Zakiyah 24 tahun Sudah kawin
43 Baiq Rini 18 tahun Belum kawin
44 Lalu Jaelani 25 tahun Belum kawin
45 Lalu Abdul Hanan 45 tahun Sudah kawin
46 Baiq Ainul Mariana 22 tahun Belum kawin
47 Lalu Mustofa Kamal 20 tahun Belum kawin
48 Baiq Saodah 49 tahun Sudah kawin

(Sumber: Salinan daftar pemilih tatap pemilihan umum kabupatenLombok

timur tahun 2009)

Nama-nama di atas menunjukkan hal yang cukup jelas, sesuai dengan apa yang dkatakan Mamik Karniati bahwa sebelum tahun 80-an di gubuk Nenek ini hanya dihuni oleh golongan bangsawan saja, meskipun untuk saat ini sudah pula ditempati oleh golongan masyarakat biasa.

Selain konsentrasi bangsawan di RT gubuk Nenek, terdapat juga di kadus Jerowaru daye (utara) tepatnya di RT gubuk Tembok, yang mana sebelum tahun 70-an seperti dikatakan Sineref dan Mamik Karniati tempat ini dahulunya dikelilingi tembok sebagai pemisah tempat tinggal antara golongan bangsawan dengan golongan jajar karang. Namun saat ini yang tinggal hanya puing-puingnya saja karena sudah dimasuki juga oleh masyarakat biasa. Sedangkan di kadus Jerowaru timuk (timur) konsentrasi bangsawan terdapat di Pelambik.

Kadus Jerowaru daye dengan jumlah warga 909 orang dengan 96 orang termasuk bangsawan yang tersebar di 12 gubuk (RT) yaitu Bale Belek, Gubuk Lando, Gubuk Bawak Sabo, Tete Batu, Gubuk Ponpes, Panseng, Otak Dese, Heler, Gubuk Tembok, Karang Temu, Gubuk Nunang, dan gubuk Jerowaru daye sendiri. Dibandingkan dengan kadus Jerowaru bat persebaran bangsawan umtuk saat inidi kadus Jerowaru Daye sudah mulai merata, meskipun di Gubuk Tembok setidaknya masih tersisa kalau tempat tersebut pernah dijadikan konsentrasi tempat tinggal bagi golongan bangsawan. Karena dari semua gubuk yang ada di kadus Jerowaru Bat persebarannya yang paling banyak sampai saat ini adalah di gubuk Tembok, yaitu 33 orang dari jumlah bangsawan yang ada.

Tabel 4. 5 Nama-nama penduduk bangsawan gubuk Nenek.

No Nama Lengkap Umur Status
1 Mamik Herianto 42 tahun Sudah kawin
2 Baiq Darmini 41 tahun Sudah kawin
3 Lalu haji muh. Satrah 61 tahun Sudah kawin
4 H. L. Wiredarme 51 tahun Sudah kawin
5 Bq. Roni harmawati 21 tahun Belum kawin
6 Baiq Wasiah 44 tahun Sudah kawin
7 Mamik Elmiwati 41 tahun Sudah kawin
8 Bq. Elniwati 20 tahun Belum kawin
9 H. L. Ahmad Amin 63 tahun Sudah kawin
10 Lalu Samsul Bahri 25 tahun Sudah kawin
11 Bq. Wiradatul Hidayani 23 tahun Sudah kawin
12 Lalu Makbul 22 tahun Sudah kawin
13 Lalu Herman 28 tahun Belum kawin
14 Baiq Etik Fitriani 21 tahun Belum kawin
15 Lalu Abdul Hamid S.Pd 37 tahun Sudah kawin
16 Lalu Kusuma Utama 24 tahun Sudah kawin
17 Lalu Kamarudin 31 tahun Sudah kawin
18 Mamik Seruni 50 tahun Sudah kawin
19 Lalu Zaenal Abidin 47 tahun Sudah kawin
20 Lalu Ratnawe 73 tahun Sudah kawin
21 Lalu Junaidi 40 tahun Sudah kawin
22 Mamik Sofyan 44 tahun Sudah kawin
23 Lalu Masrun 42 tahun Sudah kawin
24 Lalu Haeruman 46 tahun Sudah kawin
25 Bq. Hajjah Wisnu 47 tahun Sudah kawin
26 Lalu Harmaen 44 tahun Sudah kawin
27 Baiq Rukmini 40 tahun Sudah kawin
28 Baiq Masirah 45 tahun Sudah kawin
29 Lalu Indi Sekar 29 tahun Sudah kawin
30 Mamik Sekar 64 tahun Sudah kawin
31 Mamik Suartum 60 tahun Sudah kawin
32 Mamik Husna 53 tahun Sudah kawin
33 Mamik Sukirman 56 tahun Sudah kawin

(Sumber. Salinan daftar  pemilih tetap pemilihan umum kabupatenLombok

timur tahun 2009)

Sedangkan di kadus Jerowaru Timuk dari 1065 warganya terdapat 71 masyarakatnya yang termasuk bangsawan sekaligus juga Bape dan persebarannya cukup merata di setiap gubuk, karena di kadus Pelambik tidak ada konsentrasi khusus tempat tinggal para bangsawan. Jadi dari keenam kadus difinitif dan tiga kadus perwakilan di desa Jerowaru terdapat tiga kadus yang menjadi konsentrasi tempat tinggal para bangsawan meskipun di kadus-kadus yang lain juga ada, namun jumlahnya sangat minim. Misalnya di kadus Montong Wasi dengan jumlah warganya yang begitu banyak, hanya empat orang yang termasuk golongan bangsawan, begitu juga dengan empat kadus lainnya (Sumber: Monografi desa Jerowaru tahun 2009/ 2010).

Ketika kita berbicara mengenai setratifikasi sosial maka sudah barang tentu terdapat beberapa hal yang membedakan dengan golongan yang lain baik di atas golongannya maupun setrata yang berada di bawah golongannya. Di bawah ini akan kita bahas apa saja yang membedakan antara golongan bangsawan dengan masyarakat biasa, khususnya sebelum tahun 70-an dalam kehidupan bermasyarakat.

  1. Kekayaan dan ekonomi

Mamik Mahrap mengatakan bahwa sebelum tahun 60 ke bawah rata-rata golongan bangsawan memiliki sawah yang cukup luas sebagai sumber mata pencaharian, sedangkan sebagai buruhnya adalah masyarakat biasa. Meskipun seperti yang dikatakan Mamik Samsumi (60) pada sebelum tahun 70-an hanya dikenal satu kali panen dalam satu tahun. Namun setidaknya mereka lebih banyak memiliki hasil tanaman untuk dijual maupun untuk keperluan hidup sehari-hari bila dibandingkan dengan sebagian dari masyarakat biasa yang hanya sebagai buruh atau hanya memiliki sawah yang sedikit. Bisa dikatakan seperti apa yang diinformasikan Mamik Karniati bahwa para bangsawan ini hanya bekerja menjadi buruh di sawahnya sendiri. Sinerep (51) yang saat ini menjabat sebagai kadus Jerowaru daye (utara) mengatakan ketika masih muda dan memiliki teman yang cukup banyak dari keturunan bangsawan (Lalu)  rata-rata tidak ada yang mengambil upah di sawah orang lain seperti kebiasaan yang dilakukan anak masyarakat biasa yang kebanyakan sebagai buruh di sawah orang lain.

Terdapat beberapa faktor penyebab rata-rata para bangsawan di desa Jerowaru  memiliki tanah atau sawah yang cukup luas yaitu :

  1. Mengambil tanah milik orang lain

Seperti yang dikatakan Mamik Sekar (62) jika ada orang yang memiliki tanah atau sawah namun tidak pernah dikerjakan, ditanami ataupun diolah dan hanya sekedar di tanda bahwa atas namanya yang memiliki tanah tersebut, maka biasanya tanah yang seperti ini sering diambil orang lain terutama dalam hal ini golongan bangsawan yang sering melakukannya (wawancara Mamik Sekar, selasa 20 juli 2010).

  1. Keuletan dan Ketekunan

Lalu Satrah (57) mengatakan bahwa walaupun rata-rata para bangsawan memiliki tanah yang cukup luas, namun jika terdapat tanah yang tidak ada pemiliknya walaupun masih berupa hutan biasanya dijadikan sebagai sawah atau rau. Hal ini sekaligus juga banyak dilakukan masyarakat biasa (wawancara Lalu Satrah, selasa 20 juli 2010).

  1. Sosial Kemasyarakatan

Golongan bangsawan kata Lalu Abdul Hamid (45) kadus Jerowaru bat (barat) ketika ada acara Roah,Begawe maupun Zikiran dalam jamuan makannya selain tempatnya duduk dibedakan, makanannya juga berbeda. Bagi para bangsawan biasanya diberikan pesajik (makanan) yang lebih banyak dan berbeda dari masyarakat biasa, dan biasanya menggunakan taplak yang lebih bagus. Selain yang disebutkan di atas dalam pergaulan sehari-hari ketika masyarakat biasa bertemu dengan Mamik-Mamik di jalan, biasanya dilakukan penghormatan dengan cara sedikit menundukkan kepala sekaligus dengan mngucapkan kata nurge sekaligus dengan menggunakan bahasa halus sebisanya. Selain yang sifatnya umum seperti Besiru (nyiru), gotong royong dan sebagainya. Adapun seperti yang sudah dijelaskan di atas, karena konsentrasi tempat tinggal dari para bangsawan ini otomatis juga lebih banyak bergaul dengan sesama bangsawannya. Adapun bentuk sosial kemasyarakatan bersama yang sering dilakukan bersama-sama dengan masyarakat secara umum adalah upacara Selamet Dese yang dilakukan setiap tahun sekali bahkan sampai saat ini dengan memotong seekor Sapi atau Kerbau kemudian diadakan Roah atau Zikiran di Bale Belek (wawancara Lalu Abdul Hamid, selasa 20 juli 2010).

  1. Adat Istiadat

Adat istiadat merupakan cermin dari lokal genius yang dikembangkan oleh masyarakat secara turun- temurun, walaupun akan selalu terdapat modifikasi sesuai dengan perkembangan zaman. Masyarakat Desa Jerowaru yang dalam setratifikasi sosialnya terdapat dua golongan yang berbeda, dimana masing- masing dari golonganya mengikuti adat- istiadat yang berlaku sesuai dengan adat-istiadat yang ditinggalkan oleh nenek moyangnya, meskipun terdapat banyak kesamaan walaupun dari golongan setratifikasi sosial yang berbeda, hal ini selain disebabkan kesamaan tempat tinggal secara geografis maupun persamaan- persamaan yang lain seperti agama, pola pikir dan lain sebagainya.

Dalam hal adat- istiadat di Desa Jerowaru karena terdapat dua golongan sosial yang berbeda, maka terdapat perbedaan- perbedaan yang dapat kita identifikasi, namun hal ini akan dijelaskan pada bagian sistem kekerabatan, karena akan menyangkut peraturan yang dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari oleh masing-masing golongan dan ditularkan secara kekerabatan sesuai dengan golongannya. Adapun contoh kecil dari adanya perbedaan tersebut dapat dilihat pada saat menggunakan pakaian adat, dalam hal ini sesuai dengan adat bangsawan, para bangsawan harus menggunakan Leang (Sabuk Tamper) yang lebih panjang dari pada Leang masyarakat biasa dan hal ini ukurannya sudah dibuatkan sama, yang ukurannya harus di bawah lutut. Selebihnya perbedaan-perbedaan adat-istiadat di desa Jerowaru secara panjang lebar akan dibahas pada bagian sistem kekerabatan.

Lebih jelas jika diklasifikasikan sesuai dengan setrata sosialnya, maka di desa Jerowaru terdapat tingkatan-tingkatan setrata sosial yaitu sebagai berikut :

1.      Golongan Bangsawan (Mamik)

Posisis setrata sosial Mamik ini berada di atas golongan Bape maupun masyarakat biasa yang dahulunya dikenal dengan nama Jajar Karang. Di mana di desa Jerowaru sesuai dengan setrata sosialnya merupakan golongan yang paling tinggi sebab tidak ada Raden atau golongan yang lebih tinggi lainnya yang tinggal disana. Seperti dikatakan di atas bahwa bahwa dari segi ekonomi,sosial maupun adat-istiadat terdapat perbedaan dengan golongan yang ada di bawahnya.

2.      Golongan bangsawan (Bape)

Bape merupakan golongan tersendiri di desa Jerowaru, kedudukan setrata sosialnya berada satu tingkat di bawah Mamik dan satu tingkat di atas Amak, namun jelas golongan Bape ini termasuk golongan bangsawan, namun posisisnya di bawah Mamik. Secara pasti belum bisa diidentifikasi perbedaan yang jelas antara mamik dan Bape ini. Pada masyarakat biasa

juga mengenal namanya Bape, namun hal ini merupakan sebutan bagi adaik dari ayah orang yang memanggil tersebut. Namun yang jelas seperti yang dikatakan Lalu Abdul Hamid dan Mamik Karniati bahwa golongan Bape ini anaknya bergelar Lalu, namun jika sudah memilki anak akan bergelar seperti orang tuanya yaitu Bape lagi, sesuai dengan gelar kebangsawanan orang tuanya.

3.      Masyarakat Biasa (jajar karang) (wawancara Lalu Abdul Hamid dan Mamik Karniati, selasa 3 agustus 2010).

D.  Sistem Kekerabatan Masayarakat Bangsawn Desa Jerowaru

Suatu kelompok seperti yang dikatakan Koentjaraningrat adalah kesatuan individu yang diikat oleh sekurang-kurangnya 6 unsur, salah satunya yaitu adanya system norma-norma yang mengatur tingkah laku warga kelompok. Jadi dalam system kekerabatan bukan hanya kita tahu adanya hubungan kekerabatan dalam kelompok tersebut, tetapi menyangkut juga norma-norma ataupun adat-istiadat yang mengatur dalam kehidupan sosialnya. Baik itu dalam keluarga inti, keluarga luas, klen kecil maupun klen besar.

Ketika membahas mengenai system kekerabatan ini maka yang akan menjadi pembahasan kita sangat luas sekali, namun disini karena berkaitan dengan sejarah system kekerabatan pada masyarakat bangsawan Jerowaru maka yang akan menjadi bahasan adalah bagaimana system kekerabatan masyarakat bangsawan Jerowaru sebelum tahun 1970 -1975-an, termasuk system perkawinan, adat-istiadat atau norma-norma, bahasa yang digunakan dan lain-lai, memungkinkan untuk dikaji lebih dalam.

  1. System Perkawinan

Setiap kelompok masyarakat yang berbeda baik di bedakan oleh jarak geografis, golongan, maupun agama memiliki system perkawinan, adat-istiadat maupun bahasa yang berbeda. Contoh kecil pada masyarakat Jerowaru yang walaupun secara spasial tempat tinggalnya bersamaan, namun karena memiliki golongan sosial yang berbeda maka terdapat juga perbedaan dari beberapa aspek yang disebut tadi, meskipun pesamaan itu tidak bisa di hilangkan.

1. Pasangan Ideal Menurut Sistem Kekerabatan Pada Golongan Bangsawan Desa Jerowaru.

Sudah menjadi ciri umum bahwa keluarga dekat termasuk misan maupun sepupu sangat dianjurkan untuk menjadi pasangan hidup bagi anak-anaknya, yang bukan hanya di Jerowaru namun juga di tempat lain kadang-kadang banyak yang mengidealkan pasangan anak-anaknya adalah kerabat dekat. Bangsawan jerowaru dalam hal mencari pasangan hidup (suami/ istri) bagi anak-anaknya terutama yang perempuan sering menjadi bagian dari interfensi dari orang tuanya, tidak seperti anak laki-laiki yang boleh menentukan pasangannya sendiri secara bebas.

Terkait dengan hal diatas Mamik Sekar dan Mamik Karniati mengatakan bahwa bagi anak-anak perempuan sebelum tahun 1970 -1975-an kalaupun tidak kawin dengan keluarga dekatnya, paling tidak mereka harus menikah dengan laki-laki yang golongannya sederajat, yang dalam hal ini tentu adalah anak dari bangsawan juga (wawancara Mamik Sekar Dan Mamik Karniati, rabu 11 agustus 2010).

Apabila hal tersebut tidak di indahkan dan anak perempuan tersebut kawain dengan cara dilarikan oleh anak dari masyarakat biasa maka anak tersebut hususnya di Gubuk Tembok dan Gubuk Nenek dilakukan pembuangan (beteteh) oleh keluarganya. Bahkan walaupun yang mengambil anaknya tersebut berasal dari golongan bangsawan namun tempat tinggalnya jauh dari Jerowaru dan keluarga dari pihak perempuan akan mencari tahu tentang kebenaran golongan sosialnya sebelum nantinya diberikan izin untuk dinikahkan.

Husus bagi bangsawan di Jerowaru ketika membawa pulang seorang perempua ke ruamah calon pengantin laki-laki, yang pertama ada yang disebut melaian dan yang kedua dengan cara ngelamar. Tradisi melaian bukan hanya pada golongan bngsawan akan tetapi merupakan budaya umum masyarakat lintas golongan. Sedangkan dengan cara melamar (ngelamar) biasanya dilakukan oleh golongan bangsawan.

Melaian dalam adat sasak bukan kerena orang tua gadis tersebut tidak setuju, melainkan merupakan suatu cara yang oleh sebagian masyarakat dipandang paling ideal, karena ada anggapan bahwa jika anaknya diambil dengan cara diminta sering dianggap suatu penghinaan dan diibaratkan seperti meminta barang dagangan saja. Namun anggapan itu tidak semuanya benar di setiap masyarakat, di desa Jerowaru misalnya tradisi melaian ini selain merupakan adat tersendiri buakan berarti jika diminta dengan baik-baik ada anggapan yang negatif, melainkan adanya kebiasaan pendukung yang melegalkan melaian ini. Jelasnya di desa Jerowaru teradisi melaian adalah merupakan tradisi bersama baik pada golongan bangsawan maupun masyarakat biasa. Husus bagi anak bangsawan melaian dilakukan kadang-kadang atas dasar ketidak setujuan orang tua si gadis dan biasanya disinilah terjadi apa yang disebut beteteh, lain halnya jika dengan menggunakan tradisi melaian namun laki-lakinya dari golongan bangsawan tidak akan menjadi suatu masalah (wawancara Mamik Karniati, rabu 11 agustus 2010).

Dalam prakteknya terdapat interpensi dari orang tua bangsawan hususnya bagi anak perempuan terutama dalam hal perkawinan ini, bahkan sampai terjadi beteteh bagi yang kawin dengan bukan golongan bangsawan. Namun seperti yang dikatakan Lalu Ratnawe (73) pada umumnya anak gadis pada saat itu sangat patuh dan taat pada perintah orang tuanya, apalagi menyangkut pasangan hidup yang begitu penting sehingga seorang gadis harus mengikuti sistem adat yang sesuai dengan tingkatan sosial orang tuanya. Sehingga ada kesadaran tersendiri dalam menentukan pasangan hidup, daripada nantinya selain dikeluarkan dari keluarga sekaligus dianggap melanggar aturan dalam adat-istiadat, dan otomatis sedikit tidak ada perasaan durhaka pada orang tuanya, sehingga seperti yang dikatakan Mamik Karniati mereka pada umumnya sangat patuh dan menaati kepurusan orang tuanya. Tidak sama halnya dengan dengan anak laki-laki yang diperbolehkan menentukan istrinya dari kalangan manapun (wawancara Lalu Ratnawe, kamis 19 agustus 2010).

Walaupun di desa Jerowawru dikenal istilah beteteh, namun terdapat perbedaan antara istilah beteteh dengan bangsawan di tempat lain yang sangat kental adat kebangsawanannya dan membuang sama skali anak perempuannya jika kawin dngan bukan sesama bangsawan. Marjun mengatakan bahwa walaupun di desa Jerowaru dikenal adanya beteteh namun tidak dibuang seumur hidup, artinya jika perempuan tersebut sudah bercerai dengan suaminya yang bukan dari golongan bangsawan bisa saja diterima dalam keluarganya, walaupun secara tidak langsung. Misalnya setelah bercerai ada saja keluarga ibu atau ayahnya yang memberikannya tempat tinggal dan dari sinilah sedikit demi sedikit akan menjadi bagian dari keluarga asalnya (wawancara Marjun, kamis 8 juli 2010).

  1. Prosesi Adat Dalam Sistem Perkawinan

Secara garis besar urutan prosesi dalam perkawinan antara golongan perwangse dan jajarkarang ini terdapat kesamaan, dan  yang membedakannya hanyalah isi dari setiap prosesi yang dilaksanakan. Singkatnya dimulai dari pengambilan pengantin perempuan, kemudian dilanjutkan dengan besejati, kemudian nyelabar, disusun kemudian dengan prosesi bait wali, rebak pucuk, sorong serah dan diakhiri dengan acara nyongkolan (nyokor). Lebih jelasnya dibawah ini akan diuraikan satu persatu dari urutan prosesi tersebut yaitu sebagai berikut:

  1. Melaian (mengambil pengantin perempuan)

Proses pertama yang dilakukan ialah membawa pengantin perempuan kerumah keluarga memepelai laki-laki, karena pada malam pertama husus bagi perempuan yang satu desa tidak boleh dibawa langsung pulang kerumah calon suaminya, kecuali perempuan tersbut berasal dari luar desanya.

b.      Besejati

Dalam prosesi ini pihak laki-laki mengirim utusan kerumah pengantin prempuan untuk memeberitahukan kemana dan dengan siapa anaknya kawin. Walaupun kadang-kadang dari piha perempuan sudah tahu, namun prosesi adat harus dilakukan. Prosesi ini dilakukan setelah  dua malam atau paling tidak tiga malam sesudah pengantin perempuan tinggal dirumah calon suaminya.

c.       Nyelabar

Nyelabar adalah prosesi dimana didalamnya dibicarakan mengenai biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak laki-laki. Dalam prosesi ini diwakili oleh tokoh adat, dimana semua keluarga dekat dari pihak perempuan hadir untuk memusyawarahkannya. Tidak pada saat besejati yang hanya pemberitahuannya kepada orang tua pengantin perempuannya saja.

d.      Bait Wali

Adapun yang dibahas dalam hal ini setelah diputuskannya jumlah biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak laki-laki dalam acara Nyelabar, prosesi bait wali ini memutuskan penentuan waktu akad nikah akan dilaksanakan.

e.       Rebak Pucuk

Dalam prosesi ini dilakukan pemegatan akhir dari biaya yang harus dikluarkan oleh pihak laki-laki, karena biasanya secara umum biaya yang harus dikeluarkan tidak bisa diputuskan pada saan mengambil wali, maka setelah itu dalam acara rebak pucuk ini benar-benar diputuskan mengnai biaya yang harus di keluarkan oleh pihak laki-laki sebelum di nikahkan.

f.        Sorong serah

Istilah sorong serah ini sesuai juga dengan makna yang terkandung ari namanya yaitu merupakan proses pemegatan dari prosesi adat yang harus dilakukan. Dimana bisa dikatakan termasuk titik final dari prosesi pernikahan. Dalam sorong serah inilah terdapat golongan bangsawan dengan masyarakat biasa. Dimana dalam prosesi ini ada yang disebut bayah aji (harga) sesuai dengan golongan sosialnya. Golongan bangsawan harus membayar aji sebanyak enam puluh enam ribu rupaiah, sedangkan masyarakat biasa hanya membayar aji sebanyak empat puluh empat ribu rupiah. Selain perbedaan bayah aji diatas pada golongan bangsawan juga dikenal dengan adanya bewacan dalam acara sorong serah ole golongan bangsawan yang mana hal ini tidak berlaku bagi masyarakan biasa pada saat itu.

g.      Nyongkolan (nyokor).

Prosesi paling akhir dari beberapa adat yang harus di selesaikan dalam perkawinan adalah acara nyongkolan ini.

Selain prosesi diatas ada juga prosesi lain yang manaprosesi ini biasanya dilakukan oleh golongan bangsawan dan masyarakat dan memiliki kekayaan yang cukup banyak yaitu apa yang disebut sebagai gantiran. Dimana dalam prosesi ini pihak pengantin perempuan diberikan segala kelengkapan untuk keperluan dalam begawe dan hal ini dibicarakan dalam acara selabar.  Bedanya dengan selabar biasa dalam hal ini adalah tidak ada lagi barang yang haus dicari untuk keperluan begawe bagi pihak perempuan karena semuanya sudah disediakan oleh pihak pengantin laki-laki.  Sedangkan kalau selabar biasa hanya menyepakati jumlah uang yang harus dikeluarkan tanpa tanpa kelengkapan yang lain seperti dalam gantiran. Mamik Karniati mengatakan bahwa gantiran ini biasanya dilakukan oleh golongan bangsawan dan masyarakat biasa yang kaya (wawancara Sinerap dan Mamik Karniati, 26 agustus 2010).

  1. Bahasa

Bahasa menunjukkan identitas sebua bangsa, kelompok masyarakat maupun tingkat status sosial. Sesuai juga dengan apa yang dikatakan Mamik Karniati bahwa bahasa menunjukkan status sosial tersendiri pada masyarakat desa Jerowaru sebelum tanun 1970-an. Bahkan setiap anak dari golongan bangsawan hususnya di gubuk Pedaleman dan gubuk Tembok harus bisa berbahasa halus dan itulah yang diusahakan oleh masing-masing orang tua mereka dalam komunikasi sehari-hari.

Bahasa halus bukan hanya digunakan sebagai bahasa dalam wacan saja seperti saat ini, melainkan dijadikan bahasa pergaulan sehari-hari sesama bangsawan. Salah satu sebab juga anak bangsawan cepat menguasai bahasa halus ini karena lingkungan yang menumbuhkannya selalu menggunakan bahasa halus sehingga peroses pembiasaan secara tidak sadar mempengaruhi generasi mudanya dalam hal bahasa. Namun karena semakin terbukanya dari masyarakat yang bisa dikatakan inklusif berubah menjadi eksklusif dan tejadilah kontak sosial yang lebih dominan dengan masyarakat biasa sehingga dengan pergaulan tersebut sedikit demi sedikit berpengaruh terhadap melemahnya bahasa halus (wawancara Mamik Karniati, 26 agustus 2010).

  1. Adat-istiadat

Adat-istiadat yang merupakan norma-norma sosial merupakan peraturan hidup sehari-hari yang berlaku secara turun temurun sekaligus juga menjadi bagian dari perbedaan status sosial pada masyarakat yang berbeda secara hierarkis dalam masyarakat. Mengenai adat-istiadat ini sedikit tidak sudak dibahas pada bagian sebelumnya, namun disini akan dibahas sedikit mengenai adat-istiadat tersebut terutama yang terkait dengan sistem kekerabatan yang berlaku secara turun- temurun.

Dalam hal adat-istiadat ini yang akan menjadi kajian dalam bagian ini terkait dengan dende-denda (denda) dan pergaulan sosial, karena adat-istiadat lainnya sudah dibahas sebelumnya.adapun dende- dende yang dimaksud dalam hal ini seperti dende pati, dende ngampasaken, dende gile bibir, dan dende gile tangan.

Adapun dende pati seperti yang dikatakan Lalu Abdul Hamid dan Mamik Karniati terjadi apabila seorang laki-laki memaksa perempuan dengan unsur paksaan bahkan sampai mencium maupun memegang bag ian-bagian yang dilarang pada perempuan yang masih gadis. Dalam hal ini kalau perempuan tidak setuju untuk dinikahkan maka jatuhlah dende pati tersebut, dengan dende sebanyak empat puluh satu ribu rupiah.

Sedangkan dende gile bibir dikenakan apabila seorang menyumpah oarang lain dengan kata-kata kotor maka jatuhlah dende padanya sebanyak sembilan sampai sepuluh ribu rupiah. Selanjutnya adalah dende gile tangan, dalam hal ini walaupun tanpa disengaja seorang laki-laki menyentuh bagian yang dilarang pada perempuan maka didenda sebanyak dende pada gile bibir. Adapun dende ngampasaken terjadi apabila pengantin baik laki-laki maupun perempuan sebelum prosesi adat selesai, atau sorong serah belum dilakukan walapun rumah pengantin laki-laki berdekatan dengan rumah pengantin perempuan maka didenda sebanyak sembilan sampai sepuluh ribu rupiah seperti pada denda yang disebutkan sebelumnya (wawancara Mamik Karniati dan L. abd. Hamid, rabu 11 agustus 2010).

Selain dende-dende yang disebut diatas, saling hormat-menghormati antara sesama merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pergaulan hidup bersama terutama dengan orang yang lebih tua, baik antara bangsawa denga sesama bangsawan maupun dengan masyarakat biasa. Misalnya berkata dengan lemah lembut, sopan santun dalam bertutur kata dn lain sebagainya. Dalam sopan santun misalnya ketika kita lewat di rumah orang maka kita harus bilang tabek walaupun rumahnya cukup jauh dari jalan kita lewat tersebut. Begitu juga jika ada orang midang, walaupun ada atau tidaknya orang dalam rumah dekat jalan yang dilewati  tersebut tetap harus mengatakan tabek, kalau tidak maka dikataka endek ketaon base (tidak tahu adat) secara langsung.

  1. Pembagian Hak Waris

Pembagian hak waris di desa Jerowaru hususnya pada keluarga bangsawan tidak terdapat aturan yang tetap. Merupakan kebisaan umum, biasanya dalam pembagian sawah misalnya pembagian sawah biasanya hanya diberikan kepada anak laki-laki saja, sementara anak perempuan pada umumnya tidak mendapatkan bagian namun hanya diberi hasil panen oleh saudara-saudaranya yang laki-laki setelah panen. Namun ada juga diantara sebagian masyarakat yang memberikan hak waris pada anak perempuan setengah dari bagian laki-laki atau bahkan lebih kurang.

Sedangkan untuk rumah yang ditemapat tinggal orang tuanya biasanya menjadi bagian hak waris anak yang paling bungsu. Adapun saudaranya yang lain harus membuat rumah sendiri walaupun kadang-kadang dengan bantuan orang tuanya juga.

Barang lain yang biasanya juga menjadi warisan adalah benda-benda pusaka milik keluarga, misalnya keris, tombak (jungkat), cincin dan lainnya serta benda-benda tersebut dipercayai memiliki kekuatan magis, dalam hal pewarisannya juga tidak memiliki peraturan yang tetap dan tergantung dari karakter atau kepribadian dari mereka yang nantinya akan menjadi pewaris benda-benda pusaka tersebut. Tidak menjadi ukuran baik itu anak sulung maupun anak bungsu, yang penting dianggap pantas untuk mewarisinya maka dialah yang akan mewarisi benda pusaka tersebut (wawancara Mamik Karniati, rabu 11 agustus 2010).

  1. Sosial Kemasyarakatan

Tekait dengan sosial kemasyarakatan ini ada beberapa hal yang perlu dibahas yaitu Banjar, Besiru, dan Gotong royong. Untuk lebih jelasnya dibahas satu-persatu dari sistem sosial kemasyarakatan.

1.      Banjar/ Bebanjar

Bebanjar/ banjar ini merupakan perkumpulan kemasyarakatan untuk mengumpulkan beberapa jenis keperluan dalam acara begawe (gawe), baik itu gawe mate (kematian) maupun gawe idup (perkawinan, nyunatan, maupun nyelamatan). Banjar ini di Jerowaru banyak macamnya dan barang yang dikeluarkan juga berbeda tergantung kelompok banjarnya. Karena itu biasanya kelompok banjar dinamakan sesuai dengan jenis barang yang dikeluarkan anggotanya. Misalnya jika kelompok banjar tersebut mengeluarkan kelapa maka banjarnya juga dinamakan banjar nyiur (kelapa). Adapun banjar ini sampai sekarang masih menjadi bagian dari sistem sosial masyarakat yang kemungkinan akan terus dipetahankan karena dampaknya sangat membantu kelompoknya yang sangat membutuhkan.

2.      Besiru

Besiru merupakan salah satu dari kegiatan sosial kemasyarakatan yang saat ini sudah tidak ada lagi dan hanya menjadi kenang-kenangan dalam memori orang tua yang pernah mengalami kegiatan sosial besiru tersebut. Besiru merupakan salah satu cara untuk membantu saudara yang lain hususnya dalam pekerjaan sawah, an hal ini secara bergantian tergantung orang yang pernah ikut beberja di sawahnya. Sebenarnya sistem besiru ini tidak terlalu berbeda praktiknya dengan banjar dan gotong royong, hanya saja yang membedakannya adalah jika dalam banjar yang terlibat adalah jasa dan barang sedangkan dalam besiru hanya tenaga saja.

  1. Gotong Royong

Sebenarnya gotong royong ini tidak terlalu jauh berbeda dengan kegiatan sosial diatas. Selain yang sifatnya kolektif seperti dalam acara selamatan dese maupun acara nede ujan di Bale Bele, gotong royong yang sampai saat ini berkembang dalam masyarakat adalah dalam pembangunan rumah, masjid dan bangunan-bangunan kepentingan bersama. Contoh kecil dalam pembuatan rumah, biasanhya setiap orang yang tahu dan lewat di tempat orang yang sedang membangun tersebut maka dia akan langsung bekerka akan langsung bekerja. Bahkan karena begitu banyak orang yang membantunya bekerja kadang-kadang rumah tersebut sudah berdiri sampai dua hari. Hanya yang menjadi beban bagi pemilik adalah makanan yang harus disediakan bagi orang-orang yang bekerja tersebut (wawancara Mmik Mahrap, senin 2 agustus 2010).

E. Perubahan Sistem Kekerabatan Bangsawan Desa Jerowaru

Perubahan selalu akan terjadi di setiap masyarakat sesuai dengan perkembangan zaman  dimana dia berada. Memasuki abad ke 20 yang dinamakan abad teknologi ini telah mengubah sudut pandang setiap orang yang kebanyakan menjadi indivdualis sehingga banyak dari adat-adat nenek moyang yang sudah  di kembangkan secara kolektif dalam kelompoknya sebagian hanya tingal dalam cerita. Sudah barang tentu juga hal tersebut tidak sesuai dengan zaman dan rasionalitas berfikir.

1. Faktor-Faktor Terjadinya Perubahan

Perubahan terjadi disebabkan oleh banyak factor yang intinya dapat dibagi menyadi dua factor yaitu factor enteren dan exteren. Yang mana keduanya selalu ada dalam setiap perubahan sekaligus setiap perubahan akan selalu membawa dua dampak yang berbeda yaitu dampak fositip dan dampak negatif . begitu juga dengan yang terjadi di Desa Jerowaru yang sebelum 70 an masih megang adat istiadat nenekmoyang khususnya golongan bangsawan disini sudah berubah secara drastic meskipun sebagian masih ada namun hal itu jugak tidak lepas dari modipikasi yang sesuai dengan perkembamgan zaman. Adapun factor yang mempengaruhi perubah tursebut adalah:

a. Factor ekstern

Diantara fakor ekstern yang mempengaruhi pergeseran dalam adat-istiadat bangsawan Desa Jerowaru adalah sebagai berikut:

1. Factor ekonomi

Lalu Haji Muh Satrah (61) dan mamik karniati mengatakan sejak tahun 60 an disaat terjadi keritis ekonomi di Desa Jerowaru akibat kekurangan air dan gagal panen dan ditambah lgi pada tahun 65-66 saat PKI melancarkan serangannya secara nasional, desa Jerowaru juga kena imbasnya secara ekponomi, karna kurangnya stok beras dan bahan makanan lainnya adnya masalah ekonomi di atas juga berpengaruh dalam system perekonomian masyarakat yang walapun panda dasarnya para bangsawan ini memiliki tanah yang cukup luas namun karna mereka kekurangan air seperti yang disebutkan diatas tadi dan kurangnya bantuan pemerintah yang menyemabkan terjadinya gagal panen sehingga mengalami juga seritis ekonomi yang menyebabkan secara ekonomi setatusnya mulai berkurang dan ikut bekrja seperti masyarakat biasa secara umum, mwskipun setelah tahun-tahun tegang tersebut keadaan ekonomi ini biasa diamati (wawancara H. L. Muh Satrah, selasa 12 juli 2010).

  1. Factor pendidikan

Lebih Lanjut Lalu Haji Muh. Satrah Dan Lalu Abd. Hamid terkait denga pendidikan ini mengatakan pada awalnya golongan bangsawan tidak begitu peduli dengan pendidikan ini akan mengeser  satus kebangsawanannya sehingga pendidikan banyak yang menganggapnya secara apriori, dan gengsi serta prestise kebangsawanannya membuatnya tidak sadar akan pentingnya pndidikan ini . sehingga pada kesempatan lain masyarakat bias memeliki pendidikan tinggi serta social akan lebih tinggi dan setatus sosialnya bukan lagi status kebangsawanan menjadi ukuran dari adanya prestise social ini .andai kata pun dari golongan bangsawan banyak mengancam yang banyaak mengancam pendidikan pasti banyak dari adat-istiadatnya yang akan mereka miniamalisir atau modisifikasi sesuai denganperkembangan zamannya. Bukan hanya itu mereka yang akan menjadi social baru yang bukan hanya secara mederen memiliki pendidikan tingi yang menjadi kekas social tersendiri melainkan memiliki setatus tersensiri dengan gelar kebangsawanannya. Namun inilah yang menjadi penghambatnya yaitu adanya perasaan status sosial yang lebih tinggi dari status kebangsawanannya yangtampadisadari adanya orang-orang terdidik di kalangan masyarakat biasa berubah menjadi golongan sosial tersendiri dalam masyarakat. Yang bukan  hanya sangat dihormati sekaligus juga dijadikan sebagai tauladan, terutana orang-orang yang memiliki ilmu agama. perkembangan ilmu pengetahuan ini bukan hanya berdampak pada lahirnya ilmu pengetahuan secara teori, perkembangan teknologi dan informasi  dalam segala bidang membuat pola fikir masyarakat berbeda sehingga para bangsawan ini tidak lagi dianggap gebagai golongan yang tinggi melainkan merupakan seperti masyarakat biasa yang hanya nama dan gelarnya yang berbeda. Sehingga keberadaannya tidak seperti saat sebelumnya sangat begitu di hormati (Lalu Muh. Satrah dan Lalu Abdul Hamid, selasa 12 juli 2010).

b. Fakpor intern

Selain factor ekstern di atas yang menyebabkanterjadinya perubahan dalam status kebangsawanan tresebut terdapat juga fektor intrn atau factor dalam yang berpengaruh terhadap perubahan tersebut. Adapun factor intern ini adalah adanya penghilangan gelardari kebangsawanan karna sudah tidak dianggap relevan lagi dengan zaman. Bahkan seperti dikatakan mamik sekar bahwa saat ini banyak dari golongan bangsawan yang sudah menghilangkan gelar kebangsawanan (wawancara Mamik Sekar, selasa 24 agustus 2010).

2. Bentuk-Bentuk Perubahan Dalam Status Bangsawanan

Perubahan yang dimaksud di sini tidak terlepas dari beberapa item yang sudah di sebutkan diatas seperti system perkawinan, bahasa maupun adat-istiadat, beberapa item yang disebut jadi akan di bahas secara satu persatu terkait dengan sejauh mana perubahannya.

a. Sistem perkawinan

Salah satu dari kesahan adat-istiadat perkawinwn bangsawan tradisional adahal adanya pembuangan (betelah) jika anaknya kawin dengan bukan sesame bangsawan khususnya bagi anak perempuan. Namun hal ini sudah luntir bahkan golongan bangsawan pada tahun 75- 80an masih menerapkannya lama kelamaan semakin tidak kelihatan yang kemudian berubagh menjadi penurunan bangse bagi anak perempuan yang kawin dengan laki-laki dari golongan masyarakat tersebut, adapun penurunan bangse ini suaminya  harus membayar sorong serah sesuai dengan aji krame golongan bangsawan. Hal ini berbanding terbalik apabila laki-laki golongan bangsawan mengambil anak perempuan masyarakat biasa maka aji kramenya sesuaai dengan aji krame masyarakat  biasa tetapi setatus kebangsawanannya tetap, tidak seperti dari masyarakat biasa yang membayar aji krame untuk menurunkan setatus istrinya

b. Bahasa

Bahasa halus dulunya menjadi identitas tersendiri pada golongan bangsawan, tidak terkecuali pada bangsawan Jerowaru. Namun suatu yang kontras terlihat saat ini  jika di Jerowaru, generasi golongan bangsawan ini sudah hampir seperti sikatakan Lalu Abd. hamid tidak ada lagi yang bisa berbahasa halus dengan baik apalagi untuk menjadi bahasa pergaulan sehari-hari. Bahkan bahasa halus ini di Jerowaru bisa dikatakan sudah menjadi bahasa utama yang bukan hanya sebagai tanda dari edintitas kelas sosial, karna banyak dari masyarakat biasa yang menguasai dengan baik bahasa halus ini, bahkan bayak di golongan masyarakat biasa yang mengunakan bahasa halaus walapun secara sederhana. Dalam artian bahasa halus yang digunakan adalah bahasa halus pertangahan sesua dengan kebututuhan percakapan sehari-hari.

c. pergaulan sehari-hari

Mamik Karniati mengatakan bahwa saat ini telah terjadi erosi kebudayaan dan hal ini tidak bias dibantah, karna adat-adat orang tua terdahulu seolah-olah di telan bumi yang diganti dengan modifikasi yang sesuai daangan perkembangan zaman, walapun dengan secara praktik banyak juga adat-istiadat tesebut yang masis berlaku, khusus bagi golongan bangsawan yang dulu sangat di hormati, seperti yang di katakana Mamik Karniati sampai-sampai jarang masyarakat biasa berani bertemu dengan golongan bangsawan karna begitu di hormatinya, begitu juga dengan kebetulan bertemu dijalan harus mengucapkan kata nurge sebagai oenghormatan, yang saat ini sudah tidak ada lagi bahkan dalam pergaulan sehari-harinya tidak ada perbedaan kecuali pada adat-istiadat khusus seperti dalam system perkawinan seperti yang di sebutkan di atas.


PENUTUP 

A.   Kesimpulan

Bangsawan merupakan salah satu tingkatan sosial di Desa Jerowaru dan sudah barang tentu keberadaannya mengindikasikan adanya setratifikasi sosial yang dulunya sangat nyata. Karena perbedaan status sosial antara bangsawan dengan masyarakat biasa maka adat-istiadatnya juga banyak yang berbeda meskipun memiliki juga banyak kesamaan secara  geografis tinggal di spasaial yang sama,namun dalam adat istiadat yang berbeda tersebut berbeda juga pewarisannya secara sistem kekerabatan dari generasi ke generasi.

Mengenai asal usul dari bangsawan desa jerowaru ada yang sering disebut bangsawan asli dan bangsawan pendatang. Adapun yang disebut sebagai bangsawan asli adalah bangsawan yang tinggal di gubuk tembok karena merupakan keturunan dari bangsawan kerajaan pene, sedangkan yang dikatakan bangsawan pendatang adalah bangsawan yang berada di Gubuk Nenek berasal dari beberapa tempat seperti, Kopang, kediri, Pagutan, rempung dan lain-lain.

Sebelum kedatangan bangsawan di Jerowaru terlebih dahulu Jerowaru dihuni oleh seorang yang bernama Datu Dewe Maspanji yang datang dengan rombongannya dari arah selastan Jerowaru tepatnya di Serewe sekarang. Pada hari pertama kedatangannya dia membangun Bale Belek di dua tempat yaitu di Jerowaru dan Senyiur, yang dimulai pada jam 6 pagi sampai jam 6 sore, namun beliau tidak tinggal lama di jerowaru kemudian menghilang dan digantika oleh Pe Belek yang merupakan keturunan dari bangsawan Kerajaan pene serta rombongannya yang saat ini tinggal di gubuk tembok. Pe Belek memiliki anak dua orang yaitu Dewi Ringgit dan Raden Paji, adapun raden panji setelah memiliki keluarga pindah ke pelambik dan tempat tinggalnya sekarang disebut Bale Belek Pelambik yang sekaligus merupakan kerabat deri bangsawan pelambik sekarang selain yang berasal dari Gubuk Nenek. Sedangkan Dewi Ringgit Tetap tinggal di Bale Belek Jerowaru dam memiliki anak 4 oarang yatu Datuk Masjid, Datuk Labang, Datuk Kebon dan Datuk Sabo.

Perkembangan bangsawan di jerowaru menyisakan kenangan sejarah tersendiri karena seperti bangsawan yang lain pernah menerapkan adat istiadat sesuai dengan status sosial kebangsawanannya, baik dari segi bahasa, sistem perkawinan, pembagian hak waris, pergaulan sehari-hari dalam pewarisan ke generasi ke generasi yang memiliki sistem kekerabatan yang sama. Pewarisan budaya dari generasi-kegenerasi memang tidak berjalan mulus bahkan sering terjadi perubahan sesuai dengan perkembangan zaman, salah satu contoh misalnya disaat adat-istiadat bangsawan masih berlaku dikenal istilah beteteh ketika anak bangsawan kawin dengan anak dari masyarakat biasa, dan saat ini karena tidak sesuai dengan zaman yang tinggal hanya penurunan bangse, dalam arti menurunkan status kebangsawanan anak perempuan tersebut menjadi masyarakat biasa. Adapun dari segi bahasa dulunya anak bangsawa diharuskan bisa berbahasa halus namun sekarang sudah tidak lagi, begitu juga dengan adat-istiadat yang lain menunjukkan adanya perubahan yang sangat signifikan.

Secara setratifikasi sosial di Desa Jerowaru terdapat tiga tingkatan secara close social stratification yaitu bangsawan Mamik pada tingkat sosial yang paling atat, disusun Bangsawan Bape pada posisi kedua dan Jajar Karang pada posisi terkhir. Adapun Bangsawan Bape ini di Jerowaru tidak begitu banyak, hanya terdapat di Gubuk Pelambik.

Selain dari status sosial bangsawan memiliki status sosial yang tinggi, dari segi ekonomi dan kepemilikan tanah juga lebih unggul daripada masyarakat biasa. Dalam kepemilikan tanah misalnya bisa dikatakan bangsawan berada dalam urutan teratas, akrena hal ini jug adidukung oleh beberapa hal seperti: 1.peninggalan yang cukup banyak dari orang tuanya, 2. Adanya ketekunan dan keuletan membuka tanah baru, 3. Mengambil tanah orang lain yang tidak di garap dan hanya ditanda saja.

Dalam adat-istiadat antara masyarakat biasa dengan bangsawan terdapat perbedaan yang nantinya inilah yang diwarisi secara turun temurun dalam kekerabatannya. Dalam sistem perkawinan misalnya dalam adat-istiadat bangsawan ada yang dikenal dengan beteteh, selain itu berbeda juga isi dari resepsi adat istiadatnya dalam sebagian prosesi, seperti menggunakan wacan pada saat sorong serah bagi golongan bangsawa. Selain perbedaan dalam sistem perkawinan ini dalam bidang bahasa misalnya sebelum tahun 70-an anak-anak bangsawan diharuskan bisa berbahasa halus. Begitu juga dalam pergalan sehari-hari terdapat tata krama yang harus dipatuhi.

Adapun penyebab mundurnya status bangsawan yang secara umum terlihat sejak tahun 70-an baik dilihat dari status sosial tertutup maupun terbuka dapat di klasifikasikan menjadi dua sebab yaitu sebab internal dan sebab eksternal. Yang pertama adalah penyebab internal misalnya banyak dari bangsawan saat ini yang sudah tidak lagi nyaman dengan gelarnya sebagai Lalu atau Mamik sehingga ada juga yang menghilangkan gelarnya dan menghilangkannya terutama dalam catatan sipil. Sedangkan fator yang kedua yaitu faktor eksternal yaitu pendidikan dan ekonomi. Kedua fakyor ini sangat berpengaruh terhadap penurunan status bangsawan yang pada intinya bisa dikatakan digerus untuk mengikuti perubahan zaman.

Dalam bidang sosial kemasyarakatan di Jerowaru ada juga dikenal dengan Besiru, bebanjar dan gotong royong, hal ini berlaku selain kerabat dekat termasuk juga masyarakat secara umum. Besiru merupakan salah satu dari kebiasaan masyarakat terutama kerabat dekat ataupun tetangga dekat untuk sama-sama bekerja di salah satu sawah warganya, begitu juga sebaliknya jika dia bekerja maka orang yang pernah ditolongnya akan ikut juga bekerja disawahnya. Begitu juga halnya dengan bebanjar dan gotong royong merupakan aktifitas sosial masyarakat secara kolektif.

B. Saran

Adat-istiadat sebagai sarana pendukung dari norma-norma sosial sebagai aturan dalam masyarakat memang harus dilestarikan bahkan dijaga terutama adat-istiadat yang sangat bermanfaat bagi keserasian dalam bermasyarakat, karena seperti yang kita ketahui saat ini sifat individualisti sudah sangat menonjol sekali oleh karena itu penulis mengharapkan di desa Jerowaru akan selalu menjaga norma-norma adat yang baik untuk kehidupan bermasyarakat dan membuang beberapa dari adat-istiadat yang sekiranya kurang bermanfaat, karena adat-istiadat yang baik selain akan dikenal sebagai identitas kelompok yang baik sekaligus akan membentuk masyarakat yang memiliki kesadaran kolektif tinggi disaat individualistis merasuki jiwa-jiwa masyarakat. Oleh karenanya menjaga dan memelihara lokal genius kita adalah memelihara identitas sosial kemasyarakatan kita juga.

DAFTAR PUSTAKA 

Muhammad, Abdulkadir. 2005. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Citra Aditya Bakti, Jakarta.

May, Abdurrahman dkk. 1989. Tata Kelakuan di Lingkungan Pergaulan di Lingkungan Keluarga dan Masyarakat NTB. DEPDIKBUD, Mataram.

Amin, Ahmad dkk. 1978. Adat Istiadat Daerah Nusa Tenggara Barat. DEPDIKBUD.

Kran, Alfonso Van der. 1999. Lombok: Penjajahan dan Keterbelakangnnya. Lengge, Mataram.

Bungin, Burhan. 2008. Penelitian Kuantitatif. Kencana,Jakarta.

Depdikbud. 1983. Geografi Budaya Daerah Nusa Tenggara Barat.

Abdurrahman, Dudung. 1999. Metode Penelitian Sejarah. Logos Wacana Ilmu,Jakarta.

Budiwanti, Erni. 2002. Islam Sasak. LKIS,Yogyakarta.

Sjamsuddin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Ombak,Yogyakarta.

Koentjaraningrat. 1996. Pengantar Antropologi I. Rineka Cipta, Jakarta.

Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Tiara Wacana Yogya,Yogyakarta.

Lukman, Lalu. 2005. Pulau Lombok Dalam Sejarah.

Lexy J. Moleong. 2007. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Remaja Rosdakarya,Bandung.

Muhsipuddin. 2004. Kilas Balik 100 Tahun Pendidikan di Lombok Timur.

Tamburaka, Rustam E.. 2002. Pengantar Ilmu Sejarah. Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat dan IPTEK. Rineka Cipta, Sejarah.

Kartodirdjo, Sartono. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Gramedia,Jakarta.

Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Grafindo Persada,Jakarta.

Salam, Solechin. 1992. Lombok Pulau Perawan. Kuning Mas,Jakarta.

Rajasa, Sutan. 2002. Kamus Ilmiah Populer. Karya Utama,Surabaya.

Widjaya. 1981. Individu, Keluarga dan Masyarakat. Akademika Pressindo,Palembang.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s