Monthly Archives: April 2012

BAHASA SEBAGAI SARANA BERPIKIR ILMIAH

Standar

BAHASA SEBAGAI SARANA BERPIKIR ILMIAH

Oleh

Lalu Murdi

LATAR BELAKANG

Perbedaan utama antara manusia dan binatang terletak pada kemampuan manusia untuk mengambil jalan melingkar dalam mencapai tujuannya. Seluruh pikiran binatang dipenuhi oleh kebutuhan yang menyebabkan mereka secara langsung mencari obyek yang di inginkannya atau membuang benda yang menghalanginya. Dengan demikian sering kita melihat seokor monyet yang menjangkau secara sia-sia benda yang di inginkan; sedangkan manusia yang paling primitive pun telah tahu mempergunakan bandringan, laso atau melempar dengan batu. Manusia sering di sebut sebagai Hpmo feber: mahluk yang membuat alat; dan kemampuan membuat alat itu dimungkinkan oleh pengetahuan. Berkembangnya pengetahuan tersebut juga memerlukan alat-alat.

Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan di lakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperative bagi seorang ilmuan. Tanpa mengetahui hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat di lakukan (Jujun S. Suriasumantri, 2003: 165).

Salah satu sarana berpikir ilmiah yang utama itu adalah bahasa, selain matematika, dan ataistika ataupun juga logika. Karena bahasa merupakan salah satu dari sarana ilmiah untama maka dalam hal ini kita akan memperdalam bagaimana operasional bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah serta penjelasan tentang bahasa itu sendiri.

TENTANG BAHASA DAN BERPIKIR ILMIAH

Ernst Cassier sebagaimana dikutip Jujun S. Suriasumantri (2003) mengatakan bahwa keunikan manusia bukanlah terletak pada kemampuan berpikirnya melainkan terletak pada kemampuan berbahasa. Lebih lanjut lagi, tanpa kemampuan berbahasa ini maka manusia tak mungkin mengembangkan kebudayaannya, sebab tanpa mempunyai bahasa maka hilanglah pula kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai budaya dari generasi yang satu kepada generasi selanjtnya.

Dengan demikian budaya yang tercipta karena adanya penerusan nilai-nilai budaya yang intens tidak terlepas dari salah satu fungsi bahasa yaitu sebagai sarana komunikasi. Begitu juga dengan kemampuan kebahasaan akan terbentang luas cakrawala berpikir seseorang dan tiada batas dunia baginya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wittgenstein yang menyatakan: “batas bahasaku adalah batas duniaku’ (Amsal Bakhtiar, 2011: 176).

Kemampuan berbahasa sesuai denangan apa yang di katakan oleh Witgenstein adalah pentingnya pengetahuan bahasa selain bahasa keseharian kita. Misalnya ketika orenga bercerita tentang sesuatu yang mengerikan dengan mengguanakan bahasa belanda, ketika kita tidak mengerti maka bisa saja kita mengira mereka sedang bercerita sesuatu yang lucu, karena dunia kita sebatas bahasa kita.

Untuk mendapatkan pengertian tetang bahasa, sudah tentu mungkin kita akan sulit menemukan pengertian yang sama, mungkin tidak jauh berbeda dengan kata “cinta” dan lain sebagainya. Karena dalam hal ini tergantung dari ahli yang memberikan definisi. Pemberian definisi ini walaupun kelihatannya sederhana namun merupakan sebuah dasar untuk memahami bahasa lebih lanjut, terutama kaitannya dengan “bahasa sebagai sarana ilmiah”.

Bloch and Trager (Bahtiar: 2011) mengatakan bahwa a language is a system of arbitrary vocal symbols by means of which a social group cooperates (bahasa adalah suatu sistem simbol-simbol bunyi yang arbiter yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi).

Senada dengan definisi di atas Joseph Broam mengatakan bahwa a language is a structured system of arbitrary vocal symbols by means of wich members of social group interact (Bahasa adalah suatu sistem yang berstruktur dari simbol-simbol bunyi arbiter yang di pergunakan oleh para anggota suatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu salma lain).

Bahasa sesuai dengan fungsinya sebagai sarana berpikir ilmiah dan fungsinya yang lebih umum akan lebih di fokuskan pada bagian belakang. Namun untuk memahami hakikiat bahasa lebih jauh, pada bagian ini akan di bahas lebih mendalam kaitan bahasa sebagai komunikasi, bahasa dengan simbol yang merupakan pengabstraksian dari realitas serta kaitan antara bahasa dan proses berpikir.

Bahasa Sebagai komunikasi

Pertama-tama bahasa dapat kita cirikan sebagai serangkaian bunyi. Dalam hal ini kita menggunakan bunyi sebagai alat untuk berkomunikasi. Komunikasi dengan mempergunakan bunyi ini dikatakan juga sebagai komunikasi verbal, dan manusia yang bermasyarakat dengan alat komunikasi bunyi, disebut juga sebagai masyarakat verbal.

Kalau kita telaan lebih lanjut, bahasa mengkomunikasikan tiga hal yakni buah pikiran, perasaan dan sikap. Atau seperti yang dikatakan oeleh Kneller bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai fungsi simbolik, emotif dan afektif. Fungsi simbolik dari bahsa menonjol dalam komunikasi ilmiah (lebih jelas di bagian bahasa sebagai simbol), sedangkan fungsi emotif menonjol dalam komunikasi estetik.

Jadi dengan bahasa bukan saja menusia dapat berpikir secara teratur (di bahas pada bagian bahasa dan proses berpikir), namun juga mengkomunikasikan apa yang sedang dia pikirkan kepada orang lain. Sekaligus juga, dengan bahasa kita pun dapat mengekspresikan sikap dan perasaan kita (Jujun S. Suriasumantri, 2003: 177).

Bahasa Sebagai Simbol

Bahasa merupakan lambang di mana rangkaian bunyi ini membentuk  suatu arti tertentu. Bahasa memungkinkan manusia berpikir secara abstrak di mana obyek-obyek yang actual di transformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Dengan adanya trensformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai suatu obyek tertentu meskipun obyek tersebut secara factual tidak berada di tempat di mana kegiatan berpikir itu di lakukan.

Adanya simbol bahasa yang bersifat abstrak ini memungkinkan manusia untuk memikirkan sesuatu secara berlanjut. Demikian juga bahasa memberikan kemampuan untuk berpikir secara teratur dan sistematis. Transformasi obyek faktual menjadi simbol abstrak yang di wujudkan lewat perbendaharaan kata-kata ini dirangkaian oleh tata bahasa untuk mengemukakan suatu jalan pemikiran atau ekspresi perasaan.

Manusia mengumpulkan lambang-lambang ini dan menyusun apa yang kita kenal sebagai perbendaharaan kata-kata (simbol-simbol). Perbendaharaan ini pada hakikatnya merupakan akumulasi pengalaman dan pemikiran mereka. Artinya dengan perbendaharaan kata-kata yang mereka punyai maka manusia dapat mengkomunikasikan segenap pengalaman dan pemikiran mereka. Perkataan “sputnik” atau “laser” belum ada pada perbendaharaan nenek moyang kita, sebab pemikiran mereka waktu itu belum sampai kesana.

Inilah yang menyebabkan bahasa terus berkembang yakni karena di sebabkan pengalaman dan pemikiran manusia yang juga berkembang. Bahasa di perkaya oleh seluruh lapisan masyarakat yang mempergunakan bahasa tersebut; para ilmuan, pendidik, ahli politik, renmaja dan bahkan tukang copet. Lucu memang, namun itulah kenyataannya, tiap profesi bahkan copet sekalipun, mengembangkan bahasa yang has untuk kelompoknya.

Disamping manusia memberikan simbol dengan perbendaharaan kata pada penamaan benda-benda fisik yang dialaminya, kejadian sehari-hari yang penuh dengan ketawa dan air mata, kelahiran dan kematian, pertemuan dan perpisahan, semuanya dirangkainya dengan dengan bahasa menjadi sesuatu yang koheren dan mempunyai arti (Jujun S. Suriasumantri, 2003: 178).

Mengikuti makna bahasa dari kedua ahli di atas terutam terkait dengan simbol ini maka batasan mengenai simbol ini memerlukan sedikit penjelasan agar tidak terjadi salah paham. Oleh karena itu, seperti dikatakan Amsal Bahtiar (2011), perlu di teliti setiap unsur yang terdapat di dalamnya:

Simbol-simbol

Simbol-simbol berarti things that stand for other things atau sesuatu yang menyatakan sesuatu yang lain. Misalnya awan hitam adalah tanda turunnya hujan; panas suhu badan yang tinggi tanda suatu penyakit. Simbol atau lambang memperoleh fungsi khususnya dari mufakat kelompok atau konvensi sosial, dan tidak mempunyai efek apa pun bagi setiap orang yang tidak mengenal consensus atau konvensi tersebut.

Simbol-simbol vokal

Pada dasarnya ujaran merupakan fenomena akustik. Dengan kata lain, tidak semua bunyi yang di hasilkan oleh organ-organ vocal mnusia merupakan simbol-simbol bahasa, lambang-lambang kebahasaan. Bersin, batuk, dengkur, dan sebgainya, biasanya tidak mengandung nilai simbol, semua itu tidak bermakna apa-apa di luar mereka sendiri.

Simbol-simbol vokal arbiter

Istilah arbiter di sini bermakna “mana suka” dan tidak perlu adanya hubungan yang valid secara filosofis antara ucapan lisan dan arti yang di kandungnya. hal ini akan lebih jelas bagi orang yang mengetahui lebih dari satu bahasa. Misalnya, untuk menyatakan jenis binatang yang di sebut Equus Caballus, orang inggris menyebutnya horse, orang Perancis menyebutnya cheval, orang Indonesia kuda, dan orang Arab hison. Semua kata ini sama tepatnya, sama arbiternya.

Suatu sistem yang berstruktur dari simbol-simbol yang arbiter

Dalam beberapa bahas, bunyi-bunyi tertentu tidak dapat di pekai di awal kata; yang lain tidak dapat di pakai atau menduduki posisi di akhir kata. Pemolaan ini jelas berupa intuitif yang merupakan sifat tidak sadar, walaupun telah di telaah para sarjana, diciptakan dan telah dipergunakan oleh manusia yang biasanya tidak sadar akan adanya suatu “sistem berstruktur” yang mendasari ujaran mereka.

  1. Yang dipergunakan oleh para anggota suatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain.
  2. Bahasa dan Kegiatan Berpikir

Instrumentalisme dan Determinisme

Pada garis besarnya dalam bukunya Poespoprodjo (1999) dalam bukunya yang berjudul “Logika Scientifika” mengenai instrumentalisme dan determinisme dapat di jelskan seprti di bawah ini.

Bahasa dan pikiran adalah tempat terjadinya peristiwa (geschehen) realitas. Secara garis besar terdapat dua paham tentang bahasa, yakni instrumentalisme dan determinisme. Instrumentalisme memandang bahwa sebagai suatu alat untuk mengungkapkan persepsi, pikran, dan rasa perasaan (emosi), sedangkan paham determinisme berpendapat bahwa manusia hanya dapat mempersepsi, berpikir, dan merasakan karena adanya bahsa.

Dengan kata lain, menurut paham instrumentalisme bahasa adalah suatu alat, sedangkan bagi paham determinisme bahasa adalah syarat untuk mempersepsi, berpikir dan merasakan.

Persepsi, pikiran dan emosi, menurut paham instrumentalisme, adalah lebih dulu (a priori) dari bahasa; dengan di tuturkan maka persepsi, pikiran, dan emosi di komunikasikan kepada orang lain.

Determinisme sebaliknya berdalil bahwa bahasa berfungsi sebagai syarat bagi persepsi, kognisi dan emosi. Dari sinilah apabila kemudian dikatakan bahwa pengalaman perseorangan terhadap kenyataan merupakan suatu fungsi dari bahasa masyarakat yang bersangkutan (hipotesis whorfsafir).

Pikiran, Bahasa dan Realitas

Pikiran dan bahasa, sesungguhnya, merupakan tempat terjadinya peristiwa realitas. Dengan berpikir, manusia menyelesaikan peristiwa tersebut. Berpikir berarti membiarkan realitas terjadi sebagai peristiwa bahasa. Kendati manusia senantiasa sudah berada di dalam suatu situasi interpretasi tertentu, raelitaslah yang lebih dulu pada awal mulanya merupakan sumber dan asal mula pikiran.

Proses perjalanan menuju bahasa juga merupakan proses perjalanan menuju berpikir. mengapa begitu? karena realitas tetap senantiasa berupa ‘hal yang tidak kunjung habis dipikirkan’ dan ‘hal yang tak kunjung selesai dikatakan’. Berpikir bukan pilihan semau-maunya pihak pemikir. Pikiran bahkan bukan pertama-tama perbuatan kita, tetapi sesuatu yang menerpa menjumpai kita manakala realitas mengungkapkan diri pada pikiran kita.

Realitas sebagai pembangkit kegiatan berpikir merupakan bahasa yang sejati. Kegiatan berpikir sebagai jawaban terhadap kata suara realitas mencari ungkapannya yang tepat sehingga realitas dapat menjadi bahasa, dan selanjutnya dapat di komunikasikan. Bahasa adalah jawaban manusia terhadap panggilan realitas kepadanya. Dengan demikian tiada pikiran dan bahasa tanpa realitas, sebaliknya tiada realitas tanpa pikiran dan bahasa.

Hakikat berpikir

Berpikir yang benar-benar berpikir tidak identik dengan berpikir dengan menghitung yang hakikatnya pemikiran hanya berarti pada aspek kuantitatif dari realitas, pada aspek utilistik instrumental dari realitas. Dalam terminology sehari-hari di pakai istilah ratio yang berasal dari kata latin reor yang berarti ‘menghitung’. Kadar kebenaran yang sesungguhnya dari realitas tidak mungkin terjangkau melalui berpikir dengan menghitung.

Berpikir yang benar-benar berpikir bukanlah berpikir dengan memvisualisasikan, membayangkan. Dalam berpikir dengan memvisualisasikan terkandung asumsi bahwa segala hal dapat di buat visual ( yang jelas tidak mungkin), terkandung persepsi dasar bahwa the real is the physical. Hal yang lebih dalam dari realitas jasmani dengan sendirinya tidak terjangkau.

Berpikir dengan membayangkan tidak mungkin berbicara tentang hakikat realitas. Pendek kata, lebih banyak lagi kebenaran yang tidak mungkin diungkap melalui berpikir dengan membayangkan.

berpikir yang benar-benar berpikir tidak identik dengan berpikir menjelaskan, karena de facto berpikir dengan menjelaskan sekadar gerak pikiran di antara batas-batas yang sudah di tetapkan.

Berpikir dengan menghitung, berpikir dengan memvisualisasikan, dan berpikir dengan menjelaskan adalah bentuk-bentuk berpikir, tetapi sekedar tukilan dari berpikir yang benar-benar berpikir.

Dengan demikian maka realitas bukan hasil pikiran, dan bahasa bukan alat. Bahasa dan pikiran adalah ruang tempat terjadinya peristiwa realitas. Berpikir adalah tanggapan, jawaban, bukan sikap objektivistik dan sikap mengambil jarak. Dan bahasa berkaitan erat dengan peristiwa penyampaian arti. Bahasa adalah jawaban manusia terhadap panggilan realitas kepadanya.

Adanya bahasa ini memang memungkinkan kita untuk memikirkan sesuatu dalam benak kepala kita , meskipun obyek yang sedang kita pikirkan tersebut tidak berada di dekat kita, Di kamar kecil kita bisa memikirkan soal aljabar kita atau merencanakan apa yang akan kita lakukan setelah nanti makan malam. Manusia dengan kemampuannya berbahasa memungkinkan untuk memikirkan sesuatu masalah secara terus menerus (Jujun S. Suriasumantri, 2003: 176).

FUNGSI-FUNGSI BAHASA

Di dalam karyanya yang berjudul Treatise concerning the principles of human knowledge filusuf George Berkeley (Poespoprodjo, 1999) menunjukkan bahwa tujuan utama dan satu-satunya dari bahasa bukan untuk mengkomunikasika ide-ide. Dengan demikian berbagai macam pemakaian bahasa demi kepentinagan studi logika bisa dikelompokkan dalam tiga katagori fungsi. Pertama adalah pemakaian bahasa untuk menyampaikan informasi, yakni merumuskan dan meng-ia-kan atau menolak proposes. Inilah fungsi informatif bahasa: mengiakan atau menolak proposisi atau pula menyuguhkan argumen/ argumentasi. Ilmu adalah contoh yang jelas dari realitas fungsi informatif bahasa.

Fungsi kedua bahasa adalah fungsi ekspresif, misalnya pemakaian bahasa dan puisi, dalam ungkapan rasa sedih, rasa sayang, ungkapan semangat. Bahasa disini dipakai sebagai alat pengungkapan rasa perasaan dan sikap.

Fungsi direktif adalah fungsi ketiga pemakaian bahasa, yakni pemakaian bahasa untuk menyebabkan atau menghalangi suatu perilaku. Perintah atau permintaan merupakan contoh jelas dari fungsi direktif bahasa.

Lebih lanjut Amsal Bahtiar dalam bukunya “filsafat ilmu” (2011) mengatakan secara umum fungsi bahasa adalah sebagai: koordinator kegiatan-kegiatan masyarakat, penetapan pemikiran dan pengungkapan, penyampaian pikiran dan perasaan, penyenangan jiwa, dan pengurangan kegoncangan jiwa.

Sedangkan menurut Halliday (Bahtiar, 2011) mengatakan bahwa fungsi bahasa adalah sebagai berikut:

  1. Fungsi Instrumental: penggunaan bahasa untuk mencapai suatu hal yang bersifat materi seperti makan, minum dan sebgainya.
  2. Fungsi Regulatoris: penggunaan bahasa untuk memerintah dan perbaikan tingkah laku.
  3. Fungsi Interaksional: penggunaan bahasa untuk saling mencurahkan perasaan pemikiran antara seseorang dan orang lain.
  4. Fungsi Personal: seseorang menggunakan bahasa untuk mencurahkan perasaan dan pikirannya.
  5. Fungsi Heuristik: penggunaan bahasa untuk mencapai pengungkap tabir fenomena dan keinginan untuk mempelajarinya.
  6. Fungsi Imajinatif: menggunakan bahasa untuk mengungkapkan imajinasi seseorang dan gambaran-gambaran tentang discovery seseorang dan tidak sesuai dengan realita (dunia nyata)
  7. Fungsi Representasional: penggunaan bahasa untuk menggambarkan pemikiran dan wawasan serta menyampaikannya pada orang lain.

BAHASA SEBAGAI SEBAGAI SARANA ILMIAH

Barbicara masalah sarana ilmiah, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu pertama, sarana ilmiah itu merupakan ilmu dalam pengertian bahwa ia merupakan kumpulan pengetahuan yang di dapatkan berdasarkan metode ilmiah, seperti menggunakan pola berpikir induktif dan deduktif dalam mendapatkan pengetahuan.

Dengan demikian, jika hal tersebut dikaitkan dengan berpikir ilmiah, sarana ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuan berdasarkan metode ilmiah (Amsal Bahtiar, 2011: 183).

Bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif. Dengan kata lain, kegiatan berpikir ilmiah ini sangat berkaitan erat dengan bahasa.

Ketika bahasa disifatkan dengan ilmiah, fungsinya untuk komunikasi di sifatkan dengan ilmiah juga, yakni komunikasi ilmiah. komunikasi ilmiah ini merupakan proses penyampaian informasi berupa pengetahuan. Untuk mencapai komunikasi ilmiah, maka bahasa yang digunakan harus terbebas daru unsure emotif.

Di samping itu bahasa ilmiah juga harus bersifat reproduktif, dengan arti jika si pengirim komunikasi menyampaikan suatu informasi berupa “X” misalnya, si pendengar juga harus menerima “X” juga. Hal ini dimaksudkan untuk tidak terjadi kesalahan informasi, dimana suatu informasi berbeda maka proses berpikirnya juga akan berbeda (Bahtriar, 2011: 184).

Dengan demikain maka dalam komunikasi ilmiah harus digunakan bahasa yang jelas. Berbahasa dengan jelas artinya ialah bahwa makna yang terkandung dalam kata-kata yang di pergunakan diaungkapkan secara tersurat (eksplisit) untuk memberi makna yang lain. Oleh sebab itu maka dalam komunikasi ilmiah kita sering sekali mendapatkan definisi dari kata-kata yang di pergunakan. Umpamanya jika dalam sebuah komunikasi ilmiah kita menggunakan kata seperti “epistemologi” atau “optimal” maka kita harus menjelaskan lebih lanjut apa yang kita maksud dengan kata-kata itu (Jujun S. Suriasumantri, 2003: 181).

KESIMPULAN

Bloch and Trager (Bahtiar: 2011) mengatakan bahwa a language is a system of arbitrary vocal symbols by means of which a social group cooperates (bahasa adalah suatu sistem simbol-simbol bunyi yang arbiter yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi).

Senada dengan definisi di atas Joseph Broam mengatakan bahwa a language is a structured system of arbitrary vocal symbols by means of wich members of social group interact (Bahasa adalah suatu system yang berstruktur dari symbol-simbol bunyi arbiter yang di pergunakan oleh para anggota suatu kelompok social sebagai alat bergaul satu salma lain).

Pada umumnya fungsi bahasa adalah Pertama adalah pemakaian bahasa untuk menyampaikan informasi, yakni merumuskan dan meng-ia-kan atau menolak proposes.  Fungsi kedua bahasa adalah fungsi ekspresif, misalnya pemakaian bahasa dan puisi, dalam ungkapan rasa sedih, rasa sayang, ungkapan semangat.

Fungsi direktif adalah fungsi ketiga pemakaian bahasa, yakni pemakaian bahasa untuk menyebabkan atau menghalangi suatu perilaku.

Bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif. Dengan kata lain, kegiatan berpikir ilmiah ini sangat berkaitan erat dengan bahasa.

Ketika bahasa disifatkan dengan ilmiah, fungsinya untuk komunikasi di sifatkan dengan ilmiah juga, yakni komunikasi ilmiah. komunikasi ilmiah ini merupakan proses penyampaian informasi berupa pengetahuan. Untuk mencapai komunikasi ilmiah, maka bahasa yang digunakan harus terbebas daru unsure emotif.

Di samping itu bahasa ilmiah juga harus bersifat reproduktif, dengan arti jika si pengirim komunikasi menyampaikan suatu informasi berupa “X” misalnya, si pendengar juga harus menerima “X” juga.

DAFTAR PUSTAKA

-     Bakhtiar Amsal. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rajawali Pers.

-     Poespoprodjo. 1999. Logika Scientifika. Bandung: Pustaka Grafika.

-     Suriasumantri S. Jijun. 2003. Filsafat Ilmu: sebuah pengantar popular. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

DISINTEGRASI DAN JALAN MENUJU INTEGRASI NASIONAL DI INDONESIA

Standar

DISINTEGRASI DAN JALAN MENUJU INTEGRASI NASIONAL DI INDONESIA

(Berdasarkan Kajian Beberapa Etnik di Indonesia Serta Sisi Positif dari Budaya Etnik yang ada Sebagai Wahana Integrasi Bangsa Pada Masa yang Akan Datang)

Dosen MK

Prof. Dr. Hj. Rabihatun Idris, M.Si

Oleh

LALU MURDI

A.     Latar Belakan

Masyarakat Indonesia di kenal dengan masyarakat yang majemuk, yang mana terdiri dari banyak etnik, suku, agama dan budaya yang berbeda. Masing-masing etnis yang ada memiliki ciri-ciri tersendiri yang membedakannya dengan etnis yang lain. Berdasarkan jumlah suku bangsa yang ada di Indonesia, dapat dijadikan indikator  pluralisme yang menjadikan masyarakat Indonesia yang majemuk. Untuk saat ini tentang beberapa jumlah suku bangsa di Indonesia, terdapat berbagai-bagai pendapat yang tidak sama di antara ahli. Hilderd Geertz, misalnya, menyebutkan danya lebih dari 300 suku-bangsa di Indonesia, masing-masing dengan bahasa dan identitas kultural yang berbeda-beda. Selain itu Skinner menyebutkan adanya lebih dari 35 suku-bangsa di Indonesia, masing-masing dengan bahasa dan adat yang tidak sama (Nasikun, 2011: 44).

Banyaknya suku-bangsa seperti di jelaskan di atas, jelas tidak hanya menciptakan konsesus dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), namun juga tidak sedikit konflik antara suku, dan agama yang berbeda, bahkan juga tidak sedikit beberapa suku-bangsa yang ada ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang kita saksikan dalam perjalanan sejarah Indonesia bahkan sampai saat ini, sehingga adanya semboyan Bhineka Tunggal Ika hanya sebagai selogan yang kurang berarti. Bukan hanya itu untuk saat ini konflik sosial pada masyarakat bukan hanya di akibatkan oleh adanya perbedaan suku-bangsa dan agama melainkah perbedaan-perbedaan yang tidak mendasar, seperti perbedaan organisasi, perbedaan politik, perbedaan golongan jamaah, perbedaan sekolah (untuk pelajar), bahkan sampai pada perbedaan pamsuakarsa yang di buat sebagai organisani masyarakat. Berberapa konflik seperti itu mengisyaratkan bahwa masyarakat Indonesia yang di kenal sebagai masyarakat peramah, tetra-tentrem karto raharjo, sudah hampir kehilangan jati dirinya, karena banyaknya konflik yang terjadi seperti di katakana di atas.

Mungkin untuk kasus konflik yang mikro atau gejala sosial yang menunjukkan hilangnya rasa nasionalisme dalam kesatuan etnik yang sama bisa diatasi dengan pendekatan budaya yang ada pada masing-masing etnik tersebut. Karena ada nilai budaya tersendiri yang bisa dijadikan obet terhadap adanya disintegrasi sosial yang ada. Namun yang menjadi persoalan saat ini adalah diantara adanya suku-bangsa yang berbeda dalam skala yang lebih luas (makro), karena adanya perbedaan seperti di katakana di atas sering mengarah pada menipisnya rasa integrasi bangsa.

Karena itu sebagai jalan untuk dapat menjadikan adanya suku-bangsa yang berbeda ini dalam satu integrasi yang lebih mempuni adalah dengan memahami budaya dari suku-bangsa tersebut. Karena bisa jadi adanya konflik dan permasalahan sosial yang ada selama ini ada, karena masyarakat tidak saling memahami budaya masing-masing sehingga yang terjadi adalah mereka saling tidak menyukai, saling curiga dan malah lagi sebagaian mereka merasa bukan bagian dari Indonesia. Ini jelas merupakan gejala disintegrasi bangsa di Indonesia. Sebab itu perumusan jalan keluar adalah pemahaman budaya antara suku-bangsa yang berbeda sangat perlu.

Jika demikian maka yang terpenting untuk menumbuhkan adanya integrasi sosial pada masyarakat Indonesia yang majemuk ini adalah dengan mengenal dan memahami arti pluralitas dan budaya masing-masing suku bangsa yang ada. Budaya dari suku bangsa yang ada memang kalau dilihat dari hokum positif dan budaya yang berbeda jelas ada sisi positif dan sisi negatifnya. Karena itu dalam hal ini perlu juga kita mengidentifikasi beberapa budaya dari masing-masing suku-bangsa yang berbeda tersebut dari sisi fositifnya yang mampu menciptakan integrasi yang kuat dalam bingkai NKRI. Sekaligus juga sebagai bahan perbandingan beberapa segi fositif perlu juga di perhatikan.

Untuk mendapatkan lebih jauh jika adanya suatu masalah tidak lepas dari adanya sesuatu sebab, entah itu sifatnya konfleks atau tunggal. Karena itu persyaratan untuk menemukan beberapa logika gejalan disintegrasi dan mengurangnya rasa nasionalisme di Indonesia ini tidak lepas dari beberapa gejala yang mendahuluinya, baik berupa adanya perbedaan seperti yang di sebutkan di atas. Namun juga tidak adanya kepuasan dari pengemban tugas pemerintahan pusat sebagai senter dari semua perbedaan yang ada pada masyarakat majemuk yang plural ini. Karena itu konflik antar suku, keinginan untuk memerdekakan wilayahnya dan terpisah dari NKRI, atau pada intinya konflik SARA pada masyarakat Indonesia selama ini merupakan bagian dari ketidak saling pahaman antara sesama mereka baik dalam agama, budaya, serta tidak adanya penghayatan rasa nasionalisme mereka. Karenanya perlu di perhatikan seperti apa masyarakat majemuk di Indonesia selama ini, untuk mendapatkan jawaban atas beberapa hal atau pendekatan yang perlu di gunakan untuk menguatkan adanya rasa nasionalisme.

Selain itu bagaimana integrasi yang tercipta dalam satu kesatuan di Negara ini perdu dapat penjelasan untuk mendapatkan gambaran penyebab adanya disintegrasi bangsa yang sudah merupakan bagian dari perjalanan bangsa ini, mulai dari awal-awal kemerdekaan sampai saat ini. Dan yang terpenting selanjutnya adalah bagaimana menemukan resep dari budaya masing-masing etnis yang berbeda di Indonesia untuk dapat membuat resep disintegrasi nasional tersebut. Karena dalam setiap budaya dari etnis yang berbeda memiliki daya penarik consensus yang kuat untuk mengikat. Inilah yang di harapkan dapat di gunakan untuk dapat merekonstruksi masyarakat Indonesia yang majemuk dan memiliki pluralitas yang tinggi untuk dapat mencapat integrasi nasional yang lebih baik dan mempersatukan rasa nasionalisme yang tinggi pada etnis masyarakat yang berbeda dengan nilain integrative budaya mereka masing-masing.

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas dapat di tarik beberapa rumusan masalah, sebagai berikut:

-          Bagaimanakah gambaran umum masyarakat majemuk di Indonesia?

-          Bagaimanakah Integrasi dan Disintegrasi nasional di Indonesia?

-          Bgaimanakah

-          Seperti apakah pemahaman budaya sebagai wahana integrasi nasional pada setiap etnik yang berbeda?

-

PEMBAHASAN

A.     Gambaran Umum Masyarakat Majemuk di Indonesia

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki wilayah yang luas, terbentang dari Aceh sampai ke Papua. Ada 17.504 pulau yang tersebar di seluruh kedaulatan Republik Indonesia, yang terdiri atas 8.651 pulau yang bernama dan 8.853 pulau yang belum bernama (Situmorang, 2006). Di samping kekayaan alam dengan keanekaragaman hayati dan nabati, Indonesia dikenal dengan keberagaman budayanya. Di Indonesia terdapat puluhan etnis yang memiliki budaya masing-masing. Misalnya, di Pulau Sumatra: Aceh, Batak, Minang, Melayu (Deli, Riau, Jambi, Palembang, Bengkulu, dan sebagainya), Lampung; di Pulau Jawa: Sunda, Badui (masyarakat tradisional yang mengisolasi diri dari dunia luar di Provinsi Banten), Jawa, dan Madura; Bali; Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tengara Timur: Sasak, Mangarai, Sumbawa, Flores, dan sebagainya; Kalimantan: Dayak, Melayu, Banjar, dsb.; Sulawesi: Bugis, Makassar, Toraja, Gorontalo, Minahasa, Manado, dsb.; Maluku: Ambon, Ternate, dsb.; Papua: Dani, Asmat, dsb.

Ada sekitar 726 bahasa daerah yang tersebar di seluruh nusantara. Mulai dari penutur yang hanya berjumlah belasan orang, seperti bahasa di Lombok, sampai dengan penutur yang berjumlah puluhan juta orang, seperti bahasa Jawa dan Sunda. Suku bangsa dan etnis itu adakalanya menempati daerah atau wilayah dalam sebuah provinsi dan adakalanya menempati lintas provinsi. Etnis Jawa, misalnya, menempati tiga provinsi, yakni Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Walaupun begitu, suku Jawa tersebar ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan sampai ke negara Suriname. Di setiap daerah itu terdapat pula subsubetnis dengan subbudaya yang berbeda pula, misalnya, Solo, Yogyakarta, sampai ke Banyuwangi, Jawa Timur. Umumnya orang Indonesia mengenal, misalnya, bahwa orang Solo di Daerah Istimewa Yogyakarta sering dikatakan sebagai masyarakat yang memiliki budaya yang halus, tutur sapa yang lembut, dan budi bahasa yang santun. Hal itu menandai keunggulan budayanya. Akan tetapi, tidak jarang pula masyarakat daerah tertentu yang berbicara dan bersikap keras, namun pada hakikatnya hatinya lembut.

Selain itu, di Sumatra dikenal pula suku bangsa Minangkabau, yang menempati Provinsi Sumatra Barat, sebagian Provinsi Jambi dan Bengkulu, di samping tersebar di seluruh Nusantara, bahkan sampai ke Semenanjung Malaysia. Orang Minang—sebutan untuk masyarakat Minangkabau—memiliki budaya yang unik jika dibandingkan dengan masyarakat suku lain. Mereka terkenal dengan pandai berdagang dan banyak menjadi sastrawan semasa Balai Pustaka dan Pujangga Barudan tokoh kemerdekaan di awal kemerdekaan Republik Indonesia. Keunikan budaya Minang terlihat dari sistem kekerabatan menurut jalur ibu (matrilineal). Sosok ibu menjadi dasar penentuan nama keluarga (family). Bahkan, dalam adat Minang selain nama keluarga berasal dari keluarga ibu, seseorang laki-laki yang sudah menikah akan diberi gelar adat sehingga, menurut adat yang berlaku di Minang yang bersangkutan harus dipanggil dengan gelarnya, bukan nama kecilnya. Misalnya, seseorang bernama Abdullah yang setelah menikah diberi gelar Sutan Maharajo (’Sultan Maharaja’) harus dipanggil dengan Sutan atau Marajo, sesuai dengan pepatah ”Ketek banamo, gadang bagala” (kecil diberi nama, besar diberi gelar). Di luar Minang biasanya seorang istri akan tinggal di rumah keluarga suami, sebaliknya di Minang suami akan tinggal di rumah istri. Apabila keluarga suami-istri ingin membangun rumah baru, lokasinya masih berada di sekitar rumah orang tua istri (mertua). Dengan demikian, akan berkembang keluarga besar dari pihak istrinya. Akibatnya, anak akan hidup di lingkungan keluarga istri dan itulah uniknya budaya kekerabatan di Minang.

Sebagai masyarakat yang menganut agama Islam, budaya Minang terlihat berpadu dengan budaya Islami. Dasar kemasyarakatan di Minang tertuang dalam prinsip adat, yakni ”adat bersandikan syarak (aturan agama Islam), syarak bersandikan Kitabullah (Alquran)”. Dengan demikian, masyarakat Minang memiliki tradisi keberagamaan yang kuat. Biasanya, tradisi itu tetap dibawa ke mana pun mereka merantau ke negeri orang. Di mana pun mereka tinggal, kebiasaan keberagamaan yang kuat itu masih terlihat. Ada yang agak unik bagi masyarakat Minang, yakni di mana pun mereka tinggal atau hidup di lingkungan masyarakat lain, mereka mampu berintegrasi dengan masyarakat setempat. Itu pula yang menyebabkan bahwa di mana pun di Indonesia kita tidak akan menemukan nama kampung atau kawasan dengan Kampung Minang. Agak berbeda dengan masyarakat etnis lain, seperti Jawa, Madura, Bugis, atau Cina akan kita temukan kawasan Kampung Jawa, Kampung Madurua, Kampung Bugis, atau Kampung Cina.

Keberagamaan masyarakat Minang tidak berbeda dengan keberagamaan seperti masyarakat Aceh, Melayu, Sunda, Madura, dan Bugis. Etnis itu dikenal dengan penganut Islam yang taat walaupun tidak dapat dimungkiri bahwa pengaruh teknologi modern berdapak terhadap keberagamaan masyarakat.

Bali pun–yang sudah dikenal oleh masyarakat mancanegara–memiliki agama mayoritas Hindu. Bahkan, pengaruh Hindu mewarnai kehidupan sosialnya. Begitu menyatunya Hindu dalam kehidupan mereka, kehidupan sosial dan pemerintahan pun dipengaruhi Hindu. Barangkali tingkat keberagamaan di Bali lebih tinggi jika dibandingkan dengan tingkat keberagamaan masyarakat dari etnis lain. Hal itu ditandai dengan setiap aktivitas mereka tidak lepas dari pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Shang Widhi) yang terlihat dalam upacara keagamaan (Bagus, 2002). Ada hal yang menarik lagi di Bali, yakni sistem pertanian yang diatur dalam subak. Dalam sistem itu setiap sawah mendapatkan jumlah air yang sama sehinga tidak ada sawah yang tidak mendapatkan jatah air. Hal itu berlaku pada semua perkampungan yang diatur dalam atruran masyarakatnya. Sistem pengairan seperti itu tidak ditemukan di wilayah lain di Indonesia.

Agama pun berbeda-beda. Tidak dapat diingkari bahwa masih ada sistem religi masyarakat Indonesia yang menganut kepercayaan kepada benda-benda alam (animisme). Akan tetapi, pada umumnya masyarakat Indonesia menganut enam agama resmi, yakni Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan yang terakhir diakui Konghucu. Semuanya hidup berdampingan yang diatur dalam kerukunan hidup beragama. Memang konsep kerukunan lahir pada masa Orde Baru yang sudah tumbang, tetapi keberadaannya masih dipertahankan, yakni kerukunan intraumat dan antarumat beragama. Apalagi sejak reformasi digulirkan pada tahun 1998 yang ditandai dengan jatuhnya pemerintahan Soharto, mantan Presiden Kedua Republik Indonesia, kehidupan masyarakat Indonesia lebih transparan. Setiap orang mempunyai hak yang sama di negara Indonesia. Hal itu terbukti dengan tumbuh berkembangnya budaya Cina, termasuk pengakuan terhadap agama Konghucu bagi masyarakat keturunan Cina di Indonesia. Angin segar itu disambut bahagia oleh masyarakat keturunan Cina, yang selama ini mereka agak dimarginalkan dalam sistem pemerintahan Orde Baru.

Dari sudut keagamaan itu, Islam di Indonesia mencapai 87 persen. Dengan jumlah itu tidaklah berarti bahwa kehidupan sosial politik tidak memperhatikan keberagaman agama. Di Indonesia tradisi keberagaman agama dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa sangat menonjol. Sebagai warga dengan jumlah mayoritas, umat Islam di Indonesia sangat memperhatikan kerukunan antarumat beragama. Prinsip-prinsip agama sebagai pembawa rahmat dan kedamaian untuk seluruh isi alam sangat mereka perhatikan Hal itu sudah menjadi dasar kemasyarakatan yang tidak dapat diingkari. Malah, ada masyarakat yang begitu tinggi toleransinya sehingga gesekan apa pun yang menerpanya tidak akan menggoyahkan sendi-sendi kemasyarakat yang toleran. Memang tidak dapat disangkal bahwa situasi politik kadangkala memengaruhi kehidupanan masyarakat yang rukun dan aman. Ada upaya-upaya untuk memecah belah persatuan bangsa melalui goncangan terhadap kerukunan umat beragama dengan mencuatkan sentimen keagamaan. Hal itu sengaja diciptakan oleh orang-orang yang tidak senang dengan kondisi politik yang stabil. Akibatnya, umat beragama terpengaruh ke dalam konflik tertentu. Kondisi itu kadangkadang disesalkan oleh masyarakat itu sendiri mengapa mereka terjerumus ke dalam konflik yang tidak mereka inginkan.

B.     Gambaran dan Faktor Disintegrasi Nasional

Berkaitan erat dengan disintegrasi ini maka perlu juga untuk memahami integrasi yang ada di Indonesia atau integrasi Nasional pada umumnya. Pemikiran tentang nasionalisme lebih menekankan pentingna lembaga-lembaga integratif dalam membangun dan mempertahankan suatu negara bangsa. Dalam kerangka ini, beberapa pemikir seperti Clifford Geertz membahas tentang empat tahap nasionalisme yaitu :

  1. Terciptanya ide;
  2. Pembentukan gerakan nasional;
  3. Pembentukan negara bangsa (nation state)
  4. Masa konsolidasi atau state building.

Pemikir lainnya yakni Furnivall mengemukakan tentang masyarakat majemuk (plural society) di masa kolonial di Asia, dimana berbagai etnik bertemu tetapi tidak bercampur. Seorang sosiolog terkemuka, Anthony Giddens menulis tentang peranan means of violence (alat-alat kekerasan), khususnya kekuasaan militer dalam membangun dan mempertahankan negara bangsa.

Pemahaman yang berbeda tentang integrasi nasional dapat berpotensi memperlemah keutuhan dan kedaulatan suatu negara bangsa. Kondisi struktur dan sosial masyarakat, letak geografis dan potensi-potensi lain yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, termasuk di dalamnya ragam budaya, ras dan agama jika tidak dipahami secara benar akan mengancam keuthan NKRI.

Koentjaraningrat  menggunakan istilah integrasi nasional untuk menunjukkan usaha membangun interdependensi yang lebih kuat antar bagian dari organisme hidup antar anggota-anggotanya yang dianggap sama harmonisnya. Sedangkan istilah integrasi nasional menurut Coleman dan Rosberg seperti yang dikutip oleh Sjamsuddin  memiliki dua dimensi, yaitu vertikal (elite massa) dan horizontal (teritorial). Integrasi vertikal disebut juga integrasi politik, tujuannya untuk menjembatani celah perbedaan yang mungkin ada antara elite dan massa dalam rangka pengembangan suatu proses politik terpadu dan masyarakat politik yang berpartisipasi. Yang dimaksudkan dengan integrasi teritorial adalah integrasi dalam bidang horizontal yang bertujuan mengurangi diskontinuitas dan ketegangan kultur kedarahan dalam rangka proses penciptaan suatu masyarakat politik yang homogen.

Menurut Weiner, integrasi bangsa sebagai bagian dari integrasi politik berarti bahwa bagi masyarakat majemuk yang meliputi berbagai suku bangsa, ras dan agama, integrasi bangsa dirasakan sangat penting untuk mengarahkan rasa kesetiaan masyarakat kepada bangsanya yang menyatukan berbagai kelompok sosial budaya dalam satu kesatuan wilayah dan satu identitas nasional.

Dengan mempelajari beberapa hal terkait dengan integrasi bangsa di atas, baiknya dalam hal ini juga kita memahami ciri-ciri dari masyarakat majemuk, untuk mendapatkan gambaran bahwa pada masyarakat majemuk tersebut, konflik sosial tidak terhindarkan. Karena itu masyarakat mejemuk di Indonesia dapat di identifikasi sebagai beriku:

  1. Masyarakat tersegmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang memiliki perbedaan sub kebudayaan antara satu dan yang lainnya.
  2. Memiliki struktur sosial yang terbagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer.
  3. Kurang mengembangkan consensus diantara para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat mendasar.
  4. Sering kali mengalami konflik antara kelompok satu dengan kelompok lain, akan tetapi juga sering terintegrasi jika terdapat persamaan kepentingan, cara pandang, tujuan, dan lain-lainnya atau kadang-kadang juga integrasi sering terjadi melalui proses paksaan.
  5. Terjadi dominasi politik suatu kelompok atau oleh alienasi kelompok terhadap kelompok lain yang lemah.

Banyaknya etnis yang ada di Indonesia dengan beberapa perbedaan yang ada di dalamnya, dalam rangka integrasi nasional dan rasa nasionalisme  yang intensif, kadang sering terjadi tumpang tindih, hal ini di karenakan pada setiap etnik terdapat perbedaan yang mendasar, bahkan pada setiap sub etnik yang sama kadang sering terjadi disintegrasi bahkan tidak adanya lagi pemahaman mereka terhadap adanya rasa nasionalisme ini.

Integrasi nasional dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) secara dejure baru mulai dengan terciptanya konsesus bersama diantara para pemuda yang ada di Indonesia dengan di awali konsep dasar perjuangan PNI di belanda pada tahun 1925, berlanjut dengan adanya Sumpah Pemuda tahun 1928, dan titik kulminasinya pada tahun 1945 dengan adanya konsesus bersama untuk membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun konsesus tersebut terkadang tidak seperti di harapkan, seiring berjalannya waktu rasa nasionalisme ini terutama saat ini semakin berkurang, bahkan sampai pada disintegrasi bangsa.

Salah satu contoh kasus kecil yang masih marah baru-baru ini adalah penomeda peraturan daerah (perda) syariaat. Maraknya fenomena formalisasi syarian Islam ke dalam konstitusi formal dan tertulis di beberapa daerah di Indonesia menjadi pro dan kontra, dan bukan tidak mungkin ancaman disintegrasi bangsa itu akan berpotensi muncul. Formalisasi syariat Islam merupakan bentuk pelanggaran kebebasan beragama di lakukan kelompok agama dominan dengan memberangus, mengkebiri, dan menghalang, maupun memberikan stigmatisasi terhadap penganut agama minoritas atau kelompok agama yang berpemahaman dan melaksanakan praktek ritus yang berbeda dengan arus dominan.

Padahal yang terjadi belum tentu masyarakat di suatu daerah tersebut mayoritas menginginkan adanya penerapan Islam misalnya. Karena pada dasarnya, kebijakan tersebut adalah merupakan proses politik di tingkat elit, yang juga tidak luput dari sisipan kepentingan. Menurut M. Mahfud MD, guru besar ilmu hokum UII yang juga ketua MK, fenomena pemberlakuan aturan daerah (perda) mengenai agama di beberapa porvensi adalah contoh konkrit ketidakseimbangan demokrasi dan nomokrasi. Dikatakan demikian karena perda-perda tersebut tidak mengacu atau berlawanan dengan kaidah hokum yang melandasi pengambilan keputusan yang berlaku di Indonesia. Kaidah-kaidah ini tidak terlepas dari kedudukan Pancasila yang menjadi cita hukum (rechtside) dan harus di jadikan dasar dan tujuan setiap hukum di Indonesia.

Selain kasus di atas dalam perjalanan Bangsa ini sampai sekarang beberapa konflik yang mengarah pada disintegrasi nasional kerap terjadi, dan hal ini kerap juga di namakan gerakan separatis. Nasionalisme dan Gerakan Separatis lebih terasa sebagai Isu perbedaan identitas, utamanya terkait etnis (etno-nasionalisme) dan distribusi sumber daya (kesejahteraan/ pembangunan) yang adil patut benar-benar diperhatikan dan dijaga, agar kelompok-kelompok minoritas ataupun terlupakan tidak melakukan perlawanan terhadap pemerintah yang dapat memicu konflik yang mengakar di masyarakat. Dalam kerangka pembangunan, kelompok-kelompok tersebut tetap harus dilibatkan secara aktif dalam proses pembangunan itu sendiri dan pemerataan hasil-hasil pembangunan.

Kasus-kasus separatis (Aceh, Papua dan Maluku/RMS) relatif masih dapat cepat terselesaikan jika pemerintah mampu mengakomodir eksistensi dan keinginan kelompok-kelompok tersebut dalam kerangka NKRI. Umumnya akar permasalahan dari kasus-kasus separatis ataupun konflik dalam negara didasari/bersumber pada ketidak-adilan dalam kedua faktor di atas (identitas/etnis dan distribusi). Sangat dibutuhkan adanya political will negara (pemerintah) untuk membangun rasa ‘persaudaraan yang utuh’ yang senasib sepenanggungan. Hal inilah yang menentukan kuat/lemahnya nasionalisme suatu negara bangsa. Tampaknya gampang disebut atau diucapkan, namun praktiknya sangatlah sulit dilaksanakan, bukan berarti mustahil untuk diwujudkan. Sedangkan kasus-kasusseparatis yang telah mendapat dukungan internasional seringkali berujung pada diperolah kemerdekatan etnis menjadi negara, contoh Bosnia dan Timor Timur.

Disamping upaya-upaya yang disebut di atas, negara (pemerintah) harus mampu menggalang dukungan dari dunia internasional, membangun diplomasi atau opini internasional. Keberhasilan negara dalam mengatasi kasus separatis sangat ditentukan oleh bagaimana pemerintah mampu menggalang kerjasama internasional dan regional untuk membangun political power demi meningkatkan power position negara bangsa tersebut di fora internasional dan regional. Hal ini juga berarti bahwa kemampuan diplomasi sangat menentukan.

Selain adanya konflik sosial dalam tingkat yang lebih makro (antara etnik yang berbeda) dan separatisme di atas, pada umumnya baik dalam tingkat mikro dalam tingkat etnik yang sama juga tidak lepas dari adanya konflik sosial yang mengarah pada adanya integrasi sosial tersebut.

Baru-baru ini terjadi pembunuhan mahasiswa oleh geng motor di Makassar, mutilasi di yang sering terjadi di Jawa, Pencirian motor di sana sini, tawuran mahasiswa dan pelajar, seorang ABRI yang terkena panah ketika demo kenaikan BBM di Makassar, Pengerusakan kantor polisi, permusuhan antara satu desa dengan desa yang lainnya seperti yang terjadi di Lombok Tengah Kecamatan Pujut, pengerusakan dan pengusiran jamaah Ahmadiah dari Selong Lombok Timur, pertengkaran sopir angkot karena berebutan penumpang dan banyak lagi konflik sosial lainnya saat ini bisa kita lihat. Semua ini merupakan indikasi smakin memudarnya solidaritas sosial masyarakat indonesia yang memang di kenal sebagai masyarakat yang adem ayem, damai dan lain sebagainya. Rendahnya solidaritas sosial sperti dijelaskan di atas merupakan cermin dari rendahnya integrasi dan rasa nasionalisme yang pernah ada.

C.     Pemahaman Budaya Sebagai Wahana Integrasi Nasional pada Setiap Etnik yang Berbeda

Seperti di katakana pada bagian sebelumnya bahwa, salah satu alat untuk dapat mengintensifkan adanya integrasi nasional dan penanaman nasional pada masyarakat yang saat ini sering diidentikkan dengan mulai merapuhnya rasa integrasi nasional atau tidak memiliki rasa nasionalisme yang kuat, kerena banyak sekali konflik sosial yang terjadi baik antara satu suku, etnik yang berbeda, agama, sampai pada kemauan dari masyarakat yang ada pada wilayah tertentu untuk memisahkan diri dari NKRI bahkan konflik sosial pada tingkat yang lebih mikro seperti di jelaskan di atas merupakan fenomena konflik sosial yang sering trjadi saat ini.. Hal ini memang tidak lepas dari faktor konfleks yang mengakibatkannya. Sekaligus juga perlu cara yang konflek untuk mereduksi integrasi sosial tersebut. Namun pada bagian ini akan coba di lihat dalam satu aspek saja, yaitu melalui pemahaman budaya masing-masing etnis yang berbeda yang sifatnya fositif untuk dapat menciptakan integrasi dan jiwa nasional yang tinggi pada masyarakat yang berbeda tersebut.

Untuk mendapatkan beberapa gambaran beberapa budaya dari masyarakat yang secara etnik berbeda di Indonesia beberapa budaya yang berbeda dari etnis tersebut perlu di pelajari terutama dari beberapa budaya yang akan sekiranya perlu di kembangkan untuk dapat memperkuat adanya rasa integrasi nasional dan rasa nasionalisme yang mempuni tersebut.

Karena pada etnis yang berbeda, dan dengan unsur budayanya yang ada, baik berupa agama, kebiasaan, adat-istiadat, bahasa, teknologi dan lain sebagainya memiliki nilai fositif tersendiri untuk terus menjaga adanya solidaritas sosial pada masyarakat yang ada, dengan begitu pada setiap etnis yang ada memiliki nilai budaya tersendiri yang akan mampu di jadikan sebagai wahana integrasi sosial baik bagi masyarakat di dalam lingkungan etnis tersebut maupun di luar etnis masyarakat dimana budaya tersebut berada.

Namun satu hal yang sangat penting untuk dapat menciptakan integrasi yang kuat antara etnis yang berbeda adalah melalui pembelajaran multikultural, dimana kita dianjurkan untuk bukan hanya tau namun juga bagaimana bersikap, bagaimana menghormati budaya orang lain pada etnis yang berbeda. Karena itu pada bagian ini beberapa contoh dari budaya etnis yang berbeda tersebut perlu kita ketahui.

a.    Beberapa aspek budaya masyarakat suku sasak yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan integrasi sosial.

Etnis Sasak merupakan etnis mayoritas penghuni pulau Lombok, suku Sasak merupakan etnis utama meliputi hampir 95% penduduk seluruhnya. Bukti lain juga menyatakan bahwa berdasarkan prasasti tong – tong yang ditemukan di Pujungan, Bali, Suku sasak sudah menghuni pulau Lombok sejak abad IX sampai XI masehi, Kata sasak pada prasasti tersebut mengacu pada tempat suku bangsa atau penduduk seperti kebiasaan orang Bali sampai saat ini sering menyebut pulau Lombok dengan gumi sasak yang berarti tanah, bumi atau pulau tempat bermukimnya orang sasak.

Sebagian besar penduduk pualau Lombok, terutama suku Sasak beragama Islam (pulau Lombok juga di kenal dengan nama Pulau Seribu Masjid). Agama kedua terbesar yang dianut di pulau ini adalah agama Hindu, yang dipeluk oleh para penduduk keturunan Bali yang berjumlah sekitar 15% dari seluruh populasi di sana. Penganut KristenBuddha dan agama lainnya juga dapat dijumpai, dan terutama dipeluk oleh para pendatang dari berbagai suku dan etnis yang bermukim di pulau ini.

Di Kabupaten Lombok Utara, tepatnya di daerah Bayan, terutama di kalangan mereka yang berusia lanjut, masih dapat dijumpai para penganut aliran Islam Wetu Telu (waktu tiga). Tidak seperti umumnya penganut ajaran Islam yang melakukan salat lima kali dalam sehari, para penganut ajaran ini mempraktikan salat wajib hanya pada tiga waktu saja. Konon hal ini terjadi karena penyebar Islam saat itu mengajarkan Islam secara bertahap dan karena suatu hal tidak sempat menyempurnakan dakwahnya.

Terkait dengan sistem sosial dan budaya pada masyarakat sasak di Lombok bisa kita kaji lebih mendalam namun yang jelas jika terkait dengan integrasi nasional yang ada, budaya gotong royong pada masyarakatnya bisaa merupakan salah satu kekuatan integrasi tersebut. Mungkin pada etnis lain kita juga menemukan integrasi yang kuat pada masyarakatnya, namun di pulau Lombok ini adanya julukan Seribu masjid adalah jelmaan dari gotong royong tersebut.

b.    Beberapa aspek budaya masyarakat Bali yang dapat meningtkatkan rasa nasionalisme dan integrasi sosial.

Dalam Sistem Kekerabatan keluarga Bali: Sistem garis keturunan dan hubungan kekerabatan orang Bali berpegang kepada prinsip sistem klen-klen (dadia) dan sistem kasta (wangsa). Perkawinan merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali, karena pada saat itulah ia dapat dianggap sebagai warga penuh dari masyarakat, dan baru sesudah itu ia memperoleh hak-hak dan kewajiban seorang warga komuniti dan warga kelompok kerabat. Maka perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan diantara warga se-klen, atau setidak-tidaknya antara orang yang dianggap sederajat dalam kasta. Orang-orang yang masih satu kelas (tunggal kawitan, tunggal dadia dan tunggal sanggah) sama-sama tinggi tingkatannya. Dalam perkawinan klen dan kasta ini yang paling ideal adalah antara pasangan dari anak dua orang laki-laki bersaudara.

Orang-orang se-klen di Bali itu, adalah orang orang yang setingkat kedudukannya dalam adat dan agama, dan demikian juga dalam kasta, sehingga dengan berusaha untuk kawin dalam batas klennya, terjagalah kemungkinan akan ketegangan-keteganagan dan noda-noda keluarga yang akan terjadi akibat perkawinan antar kasta yang berbeda derajatnya. Dalam hal ini terutama harus dijaga agar anak wanita dari kasta yang tinggi jangan sampai kawin dengan pria yang lebih rendah derajat kastanya, karena perkawinan itu akan membawa malu kepada keluarga, serta menjatuhkan gengsi dari seluruh kasta dari anak wanita tersebut.

Sistem Sosial Budaya Masyarakat Bali: Kehidupan sosial budaya masyarakat Bali sehari-hari hampir smuanya dipengaruhi oleh keyakinan mereka kepada agama Hindu Darma yang mereka anut. Oleh karena itu studi tentang masyarakat dan kebudayaan Bali tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sistem religi Hindu. Agama Hindu Darma atau Hindu Jawa yang mereka anut mempercayai Tuhan Yang Maha Esa dalam konsep Tri Murti, yaitu Tuhan yang mempunyai tiga wujud: Brahma (Pencipta), Wisnu (Pelindung) dan Syiwa (Pelebur Segala yang Ada). Semuanya perlu di hormati dengan mengadakan upacara dan sesajian. Mereka juga mengangap penting konsepsi tentang Roh abadi yang disebut Athman, adanya buah setiap perbuatan (Karmapala), kelahiran kembali sang jiwa (purnabawa) dan kebebasan jiwa dari kelahiran kembali (moksa). Dalam menyelenggarakan pemakaman anggota keluarga orang Bali selalu melaksanakan tiga tahapan upacara kematian. Pertama, upacara pembakaran mayat (ngaben), kedua, upacara penyucian (nyekah) dan ketiga, upacara ngelinggihang. Ajaran-ajaran di agama Hindu Darma itu termaktub dalam kitab suci yang disebut Weda.

Salah satu dampak fositif dari budaya semacam ini adalah adanya mawas diri dari kelompok sosial yang berbeda dan terus-menerus mempertahankan keanggotaannya dalam tingkatan yang sama sehingga integrasi sosial antara mereka selalu tercipta, dan konflik sosial bisa di hindarkan. Namun dampak negatifnya adalah ketidak toleransian dengan masyarakat yang ada pada kasta yang berbeda, sehingga hal ini sekaligus dapat menciptakan adanya konflik sosial. Sedangkan sebagai toleransi pada budaya dari etnis yang berbeda masyarakat Bali ternyata merupakan masyarakat yang sangat menghargai perbedaan, baik budaya, adat-istiadat, agama yang dimiliki oleh etnis lain.

c.    Beberapa aspek budaya masyarakat Minang yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan integrasi soaial.

Minangkabau atau yang biasa disingkat Minang adalah kelompok etnik nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau. Wilayah penganut kebudayaannya meliputi Sumatra Barat, separuh Daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatra Utara, barat daya Aceh, dan juga Negeri Sembilan di Malaysia.

Menurut A.A. Navis, Minangkabau lebih kepada kultur etnis dari suatu rumpun Melayu yang tumbuh dan besar karena sistem monarki, serta menganut sistem adat yang khas, yang dicirikan dengan sistem kekeluargaan melalui jalur perempuan atau matrilineal, walaupun budayanya juga sangat kuat di warnai ajaran agama Islam, sedangkan Thomas Stamford Raffles, setelah melakukan ekspedisi ke pedalaman Minagkabau tempat kedudukan Kerajaan Pagaruyung, menyatakan bahwa Minangkabau adalah sumber kekuatan dan asal bangsa Melayu

pedalaman Minangkabau tempat kedudukan Kerajaan Pagaruyung, menyatakan bahwa Minangkabau adalah sumber kekuatan dan asal bangsa Melayu, yang kemudian penduduknya tersebar luas di Kepulauan Timur.

Saat ini masyarakat Minang merupakan masyarakat penganut matrilineal terbesar di dunia. Selain itu, etnik ini juga telah menerapkan sistem proto-demokrasi sejak masa pra-Hindu dengan adanya kerapatan adat untuk menentukan hal-hal penting dan permasalahan hukum. Prinsip adat Minangkabau tertuang singkat dalam pernyataan Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah(Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Al-Qur’an) yang berarti adat berlandaskan ajaran Islam

Masyarakat Minang saat ini merupakan pemeluk agama Islam, jika ada masyarakatnya keluar dari agama islam (murtad), secara langsung yang bersangkutan juga dianggap keluar dari masyarakat Minang, dalam istilahnya disebut “dibuang sepanjang adat“. Agama Islam diperkirakan masuk melalui kawasan pesisir timur, walaupun ada anggapan dari pesisir barat, terutama pada kawasan Pariaman, namun kawasan Arcat (Aru dan Rokan) serta Inderagiri yang berada pada pesisir timur juga telah menjadi kawasan pelabuhan Minangkabau, danSungai Kampar maupun Batang Kuantan berhulu pada kawasan pedalaman Minangkabau. Sebagaimana pepatah yang ada di masyarakat, Adat manurun, Syara’ mandaki (Adat diturunkan dari pedalaman ke pesisir, sementara agama (Islam) datang dari pesisir ke pedalaman), serta hal ini juga dikaitkan dengan penyebutan Orang Siak merujuk kepada orang-orang yang ahli dan tekun dalam agama Islam, masih tetap digunakan di dataran tinggi Minangkabau.

Adat-Istiadat Minangkabau

Dalam masyarakat Minangkabau, ada tiga pilar yang membangun dan menjaga keutuhan budaya serta adat istiadat. Mereka adalah alim ulama, cerdik pandai, dan ninik mamak, yang dikenal dengan istilah Tali nan Tigo Sapilin. Ketiganya saling melengkapi dan bahu membahu dalam posisi yang sama tingginya. Dalam masyarakat Minangkabau yang demokratis dan egaliter, semua urusan masyarakat dimusyawarahkan oleh ketiga unsur itu secara mufakat.

Materineal

Matrilineal merupakan salah satu aspek utama dalam mendefinisikan identitas masyarakat Minang. Adat dan budaya mereka menempatkan pihak perempuan bertindak sebagai pewaris harta pusaka dan kekerabatan. Garis keturunan dirujuk kepada ibu yang dikenal dengan Samande (se-ibu). Sedangkan ayah mereka disebut oleh masyarakat dengan nama Sumando (ipar) dan diperlakukan sebagai tamu dalam keluarga.

Kaum perempuan di Minangkabau memiliki kedudukan yang istimewa sehingga dijuluki dengan Bundo Kanduang, memainkan peranan dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan keputusan-keputusan yang dibuat oleh kaum lelaki dalam posisi mereka sebagai mamak (paman atau saudara dari pihak ibu), dan penghulu (kepala suku). Pengaruh yang besar tersebut menjadikan perempuan Minang disimbolkan sebagai Limpapeh Rumah nan Gadang (pilar utama rumah). Walau kekuasaan sangat dipengaruhi oleh penguasaan terhadap aset ekonomi namun kaum lelaki dari keluarga pihak perempuan tersebut masih tetap memegang otoritas atau memiliki legitimasi kekuasaan pada komunitasnya.

Matrilineal tetap dipertahankan masyarakat Minangkabau sampai sekarang walau hanya diajarkan secara turun temurun dan tidak ada sanksi adat yang diberikan kepada yang tidak menjalankan sistem kekerabatan tersebut. Pada setiap individu Minang misalnya, memiliki kecenderungan untuk menyerahkan harta pusaka yang seharusnya dibagi kepada setiap anak menurut hukum faraidh dalam Islam hanya kepada anak perempuannya. Anak perempuan itu nanti menyerahkan pula kepada anak perempuannya pula. Begitu seterusnya.

Sehingga Tsuyoshi Kato dalam disertasinya menyebutkan bahwa sistem matrilineal akan semakin menguat dalam diri orang-orang Minangkabau walau mereka telah menetap di kota-kota di luar Minang sekalipun dan mulai mengenal sistem patrilineal.

Dalam adat budaya Minangkabau, perkawinan merupakan salah satu peristiwa penting dalam siklus kehidupan, dan merupakan masa peralihan yang sangat berarti dalam membentuk kelompok kecil keluarga baru pelanjut keturunan. Bagi lelaki Minang, perkawinan juga menjadi proses untuk masuk lingkungan baru, yakni pihak keluarga istrinya. Sedangkan bagi keluarga pihak istri, menjadi salah satu proses dalam penambahan anggota di komunitas rumah gadang mereka.

Dalam prosesi perkawinan adat Minangkabau, biasa disebut baralek, mempunyai beberapa tahapan yang umum dilakukan. Dimulai denganmaminang (meminang), manjapuik marapulai (menjemput pengantin pria), sampai basandiang (bersanding di pelaminan). Setelah maminangdan muncul kesepakatan manantuan hari (menentukan hari pernikahan), maka kemudian dilanjutkan dengan pernikahan secara Islam yang biasa dilakukan di Mesjid, sebelum kedua pengantin bersanding di pelaminan.

Pada nagari tertentu setelah ijab kabul di depan penghulu atautuan kadi, mempelai pria akan diberikan gelar baru sebagai panggilan penganti nama kecilnya. Kemudian masyarakat sekitar akan memanggilnya dengan gelar baru tersebut. Gelar panggilan tersebut biasanya bermulai dari sutanbagindo atau sidi (sayyidi) di kawasan pesisir pantai. Sedangkan di kawasan luhak limo puluah, pemberian gelar ini tidak berlaku.

Memperhatikan budaya masyarakat Minang ini, tidak diragukan lagi beberapa contoh dari budaya yang ada di sana menunjukkan bahwa budaya mereka jika benar di laksanakan dalam kehidupan sehari-hari maka integrasi sosial dalam masyarakatnya akan bukan merupakan harapan, namun merupakan kenyataan.

d.    Beberapa aspek budaya etnis Madura dalam rangka peningkatan nasionalisme dan integrasi sosial di Indonedonesia.

Masyarakat Madura dikenal memiliki budaya yang khas, unik, stereotipikal, dan stigmatik. Identitas budayanya itu dianggap sebagai deskripsi dari generalisasi jatidiri individual maupun komunal etnik Madura dalam berperilaku dan berkehidupan. Kehidupan mereka di tempat asal maupun di perantauan kerapkali membawa dan senantiasa dipahami oleh komunitas etnik lain atas dasar  identitas kolektifnya itu. Akibatnya, tidak jarang di antara mereka mendapat perlakuan sosial maupun kultural secara fisik dan/atau psikis yang dirasakan tidak adil, bahkan tidak proporsional dan di luar kewajaran.

Kekhususan kultural itu tampak antara lain pada ketaatan, ketundukan, dan kepasrahan mereka secara hierarkis kepada empat figur utama dalam berkehidupan, lebih-lebih dalam praksis keberagamaan. Keempat figur itu adalah Buppa,’ Babbu, Guru, ban Rato (Ayah, Ibu, Guru, dan Pemimpin pemerintahan). Kepada figur-figur utama itulah kepatuhan hierarkis orang-orang Madura menampakkan wujudnya dalam kehidupan sosial budaya mereka (Wiyata, 2003: 1).

Bagi entitas etnik Madura, kepatuhan hierarkis tersebut menjadi keniscayaan untuk diaktualisasikan dalam praksis keseharian sebagai “aturan normatif” yang mengikat. Oleh karenanya, pengabaian atau pelanggaran yang dilakukan secara disengaja atas aturan itu menyebabkan pelakunya dikenakan sanksi sosial maupun kultural. Pemaknaan etnografis demikian berwujud lebih lanjut pada ketiadaan kesempatan dan ruang yang cukup untuk mengenyampingkan aturan normatif itu. Dalam makna yang lebih luas dapat dinyatakan bahwa aktualisasi kepatuhan itu dilakukan sepanjang hidupnya. Tidak ada kosa kata yang tepat untuk menyebut istilah lainnya kecuali ketundukan, ketaatan, dan kepasrahan kepada keempat figur tersebut.

Kearifan budaya Madura yang juga menjadi keunikan etnografisnya tampak pada perilaku dalam memelihara jalinan poersaudaraan sejati. Hal itu tergambar dari ungkapan budaya oreng dhaddhi taretan, taretan dhaddhi oreng, (orang lain bisa menjadi/dianggap sebagai saudara sendiri, sedangkan saudara sendiri bisa menjadi/dianggap sebagai orang lain). Keunikan yang muncul dari ungkapan kultural (pseudo-kinship) itu diwujudkan dalam bentuk perilaku aktual. secara konkret, ucapan kultural tersebut memiliki makna bahwa kecocokan dalam menjalin persahabatan atau persaudaraan dapat dikukuhkan secara nyata dan abadi. Artinya, orang lain yang berperilaku sejalan dengan watak-dasar individu etnik Madura dapat dengan mudah diperlakukan sebagai saudara kandungnya (pseudo-kinship). Sebaliknya, saudara kandung dapat diperlakukan sebagai orang lain jika seringkali mengalami ketidakcocokan pendapat, pandangan, dan pendirian (Wiyata, 2005: 4; Astro, 2006: 2).

Berdasarkan sedikit contoh dari adanya perbedaan sistem sosial dan budaya pada masing-masing etnis yang kurang lebih 300 jumlahnya di Indonesia ini jelas adanya disintegrasi tidak dapat di hindarkan. Namun ada beberapa hal yang perlu di perhatika supaya dalam etnik yang berbeda tersebut integrasi nasional tetap terjaga. Beberapa integrasi sosial mulai dari tingkat mikro sampai makro perlu di intensifkan. Untuk mengakhiri tulisan ini maka macam-macam integrasi sosial tersebut perlu di perhatikan.

Pertama, Integrasi keluarga. Pada tingkat keluarga di setiap etnis yang berbeda memiliki peranan dan fungsi berbeda untuk menumbuhkan integrasi ini. Pada umumnya integrasi keluarga akan tercapai jika antar-anggota keluarga satu dan lainnya menjalankan kedudukan, peranan atau fungsinya sebagaimana mestinya.

Kedua, integrasi kekerabatan. Integrasi ini pada etnis yang brbeda akan terjadi jika masing-masing anggota kerabat yang ada mematuhi norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di dalam sistem kekerabatan tersebut.

ketiga, integrasi asosiasi (perkumpulan). Hal ini juga merupakan ciri umum dari masyarakat pada umumnya, dimana asosiasi ini ditandai oleh adanya kesamaan kepentingan, atau dengan lain perkataan dapat di katakan bahwa asosiasi merupakan perkumpulan yang didirikan oleh orang-orang yang memiliki kesamaan minat, tujuan, kepentingan, dan kegemaran.

keempat, integrasi masyarakat. Integrasi masyarakat akan tercapai jika kehidupan masyarakat tersebut telah terpenuhi semua unsur-unsur pembentuk masyarakat yaitu, (1) adanya anggota, (2) bertempat tinggal dalam waktu yang relatif lama, (3) terdapat tata aturan hidup seperti adat, kebiasaan, sikap, dan perasaan kesatuan, (4), rasa idntitas di antara para warganya.

Kelima, integrasi suku bangsa. Dalam beberapa kepustakaan sosiologis ditekankan bahwa suku bangsa merupakan kesatuan penduduk yang memiliki ciri-ciri; (1) secara tertutup berkembang biak dalam kelompoknya, (2) memiliki nilai-nilai dasar yang termanifestasikan dalam kebudayaan, (3) mewujudkan arena komunikasi dan interaksi, dan (4) setiap anggota mengenali dirinya serta dikenal oleh lainnya sebagai satu bagian dari katagori yang dapat dibedakan dengan katagori lainnya. Suku bangsa dikatakan terintegrasi jika sifat-sifat yang dimiliki oleh masing-masing anggota sebagai satu kesatuan kelompok, akan tetapi jika identitas kesukuan tersebut sudah membaur dengan identitas kelompok lain, maka keadaan ini disebut tidak terintegrasi.

Keenam, Integrasi Bangsa. Inilah yang kita inginkan saat ini dan untuk masa depan bangsa kita. Indonesia yang memiliki keanekaragaman oleh Will Kymlica (Setiadi & Kolip, 2011) dinamakan sebagai negara multinasional. Berbagai gerakan sosial seperti anti-Cina di Jakarta dan Solo, konflik di Sambas Kalimantan antar etnis Madura dan Dayak, gerakan Separatis Aceh, Maluku, dan Irian Jaya merupakan gejala multinasional, bukan hanya gejala multietnis. Keadaan multinasional tersebut akan terintegrasi jika antara bangsa yang satu dan lainnya terdapat kesamaan tujuan yaitu hidup bersama dalam wilayah negara dan mengakui keutuhan negara.

Integrasis sosial dalam masyarakat pada etnis yang berbeda dapat di lihat juga dalam analisis teori fungsionalisme struktural yang memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan bagian yang satu tidak dapat berfungsi tanpa ada hubungan dengan bagian yang lain (Bernard Raho, 2007: 48). Begitu juga dalam hubungan sosial bernegara dalam satu etnis yang berbeda, jika salah satu tidak menjalankan fungsinya dalam menciptakan stabilitas sosial maka yang akan terjadi adalah semakin menguatnya disintegrasi nasional.

Integrasi nasional dapat tercapai dalam masyarakat plural ini supaya dapat berfungsi dengan baik paling tidak menurut Talcott Parsons (Bernard Raho, 2007) harus memenuhi persyaratan yang di sebutnya dengan AGIL yaitu:

  1. Adaptasi (adaptation). Budaya yang berbeda pada suku bangsa dan etnis yang berbeda, seperti suku Bugis, suku Bali, Suku, Sasak, Suku Minang, etnis Maduran dan lain sebagainya untuk dapat mencapai fungsi dalam integrasi nasional maka beberapa etnis yang berbeda tersebut harus mampu beradaptasi dengan etnis yang berbeda tersebut.
  2. Pencapai tujuan (goal attainment). Tujuan dari adanya negara Indonesia selain untuk membebaskan diri dari penjajah sekaligus juga menciptakan perdamaian anatara etnis yang berbeda. Dan tujuannya yang paling inti adalah terciptanya solidaritas sosial dalam satu kesatuan Bhineka Tunggal Ika.
  3. Integrasi (integration). Terdapat beberapa komponen dari budaya yang dimiliki oleh masing-masing etnis yang ada di Indonesia untuk tetap menciptakan integrasi yang kuat. Salah satunya adalah, adanya kesamaan dalam sejarah, nasib, dan yang terpenting juga agama.
  4. Latensi atau pemeliharaan pola-pola yang sudah ada. Konsesus sosial untuk membentuk negara kesatuan Republik Indonesia sudah tercipta secara hukum pada tahun 1945, dasar persatuan nasional yang tercipta saat itu, perlu untuk terus di lestarikan sebagai wahana memperkuat adanya integrasi sosial dan integrasi nasional tersebut.

Terakhir Bhineka Tunggal Ika dilihat sebagai pemersatu bangsa yang majemuk untuk mencapai integrasi suatu bangsa. Dalam konsep ini biasanya bangsa di dalam suatu negara terdiri atas kelompok-kelompok atas dasar suku, agama dan ras antar golongan yang tersegmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang antara kelompok satu dan lainnya tidak saling melengkapi akan tetapi justru lebih bersifat kompetitif. Untuk itulah biasanya pemerintah memilah-milahkan budaya universal yang terbagi atas subbudaya daerah yang beragam.

PENUTUP

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki wilayah yang luas, terbentang dari Aceh sampai ke Papua. Ada 17.504 pulau yang tersebar di seluruh kedaulatan Republik Indonesia, yang terdiri atas 8.651 pulau yang bernama dan 8.853 pulau yang belum bernama (Situmorang, 2006). Di samping kekayaan alam dengan keanekaragaman hayati dan nabati, Indonesia dikenal dengan keberagaman budayanya. Di Indonesia terdapat puluhan etnis yang memiliki budaya masing-masing. Misalnya, di Pulau Sumatra: Aceh, Batak, Minang, Melayu (Deli, Riau, Jambi, Palembang, Bengkulu, dan sebagainya), Lampung; di Pulau Jawa: Sunda, Badui (masyarakat tradisional yang mengisolasi diri dari dunia luar di Provinsi Banten), Jawa, dan Madura; Bali; Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tengara Timur: Sasak, Mangarai, Sumbawa, Flores, dan sebagainya; Kalimantan: Dayak, Melayu, Banjar, dsb.; Sulawesi: Bugis, Makassar, Toraja, Gorontalo, Minahasa, Manado, dsb.; Maluku: Ambon, Ternate, dsb.; Papua: Dani, Asmat, dsb.

Banyaknya etnis yang ada di Indonesia seperti di atas dengan beberapa perbedaan yang ada di dalamnya, dalam rangka integrasi nasional dan rasa nasionalisme  yang intensif, kadang sering terjadi tumpang tindih, hal ini di karenakan pada setiap etnik terdapat perbedaan yang mendasar, bahkan pada setiap sub etnik yang sama kadang sering terjadi disintegrasi bahkan tidak adanya lagi pemahaman mereka terhadap adanya rasa nasionalisme ini.

Karena itu perlu adanya integrasi mulai dari tingkat mikro sampai pada tingkat makro seperti; integrasi keluarga, integrasi kekerabatan, integrasi asosiasi (perkumpulan), integrasi masyarakat, integrasi suku bangsa, dan intgrasi bangsa. Dan yang sangat pelu adalah adanya Bhineka Tunggal Ika sebagai wadah integrasi nasional Indonesia yang lebih universal.

DAFTAR PUSTAKA

-          Astro, Masuki M. 2006. orang Madura peramah yang Sering Dikonotasikan Negatif. (http://www.mamboteam.com) diakses 4 November 2006.

-          Bagus, I Gusti Ngurah. 2002. ”Kebudayaan Bali”. Dalam Koentjaraningrat (Ed.). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.

-          Raho Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka.

-          Nasikun. 2011. Sistem Sosial di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers

-          Setiadi M. Elly dan Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana.

-          Situmorang, Sodjuangan. 2006. ”Pentingnya Dokumentasi Toponimi untuk Mendukung Tata Pemerintahan yang Baik”. Makalah dalam The 13th Asia South East & Pacific South West Divisional Meeting, 24-25 August 2006. Jakarta.

-          Wiyata, A. Latief. 2003. Madura yang Patuh?; Kajian Antropologi Mengenai Budaya madura. Jakarta: CERIC-FISIP UI.

-          Wiyata, A. Latief. 2005. Model Rekonsiliasi Orang Madura. (http://www.fisip.ui. edu/ceric) diakses 16 Agustus 2006.

-          http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/05/indonesia-dan-ancaman-disintegrasi/

-          http://www.balitbang.kemhan.go.id/?q=content/implikasi-kesepakatan-damai-mou-helsinki-terhadap-integrasi-nasional

-          http://susila-besmart.blogspot.com/2012/04/integrasi-nasional-indonesia.html

                                                                                         

BEBERAPA HAL TENTANG SISTEM SOSIAL DAN BUDAYA DI INDONESIA

Standar

SISTEM SOSIAL DAN BUDAYA DI INDONESIA

(Sistem Sosial dan Budaya pada Tingkat Mikro dan Makro, Eksistensi  Sistem Sosial Budaya Asli, dan Kesatuan Suprastruktur-Struktur Sosial-dan Infrastruktur)

Dosen Pengampu

Prof. Dr. Hj. Rabihatun Idris, M.Si

Oleh

LALU MURDI

 

A.     Latar Belakang

Secara sederhana dalam kehidupan sosial masyarakat paling tidak ada dua sistem sosial dan budaya masyarakat yang terbentang yaitu sistem sosial yang menjadi bagian hidup pada masyarakat mikro (bisa dalam ukuran satu rumah tangga, dusun, desa, atau dalam satu kesatuan tempat tinggal yang masih diikat oleh adanya perasaan kesatuan dalam segala asfek dan berada pada satu spasial) dan masyarakat pada tingkat makro (lintas budaya, kepulauan, dan pada  intinya dalam kehidupan mereka tidak terikat oleh adanya perasaan bersama).

Pada intinya sistem sosial budaya pada masyarakat dalam ukuran mikro lebih mengikat dalam segala asfek dibandingkan dengan masyarakat secara luas (atau makro), hal ini berdampak pada penumbuhan identitas suatu kelompok dalam identitas yang lebih kecil seperti keluarga, kelompok sosial mereka, bahkan sampai pada satu suku sekalipun yang masih memiliki rasa identitas sosial bersama. Sedangkan pada sistem sosial budaya masyarakat yang makro dalam hal ini berupa Negara atau bahkan lintas Negara telah mencerminkan identitas suku, atau paling tidak lingkungan mikro yang sudah ada terkaburkan oleh adanya idiologi bersama dalam bentuk Negara atau yang lebih luas.

Satu hal penting juga adalah bagaimana pada sektor sistem sosial masyarakat mikro akan lebih condong memperlihatkan adanya pelestarian budaya yang sebelumnya pernah ada. Karena pada sistem sosial mikro inilah terjadi apa yang di sebut sebagai proses internalisasi oleh keluarga terdekat seperti ibu, bapak, kaka, dan lain sebagainya, pada sektor ini juga tumbuh sosialisasi dengan pergaulan sesama masyarakat sekitar, Selain itu pada lingkup sistem sosial mikro ini terjadi proses enkulturasi, yaitu pewarisan budaya masyarakat dimana mereka berada dengan jalan praktek dalam kenyataan, sehingga paling tidak dengan ketiga peroses pewarisan budaya ini generasi muda mereka akan terus mewariskan beberapa kebijakan masa lalu nenek moyang mereka yang mereka rasakan perlu untuk dilestarikan.

Pada dasarnya masyarakat suku Sasak di Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur-NTB misalnya bukanlah masyarakat statis namun terikat oleh adanya perubahan yang ada. Namun demikian adanya pengaruh luar yang begitu cepatnya memasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat terutama melalui media ini ternyata pada bagian tertentu dari unsure budaya yang mereka miliki jelas terasa adanya, seperti adat-istiadat, kesenian dan sistem kepercayaan atau religi. Karena itu Sutan Takdir Alisyahbana (Budiwanti: 2009) mengatakan bahwa adat-istiadat yang berlaku pada masyarakat berakar pada budaya yang dikembangkan oleh nenek moyang secara berkelanjutan bahkan tidak berkesudahan. Karena itu maka jelaslah bahwa di era globalisasi yang di tunjang oleh media, dan unsur-unsur budaya luar menjadi sarapan pagi media masa yang di suguhkan oleh masyarakat jelas tidak serta merta akan membuat mereka lupa akan budayanya sendiri dan inilah yang memang terjadi.

Namun satu hal yang menentukan seperti apa sistem sosial budaya pada masyarakat tergantung dari tingkatan waktu pada saat mana masyarakat tersebut berkembang. Jika pada era globalisasi seperti saat ini maka indikasi perubahan dalam masyarakat tanpa harus kehilangan jati dirinya merupakan suatu keniscayaan dan memang itulah yang ideal. Karena banyak sekali budaya lokal yang kita miliki memiliki nilai guna yang sangat baik untuk menjalani kehidupan kita sehari-hari baik sebagai individu maupun menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri.

Adanya suprastruktural yang menjadi basis tertinggi pemeliharaan kebudayaan yang ada pada masyarakat di Kecamatan Jerowaru, dan bagaimana struktur sosial mereka, serta infrastruktur yang ada mempengaruhi bagaimana kualitas sistem sosial dan budaya masyarakat yang ada di Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur-NTB ini. Karena itu perlu kita pahami bagaimana tiga kesatuan ini, yaitu suprastruktural, struktur sosial, serta infrastruktur sosial yang ada menjadi satu kesatuan yang saling terkait sehingga menciptakan adanya sistem sosial dan budaya masyarakat seperti saat ini.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat di tarik rumusan masalah yang harus di pecahkan adalah sebagai berikut:

-          Mengapa sistem sosial pada tingkat mikro lebih mengikat dibandingkan dengan yang makro?

-          Apakah yang mendasari satu sistem sosial budaya dapat eksis sampai saat ini walaupun ada interpensi dari globalisasi?

-          Mengapa struktur suprastruktural, struktur sosial, dan infrastruktur merupakan satu kesatuan yang mempengaruhi proses pengembangan masyarakat?

 

PEMBAHASAN

A.     Analisa Kekuatan Sistem Sosial Mikro dalam Mengikat Sistem Sosial Dibandingkan Sistem Sosial Makro.
1.    Sistem Sosial Mikro dan Kemampuan Mengikat

Sistem sosial terkecil adalah rumah tangga, atau disebut sebagai sistem sosial mikro, atau keluarga batih (nuclear family). Di mana terdiri dari kelompok sosial kecil yang terdiri dari suami, istri beserta anak-anaknya yang belum menikah. Keluarga batih tersebut lazimnya juga disebut rumah tangga, yang merupakan unit terkecil dalam masyarakat sebagai wadah dan proses pergaulan hidup. Suatu keluarga batih dianggap sebagai suatu sistem sosial terkecil (mikro), karena memiliki unsur-unsur sistem sosial yang pada pokoknyamencakup kepercayaan, perasaan, tujuan, kaidah-kaidah, kedudukan, dan peranan, tingkat atau jenjang, sanksi, kekuasaan, dan fasilitas (Soerjono Soekanto, 2009: 1).

Salah satu perbedaan sistem sosial mikro dengan sistem sosial makro pada dasarnya berbeda karena kemampuan mengikatnya.Sistem sosial mikro, karena secara spasial dan lingkupnya yang kecil inilah yang membuat selalu dan terus adanya sistem sosial yang mengikat ini, hal yang berbeda dengan sistem sosial makro yang terdiri dari banyak budaya, banyak suku dan lain sebagainya di dalamnya. Karena itu, perlu dijelaskan dari beberapa faktor yang mengakibatkan adanya kekuatan dari sistem sosisal mikro, baik fungsi dari sistem sosial mikro, peranan keluarga, serta ciri-ciri yang ada. Beberpa hal ini perlu di terangkan untuk mendapatkan gambaran kenapa sistem sosial mikro tersebut lebih mengikat jika dibandingkan dengan dengan sistem sosial makro.

Suatu keluarga yang merupakan sistem sosial mikro pada dasarnya mempunyai fungsi-fungsi, sebagai berikut:

  1. Unit terkecil dalam masyarakat yang mengatur hubungan seksual secara keseluruhan.
  2. Wadah tempat berlangsungnya sosialisasi, yakni proses di mana anggota-anggota masyarakat yang baru mendapatkan pendidikan untuk mengenal, memahami, mentaati dan menghargai kaidah-kaidah serta nilai-nilai berlaku.
  3. Unit terkecil dalam masyarakat yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan ekonomis.
  4. Unit terkecil dalam masyarakat tempat anggota-anggotanya mendapatkan perlindungan bagi ketentraman dan perkembangan jiwanya.

Sistem sosial mikro bukan hanya berbicara tentang keluarga secara sempit melainkan juga mencakup keluarga luas (extended family), komunitas (community) dan lain sebagainya, dan tentu dalam hal ini memiliki kesatuan secara spasial. Namun dalam hal ini sebagai gambaran kekuatan mengikat dari sistem mikro baiklah beberapa peran dari keluarga kecil ini adalah, sebagai berikut:

  1. Keluarga berperan sebagai pelindung bagi pribadi-pribadi yang menjadi anggota, di mana ketentraman dan ketertiban diperoleh dalam wadah tersebut.
  2. Keluarga merupakan unit sosial-ekonomis yang secara materil memenuhi kebutuhan anggota-anggotanya.
  3. Keluarga menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah-kaidah pergaulan hidup.
  4. Keluarga merupakan wadah di mana manusia mengalami proses sosialisasi awal, yakni suatu proses di mana manusia mempelajari dan mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Kelompok yang paling dekat dengan manusia agaknya adalah kelompok keluarga batih. Keluarga ini terdiri dari ayah, ibu dan anak-anaknya yang belum menikah atau belum membentuk keluarga. Keluarga batih yang di Indonesia berkait erat dengan unit yang lebih besar lagi, yang lazim disebut kelompok kekerabatan. Kelompok kekerabatan merupakan suatu kelompok yang anggota-anggotanya mempunyai hubungan darah atau persaudaraan. Kelompok sosial yang merupakan kelompok kekerabatan inilah yang mula-mula muncul sebagai unit pergaulan hidup bagi manusia. Bahkan di Indonesia, diantara berbagai suku yang ada, kelompok kekerabatan masih berfungsi secara kuat terhadap kepribadian manusia. Kepribadian tersebut mencakup pola interaksi, sistem nilai-nilai, pola pikir, pola sikap, pola tingkahlaku maupun sistem kaidah-kaidah. Dengan demikian, kelompok kekerabatan tersebut secara tradisional mempunyai fungsi yang sangat relevan dalam mengarahkan pergaulan hidup.

Di Indonesia fungsi kelompok kekerabatan masih sangat kuat terutama pada masyarakat-masyarakat bersahaja-tradisional. Masyarakat-masyarakat ini banyak terdapat di wilayah pedesaan, di mana kurang lebih dari 80% penduduk Indonesia bertempat tinggal dan hidup bermasyarakat. Kecuali it, maka pengaruh kelompok kekerabatan juga masih terasa kuat pada masyarakat-masyarakat madya, yakni yang terdapat di kota-kota kecil atau di wilayah pedesaan yang sangat berpengaruh oleh kehidupan kota.

Kehidupan kelompok kekerabatan tersebut berpusat pada tradisi kebudayaan yang telah dipelihara secara turun-temurun. Sangat sulit untuk mengubah tradisi tersebut, oleh karena hampir tidak ada masyarakat yang sepenuhnya tertutup terhadap dunia luar di Indonesia, kemungkinan mengubah tradisi kebudayaan yang telah dipelihara turun-temurun ada, walau sulit sekali (Soerjono Soekanto, 9009: 31).

Beberapa penjelasan di atas lebih condong mengarah pada sistem sosial mikro yang lebih sempit yang mengarah pada sistem sosial dari keluarga dan sistem kekerabatan. Namun secara umum beberpa ciri dari sistem sosial mikro ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Norma dan nilai merupakan elemen-elemen dasar dalam kehidupan sosial
  2. Konsekuensi kehidupan sosial adalah komitmen
  3. Masyarakat pasti kompak
  4. Kehidupan sosial tergantung pada solidaritas
  5. Kehidupan sosial didasarkan pada kerja sama dan saling memperhatikan atau saling membutuhkan
  6. Sistem sosial tergabung pada konsensus
  7. Masyarakat mengakui adanya otoritas yang abasah
  8. sistem sosial bersifat integratif
  9. Sistem sosial cenderung bertahan

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat di simpulkan beberpa faktor penting yang mengakibatkan adanya kekuatan mengikat dari sistem sosial mikro, yaitu:

  1. Karena merupakan unit yang kecil maka banyak aturan masyarakat dapat diatur secara keseluruhan.
  2. Wadah tempat berlangsungnya sosialisasi, yakni proses di mana anggota-anggota masyarakat yang baru mendapatkan pendidikan untuk mengenal, memahami, mentaati dan menghargai kaidah-kaidah serta nilai-nilai berlaku.
  3. Keluarga berperan sebagai pelindung bagi pribadi-pribadi yang menjadi anggota, di mana ketentraman dan ketertiban diperoleh dalam wadah tersebut.
  4. Keluarga menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah-kaidah pergaulan hidup.
  5. Keluarga merupakan wadah di mana manusia mengalami proses sosialisasi awal, yakni suatu proses di mana manusia mempelajari dan mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
  6. Norma dan nilai merupakan elemen-elemen dasar dalam kehidupan sosial
  7. Konsekuensi kehidupan sosial adalah komitmen
  8. Sistem sosial bersifat integratif
  9. Sistem sosial cenderung bertahan
  10. Kehidupan sosial didasarkan pada kerja sama dan saling memperhatikan atau saling membutuhkan

Sebagai contoh untuk melihat bagaimana sistem sosial mikro yang mengikat ini kita ambil contoh pada masyarakat Sasak di Lombok Timur, hususnya pada spasial yang lebih kecil lagi yaitu di kecamatan Jerowaru. Apa yang di sebut di atas sebagai ciri dari sistem sosial seperti di jelaskan di atas dapat kita lihat juga pada sistem sosial mikro pada masyarakat Sasak di Kecamatan Jerowaru, hal ini jelas di dukung oleh adanya kebiasaan, adat-istiadat, dan bahasa yang sama antara sesamanya, sekaligus diikat oleh adanya sistem kekerabatan yang ada.

2.    Sistem Sosial Makro yang Longgar

Dalam ukuran yang luas, Negara merupakan sistem sosial makro, yang di dalamnya terdapat banyak sekali perbedaan. Struktur masyarakat Indonesia misalnya ditandai oleh dua cirinya yang bersifat unik. Secara horizontal, ia ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan-perbedaan suku bangsa, perbedaan-perbedaan agama, adat serta perbedaan-perbedaan kedaerahan. Secara vertikal, struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam.

Perbedaan-perbedaan suku bangsa, perbedaan-perbedaan agama, adat dan kedaerahan seringkali disebut sebagai ciri masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk, suatu istilah yang mula-mula diperkenalkan oleh Furnivalll untuk menggambarkan masyarakat Indonesia pada masa Hindia-Belanda. Konsep masyarakat majemuk sebagaimana yang banyak dipergunakan oleh ahli-ahli ilmu kemasyarakatan dewasa ini memang merupakan perluasan dari konsep Furnivall tersebut (Nasikun, 2011: 34-35).

Karena Negara merupakan contoh dari sistem sosial maka jelas beberapa sistem sosial yang ada pada masyarakat yang berbeda tersebut menyebabkan adanya kelonggaran tersendiri. Karena memang pada dasarnya masing-masing agama, masing-masing budaya, masing-masing suku yang ada dan lain sebagainya tidak akan mengikat antara satu dengan yang lainnya. Sehingga keadaan yang seperti inilah yang dikatakan bahwa sistem sosial makro tidak mengikat adanya. Karena Negara misalnya lebih mengarah pada adanya konsesus bersama dalam hokum positif yang diciptakan sehingga membentuk sistem sosial makro, namun tidak terlalu memperhatikan unsur mikro dari masyarakat yang ada di dalamnya.

Masyarakat majemuk yang dikatakan sistem sosial makro, tentu memiliki ciri-ciri tersendiri, dan karakteristik yang dimilikinya tersebut menyebakan adanya ikatan sistem sosial yang longgar. Dengan cara yang lebih singkat, Pierre L.Van den Berghe seperti dikutif Nasikun (2011) beberapa karakteristik berikut sebagai sifat dasar dari suatu masyarakat majemuk yang disebut masyarakat makro, yakni: (1) terjadinya segmentasi ke dalam bentuk kelompok-kelompok yang seringkali memiliki subkebudayaan yang berbeda satu sama lain; (2) memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer; (3) kurang mengembangkan konsensus di antara para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar; (4) secara relative seringkali mengalami konflik-konflik di antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain; (5) secara relatif integrasi sosial tumbuh di atas paksaan (coercion) dan saling ketergantungan di dalam bidang ekonomi; serta (6) adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok-kelompok yang lain.

Sederhananya apa yang di identifikasi di atas sebagai ciri dari masyarakat makro kalau dilihat dengan keadaan Indonesia sendiri misalnya ada beberapa faktor yang menyebabkan pluralitas sehingga dalam kapasitasnya sebagai sistem sosial makro yang tidak mengikat yang demikian itu terjadi. Keadaan/geografis yang membagi wilayah Indonesia atas kurang lebih 3.000 pulau yang terserak di suatu daerah ekuator sepanjang kurang lebih 3.000 mil dari timur ke barat dan lebih dari 1.000 mil dari Utara ke Selatan, merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap terciptanya pluratitas suku bangsa di Indonesia (Nasikun, 2011: 43).

Belum lagi jika berpatokan pada beberapa jumlah suku bangsa yang sebenarnya ada di Indonesia. Hilder Geertz, misalnya, menyebutkan adanya lebih dari 300 suku-bangsa di Indonesia, masing-masing dengan bahasa dan identitas cultural yang berbeda-beda. Skinner menyebutkan adanya lebih dari 35 suku-bangsa di Indonesia, masing-masing dengan bahasa dan adat yang tidak sama (Nasikun, 2011: 44). Karena itu berdasarkan perbedaan yang disebutkan ini dengan sendirinya akan mengakibatkan adanya kelonggaran dalam sistem sosial yang ada, belum lagi di tambah dengan adanya hukum positif  berlaku bagi masyarakat yang di buat oleh Negara danal bentuk Undang-Undang.

Berdasarkan penjelasan di atas dengan sendirinya dapat ditemukan beberapa unsur-unsur yang mendukung masyarakat makro (bangsa) adalah, sebagai berikut:

  1. Adanya sejumlah kelompok etnis, tiap-tiap kelompok merasa dirinya berasal dari keturunan yang berbeda. Perbedaan itu bisa dilihat dari sosok yang berbeda (kulit, bentuk, tubuh).
  2. Adanya perbedaan corak budaya. Perbedaan ini terlihat pada bahasa sehari-hari, adat istiadat, pola-pola kelakuan, dan sebagainya
  3. Adanya perbedaan agama dan kepercayaan. Tiap suku mempunyai agama dan kepercayaan asli yang berbeda. Suku yang tidak mempertahankan agama asli, kemudian memeluk agama dan kepercayaan diri
  4. Adanya perbedaan kekayaan alam.

Semua penjelasan di atas sudah jelas dengan sendirinya menciptakan kelonggaran pada suku, adat, agama dan lain sebagainya dalam satu Negara yang di sebut Negara Indonesia ini. Kelonggaran yang di maksud disini bukan berarti tidak adanya konsesus, karena Negara sendiri yang menciptakan konsesus tesebut dengan adanya Undang-undang. Kelonggaran yang di maksud pada masyarakat makro dalam satu Negara Indonesia ini adalah ketidak mengikatnya adat-adat, budaya, bahasa, agama dan lain sebagainya dalam suku, etnis dan kepulauan yang berbeda. Karena masing-masing suku, etnis yang ada di Indonesia tersebut memiliki adat istiadat, dan bahasa yang berbeda satu dengan yang lainnya, sehingga tidak terjadi intervensi yang sifatnya mengikat. Hal ini berbeda dengan sistem sosial mikro yang di tandai oleh adanya adat-istiadat dan bahasa yang sama sehingga dengan sendirinya akan membentuk sistem sosial yang mengikat.

Dengan demikian, hidup bermasyarakat merupakan bagian integral karakteristik dalam kehidupan manusia. Kita tidak dapat membayangkan , bagaimana jika manusia tidak bermasyarakat dalam satu sistem sosial. Sebab sesungguhnya individu-individu tidak dapat hidup dalam keterpencilan sama sekali selama-lamanya kerena manusia itu adalah mahluk sosial. Manusia membutuhkan satu sama lain untuk bertahan hidup dan untuk hidup sebagai manusia (Dadang Supardan, 2011: 136). Namun dalam kemampuan mengikatnya jelas berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain. Hal ini juga sejalan dengan apakah sistem sosial tempat masyarakat tersebut dalam skala sistem sosial mikro atau sistem sosial yang lebih luas yang disebut dengan sistem sosial makro.

B.     Beberapa Faktor Dasar Eksistensi Sistem Sosial Budaya pada Masyarakat Sasak di Kecamatan Jerowaru

Pada dasarnya, di dalam sistem sosial, masyarakat selalu mengalami perubahan. Tidak ada masyarakat yang tidak mengalami perubahan, walaupun dalam tarap yang paling kecil sekali pun, Masyarakat (yang di dalamnya banyak sekali individu) akan selalu berubah. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan yang kecil sampai pada taraf perubahan yang sangat besar yang mampu memberikan pengaruh yang besar bagi aktivitas atau perilaku manusia. Perubahan dapat mencakup aspek yang sempit maupun yang luas. Aspek yang sempit dapat meliputi aspek perilaku dan pola pikir individu. Aspek yang luas dapat berupa perubahan dalam tingkat struktur masyarakat yang nantinya dapat memengaruhi perkembangan masyarakat di masa yang akan datang (Nanang Martono, 2011: 1).

Dengan demikian perubahan merupakan suatu keniscayaan. Apa lagi saat ini dengan pengaruh media yang begitu pesat, sehingga dunia seolah menggelobalisasi. Sehingga berdampak pada perubahan dalam segala aspek, kebudayaan sampai pada tehnologi. Memang cukup jelas saat ini bahwa perubahan terkecil mulai dari seorang individu walaupun di desa dalam cara berpikir telah menunjukkan suatu perubahan tersendiri, belum lagi menyangkut sistem sosial dan budaya masyarakat yang ada.

Namun jika memperhatika enam unsur budaya seperti yang dikemukakan oleh C. Kluckhohn (Soerjono Soekanto, 2006) maka intensitas perubahan dari unsur budaya yang ada berbeda antara satu dan yang lainnya. Menurutnya unsure budaya material merupakan budaya yang paling cepat terpengaruhi, sedangkan unsure religi merupakan unsur yang paling lambat terinterpensi oleh budaya lain. Dengan begitu jelas baberapa aspek dari budaya masyarakat asli yang ada tidak serta-merta akan mudah terpengaruh oleh budaya luar. Terutama hal itu terkait dengan kepercayaan, dan unsur-unsur budaya non material lainnya.

Karena itu Sutan Takdir Alisyahbana (Budiwanti: 2009) mengatakan bahwa adat-istiadat yang berlaku pada masyarakat berakar pada budaya yang dikembangkan oleh nenek moyang secara berkelanjutan bahkan tidak berkesudahan. Berdasarkan apa yang dikatakan Ali Syahbana diatas sekurang-kurangnya walaupun dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan yang kelihatannya memarjinalisasi sendi-sendi budaya terdahulu pada masyarakat, dengan pengamatan yang cermat pada masyarakat  yang walaupun sudah terkontaminasi dengan budaya baru tersebut justru masih menyisakan kebajikan-kebajikan masa lalu yang terus di lestarikan keberadaannya

Sesuai dengan objek spasial dari pembahasan ini di Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) maka pada bagian ini saya akan coba menjelaskan beberapa paktor yang menyebabkan beberapa unsur budaya yang ada pada masyarakat di Kecamatan Jerowaru tidak mengalami interpensi. Walaupun beberapa diantaranya seperti budaya material jelas keberadaannya tidak terbendung oleh adanya kepentingan masyarakat yang ada di sana.

Sebelum menjelaskan beberapa unsur atau sub unsur budaya masyarakat yang masih eksis dan bagaimana masyarakat terus melestarikan budayanya tersebut, terlebih dahulu saya akan memperdalam beberapa aspek teori sehingga dalam penjelasannya tinggal menyesuaikan dengan teori yang ada. Dalam hal ini beberapa faktor yang menghambat jalannya perubahan sampai pada bagaimana masyarakat sebenarnya menghidupkan budayanya sendiri perlu untuk dikaji.

Terdapat tiga faktor menurut Elly M. Setiadi & Usman Kolip (2011) yang menjadi penghambat jalannya proses perubahan, yaitu:

1.    Kurangnya hubungan antara masyarakat satu dan masyarakat lainnya.

Masyarakat yang demikian ini kebanyakan dialami akibat terisolasi kehidupan sosialnya, misalnya terisolasinya secara geografis, maupun secara kultural. Terisolasinya masyarakat secara geografis ditunjukkan dalam suatu realitas di mana keadaan masyarakat ini bertempat tinggal di daerah terpencil, sedangkan terisolasi secara kultural biasanya disebabkan oleh sikap masyarakat ini yang tidak mau mengadopsi kebudayaan orang lain, sebagai akibat dari misalnya etnosentrisme yang berlebih lebihan.

Pernyataan ini jika dikaitkan dengan bagaimana masyarakat di Kecamatan Jerowaru, Lotim-NTB ini mampu menunjukkan bagian dari unsur budayanya, aspek pertama yaitu faktor geografis dalam hal ini di masyarakatnya tidak terjadi eksklusifisme, atau mereka tidak tertutup dengan daerah luar, karena saat ini banyak dari masyarakatnya merupakan orang-orang yang sangat terbuka dengan daerah luar, hal itu tentu berhubungan dengan pencarian kerja dan kebutuhan hidup. Lebih dari itu segala macam media yang sifatnya modern sudah dirasakan masyarakat dan pendidikan pada generasi mudanya sudah lumayan membaik.

Adanya etnosentrisme yang berlebihan pada budaya asli di masyarakat Sasak di Kecamatan Jerowaru juga tidak terjadi. Namun yang jelas adalah mereka masih menanamkan beberapa budaya asli masyarakat sebagai salah satu ciri, dan identitas mereka. Jadi dengan demikian walaupun pada sebagian dari budaya mereka yang penting tidak terus mereka lestarikan bukan berarti mereka eksklusif dengan dunia luar dan di dorong oleh adanya rasa etnosentrisme yang sangat tinggi, melainkan semangat mereka dan keyakinan mereka bahwa yang seperti itulah yang terbaik buat mereka. Meskipun mereka juga menghormati budaya di luar lingkungannya.

2.    Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat

Ada beberapa hal yang menyebabkan keterlambatan dalam ilmu pengetahuan, di antaranya ialah keterlambatan yang disebabakan karena terisolasinya kehidupan masyarakat ini atau juga keterlambatan karena keadaan masyarakat tersebut di jajah oleh bangsa asing.

Memang pada masyarakat pedesaan yang dapat kita lihat di kecamatan Jerowaru, Lombok Timur ini dalam hal pendidikan dirasakan cukup terlambat. Hal ini terlihat dari banyak sekali kepercayaan mistis yang sekaligus merupakan bagian dari unsur budaya yang berupa religi di praktekkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Apa yang mereka yakini dan lakukan memang tidak masuk akal dan memang bertentangan dengan kepercayaan agama Islam yang dianut oleh masyarakatnya. Namun karena hanya generasi mudanya yang baru-baru ini saja yang mendapatkan pendidikan dan berkenalan dengan ilmu pengetahuan maka sampai saat ini banyak sekali unsur mistis yang masyarakatnya masih percayai dan kepercayaan tersebut juga terimplementasi dalam kehidupan nyata dari masyarakatnya. Dalam waktu dekat mungkin unsur budaya religi mereka akan terus terlestarikan, namun melihat sepak terjang generasi mudanya yang sudah berpikir rasional, lambat laun budaya mereka ini dengan sendirinya akan berkurang.

3.    Sikap masyarakat yang tradisional

Sikap tradidional suatu masyarakat yang menjadi faktor penghalang terjadinya perubahan kebanyakan berasal dari kaum konservatif. Kaum konservatif selalu diartiak sebagai kelompok yang mengagung-agungkan kebudayaan masa lampau yang dianggap memiliki sifat adiluhung, mulia, patut, layak sehingga kebudayaan ini yang harus dipertahankan merupakan harga mati (absolut).

Di Kecamatan Jerowaru, Lotim-NTB pertentangan antara beberapa adat-kebiasaan yang merupakan norma sosial yang dikatakan dahulu mulia, layak, patut dan lain sebagainya itu memang pada generasi mudanya saat ini sebagian sudah tidak diindahkan lagi, bahkan dianggap tidak rasional. Namun bagaimana pun beberapa budaya yang pernah ada sekali lagi tidak akan serta merta berubah atau hilang, karena generai mudanya juga melestarikannya.

Setelah memperhatikan tiga faktor penghambat adanya perubahan sehingga masyarakat mampu bertahan dengan nilai budaya aslinya diatas, selanjutnya yang penting juga adalah memperhatiakn beberapa unsur yang dipertahankan oleh masyarakat di Kecamatan Jerowaru sehingga mampu melestarikan beberapa unsur budaya aslinya yaitu:

1.    Mempertahankan unsur-unsur yang mempunyai fungsi vital dan sudah diterima luas oleh masyarakat.

Misalnya sistem kekerabatan masyarakat bangsawan dan rakyat biasa di Kecamatan Jerowaru-Lotim. Sistem kekerabatan dan solidaritas kekerabatannya mempunyai fungsi yang amat penting . Oleh sebab itu, mereka cenderung mempertahankan sistem kekerabatan mereka. Suku bangsa lain di Indonesia pun mengalami hal yang sama. Kekerabatan memiliki fungsi sosial sebagai perekat anggota marga. Karena itu, masyarakat akan menolak jika sistem kekerabatan mereka diganti. Mereka juga akan berusaha mempertahankan sistem kekerabatan dari ancaman pihak lain.

2.    Merupakan unsur yang diperoleh melalui proses sisialisasi sejak kecil dan telah menyatu dalam diri.

Pewarisan budaya dalam proses sosialisasi ini memang penting dan tidak dapat dihindarkan, karena individu sebagai bagian dari anggota masyarakatnya dengan sendirinya akan terpengaruhi oleh budaya masyarakat dimana mereka tinggal. Meskipun dengan berjalannya waktu bisa saja akan terjadi perobahan yang dimulai dari pola pikir mereka terhadap kebudayaan yang mereka miliki. Kebanyakan untuk generasi musa saat ini lebih tertarik pada budaya yang rasional dan mulai meninggalkan sebagaian budaya magis, tata karma dari masyarakatnya.

3.    Unsur tersebut menyangkut tentang keagamaan atau religi.

Ini adalah salah satu unsur kuat yang masih melekat pada masyarakat di kecamatan Jerowaru, Lombok Timur-NTB, bukan hanya agama Islam melainkan mereka juga masih meyakini kepercayaan nenek moyang mereka terhadap adanya kekuatan benda (dinamisme) dan kepercayaan pada roh nenek moyang yang mengitari mereka (animism), sampai mereka juga percaya akan adanya kekuatan pada binatang (totemisme) seperti tikus, babi, dan lain sebagainya.

4.    Unsur-unsur yang menyangkut idiologi dan falsafah hidup.

Berdasarkan penjelaskan di atas terkait dengan beberapa unsur budaya asli mereka yang masih eksis dan bagaimana mereka dapat mempertahankannya, dapat kita identifikasikan sebagai berikut:

a.    Unsur kepercayaan (religi)

Slah satu unsur budaya yang paling sulit di interpesi adalah kepercayaan (religi). Pada masyarakat Sasak di Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur-NTB beberapa bentuk kepercayaan (di luar keyakinan akan agama Islam yang mereka anut) dapat digolongkan menjadi tiga bentuk objek kepercayaan yaitu:

1.      Kepercayaan pada roh nenek moyang

Salah satu kepercayaan masyarakat sampai saat ini adalah adanya kekuatan dari arwah nenek moyang mereka yang sudah meninggal dunia. Karena itu pada saat tanggal 15 Ramadhan ada yang dikenal pada masyarakatnya dengan menyalakan kemenyan. Hal ini bertujuan untuk menerangi rumah mereka denggan kemenyan tersebut supaya roh nenek moyang mereka tenang.

2.      Kpercayaan pada kekuatan gaib dari benda-benda

Masyarakat Sasak di Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur-NTB sampai saat ini memiliki banyak sekali kepercayaan pada benda-benda yang memiliki kekuatan gaib. Contoh pentingnya adalah Ketobok dan Kemalik. Ketobok di yakini masyarakat memiliki kekuatan gaib pada tempat tersebut karena sebelumnya merupakan tempat hunian orang suci pada zaman dahulu, atau paling tidak pada tempat tersebut orang suci yang di maksud pernah singgah, atau orang suci tersebut diperkirakan menghilang di tempat itu. Sedangkan Kemalik lebih mengarah pada kepercayaan masyarakat akan adanya jin dan mahluk halus lainnya pada tempat-tempat tertentu seperti pohon besar, batu besar dan lain sebagainya.

3.      Kepercayaan adanya kekuatan gaib pada binatang.

Masyarakat Sasak di Kecamatan Jerowaru, terutama pada generasi tuanya percaya akan adanya kekuatan gaib pada sebagian binatang yang ada di sekitar mereka, dan samai saat ini mereka mempercayai hal tersebut. Mereka percaya bahwa tikus memiliki pengertian dan mengerti dengan apa yang dikatakan manusia sehingga keika tikus memakan padinya maka mereka kebanyakan tidak berani menyumpahnya dengan kata-kata yang jelek. Begitu juga mereka percaya pada babi, ular, dan kucing yang sama-sama memiliki kekuatan gaib.

b.   Kesenian

Ada beberapa kesenian masyarakat Sasak pada umumnya masih eksis, seperti Gendang Belek, Wayang, Jangger/ Joget, dan Peresean.

a.      Gendang Belek

merupakan kesenian masyarakat yang digunakan saat pesta perkawinan untuk memeriahkan suasana, atau seperti bend saat ini. Namun sampai saat ini Gendang Belek masih sangat pesat perkembangannya walaupun dalam bayang-bayang arus kesenian modern yang banyak sekali bentuknya.

b.      Jangger

Joget/ jangger sebenarnya mempunyai fungsi yang sama dengan Gendang Belek di atas namun Joget ini hanya berfungsi malam hari, tidak seperti Gendang Belek yang bisa digunakan sebagai penghibur masyarakat saat acara nyongkolan (mengantar mempelai ke rumah orang tua sang perempuan) di siang atau sore harinya.

c.       Peresean

Adapun kesenian Peresean di kenal luas sebagai budaya kesenian yang dimiliki oleh Masyarakat Sasak. Keberadaan kesenian ini sudah dikenal pada masyarakat luas. Bahkan dalam salah satu film terbaru Raja Dangdut Rhoma Irama dan anaknya Ridho Roma yang berjudul “Diatas Sajadah Ka’bah” menjadikan kesenian presean ini sebagai salah satu adegan yang ada di dalamnya.

Kesenian ini mirip dengan olah raga, karena yang dibutuhkan adalah energi bagi orang yang sedang bermain. Kesenian adau kekuatan dengan saling memukul dengan rotan dan diberikan tameng yang disebut Ende ini merupakan kesenian yang keberadaannya masih sangat eksis bahkan pemerintah memberikan bantuan berupa dana dan supor untuk terlaksananya kegiatan peresean ini.

c.    Sistem Perkawinan

Dalam hal sistem perkawinan pada masyarakat sasak di Pulau Lombok Pada umumnya dari proses awal memiliki karakteristik tersendiri pada beberapa tempat di daerah ini, namun pada umumnya mereka mengenal banyak tahap seperti melarikan perempuan, nyelabar, bait wali, dan nyongkolan. Ini adalah garis besarnya saja. Namun yang menjadi perhatian dari salah satu adat dalam sistem perkawinan di Lombok adalah dengan jalan melarikan seorang gadis entah itu sebelumnya disetujuai atau tidak oeleh orang tua perempuan tersebut. Dan ketika perempuan tersebut sudah berada di rumah calon mempelai laki-laki secara adat tidak boleh di ambil lagi kecuali memang pada dasarnya perepuan tersebut tidak mau menikah, dan dia mengikuti laki-laki tersebut dengan cara di paksa. Karena ini merupakan bagian dari adat-istiadat yang di pegang teguh oleh masyarakat sampai saat ini, maka jika dari pihak perempuan ingin mengambil anaknya yang sudah ada di rumah calon suaminya dan perempuan tersebut setuju, maka dari pihak laki-laki rela dengan mati-matian dan dengan senjata sekalipun tidak akan memberikan keluarga perempuan tersebut untuk mengambilnya kembali.

d.   Budaya Tahunan

Bau Nyale, Roah Ketobo’, Rebo Bontong, Perang Ketupat, dan lain sebagainya merupakan salah satu budaya tahunan yang dilestarikan oleh masyarakat Sasak di Lombok Timur dan Lombok Tengah.

Berdasarkan beberapa unsur budaya yang masih dilestarikan di atas maka beberapa hal yang membuat hal tersebut bisa terlestarikan secara kontinuitas pada masyarakat Sasak di Lombok Timur pada umumnya dan di kecamatan Jerowaru pada hususnya adalah sebagai berikut:

a.    Proses Internalisasi

Proses internalisasi berlangsung sepanjang hidup individu sejak dilahirkan sampai hampir meninggal untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu dan emosi yang kemudian membentuk kepribadiannya. Barbagai bakat yang terkandung di dalam gennya, tidak secara otomatis menghasilkan suatu nilai dan perilaku budaya, tetapi mengembangkan berbagai macam perasaan, hasrat, nafsu, dan emosi pengaktifan , nyatanya sangat dipengaruhi berbagai stimulasi yang terdapat dalam lingkungan sosialny, budayanya dan alam sekitarnya (Wiranata, 2002: 121).

Karena itu, pada masyarakat Sasak di Kecamatan Jerowaru yang notabenenya masih melestarikan beberapa unsur budayanya seperti di identifikasikan diatas secara tidak langsung melalui proses internalisasi ini oleh generasi mudanya akan diterima dengan sendirinya.

b.   Proses Sosialisasi

Proses sosialisasi adalah proses sosial dimana seorang individu menerima pengaruh, peranan, tindakan orang-orang di sekitarnya (milieu), seperti kakak, adik mertua, paman, pembantu, dan lain-lain. Seseorang akan dipengaruhi oleh individu-individu yang menempati berbagai status dan kedudukan dalam masyarakat yang dijumpainya sejak dia dilahirkan. Dengan demikian, akan mempengaruhi pola kepribadiannya kelak kemudian hari. Proses sosialisasi ini akan sangat bervariasi karena dipengaruhi oleh struktur masyarakat, susunan kebudayaannya, serta lingkungan sosial yang bersangkutan.

c.    Proses Enkulturasi/ Pembudayaan

Proses enkulturasi adalah proses sosial di mana individu belajar menyesuaikan diri dan alam pikiran serta sikapnya terhadap adat, sistem norma, serta semua peraturan yang terdapat dalam lingkungan masyarakatnya. Berkaitan dengan proses-proses tersebut dalam kenyataannya di masyarakat tidak semua individu secara mulus melewati tahapan proses tersebut. Ada beberapa individu yang sukar untuk menerima dan menyesuaikan diri dengan berbagai faktor yang dijumpainya dalam masyarakat (Wiranata, 2002: 123. Karena itu dalam perkembangan masyarakat meskipun perkembangan yang dinamis selalu ada namun adanya ikatan budaya sebagai proses enkulturasi ini tetap melekat sebagai jati diri dalam sistem sosial dan budaya yang dimilikinya.

Ketiga proses kontinuaitas budaya seperti disebutkan diatas sebenarnya tidak tumpang tindih, melainkan antara faktor yang satu dengan yang lainnya membentuk jalan yang berkelindan sehingga membentuk satu kesatuan yang dapat menghasilkan adanya pewarisan kebudayaan secara kontinuitas dari generasi ke generasi berikutnya, hal inilah yang dapat kita lihat sebagai proses kontinuitas pada masyarakat Sasak di Lombok Timur dan di Kecamatan Jerowaru pada hususnya.

C.     Kesatuan Suprastruktur, Struktur Sosial, dan Infrastruktur dalam Proses Pengembangan Masyarakat.

Pada dasarnya suprastruktural, struktur sosial, dan infrastruktur merupakan tiga komponen dasar dari terbentuknya sistem sosial dan budaya. Dimana ketiga elemen mendasar ini tidak dapat di pisahkan, karena merupakan satu kesatuan dalam kehidupan sosial dan budaya yang ada pada masyarakat. Namun yang bisa kita lakukan hanyalah mengidentifikasi komponen tersebut sehingga kita bisa mengerti hakikat keberadaan kita sebagai manusia yang hidup bersama dalam satu lingkungan sosial.

Sebelum lebih jauh membahas satu kesatuan tersebut antata suprastruktur, struktur sosial, dan infrastruktur, baiknya kita pahami terlebih dahulu satu persatu, sehingga kita dapat menarik sebuah kesimpulan tentang adanya satu kesatuan diantara tiga komponen sistem sosial yang ada pada masyarakat tersebut.

  1. Suprastruktur

Dalam pengertian Karl Marx bahwa suprastruktur berarti semua produksi yang bersifat non-materi yang berasal dari ide masyarakat antara lain misalnya, lembaga-lembaga politik, hukum, atau undang-undang, agama, pemikiran, filsafat,dan etika. Dengan kata lain bahwa suprastruktur bukanlah sesuatu yang muncul sendiri. Karena ia muncul sebagai ‘produk’ sebuah ide (gagasan).

Lebih spesifik lagi suprastruktur sosial ini terdiri dari beberapa hal yang paling abstrak dalam kehidupan manusia dan kedudukannya merupakan yang paling tinggi, walaupun apa yang terdapat pada suprastruktural ini paling abstrak. Beberapa komponen yang termasuk dalam suprastruktural ini, sebagai berikut:

  1. Idiologi Umum

Idiologi umum terkait dengan pandangan pokok masyarakat yang menjadi determinan dalam kehidupannya sehari-hari. Misalnya pada masyarakat Sasak di Lombok tradisional jelas idiologi umumnya mengerah pada adanya kepercayaan pada kekuatan kosmologi. Inilah yang menjadi acuan hidup mereka sehri-hari

  1. Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan yang di maksud pada tingkatan suprastruktural masyarakat mengacu pada pengetahuan berupa ide yang diciptakan oleh masyarakat. Dan ide tersebut mengarah pada pembuatan teknologi yang merupakan bagian dari infrastruktur masyarakat.

  1. Kesusastraan

Kesusastraan merupakan bagian yang tidak lepas dari hidup manusia, karena manusia pada dasarnya menyukai akan keindahan. Kesusastraan merupakan cermin dari kata-kata yang berupa lagu, syair, cerita rakyat yang dibuat oleh masyarakat setempat untuk mengapresiasi kehidupan masyarakatnya. Pada masyarakat Sasak di Lombok Timur-NTB misalnya kita mengenal lelakak, dan cerita rakyat sebagai refresentasi kehidupan sosial mereka.

  1. Agama

Christopher Dawson (Soejatmoko dkk, 1995) mengatakan bahwa “agama adalah kunci sejarah. Kita tidak dapat memahami bentuk dalam diri satu masyarakat jika kita tidak memahami agama. Kita tidak dapat memahami hasil kebudayaannya jika kita tidak memahami kepercayaan agama yang ada di sekitar mereka. Dalam semua zaman, hasil karya kreatif pertama dari suatu kebudayaan muncul dari inspirasi agama dan di abdikan pada tujuan keagamaan.

  1. Kesenian

Kesenian mencakup beberapa hiburan rakyat yang di ciptakan oleh masyarakat untuk memberikan mereka rasa kesenangan, hiburan atau pun sebagai refresentasi keberadaan masyarakat itu sendiri. Pada masyarakat Sasak misalnya terdapat kesenian yang beraneka ragam bentuknya mulai dari seni ukir sampai seni tari, misalnya Rudat dan Gendang Belek.

  1. Struktur Sosial

Sederhananya struktur sosial adalah jalinan unsur-unsur sosial yang pokok (Mustofa & Maharani, 2008: 306). Karena sifatnya yang pokok inilah yang mengakibatkan keberadaan struktur sosial paling banyak di kaji dan dapat di kaji secara jelas dalam kehidupan masyarakat. Adapun beberapa komponen dari struktur sosial ini adalah:

  1. Ada atau tidaknya stratifikasi sosial pada masyarakat

Pitirim A. Sorokin seperti di kutip Soerjono Soekanto (2006) menyatakan bahwa social stratification adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah kelas-kelas tinggi dan kelas-kelas rendah. Selanjutnya menurut Sorokin, dasar dan inti lapisan sosial masyarakat tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak dan kewajiba, kewajiban dan tanggung jawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya diantara anggota-anggota masyarakat

  1. Ada atau tidaknya stratifikasi rasial dan etnis pada masyarakat tersebut

Karena Indonesia merupakan Negara yang memiliki paling sedikit 3.000 suku seperti disebutkan di atas maka stratifikasi sosial rasial ini jelas ada dan dapat kita identifikasi.

  1. Pembagian kerja secara seksual

Pada era keterbukaan ini, dan menggemanya kesamaan gender, mengakibatkan pada sebagian keluarga dan tempat tidak jelas apakah wanita atau peria sebagai pekerja domestic. Namun pada umumnya terutama masyarakat pedesaan perempuan condong untuk bekerja pada sektor domestik ini.

  1. Keluarga dan kekerabatan

Sistem kekerabatan merupakan cara untuk mengatur atau cara dalam mengatur  hubungan sesama keluarga, sanak famili, teman sejawat maupun teman kerja berdasarkan adanya aturan yang dibuat bersama secara turun temurun maupun berkala

  1. Pendidikan
  2. Infrastruktur

Infrastruktur merupakan merupakan wujud hasil dari suprastruktur yang bersifat ide. Infrastruktur dengan kata lain adalah sarana fisik (lahiriah) yang di sediakan manusia untuk menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat; dalam rangka menunjang kegiatan politik, ekonomi, sosial, dan segala kebutuhan hidup lainnya. Atau dengan kata lain merupakan perangkat lunak; sarana; atau peralatan. Beberapa komponen pokok yang ada pada infrastruktur ini adalah, sebagai berikut:

  1. Teknologi

Teknologi mencakup segala peralatan hidup yang mampu membuat apa yang di butuhkan oleh manusia untuk menyelesaikan, mendapatkan apa yang dibutukan dalam waktu dan cara yang lebih mudah.

  1. Ekologi

Ekologi ini berkaitan dengan  sumberdaya alam yang ada dan keterkaitannya dengan bagaimana masyarakat Sasak merealisasikannya dalam penggunaan hidupnya sehari-hari. Termasuk juga dalam hal ini bagaimana masyarakat memanfaatkan sumberdaya alam yang ada

  1. Ekonomi

Berkaitan dengan cara masyarakat mendapatkan, memasarkan, dan saling tukar menukar dan mendapatkan kebutuhan hidupnya sehari-hari.

  1. Demografi

Demografi mencakup berapa jumlah penduduk pada saat tertentu, komposisi usia penduduk yang terdiri dari usia muda, usia produktif dan usia tua, banagimana pemukiman penduduk, serta bagaimana ketenaga kerjaan yang ada pada tempat tersebut. Inilah yang menjadi kajian demografi.

Dari penjelasan di atas dapat kita berikan contoh keterkaitan antara suprastruktur/suprastruktur idiologis, struktur sosial, serta infrastruktur sosial. Untuk lebih mempermudah, kita coba untuk meninjaunya dari satu spasial yang cukup kecil saja. Dalam hal ini Lombok Timur, hususnya di Kecamatan Jerowaru sebagai contoh. Karena dengan melihat koneksi antara ketiga komponen-komponen dasar dari sistem sosiokultural pada tempat yang lebih spesifik memungkinkan untuk memperjelas kedudukan masing-masing komponen dalam dalam menafsirkan kehidupan sosial kita.

Karena hanya sebagai contoh maka cukup kita ambil satu sub dari tiga komponen di atas. Dalam hal ini bagaimana sistem sosiokultural masyarakat pedesaan di Kecamatan Jerowaru. Dalam hal agama yang merupakan wujud tertinggi dari masyarakat, dimana merupakan suprastruktur idiologi yaitu Agama Islam memberikan pengaruh pada bagaimana kehidupan sosiokultural pada tingkat di bawahnya, yang sekaligus hal ini didukung oleh adanya idiologi umum yang dimiliki masyarakat.

Kepercayaan masyarakat pada ajaran Islam yang di dukung oleh idiologi umum masyarakat di Kecamatan Jerowaru telah memberikan pengaruh pada bagaimana struktur sosial masyarakatnya terutama dalam hal ini bagaimana mereka menjalani hubungan keluarga dan kekerabatannya. Adanya kepercayaan yang sama dan idiologi umum yang menyertainya menyebabkan adanya solidaritas yang tinggi diantara sesama keluarga dan kekerabatannya. Dalam hal ini kesatuan sosial yang di maksud bukan hanya terbatas pada sistem kekerabatan berdasarkan adanya kesatuan darah melainkan kesatuan tempat (by place).

Pengaruh ajaran agama Islam dan idiologi umum yang dimiliki oleh masyarakat yang masih melekat dalam kehidupan sosial mereka dan bagaimana masyarakat menciptakan solidaritas berdasarkan ikatan kekeluargaan dan sistem kekerabatan berdampak pada bagaimana bentuk infrastruktural mereka. Kita ambil contoh saja seperti apa kehidupan sosiokultural mereka dalam susunan demografinya, terutama dalam hal ini terkait dengan bagaimana pemukiman penduduk.

Di Kecamatan Jerowaru misalnya, pemukiman penduduk tidak lepas dari adanya ikatan kekerabatan yang mereka bangun, dan dalam menjalankan kehidupan sosialnya tidak lepas dari bagaimana ajaran agama dan idiologi umum yang mereka miliki. Sistem gotong royong yang merupakan bagian dari idiologi umum yang mereka miliki dan ajaran Islam yang seperti itu, mengakibatkan adanya ikatan kekeluargaan dan kekerabatan yang tinggi antar anggotanya, inilah yang menciptakan bagaimana pemukiman penduduk yang ramah. Dalam artian mereka membangun rumahnya dengan tidak ada sekat dengan tetangga, mereka membaur dalam satu kekeluargaan. Karena itu jelas bahwa antara struktur idiologis, struktur sosial, dan infrastruktur, yang merupakan komponen-komponen dasar sistem sosiokultural merupakan satu kesatuan yang tidak dapat berdiri tanpa adanya ketiganya dari komponen struktur ini.

KESIMPULAN

Beberpa faktor penting yang mengakibatkan adanya kekuatan mengikat dari sistem sosial mikro, yaitu:

  1. Karena merupakan unit yang kecil maka banyak aturan masyarakat dapat diatur secara keseluruhan.
  2. Wadah tempat berlangsungnya sosialisasi, yakni proses di mana anggota-anggota masyarakat yang baru mendapatkan pendidikan untuk mengenal, memahami, mentaati dan menghargai kaidah-kaidah serta nilai-nilai berlaku.
  3. Keluarga berperan sebagai pelindung bagi pribadi-pribadi yang menjadi anggota, di mana ketentraman dan ketertiban diperoleh dalam wadah tersebut.
  4. Keluarga menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah-kaidah pergaulan hidup.
  5. Keluarga merupakan wadah di mana manusia mengalami proses sosialisasi awal, yakni suatu proses di mana manusia mempelajari dan mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
  6. Norma dan nilai merupakan elemen-elemen dasar dalam kehidupan sosial
  7. Konsekuensi kehidupan sosial adalah komitmen
  8. Sistem sosial bersifat integratif
  9. Sistem sosial cenderung bertahan
  10. Kehidupan sosial didasarkan pada kerja sama dan saling memperhatikan atau saling membutuhkan

Berdasarkan beberapa unsur budaya yang masih dilestarikan di kecamatan Jerowaru, Lombok Timur-NTB maka beberapa hal yang membuat hal tersebut bisa terlestarikan secara kontinuitas pada masyarakat Sasak di Lombok Timur pada umumnya dan di kecamatan Jerowaru pada hususnya adalah sebagai berikut:

d.   Proses Internalisasi

Proses internalisasi berlangsung sepanjang hidup individu sejak dilahirkan sampai hampir meninggal untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu dan emosi yang kemudian membentuk kepribadiannya. Barbagai bakat yang terkandung di dalam gennya, tidak secara otomatis menghasilkan suatu nilai dan perilaku budaya, tetapi mengembangkan berbagai macam perasaan, hasrat, nafsu, dan emosi pengaktifan , nyatanya sangat dipengaruhi berbagai stimulasi yang terdapat dalam lingkungan sosialny, budayanya dan alam sekitarnya (Wiranata, 2002: 121).

e.    Proses Sosialisasi

Proses sosialisasi adalah proses sosial dimana seorang individu menerima pengaruh, peranan, tindakan orang-orang di sekitarnya (milieu), seperti kakak, adik mertua, paman, pembantu, dan lain-lain. Seseorang akan dipengaruhi oleh individu-individu yang menempati berbagai status dan kedudukan dalam masyarakat yang dijumpainya sejak dia dilahirkan. Dengan demikian, akan mempengaruhi pola kepribadiannya kelak kemudian hari. Proses sosialisasi ini akan sangat bervariasi karena dipengaruhi oleh struktur masyarakat, susunan kebudayaannya, serta lingkungan sosial yang bersangkutan.

f.     Proses Enkulturasi/ Pembudayaan

Proses enkulturasi adalah proses sosial di mana individu belajar menyesuaikan diri dan alam pikiran serta sikapnya terhadap adat, sistem norma, serta semua peraturan yang terdapat dalam lingkungan masyarakatnya. Berkaitan dengan proses-proses

 

tersebut dalam kenyataannya di masyarakat tidak semua individu secara mulus melewati tahapan proses tersebut. Ada beberapa individu yang sukar untuk menerima dan menyesuaikan diri dengan berbagai faktor yang dijumpainya dalam masyarakat. Karena itu dalam perkembangan masyarakat meskipun perkembangan yang dinamis selalu ada namun adanya ikatan budaya sebagai proses enkulturasi ini tetap melekat sebagai jati diri dalam sistem sosial dan budaya yang dimilikinya.

Pada dasarnya suprastruktural, struktur sosial, dan infrastruktur merupakan tiga komponen dasar dari terbentuknya sistem sosial dan budaya. Dimana ketiga elemen mendasar ini tidak dapat di pisahkan, karena merupakan satu kesatuan dalam kehidupan sosial dan budaya yang ada pada masyarakat. Namun yang bisa kita lakukan hanyalah mengidentifikasi komponen tersebut sehingga kita bisa mengerti hakikat keberadaan kita sebagai manusia yang hidup bersama dalam satu lingkungan sosial.

DAFTAR PUSTAKA

-          Budiwanti, Erni. 2002. Islam Sasak. LKIS, Yogyakarta.

-          Martono, Nanang. 2011. Sosiologi Perubahan Sosial: perspektif klasik, postmodern, dan poskolonial. Jakarta: Rajawali Pers

-          Mustofa Bisri, Maharani. E. V. 2008. Kamus Lengkap Sosiologi. Jogjakarta: Panji Pustaka.

-          Nasikun. 2011. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.

-          Soedjatmoko, Ali Muhammad, dkk (ed). 1995. HistoriografiIndonesia: sebuah pengantar. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

-          Setiadi, E.M, Kolip U. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana.

-          Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers

-          Soerjono Soekanto. 2009. Sosiologi Keluarga: tentang ikhwal keluarga, remaja dan anak. Jakarta: Rineka Cipta.

-          Tim Prima Pena. 2006. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Gitamedia Pres

-          Supardan, Dadang. 2011. Pengantar Ilmu Sosial: sebuah kajian pendekatan struktural. Jakarta: Bumi Aksara.

-          Wiranata. 2002. Antropologi Budaya. Bandung: Citra Aditya Bakti 

-          http://my.opera.com/deui/blog/show.dml/4378457

-          http://baturbajang.blogspot.com/2009/12/perubahan-sosial-budaya-dalam.html

 

 

 

 

SISTEM KEKERABATAN MASYARAKAT DESA JEROWARU: SEBUAH KAJIAN SEJARAH SOSIAL

Standar
SISTEM KEKERABATAN MASYARAKAT DESA JEROWARU: SEBUAH KAJIAN SEJARAH SOSIAL

LALU MURDI

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Manusia sebagai individu maupun sebagai masyarakat merupakan bagian yang sangat kompleks untuk dibicarakan. Karena seperti yang kita ketahui bahwa suatu masyarakat mempunyai bentuk-bentuk struktur sosial seperti kelompok-kelompok sosial, kebudayaan, lembaga sosial, stratifikasi sosial, kekuasaan dan lain sebagainya. Akan tetapi semua itu mempinyai derajat yang berbeda-beda dalam beberapa aspek sosial di atas yang menyebabkan pola prilaku, adat-istiadat maupun budaya masyarakat yang berbeda-beda tergantung dari tempat serta situasi dan kondisi yang dihadapi masyarakat sebagai bagian dari anak lingkungan bahkan anak zamannya.

Salah satu dari struktur sosial dalam masyarakat adalah stratifikasi sosial, dimana keberadannya menjadi bagian yang tidak kalah penting dalam sejarah hidup manusia yaitu adanya golongan atas (upper class), golongan menengah (middle class) dan kelas menengah (lower class) yang secara umum mewarnai kehidupan masyarakat mulai dari zaman prasejarah, zaman Hindu-Budha sampai saat ini adalah adanya strata sosial dalam kehidupan masyarakat, yang sekaligus merupakan bagian yang kompleks dari perbedaan kelompok di tengah-tengah masyarakat, baik itu stratifikasi sosial yang horizontal maupun pelapisan sosial yang vertikal telah mewarnai kehidupan manusia baik dengan kita sendiri maupun tidak.

Terdapat dua macam sistem pelapisan sosial yang kita kenal, yaitu sistem pelapisan sosial yang bersifat tertutup ( closed social stratification) dan sistem pelapisan sosial yang bersifat terbuka (open social stratification) ( Soerjono Soekanto:1990), dimana yang disebut pertama sudah mengakar dalam sejarah kehidupan manusia dan yang terakhir secara umum baru berkembang sejak zaman modern.

Stratifikasi sosial yang ada di Indonesia pada umumnya jika dilihat dari sistem pelapisan social tertutup ( closed social stratification) dalam konteks sejarah maka secara jelas dapat dikatakan bahwa kedatangan agama Hindu dari India, berdirinya kerajaan-kerajaan besar di Indonesia yang bercorak Hindu telah membawa dan memperkenalkan stratifikasi social yang jelas seperti adanya beberapa golongan atau golongan status social dalam masyarakat seperti golongan Brahmana, golongan Ksatria, golongan Waisya, dan yan terakhir adalah golongan Sudra. Dimana dari keempat macam golongan dalam strata social masyarakat di India tersebut terdapat juga di Indonesia meskipun tidak seketat di India dalam implementasi perbedaan golongan strata sosialnya. Jadi bisa dikatakan walaupun dalam hal stratifikasi sosial ini juga berpengaruh pada kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Indonesia tidak pernah menyentuh kehidupan masyarakat secara kseluruhan melainkan hanya berpengaruh di kalangan Istana saja. Sedangkan di dalam kehidupan masyarakat luas pada umumnya stratifikasi sosial ini tidak begitu berpengaruh. Adapun yang sampai saat ini stratifikasi soaial yang dibawa dari India ini berdasarkan gelarnya dapat kita lihat pada masyarakat Bali, dimana walaupun berbeda nama gelarnya namun memiliki makna dan maksud yang sama. Adapun keempat gelar strata social yang di maksud yaitu golongan Brahmana, golongan Ksatria, golongan Waisya (triwangsa) dan golongan Sudra (Jaba) (Soerjono Soekanto, 1990:258).

Walaupun gelar tersebut tidak memisahkan setiap strata social secara ketat tetapi sangat berarti dalam melihatnya secara berbeda dalam adat-istiadat yang dikembangkam sesuai dengan tingkatan sosialnya. Di samping itu hukum adat-istiadatnya juga menetapkan hak-hak bagi pemakai gelar tersebut, misalnya dalam memakai gelar, perhiasan-perhiasan, pakaian-pakaian adat sesuai dengan golongan sosialnya. Perkembangan sistem kasta di Bali umumnya terlihat jelas dalam sistem perkawinan. Seorang gadis suatu kasta tertentu umumnya dilarang bersuamikan dari kasta yang lebih rendah (Soerjono Soekanto, 1990: 258).

Lain halnya dengan sistem pelapisan sosial (stratifikasi social ) yang terbuka ( open social stratification ), dimana di dalamnya pengembangan tingkat statusnya bukan atas dasar apa yang diwariskan secara turun temurun, namun prestasi seseorang, kemampuan seseorang serta kepemilikan seseorang dan lain sebagainya merupakan tolak ukur dalam tinggi rendahnya tingkat status seseorang yang pada suatu saat bisa berubah sesuai sesuai dengan kemampuan seseorang mempertahankan apa yang dimilikinya. Namun setiadaknya masyarakat yang pernah mengembangkan sistem ini karena tidak ada ukuran yang membedakan secara ketat dalam setiap golongan maka bisa dikatakan mulai sejak kedatangan Islam, masuknya imprealisme barat sampai saat ini, baik pada masyarakata umum maupun pada masyarakat bangsawan pada khususnya.

Adanya stratifikasi sossial ini terdapat dihampir semua lapisan masyarakat yang secara tidak sadar hal tersebut, namun keberadaannya tidak terkapling seperti pada masyarakat yang berlapiskan kasta seperti India yang begitu ketat, walaupun di Indonesia juga terdapat pelapian sosial tersebut namun keberadaannya masih ada toleransi dengan tingkatan di bawahnya. Di Nusa Tenggara Barat (NTB) misalnya pernah berdiri beberapa kerajaan sebagai tolak ukur dalam status sosial, seperti kerajaan Selaparang, kerajaan Pejanggik, kerajaan Langko, kerajaan Pujut, kerajaan Pene dan lain sebagainya masih menyisakan adanya bukti sejarah tentang adanya pelapisan sosial yang ditambah lagi dengan adanya pengaruh kerajaan Karang Asem Bali.

Gelar Lalu, Raden (laki-laki) ataupun Baiq, Dende, dan Lale (perempuan) adalah gelar-gelar bangsawan di NTB sekaligus dan Bape pada golongan bangsawan yang lebih rendah. Gelar-gelar yang disebut di atas ini merupakan serumpun status sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan golongan yang lain, dan khususnya di pulau Lombok ini menunjukkan adanya sertifikasi sosial dalam masyarakat, meskipun secara vertikal untuk saat ini tidak lagi menjadi pembeda dalam masyarakat, namun dalam kelompoknya menjadi kelas atau status sosial yang berbeda dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya.

Adanya Perwangse dan Jajar Karang merupakan salah satu bukti bahwa di Lombok juga setelah kerajaan-kerajaan yang disebut di atas sudah tidak ada lagi golongan bangsawan ini masih eksis melaksanakan adat-istiadat sesuai dengan golongannya membedakannya dengan golongan di bawahnya. Salah satunya adalah di desa Jerowaru, yang dulunya sebelum tahun 70-an masih memperlihatkan adanya stratifikasi sosial tertutup dalam masyarakatnya.

Terkait dengan kedatangan bangsawan di desa Jerowaru  dan asal usulnya, seperti banyak informasi mengatakan ada yang menyebutnya sebagai bangsawan pendatang dan bangsawan asli. Adapun oleh masyarakat sering disebut bangsawan pendatang adalah bangsawan yang berasal dari beberapa tempat seperti Kopang, Kediri, Pagutan dan lain sebagainya. Sedangkan yang dikatakan sebagai bangsawan asli Jerowaru adalah bangsawan yang saat ini tinggal di gubuk Tembok, merupakan keturunan bangsawan kerajaan Pene yang satu wilayah dengan desa Jerowaru.

Perpindahan bangsawan terutama yang berasal dari kawasan Mataram ini memang secara menyakinkan belum dapat kita pastikan, apakah perpindahannya ke Jerowaru setelah dikuasainya kerajaan-kerajaan Lombok pada umumnya atau sesudahnya. Namun jika setelah penguasaan kerajaan Lombok dikuasai baru mereka pindah maka bisa dikatakan sudah dimulai sejak tahun 1744 (166 saka) setelah puri Karang Asem Mataram berdiri sebagai pusat pemerintahan dengan Gusti Angluran Karang Asem sebagai rajanya (Muhsipuddin, 2004: 10).

Perpindahannya ke desa Jerowaru tujuan utama sebenarnya belum dapat diketahui secara pasti apakah karena keinginan mencari tanah dan tempat tinggal yang baru  atau terdesak atau seperti yang dikatakan Lalu Lukman meskipun seluruh kerajaan di Lombok berada dalam kekuasaan kerajaan Karang Asem Bali namun dalam system pemerintahannya termasuk cara menjalankan pemerintahan sampai tingkat yang paling bawah diserahkan kepada orang-orang kepercayaan dan petugas Sasak yang pada umumnya merupakan bangsawan ataupun keturunan dari bangsawan-bangsawan yang dulunya menjadi penguasa atau pejabat pemerintah ( L. Lukman, 2005:28-29). Oleh karena itu karena tidak adanya bukti yang dapat dirujuk secara pasti maka dapat disimpulkan tujuan kedatangannya ke desa Jerowaru.

Kehidupan para bangsawan di desa Jerowaru untuk saat ini atau setidaknya sejak tahun 70-an cukup berbeda dengan sebagian bangsawan yang masih kental memegang adat-istiadat lamanya. Namun yang jelas bisa dikatakan bahwa adat-istiadat bangsawan di desa Jerowaru yang dulunya merupakan kelas tersendiri dalam stratifikasi sosial masyarakat disana yang saat ini mulai hilang dengan sendirinya seiring  dengan perkembangan zaman.

Umumnya sejak awal kedatangannya sampai kira-kira generasi ketiga dihitung mundur dari sekarang para bangsawan memiliki tanah yang cukup luas sehingga hal ini menunjukkan juga status sosialnya yang cukup tinggi sekaligus ditunjang oleh statusnya sebagai bangsawan yang saat ini sangat dihormati. Namun bagaimanapun dengan proses waktu yang terus berjalan sampai saat ini status kebangsawanan di desa jerowaru yang ditunjukkan dengan adat-istiadat, bahasa, sistem perkawinan maupun kepemilikannya atas tanah sampai saat ini sudah tidak begitu menonjol atau bisa dikatakan sudah terjadi proses pergeseran. Oleh karena adanya proses pergeseran            tersebut maka sangat perlu untuk dikaji seperti adat-istiadat, bahasa, sistem perkawinan,dan lain-lain yang diterapkan pada awal kedatangannya. Proses interaksi dengan masyarakat maupun saat ini dalam kedudukannya sebagai golongan bangsawan yang dahulunya merupakan stratifikasi tersendiri dalam kehidupa masyarakat.

Pergeseran ini perlu dikaji bukan untuk membahas masalah pergesera itu saja namun yang penting disini juga karena adanya penghilangan yang cukup drastis dari beberapa aspek dari budaya yang dikembangkan oleh bangsawan, padahal seperti yang dikatakan Widjaya bahwa suatu bentuk proses perubahan sosial dari kebudayaan yang terwujud dalam masyarakat yang berkebudayaan  primitive maupun maju, yaitu adanya proses imitasi yang dilakukan oleh generasi muda terhadap generasi yang lebih tua, hal tersebut dilakukan dengan belajar mencari apa yag dilihat ( Widjaya, 1985: 106). Namun melhat realitas dan pergeseran dari bebrapa aspek pada golongan bangsawan tersebut maka dapat dikatakan proses imitasi tersebut tidak berjalan secara sempurna.

B.     Identifikasi Masalah

  1.  Dari manakah asal usul bangsawan di desa Jerowaru?
  2.  Apakah tujuan kedatangan para bangsawan ke desa Jerowaru?
    1.  Bagaimanakah aplikasi adat-istiadat, bahasa, maupun system perkawinan pada golongan bangsawan di desa Jerowaru?
      1. Bagaimanakah system kekerabatan dan pewarisan dari adat-istiadat   bangsawan di desa Jerowaru?
      2. Seperti apakah bentuk stratifikasi sosial pada masyarakat di desa Jerowaru?
      3. Apakah yang menjadi perbedaan antara masyarakat biasa dengan bangsawan dalam stratifikasi sosial?
      4. Faktor apa saja yang mengakibatkan terjadinya perubahan dalam beberapa aspek kehidupan sosial bangsawan?

C.    Batasan Masalah

Mengingat masalah yang teridentifikasi relatif banyak dan karena keterbatasan peneliti, maka penelitian ini dibatasi sebagai berikut:

1. Batasan Masalah

Alasan peneliti mengambil judul “ Sejarah Sistem Kekerabatan Masyarakat Desa Jerowaru: Sebuah Kajian Sejarah Sosial” ini adalah untuk mengamati dan mengetahui lebih jauh tentang stratifikasi sosial di desa Jerowaru baik dalam lintas sejarah maupun kekinian, sekaligus mengamati proses pergeseran status bangsawan di desa Jerowaru.

2. Batasan Spasial

Penulis sengaja mengambil lokasi di desa Jerowaru karena secara faktual di sana masih banyak terdapat golongan bangsawan sekaligus secara emosional  dan kedekatan secara geografis mudah dijangkau oleh peneliti.

3. Batasan Temporal

Penulis membatasi temporal pada penelitian ini berkisar pada tahun 1970 sampai tahun 2010, karena penulis ingin mengkaji bagaimana perubahan dalam stratifikasi sosial sebelum tahun 70-an dan sesudahnya di desa Jerowaru.

D.     Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan fokus masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah penerapan sistem adat-istiadat bangsawan pada golongan bangsawan di desa Jerowaru terkait dengan sistem kekerabatannya?
  2. Bagaimanakah perubahan pola kekerabatan pada golongan bangsawan di desa Jerowaru?

E.      Tujuan Penelitian

Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui dan menggambarkan system kekerabatan pada masyarakat di desa Jerowaru.
  2. Untuk mengetahui dan menggambarkan bagaimana proses terjadinya pergeseran sistem kekerabatan di desa Jerowaru kecamatan Jerowaru.

F.      Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoritis

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat positif terhadap pengembangan wawasan kita, walaupun hasil tulisan ini bukan sebagai text book to thinking namun hanya sebagai guide of line dalam stratifikasi sosial pada masing-masing kelompok kekerabatan di desa Jerowaru.

Sekaligus dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan motivasi dan dorongan bagi peneliti lain untuk dimanfaatkan sebagai bahan acuan ataupun perbandingan dalam melakukan penelitian yang lebih mendalam dan lebih lengkap.

  1. Manfaat Praktis
    1.  Bagi masyarakat umum hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan dan wawasan tentang dinamika stratifikasi sosial dalam kelompok kekerabatan di desa Jerowaru serta pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari.

b.   Bagi golongan bangsawan  pada khususnya hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan dan wawasan dalam kiprahnya selaku anggota masyarakat.

c.    Bagi institusi dan pemerintah, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan sekaligus refrensi untuk mencermati beberapa pola stratifikasi sosial yang ada dalam masyarakat.

KAJIAN PUSTAKA 

A.   Deskripsi Teori

  1. Sistem Kekerabatan

Sistem atau yang biasa disebut metode merupakan cara yang teratur untuk melakukan sesuatu. Sedangkan kerabat adalah keluarga,sanak famili, teman sejawat (teman kerja) (Sutan Rajasa,2002: 298). Jadi dengan begitu dapat dikatakan bahwa sistem kekerabatan merupakan cara untuk mengatur atau cara dalam mengatur  hubungan sesama keluarga, sanak famili, teman sejawat maupun teman kerja berdasarkan adanya aturan yang dibuat bersama secara turun temurun maupun berkala.

Untuk mengenal lebih jauh mengenai sistem kekerabatan tersebut sebelumnya kita harus terlebih dahulu memahami lahirnya sistem    kekerabatan tersebut yakni rumah tangga dan keluarga inti. Koentjaraningrat (2005) misalnya menjelaskan bahwa rumah tangga yang merupakan     keluarga inti adalah pemegang atau inti dari sistem kekerabatan.               Lebih lanjut seperti yang dikatakan Koentjaraningrat bahwa pasangan suami istri membentuk suatu kesatuan sosial yang mengurus ekonomi rumah tangganya. Rumah tangga biasanya terdiri dari satu keluarga inti, tapi mungkin juga terdiri dari dua sampai tiga keluarga inti (Koentjaraningrat,                 2005: 103). Sedangkan yang termasuk keluarga inti adalah suami, istri dan anak-anak mereka yang belum menikah, anak tiri dan anak yang secara          resmi diangkat sebagai anak, memiliki hak yang kurang lebih sama dengan hak anak kandung, dan karena itu dapat dianggap pula sebagai anggota dari suatu keluarga inti (Koentjaraningrat, 2003: 106). Jadi secara sederhana dapat dikatakan semakin meluasnya kekerabatan maka akan semakin kompleks pula sistem kekerabatannya, dalam artian kadang-kadang budaya yang dikembangkan oleh suatu kerabat yang serumpun kadang-kadang berbeda dengan kelompoknya yang satu kerabat, bisa karena perpindahan tempat tinggal maupun adanya pengaruh lingkungan, sosial, ekonomi maupun pendidikan. Namun bagaimanapun sistem kekerabatan yang disusun dalam suatu masyarakat dapa kita lihat dari status maupun tingkatan strata sosialnya dalam kehidupan masyarakat.

Adanya keluarga ini seperti yang djelaskan di atas walaupun di masing-masing kelompok masyarakat berbeda-beda, namun merupakan satu kesatuan yang dalam antropologi dan sosiologi seperti yang dikatakan Murdock dan dikutip oleh Koentjaranignrat (2005) disebutnya sebagai kingroup. Ada pun satu kelompok (kingroup) adalah kesatuan yang diikat oleh sekurang-kurangnya 6 unsur, yaitu:

1. System norma-norma yang mengatur tingkah laku warga kelompok.

2. Rasa kepribadian kelompok yang disadari semua warganya.

3. Interaksi yang intensif antar warga kelompok

4. Sistem hak dan kewajiban mengatur interaksi antar warga kelompok

5. Pemimpin yang mengatur kegiatan-kegiatan kelompok

6. System hak dan kewajiban terhadap harta produktif atau harta pusaka           tertentu. Dengan demikian hubungan kekerabatan merupakan unsur pengikat bagi suatu kelompok kekerabatan (Koentjarningrat, 2005:109).

Dari keenam elemen yang ada dalam satu kesatuan kelompok kekerabatan diatas tidaklah selalu sama ditempat dan status sosial yang lain. Misalnya pada masyrakat bangsawan di Lombokpada umumnya atau bangsawan di Jerowaru khususnya, dari keenam unsur pengikat diatas begitu mewarnai kehidupan masyarakat baik secara vertikal maupun hierarkis. Selain adanya perbedaan bentuk tergantung kelompok sosial adanya unsur-unsur yang melebur dalam kehidupan masyarakat secara umum walaupun bukan tergolong satu rumun kekerabatan yang sesuai dengan strata sosialnya, namun adanya unsur yang melebur ini di akibatkan oleh adanya interaksi sosial yang cukup intensif antara golongan starata sosial yang berbeda, jelasnya antara golongan bangsawan Mamiq dan Amaq misalnya di Jerowaru.

Ketidaksamaan setiap kelompok dalam praktik pada setiap kelompok kekerabatan dalam masyarakat terkait dengan adanya enam unsur diatas, maka Murdock (Koentjaraningrat, 2005) membedakan lagi tiga kategori kelompok kekerabatan berdasarkan fungsi-fungsi sosialnya, yaitu kelompok kekerabatan berkoprasi (corporate kingroups),kelompok kekerabatan kadangkala (occasinal kingroups) dan yang ketiga adalah kelompok kekerabatan menurut adat (circum scriptive kingroups) yang kadang kala   tidak memiliki salah satu atau dua dari keenam elemen pengikat kekerabatan diatas. Kelompok-kelompok ini bentuknya sudah demikian besar, sehingga warganya sering kali tidak saling mengenal. Mereka umumnya hanya mengetahui tentang kekerabatan seseorang (sebagai warga kelompok) berdasarkan tanda-tanda yang ditentukan oleh adat. Rasa kepribadian kelompok sering kali juga ditentukan oleh tanda-tanda adat tersebut (Koentjaraningrat, 2005:110).

Dari ketiga kategori yang disebutkan oleh Murdock di atas, kategori ketiga dapat dimasukkan dalam melihat ataupun mengkaji jenis kategori kelompok kekerabatan dalam masyarakat golongan bangawan di desa Jerowaru. Di mana walaupun kadang-kadang sesama warga dalam satu kelompok kekerabatan seringkali tidak saling mengenal. Namun bagaimanpun setidaknya ada adat-istiadat yang sama yang mengkategorikannya menjadi satu kelompok kekerabatan masyarakat  dalam status sosial yang berbeda sebagai golongan bangsawan.

  1.  Prinsip-prinsip keturunan yang mengikat kelompok sosial

Seseorang disebut berkerabat dengan seseorang apabila orang tersebut mempunyai ikatan darah atau (gen) dengan orang lain       sebagai individu tadi, baik melalui ibunya maupun melalui ayahnya. Walaupun orang-orang yang masih mempunyai hubungan darah tertentu sangat besar jumlahnya, mereka masing-masing tentu hanya mengenal beberapa saja diantara kerabat terdekatnya, dan mengetahui seluk-beluk ikatan kekerabatannya dengan mereka, karena dari seluruh kerabat yang dimiliki seseorang (yaitu kerabat biologisnya). Hanya sebagian kecilnya saja yang merupakan kerabat sosiologisnya. Bagi seorang individu, kerabat sosiologisnya itu dapat dibedakan berdasarkan:

  1. Adanya hubungan kekerabatan;
  2. Kesadaran akan hubungan kekerabatannya:
    1. Pergaulan berdasarkan hubungan kekerabatan (Koentjaraningrat, 2005:123)

Hubungan kekerabatan yang ditentukan oleh prinsip-prinsip keturunan yang bersifat selektif mengikat sejumlah kerabat yang bersama-sama memiliki hak dan kewajiban tertentu, misalnya hak waris atas harta peninggalan, gelar, pusaka, lambing-lambing dan lainnya. Selain itu ada juga hak atas suatu kedudukan, kewajiban untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan bersama, serta kewajiban unutk melakukan kegiatan-kegiatan produktif secara bersama-sama (Koentjaraningrat, 2005:123)

Adapun hubungan kekerabatan yang mengikat sejumlah kerabat secara bersama-sama di desa Jerowaru, khususnya pada golongan bangsawan dapat dilihat misalnya dalam hak waris atas harta, gelar, serta adat-istiadat terutama dalam hal perkawinan menjadi sebuah pengikat yang secara jelas dapat di bedakan dengan system kekerabatan dalam starata sosial yang lain.

  1. Sopan-santun Dalam Pergaulan Kekerabatan

Adat sopan santun memang sangat berpengaruh pada sikap orang terhadap individu, khususnya setiap kerabat yang dihadapinya. Bagaimana adat-istiadat sopan santun pergaulan di jalankan dapat dipahami dengan mengamati pola pergaulan setiap individu maupun golongan sosial kerabatnya. Ego, sebagai pusat kelompok kerabat, diamati sikapnya terhadap anak-anaknya, terhadap istri (atau istri-istrinya), terhadap ayahnya, terhadap ibunya dan lain sebagainya (Koentjaraningrat, 2005:137-38).

Dari pengalaman pribadi kita mengetuhui bahwa sikap dan tingkah laku kita berbeda terhadap setiap kelas terhadap kerabat kita tersebut. Dalam hampir semua masyarakat suku bangsa di dunia sopan santun menentukan bagaimana orang harus bertingkah laku dan sikap terhadap setiap  kelas kerabatnya (Koentjaraningrat, 2005:138).

Apa yang dikatakan Koentjaraningrat di atas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Desa Jerowaru khususnya golongan bangsawan serta masyarakat pada umumnya juga memilki adapt sopan santun tersendiri baik dalam golongannya (kelas) maupun kerabatnya misalnya dalam hal berbicara, bergaul, maupun dalam bertingkah laku dalam kegiatan dan hubungan sosial sehari-hari.

2.     Sejarah

  1. Pengertian Sejarah

Istilah “sejarah” berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata Syajaratun yang memiliki arti “pohon kayu”. Pengertian pohon kayu  disini menunjukan adanya suatu kejadian, perkembangan atau pertumbuhan tentang suatu hal atau peristiwa dalam suatu kesinambungan (kontinuitas) (Dadang Supardan, 2007: 341). Dalam bahasa lain, peristilahan sejarah disebut juga histore (Perancis), geschite (Jerman), histoire atau geschiedenis (Belanda), serta history (inggris) (Dudung Abdurrahman, 1999: 2). Semuanya sama-sama mengandung pengertian yang sama, yaitu masa lampau umat manusia. Sehingga menurut pengertian yang paling umum, kata sejarah atau history berarti masa lampau umat manusia.

Menurut Abromowitz (Supardan, 2007: 342) bahwa”…history is a chronology of ivents”. Selanjutnya Costa (Supardan, 2007: 342) mendifinisikan sejarah sebagai “…record of the whole human experience”. Jadi menurut Costa bahwa sejarah pada hakikatnnya merupakan catatan seluruh pengalaman baik secara individu maupun secara kolektif bangsa/ nation dimasa lalu tentang kehidupan umat manusia. Selain itu dalam kamus umum bahasa Indonesia oleh W. J. S Poerwadarminta (Tamburaka, 2002: 32) disebutkan bahwa sejarah mengandung tiga pengertian, yaitu:

(1). Kesustraan lama; silsilah; asal-usul.

(2). Kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.

(3). Ilmu pengetahuan, cerita pelajaran tentang kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.

Dari beberapa keterangan diatas, jelas pendapat mengenai       perhatian terhadap peristiwa-peristiwa masa lalu berada dibawah ruang lingkup penulisan sejarah, yang muncul lambat laun selama berabad-        abad. Namun untuk lebih jelasnya perlu dikutif beberapa definisi sejarah menurut beberapa ahli diantaranya:

1.    Prof. Bernheim (Rustam E. Tamburaka: 2002) mendifinisikan sejarah sebagai “diegerchite ist de wisenchaft von die entwietlung der menrechen bettetiegung als soziele warssen”. Artinya sejarah adalah pengetahuan yang mempelajari          tentang perbuatan manusia dalam perkembangannya sebagai   mahluk sosial.

2.  James Hervey Robinson (Helius Sjamsuddin: 2007) mengatakan bahwa sejarah, dalam arti yang luas adalah semua yang kita ketaahui tentang setiap hal yang pernah manusia lakukan , atau pikirkan, atau rasakan. (“history in the brodes sense of the world, is all that we know everything than man ever done, or thought or felt”)

3. R. G.kolingwood (rustam E. tamburaka: 2007) damal bukunya yang berjudul  “the of history”, sebagai orang dialis dia menemukan dua dalil tentang sejarah yaitu:

Pertama; sejarah mempunyai arti yang kokoh untuk mempelajari alam pikiran manusia dan pengalaman-permgalamannya.

Kedua:  sejarah bersipat unik, langsung dan dekat. Pengertian sejarah dapat menerobos hakikat yang mendalam dari kejadian yang sedang dipelajari serta dapat menghayati peristiwa yang sebenarnya dari alam. Mengerti sejarah berati menyelami untuk melihat dengan jelas pikiran pikiran yang didalamnya.

4  Prof. DR. Sartono Katordirdjo (Rusmen E. Tamburaka                 :2007) membagi sejarah menjadi dua pengertian yaitu:  sejarah dalam arti bsubjektif dan sejarah arti objektif. Sejarah dalam      arti subjektif adalah suatu kontrakjsi bangunan yang disusun penulis sebagai suatu uraian atau cerita. Sedangkan sejarah dalam arti yang objektif menujukkan kepada kajian atau peristiwa itu sendiri, ialah proses sejarah dalam aktualitasnya. Kejadian itu sekali terjadi  dan tidak dapat berulang kembali.

Dari beberapa definisi sejarah menurut para hali di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa sejarah adalah peristiwa masa lampau umat manusia yang hanya sekali terjadi (objektif) namun bisa dikonstuksi dalam penulisan sejarah sebagai manifestasi dari kehidupan manusia baik dalam kehidupannya sekarang maupun yang akan datang.

b.   Sejarah sosial

Sejalan dengan perkembangan  ilmu sejarah sampai saat ini telah muncul berbagai cabang ilmu sejarah menurut teman-teman yang memberikan sifat atau karaktistik tertentu pada berbagai ragam historiografi yang dihasilkan, diantara ada yang dikatagorikan sebagai sejarah sosial, sejarah ekonomi, sejarah politik, sejarah kebudayaan, sejarah mentalitas, sejarah intelektual, sejarah demografi dan lain sebagainya, (helius sjamsuddin, 2007: 306). Sedangkan dalam tulisan ini akan dibahas mengenai sejarah dengan mengunakan pendekatan sejarah sosial masyarakat yang sering jugak disebut sejarah sasyarakat yang terpinggirkan. Sehingga masyarakat dalam penulisan sejarah tidak sebagai manusia-manusia tanpa sejarah.

Sebagai mana yang terkandung dari tema sejarah yang di usungnya yaitu sejarah sosial, maka sudah barang tentu didalamnya mengkaji sejarah tentang sejarah masyarakat (kemasyarakatan)  (sjamsuddin, 2007: 307).

Adapun definisi sejarah sosial dan/atau sosiologi sejarah sebagai sejarah masyarakat, seringkali para sajarawan sendiri membuat definisi masing-masing yang tidak jauh berbeda, namun maksudnya sama yaitu mengkaji masyarakat. Beberapaa definisi yang di makdud tentang sejarah sosial memenurut beberapa ahli adalah sebabai berikut:

1. G. m. trevrlan  (sjamsuddin: 2007) menyebut sejarah rakyat dengan menghilangkan politiknya(the histoty of a people with the politics left out)

2  Asa brings (sjamsuddin: 2007) menyebutkan bahwa sejarah sosial mengkaji sejarah dari orang-orang mikin atau kelas bawah, gerakan-gerakan sosial, sebagai kegiatan manusia seperti tingkah laku, adat-istiadat, kehidupan sehari-hari , sejarah sosial dalam hubungan dengan sejarah ekonomi

3.  Desin smith (helius Sjamuddin:2007) mendefinisikan sejarah sosiah sebagai kajiaan tentang masa lalu untuk mengetahui bagaimana masyarakat-masyarakat bekerja dan berubah .

Sehubungan dengan beberapa definisi sejarah sosial diatas, ada kalanya juga sejarah sosial juga diartikan sebagai sejarah berbagai gerakan sosial, antara lain menycakup gerakan petani, buruh, mahasiswa, proses sosial dan lain sebagainya (saartono katordirdjo, 1993: 158).

Dari bebeerapa pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwasejarah sosial merupakan sejarah dari mayarakat bahwa pada umumnya baik itu merupakan kegiatan sehari-hari, kegiatan ekonomi, adat-istiadat, stratifikasi sosial dan lain sebagainya. Sekaligus mengkaji bagaimana masyarakat-masyarakt tersebut dalam kehidupan sosialnya, pekerjaannya maupun perubahannya dalam lintas sejarah…

Dengan mengunakan ilmu-ilmu sosial , sejarawan mempunyai kemampuan menerangkan yang lebih jelas, sekalipun kadang-kadang harus terikat pada model teoritisnya. Dan pada akhirnya sejarah sosial dapat mengambil paktor sosial sebagai bahan kajiannya (kuntowijoyo, 2003: 41).

Salah satu tema pokok dari bidang sejarah sosial sudah barang tentu yialah perubahan dalam konteks sejarahnya, dan merupakan dalam satu konsep yang sangat luas cakupannya, sesungauhnya proses sejarah dalam keseluruhannya, apa bila dikaji dari perspektif sejarah sosialnya, merupakan proses perubahan sosial dalam berbagai dimensi atau aspeknya.

Dipandang sebagainya proses modernisasi, prubahan sosial, yang kadang-kadang menjadi permasalahan sosial adalah adanya proses akulturasi. Artinya proses yang menycakup usaha masyarakat menghadapi pengaruh kultur dari luar dengan mencari bentuk penyesuaian komuditi berdasarkan kondisi berdasarkan nilai atau itiologi baru, suatu penyesuaian berdasarkan kondisi, disposisi, dan reprensi cultural, yang kesemuanya merupakan factor-faktor cultural yang menentukan sikap terhadap pengaruh baru (Sartono Kartodirdji, 1993: 160).

Sehubungan dengan pendapat di atas maka kehidupan sosial masyarakat di desa Jerowaru juga mengalami proses yang di sebut sebagai proses perubahan ini, atau lebih tepat dikatakan terjadinya proses adaptasi dengan pengaruh luar akibat adanya kontak sosial dalam masyarakt dan dalam beberapa aspek kehidupan.

C.  mampat ilmu sejarah

Sejarah selalu dikaitkan dengan peristiwa atau kejadian masa lampau umat manusia, selaku sebuah cerita, sejarah menberikan suatu keadaan yang sebelumnya terjadi, berbeda dengan dongeng yang juga berbentuk cerita, tetapi hanya pelibur lara, sedangkan cerita sejarah, sumbernya adalah kejadian masa lampau/ masa dilamberdasarkan peningalan sejarah. Peningalan tersebut berupahasil perubahan manusia sebagai mahluk sosial (Rustam E. Tamburaka 2007: 7). Dari pengalaman manuaia tersbut kita dapat bercermin dan pemiliki perubahan-perubahan nama yang dapat dijadikan inspirasi dan perbuatan dan tindakan mana yang seharusnya dihindari.

Dengan demikian, mamfaat yang dapat kita petik dengan mengetahui sejarah adalah kita dapat lebih berhati-hati agar kegagalan yang pernah perjadi tidak terulang kembali. Sehing tetaplah kata kompuse, seorang filsof cina berkata “ sejarah mendidik kita supaya bertindak bijaksana. Selanjutnya Cicero  (seorang ahli sejarah yunani) mengatakan “ history its magisstra vitae” artinya sejarah bermamfaat sebagai guru yang baik (bijaksana). Sehingga terciptalah sebuah cerita sejarah yang berdasar pada kenyataan, dalam bentuk peningalan atau sumber sejarah (Rustam E.Tamburaka, 2002: 7).

4.  Adat-istiadat masyarakat

a.  Idiom adat

                 Keanekaragaman budayaIndonesia dari daerah satu dengan daerah yang lain menujukkan arti yang penting adat istiadat sebagai perujudan budaya local. Dimana adat-istiadat memiliki makna yang luas, dan dimanapun diIndonesia adat-istiadat ini mempunyai penapsiran mampu manafestasi yang berlainan (Erni Budiwanti, 2008 : 47).

Adat-istiadat mendapatkan kesalihan nya dari masa lampao, yaitu ketika para nenek moyang kita menegakkan perantata yang diikuti tnpa batas waktu, kalau bukan masalah selamanya. Seperti yang dikatakan Alisyahbana bahwa adat addat merasuki hmpir segala asfek kehidupan komunitas yang mengakibatkan seluruh perilahu individu sangat dibatasi dan dikondifisikan (Budiwanti, 2000: 48).

Adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat selain memiliki local jenius juga bisa dipengaruhi kebudayaan luar lainnya. Di Lombok misalnya secara umum pengaruh Islam (abad ke XVI), Bai/  Hindu-Budha (abad ke-XIII), serta Makasar, yang semuanya itu meninggalkan dampak dan pengaruh  yang berbeda-beda pada masyarakat diLombok(Ahmad Amin, 1978: 21).

Sebelum kedatangan orang Bali di pulau Lombokhanya ada organisasi politik kecil yang melampoi batas-batas desa. Tetapi didalam desa tersebut satu golongan sudah terbentuk dengan sendirinya, yaitu: (1) Aristokrasi, yang pada mulanya adalah penduduk-penduduk desa terkemuka, (2) para petani bebas (kaula), (3)buruh tani (panjak) (Kraan, 1870: 9). Inilah yang dianggap sebagi cikal bakal terbentuknya kasta di Lombok sebelum diperkenalkan adanya sistem kasta yang dibawa dan diadopsi dari pengaruh Bali.

Erni Budiwanti (2000) menulis bahwa di Lombok secara umum dan Lombok Timur pada hususnya terdapat dua kelompok sosial yang berbeda dalam strata sosia, yaitu golongan Bangsawan (perwangse) dan orang biasa (jajar karang), dimana status seseorang sebagai perwangse atau jajarkarang dapat diidentifikasi dari gelar yang disandangnya. Gelar mengawali nama diri dan digunakan dalam komunkasi sehari-hari, seperti Rahadiah atau Raden (Budiwanti, 2002: 249).

Pada golongan bangsawan di Jerowaru kedudukan bangsawan yang paling tinggi kita kenal adalah gelar Mamik, Lalu ataupun Baiq, sedangkan gelar Raden dan Dende salama sekali tidak ada. Hal ini sangat cocok dengan apa yang dikatakan Erni Budiwanti terjadi akibat adanya percamouran perkawinan dengan masyarakat biasa (Budiwanti, 2002: 249). Untuk lebih jelasnya terdapat perbedaan dan persamaan adat-istiadat yang sudah menjadi bagian yang mendasar dalam golongan perwange dengan golongan jajarkarang diantaranya, ayitu:

  1. Sistem Perkawinan

Perbedaan status yang membedakan golongan perwangse dengan golongan jajarkarang salah satunya adalah dalam masalah perkawinan atau sistem perkawinan. Untuk mempertahankan kekerabatan mereka, dan mempertahankan status serta privelase mereka, golongan bangsawan pada awalnya mencegah anak atau saudara perempuan mereka kawin dengan orang yang golongan sosialnya berbeda atau status sosialnya lebih rendah. Kaum wanita mereka lebih banyak yang kawin secara endogami, sehaingga perkawinan antara misan, sepupu, baik paralel (dengan anak saudara laki-laki ayah atau saudara perempuan ibu) maupun sepupu silang (dengan anak saudara laki-laki ibu atau saudara perempuan ayah), merupakan perkawinan yang lebih dianjurkan di kalangan kaum bangsawan (Budiwanti, 2002: 250).

Namun jika terjadi perkawinan kaum bangsawan wanita dengan pria dari masyarakat biasa, maka dari pihak laki-laki itu harus membayar sajikrame tergantung tingkatan kebengsawanan wanita tersebut (Erni Budiwanti, 2002: 251). Begitu juga pada masyarakat desa Jerowaru ketika terjadi pernikahan untuk saat ini dan sudah dimulai sejak kuarang lebih tahun 1970-an, dan terjadi pernikahan seperti yang disebutkan di atas maka diharuskan membayar sajikrame tersebut.

Perbedaan sistem perkawinan pada masyarakat desa Jerowaru baik pada bangsawan maupun masyarakat biasa pada saat ini sebenarnya dalam prosesinya tidak ada perbedaan sama sekali, hanya saja yang berbeda adalah isi daripada setiap prosesianya tersebut. Misalnya ketika anak dari golongan bangsawan kawin dengan anak masyarakat biasa, maka adanya keharusan membayar sajikrame padapihak laki-laki tersebut

Salah satu tradisi lain dalam adat-istiadat perkawinan masyarakat Lombok adalah kwin lari.  Kawin lari atau nikah lari ini dalam bahasaa sasak disebut “melaian”, dan hal ini kadang-kadang menurut kebanyakan dari adat-istiadat yang berlaku pada kebanyakan masyarakat merupakan cara dalam pengambilan perempuan yang lebih ideal ketimbang meminta pada orang ruanya. Rencana pernikahan memang atas dasar persetujuan keluarga kedua belah pihak namun yang lebih dominan masyarakat menggunakan tradisi melaian ini. Dalam hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Solichin salam (1992) dipengaruhi oleh adat-istiadat Bali yang memperkenalkan adanya sistem kasta secara lebih jelas. Namn di Desa Jerowaru melaian adalah shal yang biasa dalam sistem perkawinan, baik pada golongan bangsawan maupun pada masyarakat biasa. Meskipun hususnya pada kaum bangsawan banyak yang menggunakan lamaran dengan persetujuan dari keluarga kedua belah pihak

  1. Bahasa Sehari-Hari

Penggunaan bahasa di Lombok umumnya dikenal adanya bahasa halus dan bahasa kasar. Bahasa kasar adalah bahasa sehari-hari yang dipergunakan oleh kasta yang lebih tinggi (perwangse) terhadap kasta yang lebih rendah (jajarkarang). Sedangkan bahasa halus dipergunakan oleh kasta-kasta lebih rendah terhadap kasta yang lebih tinggi. Selain adanya kedua bahasa diatas ada juga yang dikenal dengan sebutan bahasa antara/ pertengahan yang juga dipergunakan dalam bahasa pergaulan kekeluargaan. Misalnya seorang anak yang menyuruh anaknya makan mengatakan ngelor atau medahar bukan mangan atau bekakenan untuk kata makan (Ahmad Amin dkk, 1978: 24). Dan jika aturan tersebut dilanggar, Ahmad Amin (1978) melanjutkan maka orang tersebut dinamakan kasoan atao noak, dalam hal ini bahasa pergaulan sehari-hari masyarakat dari kedua golongan inilebih banyak untuk saat ini menggunakan bahasa pertengahan sekaligus bahasa kasar sebagai bahasa yang lebih dominan menjadi bahasa pergaulan sehari-hari, meskipun bahasa halus masih dipergunakan oleh golongan minoritas dan tempat yang tepat.

  1. Pergaulan Sehari-Hari

Abdurrahman (1989) telah mengidentifikasi beberapa tata kelakuan pada lingkungan masyarakat di pulau Lombok, seperti tata kelakuan di lingkungan pergaulan antara suami dan istri, tata kelakuan di lingkungan pergaulan antara ayah dan anak, dengan masyarakat sekitar   dan lainnya. Dicontohkan oleh Abdurahman (1989) misalnya dalam tatacara berpakaian, disini akan tampak jelas bahwa sang suami pantang akan menggunakan pakaian istrinya terutama kain batiknya (sasak : bendang ).

Tidak terkecuali pada masyarakat Desa Jerowaru yang mana banyak dari masyarakatnya yang masih mempertahankan adapt istiadat lama yang baik (sasak : rit ) dalam beberapa segi kehidupan,seperti sopan santun dalam berbicara, sopan santun dalm bertingkahlaku maupun cara bergaul sesama orang tua, sebaya dan anak-anak. Terutama pada golongan bangsawan tata krama ini sangat di perioritaskan, meskipun dari beberapa aspek adat-istiadat yang pernah dikembangkannya saat ini sebagian sudah luntur ataupun berkurang.


METODE PENELITIAN

  1. Pendekatan dan Metode Penelitian

Dalam penelitian ini akan mengkaji tentang sistem kekerabatan masyarakat di Desa Jerowaru, maka dengan demikian data-data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini adalah berbentuk keterangan-keterangan, kalimat-kalaimat, foto-foto, serta informasi yang berkaitan dengan bagaimana wujud kekerabatan pada masyarakat. Mengingat bahwa data-data yang dikumpulkan tersebut berupa dokumen-dokumen tertulis, informasi, kejadian-kejadian, dan foto-foto yang akan dianalisis dalam tinjauan sejarah, maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif.

Danzin dan Lincoln sebagaimana dikutip oleh Moleong menyatakan bahwa penelitian kualitatif  adalah penelitian yang menggunakan penelitian latar alamiah dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Lebih lanjut, Moleong menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk mengetahui fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya: perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain (Moleong, 2007: 6).

Penelitian kualitatif dari sisi definisi lainnya dikemukakan bahwa hal ini merupakan penelitian yang memanfaatkan wawancara terbuka untuk menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan dan perilaku individu atau sekelompok orang (Moleong, 2007: 6).

Penelitian kualitatif didasarkan pada upaya membangun pandangan mereka yang diteliti secara rinci, dibentuk dengan kata-kata, gambaran holistik dan rumit. Definisi ini lebih melihat perspektif emik dalam penelitian yaitu memandang atau upaya membangun pandangan subjek penelitian yang rinci, dibentuk dengan kata-kata, gambaran holistik dan rumit (Moleong, 2007: 6).

Sedangkan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Adapun metode sejarah dalam pengertian yang lebih umum adalah penelitian suatu atas masalah dengan mengaplikasikan jalan pemecahannya dari perspektif historis (Abdurrahman, 1999: 43). Pengertian yang lebih khusus, sebagaimana dikemukakan oleh Gibert J. Graham dalam bukunya Abdrrahman (1999), bahwa metode penelitian sejarah adalah seperangkat aturan dan prinsip sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara epektif, menilainya secara kritis, dan mengajukan sintesis. Sedangkan Abdurrahman sendiri menjelaskan metode sejarah sebagai proses menguji dan menganalisis kesaksian sejarah guna menemukan data yang otentik dan dapat dipercaya. Serta usaha sintesis atas data semacam itu menjadi kisah sejarah yang dapat dipercaya (Abdurrahman, 1999: 4).

Alasan peneliti menggunakan metode sejarah dalam penelitian ini karena dalam penelitian ini mengkaji perkembangan serta perubahan yang terjadi pada masyarakat desa Jreowaru terutama dalam latar sosialnya seperti perkembangan adat-istiadatnya, perubahan sistem perkawinan pada golongan bangsawan, perubahan dalam bahasa sehari-hari yang digunakan telah menarik peneliti untuk meneliti mengapa hal itu terjadi yang pada akhirnya menari peneliti untuk mengetahui perubahan serta perkembangannya, karena jika berbicra mengenai perkembangan maupun perubahan berarti kita berbicara dalam litas sejarah.

  1. Metode Penelitian

Karena dalam penelitan menggunakan metode penelitian sejarah maka jalan kerja penelitian ini juga menggunakan metode sejarah seperti tersebut diatas yaitu heuristik, kritik, interpretasi data, serta historiografi.

a. Heuristik

Heuristik  yaitu berasal dari kata yunani heurishein, artinya memperoleh. Menurut G. J. Reiner seperti yang ditulis Dudung Abdurrahman (1900), heuristik adalah suatu tehnik, suatu seni, dan bukan suatu ilmu. Heuristik seringkali merupakan suatu keterampilan dalam menemukan, mengenali dan memperinci bibliografi atau mengklasifikasi dan merawat catatan-catatan. Lebih jelasnya seperti apa yang dikatakan Carrad  bahwa heuristik adalah merupakan langkah awal sebagai sebuah kegiatan mencari sumber-sumber, mendapatkan data, atau materi sejarah atau evidensi sejarah (Sjamsuddin, 2007: 86). Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa heuristik merupakan langkah pertama dalam penulisan sejarah yaitu dengan pengumpulan data sebanyak mungkin untuk dijadikan sumber penelitian sejarah.

Adapun macam-macam fakta yang dikumpulkan dalam heuristik ini seperti adat-istiadat bangsawan, pegaulan sehari-hari, setratifikasi sosial, perubahan adat istiadat serta bahasa yang digunakan oleh golongan bangsawan di desa Jerowaru serta beberapa fakta yang sesuai dengan rumusan masalah seperti diajukan pada bagian sebelumnya.

Karena heuristik merupakan kegiatan pengumpulan data-data sejarah, maka ada beberapa tehnik dalam pengumpulan data tersebut yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

  1. Observasi

Observasi atau pengamatan adalah kegiatan manusia dengan menggunakan pancaindra lainnya seperti telinga, penciuman, mulut dan kulit. Karena itu, observasi adalah kemampuan seorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja pencarian mata serta dibantu dengan pancaindra lainnya (Burhan Bungin, 2008: 115). Sedangkan Sutrisno Hadi mengatakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang komplek, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantaranya yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan (Sugiono, 2008: 145).

Dalam penelitian ini proses pelaksanaan pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti yaitu observasi nonpartisipan (non participant observasion). Dalam hal ini tidak terlibat secara langsung terlibat sebagai anggota dari masyarakat tersebut, namun hanya sebagai pengamat independen. Dengan cara ini walaupun secara tidak langsung terlibat seperti masyarakat biasanya, namun dengan cara ini peneliti juga dapat mengamati bagaimana prilaku masyarakat, pergaulan masyarakat dengan masyarakat lain, serta bagaimana interaksi sosial pada masyarakat di desa Jerowaru.

Adapun fakta-fakta yang didapatkan peneliti selama melakukan observasi berkisar pada bagaima proses interaksi antara dua kelompok sosial yang berbeda, mengamati beberapa perbedaan yang menonjol antara golongan bangsawan dengan masyarakat biasa dalam hal bangunan terutama lumbung padi, memperhatikan tata krama pada golongan bangsawan, serta beberapa aspek dari segi lahiriah yang dapat peneliti dapatkan selama melakukan observasi.

  1. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan dilakukan oleh dua pihak orang, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2007: 186). Jadi disini terdapat elemen yang penting yaitu interviewer dan interviewee.

Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon). Dan dalam penelitian ini menggunakan wawancara terstruktur sebagai tehnik pengumpulan data. Oleh karena itu seperti apa yang dikatakan  Sugiyono, seorang peneliti dalam melakukan wawancara, pengumpulan data setelah penyiapan instrumen penelitian berupa pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Dengan terstruktur ini setiap responden diberi peranyaan yang sama, dan pengumpul data mencatatnya (Sugiyono, 141: 2008). Sedangkan metode wawancara yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara bertahap, karena karakter utama dari wawancara ini adalah dilakukan secara bertahap dan pewawancara tadak harus terlibat dalam kehidupan sosial formal. Sistem datang dan pergi dalam wawancara ini mempunyai kelebihan dalam mengembangkan objek-objek baru dalam wawancara berikutnya karena pewawancara memperoleh waktu yang panjang diluar informan untuk menganalisis hasil wawancara yang telah dilakukan serta dapat mengoreksinya (Burhan Bungin, 2008: 110).

Untuk mendapatkan data dari informan melelui wawancara ini meliputi, menemukan informan di lapangan dilakukan dengan menentukan orang-orangnya dengan alasan orang yang dipilih sebagai informan benar-benar tahu tentang sejarah mengenai asal-usul, proses interaksi, status sosial dan lain sebagainya. Adapun beberapa informasi dan dan fakta yang ingin peneliti dapatkan dalam wawancara ini berupa asal-usul bangsawan Jerowaru, perkembangannnya, pelaksanaan adat-istiadatnya, bagaimana implementasi adat-istiadat yang dikembangkan, bgaimana sistem perkawinan, bahasa yang digunakan dengan menggunakan pengumpulan data melelui wawancara ini. Serta beberapa informasi lainnya yang sesuai dengan tema dalam penelitian ini.

Berbagai pihak yang peneliti minta keterangannya dalam penelitian ini diantaranya, pejabat pemerintah yang ada di desa Jerowaru, tokoh adat, tokoh masyarakat, para bangsawan serta masyarakat biasa pada umumnya yang tahu tentang informasi yang penulis cari.

  1. Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data yang digunakan dalam metodologi penelitian ilmu sosial. Pada intinya metode dokumenter adalah metode yang digunakan untuk menelusuri data historis. Dengan demikian, pada penelitian sejarah, data dokmenter memang berperan sangat penting (Burhan Bungin, 2008: 121).

Metode penelitian ini merupakan salah satu yang harus digali oleh seorang peneliti sejarah, karena sebenarnya sejumlah besar fakta tentang sejarah tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi guna dijadikan kata-kata dan fakta historis.

Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-sura, catatan-catatan harian, cendramata, surat harian, laporan dan sebagainya. Sifat utama dari data ini tidak terbatas dari ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi pada masa silam.kumpulan data dalam bentuk tulisan ini disebut dokumen dalam arti luas. Adapun barang-barang yang termasuk dokumen diantaranya adalah artepak, caset tape, mikrofilm, dise, CD, flashdisk dan sebagainya (Burhan Bungin, 2008: 122). Secara detail bahan dokumenter terbagi beberapa macam yaitu:

  1. otobiografi
  2. surat pribadi, buku-buku atau catatan harian, memorial
  3. kliping
  4. dokumen pemerintah maupun suasta
  5. cerita roman dan cerita rakyat
  6. data server dan flashdisk
  7. data tersimpan di web site dan lain-lain.

Selain macam-macam bahan dokumenter diatas, bahan dokumenter ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu dokumen pribadi dan dokumen resmi.

a. Dokumen Pribadi

Dokumen pribadi adalah catatan atau karangan seseorang secara tertulis tentang tindakan, pengalaman, da kepercayaannya. Maksud mengumpulkan dokumentasi pribadi ialah untuk memperoleh kejadian nyata tentang situasi sosial dan berbagai faktor dis ekitar subjek penelitian (Sugiyono, 2008: 217). Dokumen pribadi ini bisa berupa buku harian, otobiografi dan sebagainya.

b. Dokumen Resmi

Dokumen resmi terbagi terbagi atas dokumen intern dan dokumen intern. Dokumen intern dapat berupa memo, pengumuman instruksi, ataupun dari lembaga untuk kalangan sendiri seperti risalah atau laporan rapat,keputusa pemimpin kantor, konvensi yaitu kebiasaab-kebiasaan yang berlangsung di suatu lembaga dan sebagainya. Sedangkan dokumen ekstern berupa bahan-bahan informasi yang dikeluarkan suatu pemerintahan (Burhan Bungin, 2008: 123).

Dalam penelitian ini dokumen yang akan dikaji sebagai bahan penulisan sejarah yang terkait dengan kebutuhan peneliti tidak begitu banyak maka peneliti dalam hal ini hanya menggunakan kitab kuno yang disebut sebagai Takepan untuk menelusuri sejarah tersebut, lebih dari itu ada juga monografi desa serta salinan daftar pemilih tetap pemilihan umum kabupaten Lombok timur tahun 2009/2019. Adapun dari takepan itu untuk mengetahui tentang sejarah awal masyarakat desa Jerowaru, kemudian dari monografi desa yaitu untuk memperoleh data yang jelas mengenai desa Jerowaru secara umum dari beberapa aspek dalam kekiniannya. Dan yang terakhir adalah daftar pemilih tetap tadi, yaitu digunakan untuk memastikan mengenai konsentrasi tempat tinggal bangsawan yang cendrung tinggal di satu tempat dengan sesama golongannya. Selain bahan dokumen yang berupa buku-buku diatas tadi, peneliti juga menggunakan foto-foto sebagai bahan kajian dokumenter ini.

b. Kritik

Setelah sumber sejarah dalam berbagai katagorinya itu terkumpul, tahap yang berikutnya adalah verifikasi atau lazim disebut juga dengan kritik untuk memperoleh keabsahan sumber. Dalam hal ini yang harus jug adiuji adalah keabsahan tentang keaslian sumber (otensitas) yang dilakukan melalui kritik ekstern, dan keabsahan tentang kesahihan sumber (kredibilitas) yang ditelusuri melalui kritik intern. Berikut ini kedua teknik verifikasi tersebut akan dijelaskan satu-persatu:

  1. Keaslian Sumber (otensitas)

Otensitas dari sumber ini minimal dapat diuji berdasarkan lima pertanyaan pokok sebagai berikut:

1. Kapan sumber itu dibuat ?

2. Dimana sumber itu dibuat ?

3. Siapa yang membuat ?

4. Dari bahan apa sumber itu dubuat ?

5. Apakah sumber itu dalam bentuk yang asli?

Kelima pertanyaan ini masih minimal untuk mengajukan pertanyaan dalam menentukan keabsahan dari dokumen sejarah yang diteliti untuk dijadikan sumber penulisan sejarah (Abdurrahman, 1999: 26). Lebih dari itu jika yang kita teliti tersebut adalah informasi dari informan dan bukan dokumen maka dalam hal ini Lucet sebagaimana dikutif Helius Sjamsudin (2007) mengatakan bahwa sebelum smber-sumber sejarah dapat digunakan dengan aman, paling tidak ada lima pertanyaan yang harus dijawab dengan memuaskan:

1. Siapa yang mengatakan itu?

2. Apakan satu atau dengan cara lain kesaksian itu telah diubah?

3. Apa sebenarnya yang dimaksud oleh orang itu dengan kesaksiannya itu?

4. Apakan orang yang memberikan keterangan itu seorang saksi mata (witnes) yang kompeten, apakah dia mengetahui faktor itu?

Oleh karena itu pada dasarnya kritik eksternal harus menegakkan fakta dari kesaksia bahwa :

  1. a.  Kesaksian itu benar-benar diberikan oleh orang ini atau pada waktu ini (authenticity)

b. Kesaksian yang telah diberikan itu telah bertahan tanpa ada perunahan (uncorupted), tanpa ada suatu tambahan-tambahan atau penghilangan-penghilangan yang substansial (itegriti) (Helius Sjamsudin, 2007: 134).

Karena fakta yang peneliti cari berkisar pada tahun 1970-an, maka tergolong sejarah yang kontemporek, sebab orang-orang yang terlibat langsung pada saat itu masih hidup jadi bisa dikatakan kesaksiannya karena merupakan sumber primer sangat bisa dipercaya, sekaligus dengan jalan memadukan diantara beberapa partanyaan yang sama dan diajukan pada informan yang berbeda, kemudian jika ada dari sebagian kecil dari informan yang pendapatnya berbeda serta penulis kurang meyakini pendapatnya karena sebagian besar bersaksi sama maka pendapat satu orang atau dua orang diantara sepuluh orang tersebut gugur dengan sendirinya.

  1. Kesahihan Sumber (kredibilitas)

Kritik internal sebagaimana yang disarankan oleh istilahnya menekankan aspek kedalaman yaitu isi dari sumber, kesaksian (testimoni). Oleh karenanya seperti yang ditulis Helius Sjamsudin (2007) dalam kritik intern ini  seorang peneliti harus memutuskan apakah kesaksian itu dapat diandalkan (reliable) atau tidak. Keputusan ini didasarkan atas penemuan dua penyidikan (inquiry), yaitu:

a. Arti sebenarnya dari kesaksian itu harus dipahami?

b. Setelah fakta kesaksian dibuktikan dan setelah arti sebenarnya dari isinya telah dibuat sejelas mungkin, selanjutnya kredibelitas saksi harus ditegakkan.

Adapun berkenaan dengan sumber lisan, bila ingin teruji kredibilitasnya sebagai fakta sejarah, maka harus memenuhi sebagaimana syarat-syarat yang diajukan Garraghan sebagaimana dikutif Dudung Abdurrahman (1999) sebagai berikut:

a. Syarat-syarat umum: sumber lisan (tradisi) harus didukung olek saksi berantai dan disampaikan oleh pelopor pertama yang terdekat. Sejumlah saksi itu harus sejajar dan bebas, serta mampu mengungkapkan fakta yang teruji kebenarannya.

b. Syarat-syarat khusus: sumber lisan mengandung kejadian penting yang diketahui umum; telah menjadi kepercayaan umum pada masa tertentu; selama masa tertentu itu tradisi dapat berlanjut tanpa protes atau penolakan perseorangan; lamanya tradisi relatif terbatas; merupakan aflikasi dari penelitian yang kritis; dan tradisi tidak pernah ditola oleh pemikiran kritis.

Dalam hal kredibilitas sumber ini peneliti sebagaimana penjelasan diatas dalam sumber lisan menggunakan saksi yang berantai, bahkan saksi tersebut merupakan sumber primer yang secara langsung mengalami dan merasakan mengenai fakta yang peneliti tanyakan terkait dengan sejarah masyarakat desa jerowaru tersebut. Dan dari beberapa saksi yang berantai itu jika seperti yang sudah dijelaskan diatas menyimpang dari pendapat umum maka kesaksiaanya tersebut ditolak untuk dijadikan sumber sejarah, yang sudah barang tentu dalam hal ini ke kredibelan informan tersebut juga peneliti ketahui.

c. Interpretasi

Interpretasi atau penafsiran data sejarah seringkali disebut juga dengan analisis sejarah. Kata analisis sendiri berarti menguraikan, dan secara terminologis berbeda dengan sintesis yang berarti menyatukan. Namun keduanya seperti yang dikatakan Kuntowijoyo dalam bukunya Dudung Abdurrahman (1999) bahwa analisis dan sintesis dipandang sebagai metode-metode utama dalam interpretasi.

Lebih jelasnya bahwa interpretasi data atau analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangtan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan dalam katagori,menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2008: 244). Dengan begitu analisis sejarah itu sendiri, seperti yang dikatakan Berkhofer (Abdurrahan:1999) bertujuan melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta itu kedalam suatu interpretasi yang menyeluruh.

Karena didalam penulisan sejarah sering juga terjadi interpretasi tidak sesuai atau bahkan terlalu meluas maka soerang peneliti dianjurkan memusatkan perhatiannya pada pos-pos tertentu yang membicarakan suatu maslah, misalnya: dengan mempelajari tokoh-tokoh, longkungan kejadian yang melingkupinya dan sebagainya. Selanjutnya perhatian diarahkan kepada analisis mengenai apa yang dipikirkan orang, diucapkan dan diperbuat orang yang menimbulkan perubahan melalui dimensi waku (abdurrahman, 1999: 61-62).

Adapun yang dilakukan peneliti dalam tahap iterpretasi data ini adalah mensintesiskan beberapa fakta agar sesuai dengan teori yang digunakan. Misalnya ada teori yang mengatakan bahwa kekerabatan ditentukan oleh keturunan yang selektif, dimana dalam kekerabatannya memiliki hak atas gelar, lambing, kepemilikan dan lain-lain, begitu juga fakta yang didapatkan mencari titik temu antara teori tersebut dengan hasil penelitian yang akan dijelaskan.

           d. Historiografi

Sebagai fase terakhir dalam penulisan sejarah, historiografi ini merupakan cara penulisan, pemaparan atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan. Layaknya laporan ilmiah, penulisan hasil penelitian sejarah itu hendaknya dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai proses penelitian, sejak awal (fase perencanaan) sampai dengan tahap terakhir (penarikan kesimpulan). Jadi dengan penulisan sejarah itu akan ditentukan mutu penelitian sejarah itu sendiri (Abdurrahman,1999: 67).

Diantara syarat umum yang harus diperhatikan peneliti didalam pemaparan sejarah, seperti yang dikatakan Hasan Usman dalam bukunya Dudung Abdurrahman (1999), adalah:

1. Peneliti harus memiliki kemampuan mengungkapkan bahasa secara baik.

2. Terpenuhinya kesatuan sejarah, yakni suatu penulisan sejarah itu sendiri sebagai bagian dari sejarah yang lebih umum, karena ia didahului oleh masa dan diikuti oleh masa pula. Dengan perkataan lain, penulisan itu ditempatkannya sesuai dengan perjalanan sejarah.

3. Menjelaskan apa yang ditemukan oleh peneliti dengan menyajikan bukti-buktinya dan membuat garis-garis umum yang akan diikuti secara jelas oleh pemikiran pembaca.

4. Keseluruhan pemaparan sejarah haruslah argumentatf, artinya usaha menyerahkan ide-idenya dalam merekonstruksi masa lampau itu didasarkan atas bukti-bukti tersendiri, buktri yang cukup lengkap, dan fakta-fakta akuarat.

Penyajian penelitian secara garis besar terdiri atas tiga bagian: (1) pengantar, (2) hasil penelitian, (3) kesimpulan. Setiap bagian biasanya terjabarkan dalam bab-bab atau sub bab yang jumlahnya tidak ditantukan swecara singkat. Asalkan antara satu bab dengan bab yang lain harus ada pertalian yang jelas (Abdurrahman, 1999: 69).

Jenis historiografi yang digunakan oleh peneliti adalah histiiriografi kritis, karena selain menggunakan pendekatan sosial yang merupakan bagian dari tema sejarah kritis yang multi disipliner (multy approach), sekaligus dalam melihat hubungan status sosial di jerowaru menggunakan dua pendekatan baik dari golongan bangsawan maupun masyarakat biasa tentang sejarahnya sehingga dalam penulisannya pada tahap historiografi tidak terjadi bias atau melihat dengan satu kacamata saja. Sekaligus dalam penulisan  ini selain mampu menghadirkan nuansa sejarahnya sekaligus nuansa sosial, budaya, ekonomi dan pendididak tercakup di dalamnya.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Gambaran Umum Lokasi Penalitian

Desa Jerowaru merupakan salah satu dari 4 (empat) Desa yang ada di kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur. Dengan luas 35,22 km dengan perincian untuk persawahan 2,320 Ha, perkebunan 532 Ha,perumahan atau pekarangan 406 Ha, perkuburan 41 Ha, dan lain-lain 282 Ha.

Desa Jerowaru terdiri dari 6 dusun definnitif dan 3 dusun perwakilan yaitu kadus Jerowaru daye (utara), kadus Jerowaru lauk (selatan), kadus Jerowaru timuk (timur), kadus Montong Wasi, dan kadus Sepapan. Sedangkan yang termasuk kadus perwakilan adalah kadus Jor, kadus Muhajirin, dan kadus Telong-Elong.

Adapun batas-batas desa Jerowaru adalah sebagai berikut: (a). sebelah utara berbatasan dengan desa Sepit, (b) sebelah timur berbatasan dengan desa Tanjung Luar, (c). sebelah selatan berbatasan dengan desa Pemongkong dan (d). sebelah barat berbsatasan dengan desa Sukaraja.

Total jumalah penduduk dari semua dusun yang ada di desa Jerowaru adalah 18.307 jiwa, dengan 5.372 kepala keluarga (KK), sedangkan perinciannya adalah sebagai berikut: (a) laki-laki dengan jumlah 8.579 jiwa, (b) perempuan 9.728 jiwa.

Perkebunan dan pertanian merupakan sektor pendapatan terbesar di desa Jerowaru, selain peternakan, perkebunan, perikanan dan perdagangan. Dilihat dari ukuran perkembangannya terutama dalam bidang pertanian memang ada kemajuan dari tahun ketahun bila dibandingkan dengan kebelum keadaan sebelumnya, namun dalam sektor ini yang menjadai kendala utama adalah sarana dan prasarana di bidang irigasi atau pengairan dan ketidak sesuaiannya harga kebutuhan petani denagan harga hasil produksi. Adapun hasil pertanian yang sangat menopang kehidupan petani di desa Jerowaru adalah hasil tanaman tembakau, selain padi dan semangka. Indikator perekonomian masyarakat di desa Jerowaru dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.1 indikator perekonomian masyarakat Desa Jerowaru 2009/ 2010

No Indikator Sub. Indikator Thn. 2009 Thn. 2010
1 Pendapatan Sumber pendapatan

  1. Pertanian
  2. Kehutanan
  3. Perkebunan
  4. Peternakan
  5. Perikanan
  6. Perdagangan
  7. Jasa
  8. Industri rumah tangga
Rp. 35.201.125.000

Rp. 400.000.000

Rp. 61.325.600.000

Rp.11.324.057.000

Rp. 4.180.866.000

Rp. 6.098.100.000

Rp. 3.441.800.000

Rp. 526.000.000

Rp. 41.878.550.000

Rp. 600.000.000

Rp. 72.246.600.000

Rp. 12.146.183.500

Rp. 4.952.197.000

Rp. 8.105.400.000

RP. 4.855.000.000

Rp. 794.000.000

(Sumber : monografi desa Jerowaru tahun 2009/ 20010)

Sedangkat tingkat pendidikan di desa Jerowaru masih bisa dibilang rendah, sehingga peningkatannya masih sangat diperlukan dukungan dari pemerintah, pihak swsata maupun dukungan dari masyarakat. Untuk itu pendidikan masyarakat desa Jerowaru perlu ditingkatkan lagi, karena keberhasilan dari suatu pembngunan sangat tergantung dari pendidikan penduduknya. Peningkatan pedidikan penduduk merupakan salah satu indikator penting dalam penentuan pencapaian angka indeks pembangunan manusia (IPM) yang tinggi. Permasalahan dalam bidang pendidikan ini disebabkan oleh kualitas sumber daya manusia yang masih rendah karena tingkat pendidikan yang belum memadai. Namun dalam melaksanakan sistem pendidikan nasional dan pendidikan dasar sembilan tahun, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia (SDM) baik melalui pendidikan formal maupun melalui pendidikan informa.

Pemerintah desa Jerowaru selalu mendukung kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat, tokoh agama, melalui organisasi sosial masyarakat atau pun pendidikan swasta, sehingga tercermin dengan tersedianya sarana dan prasarana pendidikan sebagai berikut:

  1. Sekolah Dasar                    : 14 buah
  2. Madrasah Ibtida’yah          : 2 buah
  3. SMPN Negeri                     : 1 buah
  4. Madrasah Tsanawiyah      : 5 buah
  5. Madrasah Aliyah               : 2 buah
  6. PKBM (Paket A, B dan C)  : 2 buah
  7. TK                                      : 2 buah
  8. PAUD                                 : 4 buah

(sumber: monografi desa Jerowaru tahun 2009/ 2010).

Untuk lebih jelasnya, data tingkat perkembangan pendidikan antara tahun 2009/ 2010 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.2 indikator perkembangan pedidikan masyarakat desa Jerowaru.

No Indikator Sub. Indikator Thn. 2009 Thn. 2010
1. Tingkat pendidikan penduduk usia 15 tahun 1. Buta Hurup

2. Tidak Tamat SD

3. Tamat SD

4. Tamat SLTP

5. Tamat SLTA

6. Tamat D-1

7. Tamat D-2

8. Tamat D-3

9. Tamat S1

3187 orang

721 orang

1562 orang

2644 orang

3485 orang

481 orang

841 orang

1682 orang

601 orang

2337 orang

600 orang

1487 orang

2608 orang

3782 orang

522 orang

783 orang

2087 orang

1174 orang

(Sumber: monografi desa Jerowaru tahun 2009/ 2010)

Selain dalam bidang ekonomi maupun pendidikan diatas masih sangat banyak dari gejala-gejala sosial pada masyarakat Jerowaru yang bisa di identifikasi, namun gejala sosial yang masih menjadi penomena sosial pada masyarakat Jerowaru adalah masalah kawin cerai yang cukup tinggi, dan hal ini sudah merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat sampai saat ini yang secara tidak sadar akan berpengaruh terhadap anak keturnannya. Dampak yang cukup dirasakan dalam hal ini adalah banyaknya anak dari hasil broken home yang kawin pada usia dini.

B.   Sejarah Singkat Penduduk Awal Desa Jerowaru

Bale Belek yang ada di Jerowaru Daye (utara) menurut Takepan yang ada di Bale Belek merupakan rumah yang dihuni pertama kali di desa Jerowaru. Pembuatannya menurut takepan yang selalu dibaca setiap tahun tersebut dibuat pada abad ke- XIII yaitu kurang lebih pada tahun 1257 yang lalu, atau sekitar 753 tahun silam. Pembuatan Bale Belek ini menurut Babad tersebut menunjukkan bahwa pembuatannya berlangsung satu hari saja yang dimulai dari jam enam pagi dan berahir pada jam enam sore hari yang bersamaan juga dengan dibangunnya Bale Belek yang ada di Senyiur. Pemimpin pembuatan Bale Belek ini adalah Datu Dewe Maspanji atau yang dikenal juga dengan nama Dewe Maspanji Raeng Jagat Manujae Lemper Subur Makmur Datu Tunggal Lek Dunie ie Sak Laek ie Sak nani ie Sak Lemak. Kedatangan Datu Dewe Mas Panji dengan rombongannya berasal dari arah selatan Jerowaru tepatnya di pantai Serewe, Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru sekarang. Sesampainya di painggir pantai, Raden Mas Panji istirahat bersama pengikutnya sebelum melanjutkan perjalanannya. Sebelum berangkat terlebih dahulu Datu Maspanji melepas dua busur panahnya sebagai petunjuk tempat mereka akan membangun tempat tinggal, kedua anak panahnya kemudian jatuh pada tempat yang tidak terlalu jauh, yang satunya jatuh di Jerowaru dan yang satunya lagi jatuh di Senyiur. Arah dan tempat jatuhnya busur panah inilah yang nantinya akan dijadikan patokan untuk membuat tempat tinggal. Sedangkan mengenai jumlah orang yang menyertai Datu Maspanji tdak diketahui secara pasti, namun secara logika jika benar karena dari buku sumber ini banyak sekali hal-hal yang tidak masuk akal, seperti bisa memanah dari Serewe sampai Jerowaru bahkan sampai Senyiur, namun kita abaikan hal itu dulu, maka bisa dikatakan jumlah pengikutnya banyak sekali sekaligus dengan ahli pertukangan yang cukup  berpengalaman sehingga pembangunannya bisa diselesaikan dalam satu hari (wawancara Marjun, kamis 8 juli 2010).

Lebih lanjut dari kisah Datu Dewe Maspanji ini tidak terlalu jauh diketahui karena menurut babadnya kemudian dia menghilang. Selanjutnya yang menghuni Bale Belek setelah penghuninya tidak ada lagi adalah Pe Belek, sedangkan yang di Senyiur dihuni oleh kakak dari Pe Belek, yang mana kedua-duanya berasal dari Islam Pena.

Sebelum membahas lebih lanjut Pe Belek dan Pe Balak terlebih dahulu akan dibahas mengenai kerajaan Pena yang merupakan asal usul Pe Belek dan Pe Balak.

Sebuah fakta sejarah di daerah tandus Lombok Timur bagian selatan berdiri sebuah kerajaan yaitu kerajaan Pena. Kerajaan tersebut awalnya berpusat di bukit Pena, desa Batu Nampar Jerowaru. Penyebaran agama Islam dan perpaduannya dengan adat istiadat di daerah kering itu tidak terlepas dari peranan kerajaan kecil tersebut.

Lebih lanjut Mastam dalam karangannya yang berjudul “ Peranan Kalangan Istana dalam Perjuangan Adat Agama di Lombok Timur “ mengatakan bahwa secara konkrit Pena lebih tepat di sebut sebagai keulamaan dari pada sebagai kerajaan Islam. Bahkan para budayawan lebih suka menyebutnya sebagai basis penyebaran agama Islam dari pada pusat politik. Hal tersebut didukung dengan peninggalan yang berupa situs Pena yang di dalamnya tidak terdapat benda-benda yang menunjukkan bekas bangunan istana.

Pena seperti yang dikatakan Mastam diperintah oleh seorang Pemban ( raja kecil, datu ) yang sekaligus menjadi ulama agama Islam. Datu yang terkenal adalah Raden Suryajaya Supeno. Dia digantikan oleh pangeran Mimjimak yang bergelar Pemban Tanggal Peras atau Baru Tanggan. Berbeda dengan Selaparang “ seri kedua “ Pena tidak banyak mendapat perhatian secara langsung dari para ulama di tanah Jawa.

Maka kalangan bangsawan banyak yang berguru ke Jawa untuk belajar pada para wali. Mereka mempelajari cara menyebarkan agama Islam yang disesuaikan dengan adat Sasak. Maka peradaban masyarakatLombokbagian selatan pun lebih bernuansa mengenal budaya leluhur dibandingkan dengan wilayah timur.

Misalnya kesesnian wayang, tari-tarian, pakaian dan tata krama. Untuk kepentingan itu, pangeran Tata Samin atau Sangupati sempat belajar ke Solo dan Demak sebagai pusat penyebaran agama Islam yang berbasis budaya Jawa. Kemudian dengan pola yang sama Ia menyebarkan agama Islam di sekitar Sakra. Sebelum akhirnya meninggal dan dimakamkandi Mengkuru,iamampu mengembangkan tradisi kesenian Sasak. Konon, ia pun berhasil memberantas tradisi main judi dan minum tuak masyarakat sekitar.

Meskipun tak sekaliber Selaparang dan Pejanggik, namun kemajuan yang dicapai Pena cukup meresahkan pihak musuh. Pena mengalami kemunduran karena sumber-sumber air di bawah bukit yang dikuasai pasukan Langko. Ketika itu menantu Banjar Getas telah menjadi penguasa di negeri dengan gelar Prabu Anom Langko.

Upaya pengisolasian Pena itu terkenal dengan sebutan Politik Rerepik Aik. Akibat langsung dari pemblokadean ini adalah kesulitan mendapatkan air minum bagi para bangsawan yang tinggal di atas bukit. Dalam perkembangannya, terjadi perpindahan pusat kegiatan dari bukit Pena ke Wangkek di desa yang sama maupun ke tempat-tempat lain yang memungkinkan keamanan bagi para bangsawan maupun rakyatnya. Tidak terkecuali desa Jerowaru sekarang merupakan tujuann isolasi dari akibat blokade yang dilakukan oleh kerajaan Langko tersebut.

Pe Belek yang merupakan bangsawan Pena beserta rekan-rekannya tinggal di sekitar Bale Belek yang sudah  ada. Adapun pengikut-pengikutnya yang lain memisahkan dirinya di tempat khusus yang nantinya dikenal denagn nama gubuk Tembok. Inilah keturunan asli Jerowaru. Adapun Pe Belek yang diperkirakan sebagai pemimpin para bangsawan ke desa Jerowaru menurunkan dua orang keturunan yaitu Dewi Ringgit dan Raden Panji. Raden Panji setelah memiliki keluarga kemudian pindah ke rumah Pelambik sekarang yang merupakan bagian dari kadus Jerowaru timuk (timur). Adapun peninggalan yang menjadi bukti adalah adanya Bale Belek di Pelambik, sedangkan Dewi Ringgit sendiri tetap tinggal di Bale Belek lama di Jerowaru pusat. Sebagai bukti dari pihak laki-laki maupun perempuan tinggal di mana, sampai saat ini oleh masyarakat serta buku Takepan di Bale Belek, adanya  rambut-rambut perempuan yang cukup banyak di sana. Sedangkan di Bale Belek Pelambik ditemukan sebilah keris yang mana menandakan bahwa anak Pe Belek yaitu Raden Panji yang tinggal disana.

Dewi Ringgit yang tinggal di Bale Belek pusat menurunkan empat orang anak, keempat anaknya tersebut memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Keempat anaknya itu adalah Datuk Masjid, Datuk Labang, Datuk Kebon dan Datuk Sabo. Lebih jelasnya perbedaan kepribadian dari anak-anak Dewi Ringgit adalah sebagai berikut, yaitu :

a.      Datuk Masjid

Sematan nama yang diberikan kebiasaan dari apa yang dikerjakan setiap hari dan menjadi kepribadian orang yang memiliki nama tersebut. Menurut keterangan, dia merupakan seorang ahli ibadah, bahkan lebih banyak menghabiskan hidupnya untuk beribadah di Masjid. Sampai-sampai hanya pulang ke rumahnya sekedar untuk makan, kemudian pergi lagi untuk beribadah ke Masjid.

Keturunan dari Datuk Masjid ini menurut Sineraf (kadus Jerowaro Daye) dan Marjun (mangku Bale Belek), namun belum diketahui secara pasti termasuk keturunannya yang ke berapa. Beliau adalah TGH. Jahye  yang merupakan bapak dari TGH Mutawalli pendiri pondok pesantren Darul Aitam Jerowaru. Sedangkan TGH Mutawalli memiliki an banyak putra maupun putri, salah satunya adalah TGH.M. Sibawaihi dan Lalu Abdul Mukib serta keluarganya yang lain.

b.      Datuk Labang

Kebiasaan dan kepribadian Datuk Labang sangat berbeda dengan kepribadian dan kebiasaan sehari-hari saudaranya yang lain. Aktifitas yang sering dilakukannya adalah ikut berperang. Namun tidak diketahui sescara pasti dengan siapa dan pihak mana dia berperang. Namun ada kemungkinan karena keluarganya pernah bermusuhan dengan kerajaan yang berada di utara Pane yaitu kerajaan Langko. Jadi tidak menutup kemungkinan untuk membalas atau sekedar untuk membantu keluarganya yang masih terisolasi di sekitar kawasan kerajaan Pene. Konon, biasanya ketika pulang ke rumahnya selalu berlumuran dengan darah-darah musuhnya. Karena tidak ada sumber kapan bangsawan Pene ini sudah bebas dari isolasi yang diakibatkan blokade kerajaan Langko maka jelasnya dengan siapa  dan pihak mana Datuk Labang ini berperang belum bisa dibuktikan secara jelas.

Adapun yang diperkirakan keturunan dari Datuk Labang seperti seperti yang dikatakan Mamik Tanom ( keturunan Datuk Labang ) dan Marjun diantaranya adalah Mamik Keran, Mamik Tanom, dan Mamik Sungkal serta saudara-saudara lainnya, yang saat ini tinggal di sekitar gubuk Tembok bersama keturunan keluarga bangsawan lainnya.

c.       Datuk Kebon

Kemungkinan besar sematan nama yang diberikan kepada Datuk Kebon tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang terjadi dengan Datuk Masjid. Jika kegiatan sehari-hari Datuk Masjid selalu beribadah ke masjid, sementara itu Datuk Labang disibukkan dengan ikut berperang, Datuk Kebon disibukkan oleh kegiatan rutinitas hariannya adalah bertani ( berkebon). Setiap tanah yang diperkirakan bisa ditanami tanaman kebutuhan sehari-hari selalu diusahakan oleh Datuk Kebon untuk ditanami. Bahkan bukan hanya berkisar di kawasan desa Jerowaru saja melainkan Keruak, Sepit, Mendane, Senyiur ada juga tanah garapannya. Menurut Marjun ada juga keturunan dari Datuk Kebon yang sampai saat ini tinggal di kawasan yang di sebut di atas.

d.      Datuk Sabo

Dengan gubuk Bawak Sabo yang oleh masyarakatsanadiperkirakan di tempat tersebut banyak sekali ditanam pohon Sabo oleh tokoh yang dikenal sesuai kebiasaaannya ini yaitu menanam Sabo. Meskipun saat ini sudah tidak banyak lagi,namun di sekitar gubuk Bawak Sabo bukti tersebut masih ada berupa adanya pohon Sabo dan sisa-sisanya.

Uraian sejarah singkat di atas memberikan gambaran mengenai asal usul para bangsawan ini,khususnya yang berada di Jerowaru bat ( barat ) terutama di gubuk Tembok dan Pelambik. Walaupun di tempat  yang disebut terakhir terdapat perbedaan dalam implementasi adat-istiadat nenek moyangnya. Adapun persebaran bangsawan ini ke Pelambik bertepatan dengan berpindahnya Raden Panji.sebelah satu yang menjadi permasPedalemalahan sekarang adalah asal usul dari bangsawan yang ada di gubuk pedaleman ( gubuk Nenek ) (wawancara Sinerap dan Marjun,  sabtu 10 juli 2010).

Mamik Karniati yang merupakan salah satu dari komunitas bangsawan yang tinggal di gubuk Nenek mengatakan bahwa sampai saat ini masih ada hubungan kekerabatan antara bangsawan yang ada di Jerowaru khususnya di gubuk Nenek dengan bangsawan yang ada di Gerung,Kediri, Pagutan, dan Kopang masih ada. Begitu juga dengan apa yang dikatakan Mamik Jamudin (80) bahwa asal usul dari bangsawan yang ada di gubuk Pedaleman ini bukan berasal dari satu tempat saja melainkan seperti yang dikatakan mamik Karniati di atas. Dari uraian di atas dapat diambil dua kemungkinan, yaitu : (1) Bangsawan yang ada di gubuk Nenek berasal dari berbagai tempat seperti Gerung,Kediri, Pagutan, Kopang dan lain-lain. (2) Bisa saja walaupun saat ini masih ada hubungan kekerabatan dengan tempat-tempat yang disebut tadi namun berasal dari satu tempat kemudian menyebar ke tempat lain. Misalnya asal muasal pertamanya yaitu dari Kopang kemudian menyebar keKediri, Pagutan dan lain-lain maka otomatis walaupun berpisah tempat tinggal namun masih memiliki hubungan kekerabatan. Namun yang lebih jelas kesimpulan yang pertama akan lebih kuat yang kemungkinan walaupun berasal dari daerah yang berbeda namun memiliki tingkatan sosial yang sama pada akhirnya membentuk komunitas tersendiri di tempat yang disebut gubuk Pedaleman (wawancara Mamik Jamudin dan Mamik Karniati,

C.    Stratifikasi Sosial Masyarakat Desa Jerowaru

Stratifikasi social pada masyarakat desa Jerowaru selain berbentuk stratifikasi social terututup ( closed social setratification ) dari sejarahnya, sekaligus juga terdapat stratifikasi social terbuka ( open social setratificaation ) untuk saat ini, bahkan menurut sebagian besar narasumber sudah mulai terasa sejak tahun 1970-1980-an. Stratifikasi sosial tertutup pernah mewarnai kehidupan masyarakat desa Jerowaru pada saaat masih sangat  dihormatinya status kebangsawanan, dimana sangat banyak sekali perbedaan antara golongan masyarakat bangsawan dengan golongan biasa baik dalam bidang ekonomi, sosial maupun budaya. Dalam bidang ekonomi misalnya sebelum tahun 1970-1980-an golongan bangsawan rata-rata memiliki sawah yang cukup luas bila dibandingkan dengan masyarakat biasa pada umumnya, dalam bidang sosial sudah barang tentu sangat dihormati, bahkan dalam bidang adat-istiadat  terdapat juga perbedaan yang dapat dikatakan menonjol, semua ini kata mantan kepala desa Jerowaru yang pernah menjabat selama lima periode, berlaku kurang lebih dari tahun 70-80-an ke bawah. Sementara dari tahun 70-80-an sudah dirasakannya kelonggaran-kelonggaran dalam adat istiadat bangsawan oleh masyarakat biasa yang mana ditunjukkan dengan beberapa sebab seperti berkurangnya kepemilikan atas tanah ynag sangat luas, berkurangnya pendidikan dari golongan bangsawan serta mulai berkembangnya masyarakat biasa baik dalam bidang pendidikan maupun ekonomi, dan juga ditandai dengan berkurangnya adat-istiadat yang dahulunya menjadi aturan yang diharuskan (rit) bagi golongan bangsawan.

Golongan bangsawan di desa Jerowaru konsentrasi tempat tinggalnya berbeda dengan masyarakat biasa pada umumnya. Terdapat dua tempat yang dikenal sangat memegang teguh adat-istiadat kebangsawanannya yaitu di gubuk Nenek atau yang biasa dikenal dengan gubuk Pedaleman dan gubuk Tembok di kadus Jerowaru, sedangkan gubuk Nenek berada di kadus Jerowaru bat (barat). Selain itu mereka juga bergaul dengan golongannya untuk sehari-harinya, begitu juga dengan golongan masyarakat biasa yang seolah-olah terdapat sekat yang memisahkan antara golongan bangsawan dengan golongan masyarakat biasa dan sampai saat ini adanya konsentrasi pemisahan tempat tinggal antara golongan bangsawan dengan golongan masyarakat biasa masih bisa ditunjukkan. Pada umumnya dapat dilihat dari masih berkumpulnya tempat tinggal golongan bangsawan di satu tempat meskipun untuk saat ini gubuk yang ditempati golongan bangsawan dan dahulunya hanya ditempati golongannya saja sudah ada masyarakat biasa. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa selama tahun 70-an  adanya stratifikasi sosial tertutup ini benar-benar dirasakan (wawancara Lalu Abdul Hamid, kamis 15 juli 2010).

Dari keenam kadus yang terdaftar secara administratif dan tiga kadus perwakilan, dimana konsentrasi tempat tinggal golongan bangsawan ini yaitu di kadus Jerowaru timuk (timur), Jerowaru bat (barat) dan kadus Jerowaru daye (utara). Sementara di kadus-kadus lain hanya segelintiran orang saja. Misalnya saja di kadus Jerowaru Bat. Dari 1047 warganya yang terbagi menjadi enam RT yaitu RT gubuk Tengak, RT gubuk Nenek, RT gubuk Gora, RT gubuk Sekilat dan RT gubuk Tutuk. Konsentrasi tempat tinggal keluarga bangsawan sampai saat ini yaitu di RT gubuk Nenek atau biasa disebut dengan istilah Pedaleman. Adapun bangsawan di kadus Jerowaru Bat adalah 61 orang, dengan perincian seperti tertera  pada table di bawah ini.

Tabel 4.3 Nama-nama penduduk bangsawan kadus Jerowaru Bat.

No Nama Lengkap Umur Status
1 Lalu Rasdin 25 tahun Belum kawin
2 Bq. Serah 20 tahun Sudah kawin
3 H. L. Lukmanul Hakim 58 tahun Sudah kawin
4 Mamik Sumiati 56 tahun Sudah kawin
5 Lalu Muhlis 22 tahun Sudah kawin
6 Mamik Abdul Munir 31 tahun Sudah kawin
7 Mamik Raehanun 49 tahun Sudah kawin
8 Lalu Mashur 21 tahun Belum kawin
9 Lalu Zakaria 29 tahun Sudah kawin
10 Baiq Ayuni 38 tahun Sudah kawin
11 Baiq Rahmawati 23 tahun Sudah kawin
12 L. Wire Bakti 18 tahun Sudah kawin
13 Mamik Aluh Harida 43 tahun Sudah kawin
14 Baiq Aluh Harida 24 tahun Belum kawin
15 Mamik Ida 41 tahun Sudah kawin
16 Baiq Masni 31 tahun Sudah kawin
17 Baiq Mundre 31 tahun Sudah kawin
18 Mamik Muhur 74 tahun Sudah kawin
19 Baik Lamijah 33 tahun Sudah kawin
20 Lalu Agus Satriadi 24 tahun Sudah kawin
21 Lalu Zulkarnain 26 tahun Sudah kawin
22 Lalu Satrah 57 tahun Sudah kawin
23 Lalu Agus Satriawan 24 tahun Belum kawin
24 Baiq Rusniati 33 tahun Sudah kawin
25 Mamik Mahrap 71 tahun Sudah kawin
26 Lalu Maswan 35 tahun Sudah kawin
27 Bq. Mulyana Darma Yanti 26 tahun Belum kawin
28 Lalu Sahirudin 23 tahun Belum kawin
29 Bq. Helisnaeni 30 tahun Belum kawin
30 Lalu Khaerul Furqan 18 tahun Sudah kawin
31 Lalu Ishak 45 tahun Belum kawin
32 Baik Asporiah 33 tahun Belum kawin
33 Bq. Suara Warti 24 tahun Belum kawin
34 Baiq Jumakiyah 30 tahun Sudah kawin
35 Lalu Hasbullah 41 tahun Sudah kawin
36 Lalu Umar 50 tahun Sudah kawin
37 Baiq Hadijah 45 tahun Sudah kawin
38 L. Juliadi Satriawan 31 tahun Sudah kawin
39 Bq. Mustika Riani 30 tahun Sudah kawin
40 Baiq Asriani 33 tahun Sudah kawin
41 Baiq Is Pujaiah 29 tahun Sudah kawin
42 Baiq Zurijah 31 tahun Sudah kawin
43 Lalu Burhanudin 20 tahun Belum kawin
44 Lalu Zul Pahri 31 tahun Sudah kawin
45 Baik Zakiyah 24 tahun Sudah kawin
46 Baiq Rini 18 tahun Belum kawin
47 Lalu Jaelani 25 tahun Sudah Kawin
48 Lalu Abd. Hanan 45 tahun Sudah kawin
49 Bq. Ainul Mariana 22 tahun Belum kawin
50 Lalu Mustafa Kamal 20 tahun Belum kawin
51 Baiq Saodah 49 tahun Sudah kawin
52 Lalu Dodik 19 tahun Belum kwin
53 Lalu Purnama Haji 19 tahun Belum kawin
54 Lalu Darman Huri 30 tahun Sudah kawin
55 Lalu Darwisah 46 tahun Sudah kawin
56 Bq. Nurwati 19 tahun Belum kawin
57 Mamik Sumaini 72 tahun Sudah kawin
58 Mamik Jamudin 80 tahun Sudah kawin
59 Baiq Jaminah 18 tahun Belum kawin
60 Mamik Jamirah 23 tahun Sudah kawin
61 Lalu Agus 20 tahun Sudah kawin

(Sumber: Salinan daftar pemilih tetap pemilihan umum kabupaten Lomb-

timur tahun 2009.)

Lebih khusus lagi dari keenam puluh satu warga di kadus Jerowaru Bat (barat) yang tergolong bangsawan ini 80%nya tinggal di RT gubuk Nenek. Dari 101 jumlah warga di gubuk Nenek terdapat 48 warga yang tergolong bangsawan. Jadi dari 61 warga bangsawan di kadus Jerowaru bat (barat) terdapat 43 warga berada di gubuk Pedaleman, hingga jelas dari data yang ada menunjukkan pernah adanya konsentrasi bangsawan. Untuk lebih jelasnya nama warga yang tergolong bangsawan dan tinggal di gubuk Nenek dapat dilihat dari table di bawah ini.

Tabel 4. 4 Nama penduduk bangsawan Jerowaru bat gubuk Nenek.

No Nama Lengkap Umur Status
1 Lalu Zakaria 29 tahun Sudah kawin
2 Bq. Ayuni 38 tahun Sudah kawin
3 Bq. Rahmawati 23 tahun Belum kawin
4 Lalu Wire Bakti 18 tahun Belum kawin
5 Mamik Aluh Harida 43 tahun Sudah kawib
6 Mamik Ida 41 tahun Sudah kawin
7 Baiq Masni 33 tahun Sudah kawin
8 Baiq Mundre 31 tahun Sudah kawin
9 Mamik Muhur 74 tahun Sudah kawin
10 Baiq Lamijah 33 tahun Sudah kawin
11 Lalu Agus Satriadi 24 tahun Sudah kawin
12 Mamik Rustam 66 tahun Sudah kawin
13 Lalu Zulkarnaen 26 tahun Sudah kawin
14 Lalu Satrah 57 tahun Sudah kawin
15 Lalu Agus Satriawan 24 tahun Sudah kawin
16 Bq. Rusniati 33 tahun Belum kawin
17 Mamik Mahrap 71 tahun Sudah kawin
18 Lalu Maswan 35 tahun Sudah kawin
19 Bq. Mulyana Darma Yanti 26 tahun Sudah kawin
20 Lalu Sahirudin 23 tahun Belum kawin
21 Bq. Hajjah Karniati 55 tahun Sudah kawin
22 Bq. Helis Naeni 30 tahun Belum kawin
23 Lalu Kaherul Furqon 18 tahun Belum kawin
24 Lalu Ishak 45 tahun Sudah kawin
25 Baiq Asporiah 33 tahun Belum kawin
26 Bq. Suara Warti 24 tahun Belum kawin
27 Baiq Jumakyah 30 tahun Belum kawin
28 Lalu Sahabullah 41 tahun Sudah kawin
29 H. L. Umar 51 tahun Sudah kawin
30 Bq. Hadijah 45 tahun Sudah kawin
31 Lalu Juliadi Sariyawan 31 tahun Sudah kawin
32 Baiq Mustika Yani 30 tahun Sudah kawin
33 Baiq Asriani 31 tahun Sudah kawin
34 Bq. Is Pujaiah 29 tahun Sudah kawin
35 Baiq Zarijah 31 tahun Sudah kawin
36 H. L. Karniati 59 tahun Sudah kawin
37 Lalu Burhanudin 20 tahun Belum kawin
38 Lalu Dodik 20 tahun Belum kawin
39 Baik Haeruni 32 tahun Sudah kawin
40 Lalu Purnama Hajji 21 tahun Sudah kawin
41 Lalu Zul Fahri 31 tahun Sudah kawin
42 Baiq Zakiyah 24 tahun Sudah kawin
43 Baiq Rini 18 tahun Belum kawin
44 Lalu Jaelani 25 tahun Belum kawin
45 Lalu Abdul Hanan 45 tahun Sudah kawin
46 Baiq Ainul Mariana 22 tahun Belum kawin
47 Lalu Mustofa Kamal 20 tahun Belum kawin
48 Baiq Saodah 49 tahun Sudah kawin

(Sumber: Salinan daftar pemilih tatap pemilihan umum kabupatenLombok

timur tahun 2009)

Nama-nama di atas menunjukkan hal yang cukup jelas, sesuai dengan apa yang dkatakan Mamik Karniati bahwa sebelum tahun 80-an di gubuk Nenek ini hanya dihuni oleh golongan bangsawan saja, meskipun untuk saat ini sudah pula ditempati oleh golongan masyarakat biasa.

Selain konsentrasi bangsawan di RT gubuk Nenek, terdapat juga di kadus Jerowaru daye (utara) tepatnya di RT gubuk Tembok, yang mana sebelum tahun 70-an seperti dikatakan Sineref dan Mamik Karniati tempat ini dahulunya dikelilingi tembok sebagai pemisah tempat tinggal antara golongan bangsawan dengan golongan jajar karang. Namun saat ini yang tinggal hanya puing-puingnya saja karena sudah dimasuki juga oleh masyarakat biasa. Sedangkan di kadus Jerowaru timuk (timur) konsentrasi bangsawan terdapat di Pelambik.

Kadus Jerowaru daye dengan jumlah warga 909 orang dengan 96 orang termasuk bangsawan yang tersebar di 12 gubuk (RT) yaitu Bale Belek, Gubuk Lando, Gubuk Bawak Sabo, Tete Batu, Gubuk Ponpes, Panseng, Otak Dese, Heler, Gubuk Tembok, Karang Temu, Gubuk Nunang, dan gubuk Jerowaru daye sendiri. Dibandingkan dengan kadus Jerowaru bat persebaran bangsawan umtuk saat inidi kadus Jerowaru Daye sudah mulai merata, meskipun di Gubuk Tembok setidaknya masih tersisa kalau tempat tersebut pernah dijadikan konsentrasi tempat tinggal bagi golongan bangsawan. Karena dari semua gubuk yang ada di kadus Jerowaru Bat persebarannya yang paling banyak sampai saat ini adalah di gubuk Tembok, yaitu 33 orang dari jumlah bangsawan yang ada.

Tabel 4. 5 Nama-nama penduduk bangsawan gubuk Nenek.

No Nama Lengkap Umur Status
1 Mamik Herianto 42 tahun Sudah kawin
2 Baiq Darmini 41 tahun Sudah kawin
3 Lalu haji muh. Satrah 61 tahun Sudah kawin
4 H. L. Wiredarme 51 tahun Sudah kawin
5 Bq. Roni harmawati 21 tahun Belum kawin
6 Baiq Wasiah 44 tahun Sudah kawin
7 Mamik Elmiwati 41 tahun Sudah kawin
8 Bq. Elniwati 20 tahun Belum kawin
9 H. L. Ahmad Amin 63 tahun Sudah kawin
10 Lalu Samsul Bahri 25 tahun Sudah kawin
11 Bq. Wiradatul Hidayani 23 tahun Sudah kawin
12 Lalu Makbul 22 tahun Sudah kawin
13 Lalu Herman 28 tahun Belum kawin
14 Baiq Etik Fitriani 21 tahun Belum kawin
15 Lalu Abdul Hamid S.Pd 37 tahun Sudah kawin
16 Lalu Kusuma Utama 24 tahun Sudah kawin
17 Lalu Kamarudin 31 tahun Sudah kawin
18 Mamik Seruni 50 tahun Sudah kawin
19 Lalu Zaenal Abidin 47 tahun Sudah kawin
20 Lalu Ratnawe 73 tahun Sudah kawin
21 Lalu Junaidi 40 tahun Sudah kawin
22 Mamik Sofyan 44 tahun Sudah kawin
23 Lalu Masrun 42 tahun Sudah kawin
24 Lalu Haeruman 46 tahun Sudah kawin
25 Bq. Hajjah Wisnu 47 tahun Sudah kawin
26 Lalu Harmaen 44 tahun Sudah kawin
27 Baiq Rukmini 40 tahun Sudah kawin
28 Baiq Masirah 45 tahun Sudah kawin
29 Lalu Indi Sekar 29 tahun Sudah kawin
30 Mamik Sekar 64 tahun Sudah kawin
31 Mamik Suartum 60 tahun Sudah kawin
32 Mamik Husna 53 tahun Sudah kawin
33 Mamik Sukirman 56 tahun Sudah kawin

(Sumber. Salinan daftar  pemilih tetap pemilihan umum kabupatenLombok

timur tahun 2009)

Sedangkan di kadus Jerowaru Timuk dari 1065 warganya terdapat 71 masyarakatnya yang termasuk bangsawan sekaligus juga Bape dan persebarannya cukup merata di setiap gubuk, karena di kadus Pelambik tidak ada konsentrasi khusus tempat tinggal para bangsawan. Jadi dari keenam kadus difinitif dan tiga kadus perwakilan di desa Jerowaru terdapat tiga kadus yang menjadi konsentrasi tempat tinggal para bangsawan meskipun di kadus-kadus yang lain juga ada, namun jumlahnya sangat minim. Misalnya di kadus Montong Wasi dengan jumlah warganya yang begitu banyak, hanya empat orang yang termasuk golongan bangsawan, begitu juga dengan empat kadus lainnya (Sumber: Monografi desa Jerowaru tahun 2009/ 2010).

Ketika kita berbicara mengenai setratifikasi sosial maka sudah barang tentu terdapat beberapa hal yang membedakan dengan golongan yang lain baik di atas golongannya maupun setrata yang berada di bawah golongannya. Di bawah ini akan kita bahas apa saja yang membedakan antara golongan bangsawan dengan masyarakat biasa, khususnya sebelum tahun 70-an dalam kehidupan bermasyarakat.

  1. Kekayaan dan ekonomi

Mamik Mahrap mengatakan bahwa sebelum tahun 60 ke bawah rata-rata golongan bangsawan memiliki sawah yang cukup luas sebagai sumber mata pencaharian, sedangkan sebagai buruhnya adalah masyarakat biasa. Meskipun seperti yang dikatakan Mamik Samsumi (60) pada sebelum tahun 70-an hanya dikenal satu kali panen dalam satu tahun. Namun setidaknya mereka lebih banyak memiliki hasil tanaman untuk dijual maupun untuk keperluan hidup sehari-hari bila dibandingkan dengan sebagian dari masyarakat biasa yang hanya sebagai buruh atau hanya memiliki sawah yang sedikit. Bisa dikatakan seperti apa yang diinformasikan Mamik Karniati bahwa para bangsawan ini hanya bekerja menjadi buruh di sawahnya sendiri. Sinerep (51) yang saat ini menjabat sebagai kadus Jerowaru daye (utara) mengatakan ketika masih muda dan memiliki teman yang cukup banyak dari keturunan bangsawan (Lalu)  rata-rata tidak ada yang mengambil upah di sawah orang lain seperti kebiasaan yang dilakukan anak masyarakat biasa yang kebanyakan sebagai buruh di sawah orang lain.

Terdapat beberapa faktor penyebab rata-rata para bangsawan di desa Jerowaru  memiliki tanah atau sawah yang cukup luas yaitu :

  1. Mengambil tanah milik orang lain

Seperti yang dikatakan Mamik Sekar (62) jika ada orang yang memiliki tanah atau sawah namun tidak pernah dikerjakan, ditanami ataupun diolah dan hanya sekedar di tanda bahwa atas namanya yang memiliki tanah tersebut, maka biasanya tanah yang seperti ini sering diambil orang lain terutama dalam hal ini golongan bangsawan yang sering melakukannya (wawancara Mamik Sekar, selasa 20 juli 2010).

  1. Keuletan dan Ketekunan

Lalu Satrah (57) mengatakan bahwa walaupun rata-rata para bangsawan memiliki tanah yang cukup luas, namun jika terdapat tanah yang tidak ada pemiliknya walaupun masih berupa hutan biasanya dijadikan sebagai sawah atau rau. Hal ini sekaligus juga banyak dilakukan masyarakat biasa (wawancara Lalu Satrah, selasa 20 juli 2010).

  1. Sosial Kemasyarakatan

Golongan bangsawan kata Lalu Abdul Hamid (45) kadus Jerowaru bat (barat) ketika ada acara Roah,Begawe maupun Zikiran dalam jamuan makannya selain tempatnya duduk dibedakan, makanannya juga berbeda. Bagi para bangsawan biasanya diberikan pesajik (makanan) yang lebih banyak dan berbeda dari masyarakat biasa, dan biasanya menggunakan taplak yang lebih bagus. Selain yang disebutkan di atas dalam pergaulan sehari-hari ketika masyarakat biasa bertemu dengan Mamik-Mamik di jalan, biasanya dilakukan penghormatan dengan cara sedikit menundukkan kepala sekaligus dengan mngucapkan kata nurge sekaligus dengan menggunakan bahasa halus sebisanya. Selain yang sifatnya umum seperti Besiru (nyiru), gotong royong dan sebagainya. Adapun seperti yang sudah dijelaskan di atas, karena konsentrasi tempat tinggal dari para bangsawan ini otomatis juga lebih banyak bergaul dengan sesama bangsawannya. Adapun bentuk sosial kemasyarakatan bersama yang sering dilakukan bersama-sama dengan masyarakat secara umum adalah upacara Selamet Dese yang dilakukan setiap tahun sekali bahkan sampai saat ini dengan memotong seekor Sapi atau Kerbau kemudian diadakan Roah atau Zikiran di Bale Belek (wawancara Lalu Abdul Hamid, selasa 20 juli 2010).

  1. Adat Istiadat

Adat istiadat merupakan cermin dari lokal genius yang dikembangkan oleh masyarakat secara turun- temurun, walaupun akan selalu terdapat modifikasi sesuai dengan perkembangan zaman. Masyarakat Desa Jerowaru yang dalam setratifikasi sosialnya terdapat dua golongan yang berbeda, dimana masing- masing dari golonganya mengikuti adat- istiadat yang berlaku sesuai dengan adat-istiadat yang ditinggalkan oleh nenek moyangnya, meskipun terdapat banyak kesamaan walaupun dari golongan setratifikasi sosial yang berbeda, hal ini selain disebabkan kesamaan tempat tinggal secara geografis maupun persamaan- persamaan yang lain seperti agama, pola pikir dan lain sebagainya.

Dalam hal adat- istiadat di Desa Jerowaru karena terdapat dua golongan sosial yang berbeda, maka terdapat perbedaan- perbedaan yang dapat kita identifikasi, namun hal ini akan dijelaskan pada bagian sistem kekerabatan, karena akan menyangkut peraturan yang dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari oleh masing-masing golongan dan ditularkan secara kekerabatan sesuai dengan golongannya. Adapun contoh kecil dari adanya perbedaan tersebut dapat dilihat pada saat menggunakan pakaian adat, dalam hal ini sesuai dengan adat bangsawan, para bangsawan harus menggunakan Leang (Sabuk Tamper) yang lebih panjang dari pada Leang masyarakat biasa dan hal ini ukurannya sudah dibuatkan sama, yang ukurannya harus di bawah lutut. Selebihnya perbedaan-perbedaan adat-istiadat di desa Jerowaru secara panjang lebar akan dibahas pada bagian sistem kekerabatan.

Lebih jelas jika diklasifikasikan sesuai dengan setrata sosialnya, maka di desa Jerowaru terdapat tingkatan-tingkatan setrata sosial yaitu sebagai berikut :

1.      Golongan Bangsawan (Mamik)

Posisis setrata sosial Mamik ini berada di atas golongan Bape maupun masyarakat biasa yang dahulunya dikenal dengan nama Jajar Karang. Di mana di desa Jerowaru sesuai dengan setrata sosialnya merupakan golongan yang paling tinggi sebab tidak ada Raden atau golongan yang lebih tinggi lainnya yang tinggal disana. Seperti dikatakan di atas bahwa bahwa dari segi ekonomi,sosial maupun adat-istiadat terdapat perbedaan dengan golongan yang ada di bawahnya.

2.      Golongan bangsawan (Bape)

Bape merupakan golongan tersendiri di desa Jerowaru, kedudukan setrata sosialnya berada satu tingkat di bawah Mamik dan satu tingkat di atas Amak, namun jelas golongan Bape ini termasuk golongan bangsawan, namun posisisnya di bawah Mamik. Secara pasti belum bisa diidentifikasi perbedaan yang jelas antara mamik dan Bape ini. Pada masyarakat biasa

juga mengenal namanya Bape, namun hal ini merupakan sebutan bagi adaik dari ayah orang yang memanggil tersebut. Namun yang jelas seperti yang dikatakan Lalu Abdul Hamid dan Mamik Karniati bahwa golongan Bape ini anaknya bergelar Lalu, namun jika sudah memilki anak akan bergelar seperti orang tuanya yaitu Bape lagi, sesuai dengan gelar kebangsawanan orang tuanya.

3.      Masyarakat Biasa (jajar karang) (wawancara Lalu Abdul Hamid dan Mamik Karniati, selasa 3 agustus 2010).

D.  Sistem Kekerabatan Masayarakat Bangsawn Desa Jerowaru

Suatu kelompok seperti yang dikatakan Koentjaraningrat adalah kesatuan individu yang diikat oleh sekurang-kurangnya 6 unsur, salah satunya yaitu adanya system norma-norma yang mengatur tingkah laku warga kelompok. Jadi dalam system kekerabatan bukan hanya kita tahu adanya hubungan kekerabatan dalam kelompok tersebut, tetapi menyangkut juga norma-norma ataupun adat-istiadat yang mengatur dalam kehidupan sosialnya. Baik itu dalam keluarga inti, keluarga luas, klen kecil maupun klen besar.

Ketika membahas mengenai system kekerabatan ini maka yang akan menjadi pembahasan kita sangat luas sekali, namun disini karena berkaitan dengan sejarah system kekerabatan pada masyarakat bangsawan Jerowaru maka yang akan menjadi bahasan adalah bagaimana system kekerabatan masyarakat bangsawan Jerowaru sebelum tahun 1970 -1975-an, termasuk system perkawinan, adat-istiadat atau norma-norma, bahasa yang digunakan dan lain-lai, memungkinkan untuk dikaji lebih dalam.

  1. System Perkawinan

Setiap kelompok masyarakat yang berbeda baik di bedakan oleh jarak geografis, golongan, maupun agama memiliki system perkawinan, adat-istiadat maupun bahasa yang berbeda. Contoh kecil pada masyarakat Jerowaru yang walaupun secara spasial tempat tinggalnya bersamaan, namun karena memiliki golongan sosial yang berbeda maka terdapat juga perbedaan dari beberapa aspek yang disebut tadi, meskipun pesamaan itu tidak bisa di hilangkan.

1. Pasangan Ideal Menurut Sistem Kekerabatan Pada Golongan Bangsawan Desa Jerowaru.

Sudah menjadi ciri umum bahwa keluarga dekat termasuk misan maupun sepupu sangat dianjurkan untuk menjadi pasangan hidup bagi anak-anaknya, yang bukan hanya di Jerowaru namun juga di tempat lain kadang-kadang banyak yang mengidealkan pasangan anak-anaknya adalah kerabat dekat. Bangsawan jerowaru dalam hal mencari pasangan hidup (suami/ istri) bagi anak-anaknya terutama yang perempuan sering menjadi bagian dari interfensi dari orang tuanya, tidak seperti anak laki-laiki yang boleh menentukan pasangannya sendiri secara bebas.

Terkait dengan hal diatas Mamik Sekar dan Mamik Karniati mengatakan bahwa bagi anak-anak perempuan sebelum tahun 1970 -1975-an kalaupun tidak kawin dengan keluarga dekatnya, paling tidak mereka harus menikah dengan laki-laki yang golongannya sederajat, yang dalam hal ini tentu adalah anak dari bangsawan juga (wawancara Mamik Sekar Dan Mamik Karniati, rabu 11 agustus 2010).

Apabila hal tersebut tidak di indahkan dan anak perempuan tersebut kawain dengan cara dilarikan oleh anak dari masyarakat biasa maka anak tersebut hususnya di Gubuk Tembok dan Gubuk Nenek dilakukan pembuangan (beteteh) oleh keluarganya. Bahkan walaupun yang mengambil anaknya tersebut berasal dari golongan bangsawan namun tempat tinggalnya jauh dari Jerowaru dan keluarga dari pihak perempuan akan mencari tahu tentang kebenaran golongan sosialnya sebelum nantinya diberikan izin untuk dinikahkan.

Husus bagi bangsawan di Jerowaru ketika membawa pulang seorang perempua ke ruamah calon pengantin laki-laki, yang pertama ada yang disebut melaian dan yang kedua dengan cara ngelamar. Tradisi melaian bukan hanya pada golongan bngsawan akan tetapi merupakan budaya umum masyarakat lintas golongan. Sedangkan dengan cara melamar (ngelamar) biasanya dilakukan oleh golongan bangsawan.

Melaian dalam adat sasak bukan kerena orang tua gadis tersebut tidak setuju, melainkan merupakan suatu cara yang oleh sebagian masyarakat dipandang paling ideal, karena ada anggapan bahwa jika anaknya diambil dengan cara diminta sering dianggap suatu penghinaan dan diibaratkan seperti meminta barang dagangan saja. Namun anggapan itu tidak semuanya benar di setiap masyarakat, di desa Jerowaru misalnya tradisi melaian ini selain merupakan adat tersendiri buakan berarti jika diminta dengan baik-baik ada anggapan yang negatif, melainkan adanya kebiasaan pendukung yang melegalkan melaian ini. Jelasnya di desa Jerowaru teradisi melaian adalah merupakan tradisi bersama baik pada golongan bangsawan maupun masyarakat biasa. Husus bagi anak bangsawan melaian dilakukan kadang-kadang atas dasar ketidak setujuan orang tua si gadis dan biasanya disinilah terjadi apa yang disebut beteteh, lain halnya jika dengan menggunakan tradisi melaian namun laki-lakinya dari golongan bangsawan tidak akan menjadi suatu masalah (wawancara Mamik Karniati, rabu 11 agustus 2010).

Dalam prakteknya terdapat interpensi dari orang tua bangsawan hususnya bagi anak perempuan terutama dalam hal perkawinan ini, bahkan sampai terjadi beteteh bagi yang kawin dengan bukan golongan bangsawan. Namun seperti yang dikatakan Lalu Ratnawe (73) pada umumnya anak gadis pada saat itu sangat patuh dan taat pada perintah orang tuanya, apalagi menyangkut pasangan hidup yang begitu penting sehingga seorang gadis harus mengikuti sistem adat yang sesuai dengan tingkatan sosial orang tuanya. Sehingga ada kesadaran tersendiri dalam menentukan pasangan hidup, daripada nantinya selain dikeluarkan dari keluarga sekaligus dianggap melanggar aturan dalam adat-istiadat, dan otomatis sedikit tidak ada perasaan durhaka pada orang tuanya, sehingga seperti yang dikatakan Mamik Karniati mereka pada umumnya sangat patuh dan menaati kepurusan orang tuanya. Tidak sama halnya dengan dengan anak laki-laki yang diperbolehkan menentukan istrinya dari kalangan manapun (wawancara Lalu Ratnawe, kamis 19 agustus 2010).

Walaupun di desa Jerowawru dikenal istilah beteteh, namun terdapat perbedaan antara istilah beteteh dengan bangsawan di tempat lain yang sangat kental adat kebangsawanannya dan membuang sama skali anak perempuannya jika kawin dngan bukan sesama bangsawan. Marjun mengatakan bahwa walaupun di desa Jerowaru dikenal adanya beteteh namun tidak dibuang seumur hidup, artinya jika perempuan tersebut sudah bercerai dengan suaminya yang bukan dari golongan bangsawan bisa saja diterima dalam keluarganya, walaupun secara tidak langsung. Misalnya setelah bercerai ada saja keluarga ibu atau ayahnya yang memberikannya tempat tinggal dan dari sinilah sedikit demi sedikit akan menjadi bagian dari keluarga asalnya (wawancara Marjun, kamis 8 juli 2010).

  1. Prosesi Adat Dalam Sistem Perkawinan

Secara garis besar urutan prosesi dalam perkawinan antara golongan perwangse dan jajarkarang ini terdapat kesamaan, dan  yang membedakannya hanyalah isi dari setiap prosesi yang dilaksanakan. Singkatnya dimulai dari pengambilan pengantin perempuan, kemudian dilanjutkan dengan besejati, kemudian nyelabar, disusun kemudian dengan prosesi bait wali, rebak pucuk, sorong serah dan diakhiri dengan acara nyongkolan (nyokor). Lebih jelasnya dibawah ini akan diuraikan satu persatu dari urutan prosesi tersebut yaitu sebagai berikut:

  1. Melaian (mengambil pengantin perempuan)

Proses pertama yang dilakukan ialah membawa pengantin perempuan kerumah keluarga memepelai laki-laki, karena pada malam pertama husus bagi perempuan yang satu desa tidak boleh dibawa langsung pulang kerumah calon suaminya, kecuali perempuan tersbut berasal dari luar desanya.

b.      Besejati

Dalam prosesi ini pihak laki-laki mengirim utusan kerumah pengantin prempuan untuk memeberitahukan kemana dan dengan siapa anaknya kawin. Walaupun kadang-kadang dari piha perempuan sudah tahu, namun prosesi adat harus dilakukan. Prosesi ini dilakukan setelah  dua malam atau paling tidak tiga malam sesudah pengantin perempuan tinggal dirumah calon suaminya.

c.       Nyelabar

Nyelabar adalah prosesi dimana didalamnya dibicarakan mengenai biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak laki-laki. Dalam prosesi ini diwakili oleh tokoh adat, dimana semua keluarga dekat dari pihak perempuan hadir untuk memusyawarahkannya. Tidak pada saat besejati yang hanya pemberitahuannya kepada orang tua pengantin perempuannya saja.

d.      Bait Wali

Adapun yang dibahas dalam hal ini setelah diputuskannya jumlah biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak laki-laki dalam acara Nyelabar, prosesi bait wali ini memutuskan penentuan waktu akad nikah akan dilaksanakan.

e.       Rebak Pucuk

Dalam prosesi ini dilakukan pemegatan akhir dari biaya yang harus dikluarkan oleh pihak laki-laki, karena biasanya secara umum biaya yang harus dikeluarkan tidak bisa diputuskan pada saan mengambil wali, maka setelah itu dalam acara rebak pucuk ini benar-benar diputuskan mengnai biaya yang harus di keluarkan oleh pihak laki-laki sebelum di nikahkan.

f.        Sorong serah

Istilah sorong serah ini sesuai juga dengan makna yang terkandung ari namanya yaitu merupakan proses pemegatan dari prosesi adat yang harus dilakukan. Dimana bisa dikatakan termasuk titik final dari prosesi pernikahan. Dalam sorong serah inilah terdapat golongan bangsawan dengan masyarakat biasa. Dimana dalam prosesi ini ada yang disebut bayah aji (harga) sesuai dengan golongan sosialnya. Golongan bangsawan harus membayar aji sebanyak enam puluh enam ribu rupaiah, sedangkan masyarakat biasa hanya membayar aji sebanyak empat puluh empat ribu rupiah. Selain perbedaan bayah aji diatas pada golongan bangsawan juga dikenal dengan adanya bewacan dalam acara sorong serah ole golongan bangsawan yang mana hal ini tidak berlaku bagi masyarakan biasa pada saat itu.

g.      Nyongkolan (nyokor).

Prosesi paling akhir dari beberapa adat yang harus di selesaikan dalam perkawinan adalah acara nyongkolan ini.

Selain prosesi diatas ada juga prosesi lain yang manaprosesi ini biasanya dilakukan oleh golongan bangsawan dan masyarakat dan memiliki kekayaan yang cukup banyak yaitu apa yang disebut sebagai gantiran. Dimana dalam prosesi ini pihak pengantin perempuan diberikan segala kelengkapan untuk keperluan dalam begawe dan hal ini dibicarakan dalam acara selabar.  Bedanya dengan selabar biasa dalam hal ini adalah tidak ada lagi barang yang haus dicari untuk keperluan begawe bagi pihak perempuan karena semuanya sudah disediakan oleh pihak pengantin laki-laki.  Sedangkan kalau selabar biasa hanya menyepakati jumlah uang yang harus dikeluarkan tanpa tanpa kelengkapan yang lain seperti dalam gantiran. Mamik Karniati mengatakan bahwa gantiran ini biasanya dilakukan oleh golongan bangsawan dan masyarakat biasa yang kaya (wawancara Sinerap dan Mamik Karniati, 26 agustus 2010).

  1. Bahasa

Bahasa menunjukkan identitas sebua bangsa, kelompok masyarakat maupun tingkat status sosial. Sesuai juga dengan apa yang dikatakan Mamik Karniati bahwa bahasa menunjukkan status sosial tersendiri pada masyarakat desa Jerowaru sebelum tanun 1970-an. Bahkan setiap anak dari golongan bangsawan hususnya di gubuk Pedaleman dan gubuk Tembok harus bisa berbahasa halus dan itulah yang diusahakan oleh masing-masing orang tua mereka dalam komunikasi sehari-hari.

Bahasa halus bukan hanya digunakan sebagai bahasa dalam wacan saja seperti saat ini, melainkan dijadikan bahasa pergaulan sehari-hari sesama bangsawan. Salah satu sebab juga anak bangsawan cepat menguasai bahasa halus ini karena lingkungan yang menumbuhkannya selalu menggunakan bahasa halus sehingga peroses pembiasaan secara tidak sadar mempengaruhi generasi mudanya dalam hal bahasa. Namun karena semakin terbukanya dari masyarakat yang bisa dikatakan inklusif berubah menjadi eksklusif dan tejadilah kontak sosial yang lebih dominan dengan masyarakat biasa sehingga dengan pergaulan tersebut sedikit demi sedikit berpengaruh terhadap melemahnya bahasa halus (wawancara Mamik Karniati, 26 agustus 2010).

  1. Adat-istiadat

Adat-istiadat yang merupakan norma-norma sosial merupakan peraturan hidup sehari-hari yang berlaku secara turun temurun sekaligus juga menjadi bagian dari perbedaan status sosial pada masyarakat yang berbeda secara hierarkis dalam masyarakat. Mengenai adat-istiadat ini sedikit tidak sudak dibahas pada bagian sebelumnya, namun disini akan dibahas sedikit mengenai adat-istiadat tersebut terutama yang terkait dengan sistem kekerabatan yang berlaku secara turun- temurun.

Dalam hal adat-istiadat ini yang akan menjadi kajian dalam bagian ini terkait dengan dende-denda (denda) dan pergaulan sosial, karena adat-istiadat lainnya sudah dibahas sebelumnya.adapun dende- dende yang dimaksud dalam hal ini seperti dende pati, dende ngampasaken, dende gile bibir, dan dende gile tangan.

Adapun dende pati seperti yang dikatakan Lalu Abdul Hamid dan Mamik Karniati terjadi apabila seorang laki-laki memaksa perempuan dengan unsur paksaan bahkan sampai mencium maupun memegang bag ian-bagian yang dilarang pada perempuan yang masih gadis. Dalam hal ini kalau perempuan tidak setuju untuk dinikahkan maka jatuhlah dende pati tersebut, dengan dende sebanyak empat puluh satu ribu rupiah.

Sedangkan dende gile bibir dikenakan apabila seorang menyumpah oarang lain dengan kata-kata kotor maka jatuhlah dende padanya sebanyak sembilan sampai sepuluh ribu rupiah. Selanjutnya adalah dende gile tangan, dalam hal ini walaupun tanpa disengaja seorang laki-laki menyentuh bagian yang dilarang pada perempuan maka didenda sebanyak dende pada gile bibir. Adapun dende ngampasaken terjadi apabila pengantin baik laki-laki maupun perempuan sebelum prosesi adat selesai, atau sorong serah belum dilakukan walapun rumah pengantin laki-laki berdekatan dengan rumah pengantin perempuan maka didenda sebanyak sembilan sampai sepuluh ribu rupiah seperti pada denda yang disebutkan sebelumnya (wawancara Mamik Karniati dan L. abd. Hamid, rabu 11 agustus 2010).

Selain dende-dende yang disebut diatas, saling hormat-menghormati antara sesama merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pergaulan hidup bersama terutama dengan orang yang lebih tua, baik antara bangsawa denga sesama bangsawan maupun dengan masyarakat biasa. Misalnya berkata dengan lemah lembut, sopan santun dalam bertutur kata dn lain sebagainya. Dalam sopan santun misalnya ketika kita lewat di rumah orang maka kita harus bilang tabek walaupun rumahnya cukup jauh dari jalan kita lewat tersebut. Begitu juga jika ada orang midang, walaupun ada atau tidaknya orang dalam rumah dekat jalan yang dilewati  tersebut tetap harus mengatakan tabek, kalau tidak maka dikataka endek ketaon base (tidak tahu adat) secara langsung.

  1. Pembagian Hak Waris

Pembagian hak waris di desa Jerowaru hususnya pada keluarga bangsawan tidak terdapat aturan yang tetap. Merupakan kebisaan umum, biasanya dalam pembagian sawah misalnya pembagian sawah biasanya hanya diberikan kepada anak laki-laki saja, sementara anak perempuan pada umumnya tidak mendapatkan bagian namun hanya diberi hasil panen oleh saudara-saudaranya yang laki-laki setelah panen. Namun ada juga diantara sebagian masyarakat yang memberikan hak waris pada anak perempuan setengah dari bagian laki-laki atau bahkan lebih kurang.

Sedangkan untuk rumah yang ditemapat tinggal orang tuanya biasanya menjadi bagian hak waris anak yang paling bungsu. Adapun saudaranya yang lain harus membuat rumah sendiri walaupun kadang-kadang dengan bantuan orang tuanya juga.

Barang lain yang biasanya juga menjadi warisan adalah benda-benda pusaka milik keluarga, misalnya keris, tombak (jungkat), cincin dan lainnya serta benda-benda tersebut dipercayai memiliki kekuatan magis, dalam hal pewarisannya juga tidak memiliki peraturan yang tetap dan tergantung dari karakter atau kepribadian dari mereka yang nantinya akan menjadi pewaris benda-benda pusaka tersebut. Tidak menjadi ukuran baik itu anak sulung maupun anak bungsu, yang penting dianggap pantas untuk mewarisinya maka dialah yang akan mewarisi benda pusaka tersebut (wawancara Mamik Karniati, rabu 11 agustus 2010).

  1. Sosial Kemasyarakatan

Tekait dengan sosial kemasyarakatan ini ada beberapa hal yang perlu dibahas yaitu Banjar, Besiru, dan Gotong royong. Untuk lebih jelasnya dibahas satu-persatu dari sistem sosial kemasyarakatan.

1.      Banjar/ Bebanjar

Bebanjar/ banjar ini merupakan perkumpulan kemasyarakatan untuk mengumpulkan beberapa jenis keperluan dalam acara begawe (gawe), baik itu gawe mate (kematian) maupun gawe idup (perkawinan, nyunatan, maupun nyelamatan). Banjar ini di Jerowaru banyak macamnya dan barang yang dikeluarkan juga berbeda tergantung kelompok banjarnya. Karena itu biasanya kelompok banjar dinamakan sesuai dengan jenis barang yang dikeluarkan anggotanya. Misalnya jika kelompok banjar tersebut mengeluarkan kelapa maka banjarnya juga dinamakan banjar nyiur (kelapa). Adapun banjar ini sampai sekarang masih menjadi bagian dari sistem sosial masyarakat yang kemungkinan akan terus dipetahankan karena dampaknya sangat membantu kelompoknya yang sangat membutuhkan.

2.      Besiru

Besiru merupakan salah satu dari kegiatan sosial kemasyarakatan yang saat ini sudah tidak ada lagi dan hanya menjadi kenang-kenangan dalam memori orang tua yang pernah mengalami kegiatan sosial besiru tersebut. Besiru merupakan salah satu cara untuk membantu saudara yang lain hususnya dalam pekerjaan sawah, an hal ini secara bergantian tergantung orang yang pernah ikut beberja di sawahnya. Sebenarnya sistem besiru ini tidak terlalu berbeda praktiknya dengan banjar dan gotong royong, hanya saja yang membedakannya adalah jika dalam banjar yang terlibat adalah jasa dan barang sedangkan dalam besiru hanya tenaga saja.

  1. Gotong Royong

Sebenarnya gotong royong ini tidak terlalu jauh berbeda dengan kegiatan sosial diatas. Selain yang sifatnya kolektif seperti dalam acara selamatan dese maupun acara nede ujan di Bale Bele, gotong royong yang sampai saat ini berkembang dalam masyarakat adalah dalam pembangunan rumah, masjid dan bangunan-bangunan kepentingan bersama. Contoh kecil dalam pembuatan rumah, biasanhya setiap orang yang tahu dan lewat di tempat orang yang sedang membangun tersebut maka dia akan langsung bekerka akan langsung bekerja. Bahkan karena begitu banyak orang yang membantunya bekerja kadang-kadang rumah tersebut sudah berdiri sampai dua hari. Hanya yang menjadi beban bagi pemilik adalah makanan yang harus disediakan bagi orang-orang yang bekerja tersebut (wawancara Mmik Mahrap, senin 2 agustus 2010).

E. Perubahan Sistem Kekerabatan Bangsawan Desa Jerowaru

Perubahan selalu akan terjadi di setiap masyarakat sesuai dengan perkembangan zaman  dimana dia berada. Memasuki abad ke 20 yang dinamakan abad teknologi ini telah mengubah sudut pandang setiap orang yang kebanyakan menjadi indivdualis sehingga banyak dari adat-adat nenek moyang yang sudah  di kembangkan secara kolektif dalam kelompoknya sebagian hanya tingal dalam cerita. Sudah barang tentu juga hal tersebut tidak sesuai dengan zaman dan rasionalitas berfikir.

1. Faktor-Faktor Terjadinya Perubahan

Perubahan terjadi disebabkan oleh banyak factor yang intinya dapat dibagi menyadi dua factor yaitu factor enteren dan exteren. Yang mana keduanya selalu ada dalam setiap perubahan sekaligus setiap perubahan akan selalu membawa dua dampak yang berbeda yaitu dampak fositip dan dampak negatif . begitu juga dengan yang terjadi di Desa Jerowaru yang sebelum 70 an masih megang adat istiadat nenekmoyang khususnya golongan bangsawan disini sudah berubah secara drastic meskipun sebagian masih ada namun hal itu jugak tidak lepas dari modipikasi yang sesuai dengan perkembamgan zaman. Adapun factor yang mempengaruhi perubah tursebut adalah:

a. Factor ekstern

Diantara fakor ekstern yang mempengaruhi pergeseran dalam adat-istiadat bangsawan Desa Jerowaru adalah sebagai berikut:

1. Factor ekonomi

Lalu Haji Muh Satrah (61) dan mamik karniati mengatakan sejak tahun 60 an disaat terjadi keritis ekonomi di Desa Jerowaru akibat kekurangan air dan gagal panen dan ditambah lgi pada tahun 65-66 saat PKI melancarkan serangannya secara nasional, desa Jerowaru juga kena imbasnya secara ekponomi, karna kurangnya stok beras dan bahan makanan lainnya adnya masalah ekonomi di atas juga berpengaruh dalam system perekonomian masyarakat yang walapun panda dasarnya para bangsawan ini memiliki tanah yang cukup luas namun karna mereka kekurangan air seperti yang disebutkan diatas tadi dan kurangnya bantuan pemerintah yang menyemabkan terjadinya gagal panen sehingga mengalami juga seritis ekonomi yang menyebabkan secara ekonomi setatusnya mulai berkurang dan ikut bekrja seperti masyarakat biasa secara umum, mwskipun setelah tahun-tahun tegang tersebut keadaan ekonomi ini biasa diamati (wawancara H. L. Muh Satrah, selasa 12 juli 2010).

  1. Factor pendidikan

Lebih Lanjut Lalu Haji Muh. Satrah Dan Lalu Abd. Hamid terkait denga pendidikan ini mengatakan pada awalnya golongan bangsawan tidak begitu peduli dengan pendidikan ini akan mengeser  satus kebangsawanannya sehingga pendidikan banyak yang menganggapnya secara apriori, dan gengsi serta prestise kebangsawanannya membuatnya tidak sadar akan pentingnya pndidikan ini . sehingga pada kesempatan lain masyarakat bias memeliki pendidikan tinggi serta social akan lebih tinggi dan setatus sosialnya bukan lagi status kebangsawanan menjadi ukuran dari adanya prestise social ini .andai kata pun dari golongan bangsawan banyak mengancam yang banyaak mengancam pendidikan pasti banyak dari adat-istiadatnya yang akan mereka miniamalisir atau modisifikasi sesuai denganperkembangan zamannya. Bukan hanya itu mereka yang akan menjadi social baru yang bukan hanya secara mederen memiliki pendidikan tingi yang menjadi kekas social tersendiri melainkan memiliki setatus tersensiri dengan gelar kebangsawanannya. Namun inilah yang menjadi penghambatnya yaitu adanya perasaan status sosial yang lebih tinggi dari status kebangsawanannya yangtampadisadari adanya orang-orang terdidik di kalangan masyarakat biasa berubah menjadi golongan sosial tersendiri dalam masyarakat. Yang bukan  hanya sangat dihormati sekaligus juga dijadikan sebagai tauladan, terutana orang-orang yang memiliki ilmu agama. perkembangan ilmu pengetahuan ini bukan hanya berdampak pada lahirnya ilmu pengetahuan secara teori, perkembangan teknologi dan informasi  dalam segala bidang membuat pola fikir masyarakat berbeda sehingga para bangsawan ini tidak lagi dianggap gebagai golongan yang tinggi melainkan merupakan seperti masyarakat biasa yang hanya nama dan gelarnya yang berbeda. Sehingga keberadaannya tidak seperti saat sebelumnya sangat begitu di hormati (Lalu Muh. Satrah dan Lalu Abdul Hamid, selasa 12 juli 2010).

b. Fakpor intern

Selain factor ekstern di atas yang menyebabkanterjadinya perubahan dalam status kebangsawanan tresebut terdapat juga fektor intrn atau factor dalam yang berpengaruh terhadap perubahan tersebut. Adapun factor intern ini adalah adanya penghilangan gelardari kebangsawanan karna sudah tidak dianggap relevan lagi dengan zaman. Bahkan seperti dikatakan mamik sekar bahwa saat ini banyak dari golongan bangsawan yang sudah menghilangkan gelar kebangsawanan (wawancara Mamik Sekar, selasa 24 agustus 2010).

2. Bentuk-Bentuk Perubahan Dalam Status Bangsawanan

Perubahan yang dimaksud di sini tidak terlepas dari beberapa item yang sudah di sebutkan diatas seperti system perkawinan, bahasa maupun adat-istiadat, beberapa item yang disebut jadi akan di bahas secara satu persatu terkait dengan sejauh mana perubahannya.

a. Sistem perkawinan

Salah satu dari kesahan adat-istiadat perkawinwn bangsawan tradisional adahal adanya pembuangan (betelah) jika anaknya kawin dengan bukan sesame bangsawan khususnya bagi anak perempuan. Namun hal ini sudah luntir bahkan golongan bangsawan pada tahun 75- 80an masih menerapkannya lama kelamaan semakin tidak kelihatan yang kemudian berubagh menjadi penurunan bangse bagi anak perempuan yang kawin dengan laki-laki dari golongan masyarakat tersebut, adapun penurunan bangse ini suaminya  harus membayar sorong serah sesuai dengan aji krame golongan bangsawan. Hal ini berbanding terbalik apabila laki-laki golongan bangsawan mengambil anak perempuan masyarakat biasa maka aji kramenya sesuaai dengan aji krame masyarakat  biasa tetapi setatus kebangsawanannya tetap, tidak seperti dari masyarakat biasa yang membayar aji krame untuk menurunkan setatus istrinya

b. Bahasa

Bahasa halus dulunya menjadi identitas tersendiri pada golongan bangsawan, tidak terkecuali pada bangsawan Jerowaru. Namun suatu yang kontras terlihat saat ini  jika di Jerowaru, generasi golongan bangsawan ini sudah hampir seperti sikatakan Lalu Abd. hamid tidak ada lagi yang bisa berbahasa halus dengan baik apalagi untuk menjadi bahasa pergaulan sehari-hari. Bahkan bahasa halus ini di Jerowaru bisa dikatakan sudah menjadi bahasa utama yang bukan hanya sebagai tanda dari edintitas kelas sosial, karna banyak dari masyarakat biasa yang menguasai dengan baik bahasa halus ini, bahkan bayak di golongan masyarakat biasa yang mengunakan bahasa halaus walapun secara sederhana. Dalam artian bahasa halus yang digunakan adalah bahasa halus pertangahan sesua dengan kebututuhan percakapan sehari-hari.

c. pergaulan sehari-hari

Mamik Karniati mengatakan bahwa saat ini telah terjadi erosi kebudayaan dan hal ini tidak bias dibantah, karna adat-adat orang tua terdahulu seolah-olah di telan bumi yang diganti dengan modifikasi yang sesuai daangan perkembangan zaman, walapun dengan secara praktik banyak juga adat-istiadat tesebut yang masis berlaku, khusus bagi golongan bangsawan yang dulu sangat di hormati, seperti yang di katakana Mamik Karniati sampai-sampai jarang masyarakat biasa berani bertemu dengan golongan bangsawan karna begitu di hormatinya, begitu juga dengan kebetulan bertemu dijalan harus mengucapkan kata nurge sebagai oenghormatan, yang saat ini sudah tidak ada lagi bahkan dalam pergaulan sehari-harinya tidak ada perbedaan kecuali pada adat-istiadat khusus seperti dalam system perkawinan seperti yang di sebutkan di atas.


PENUTUP 

A.   Kesimpulan

Bangsawan merupakan salah satu tingkatan sosial di Desa Jerowaru dan sudah barang tentu keberadaannya mengindikasikan adanya setratifikasi sosial yang dulunya sangat nyata. Karena perbedaan status sosial antara bangsawan dengan masyarakat biasa maka adat-istiadatnya juga banyak yang berbeda meskipun memiliki juga banyak kesamaan secara  geografis tinggal di spasaial yang sama,namun dalam adat istiadat yang berbeda tersebut berbeda juga pewarisannya secara sistem kekerabatan dari generasi ke generasi.

Mengenai asal usul dari bangsawan desa jerowaru ada yang sering disebut bangsawan asli dan bangsawan pendatang. Adapun yang disebut sebagai bangsawan asli adalah bangsawan yang tinggal di gubuk tembok karena merupakan keturunan dari bangsawan kerajaan pene, sedangkan yang dikatakan bangsawan pendatang adalah bangsawan yang berada di Gubuk Nenek berasal dari beberapa tempat seperti, Kopang, kediri, Pagutan, rempung dan lain-lain.

Sebelum kedatangan bangsawan di Jerowaru terlebih dahulu Jerowaru dihuni oleh seorang yang bernama Datu Dewe Maspanji yang datang dengan rombongannya dari arah selastan Jerowaru tepatnya di Serewe sekarang. Pada hari pertama kedatangannya dia membangun Bale Belek di dua tempat yaitu di Jerowaru dan Senyiur, yang dimulai pada jam 6 pagi sampai jam 6 sore, namun beliau tidak tinggal lama di jerowaru kemudian menghilang dan digantika oleh Pe Belek yang merupakan keturunan dari bangsawan Kerajaan pene serta rombongannya yang saat ini tinggal di gubuk tembok. Pe Belek memiliki anak dua orang yaitu Dewi Ringgit dan Raden Paji, adapun raden panji setelah memiliki keluarga pindah ke pelambik dan tempat tinggalnya sekarang disebut Bale Belek Pelambik yang sekaligus merupakan kerabat deri bangsawan pelambik sekarang selain yang berasal dari Gubuk Nenek. Sedangkan Dewi Ringgit Tetap tinggal di Bale Belek Jerowaru dam memiliki anak 4 oarang yatu Datuk Masjid, Datuk Labang, Datuk Kebon dan Datuk Sabo.

Perkembangan bangsawan di jerowaru menyisakan kenangan sejarah tersendiri karena seperti bangsawan yang lain pernah menerapkan adat istiadat sesuai dengan status sosial kebangsawanannya, baik dari segi bahasa, sistem perkawinan, pembagian hak waris, pergaulan sehari-hari dalam pewarisan ke generasi ke generasi yang memiliki sistem kekerabatan yang sama. Pewarisan budaya dari generasi-kegenerasi memang tidak berjalan mulus bahkan sering terjadi perubahan sesuai dengan perkembangan zaman, salah satu contoh misalnya disaat adat-istiadat bangsawan masih berlaku dikenal istilah beteteh ketika anak bangsawan kawin dengan anak dari masyarakat biasa, dan saat ini karena tidak sesuai dengan zaman yang tinggal hanya penurunan bangse, dalam arti menurunkan status kebangsawanan anak perempuan tersebut menjadi masyarakat biasa. Adapun dari segi bahasa dulunya anak bangsawa diharuskan bisa berbahasa halus namun sekarang sudah tidak lagi, begitu juga dengan adat-istiadat yang lain menunjukkan adanya perubahan yang sangat signifikan.

Secara setratifikasi sosial di Desa Jerowaru terdapat tiga tingkatan secara close social stratification yaitu bangsawan Mamik pada tingkat sosial yang paling atat, disusun Bangsawan Bape pada posisi kedua dan Jajar Karang pada posisi terkhir. Adapun Bangsawan Bape ini di Jerowaru tidak begitu banyak, hanya terdapat di Gubuk Pelambik.

Selain dari status sosial bangsawan memiliki status sosial yang tinggi, dari segi ekonomi dan kepemilikan tanah juga lebih unggul daripada masyarakat biasa. Dalam kepemilikan tanah misalnya bisa dikatakan bangsawan berada dalam urutan teratas, akrena hal ini jug adidukung oleh beberapa hal seperti: 1.peninggalan yang cukup banyak dari orang tuanya, 2. Adanya ketekunan dan keuletan membuka tanah baru, 3. Mengambil tanah orang lain yang tidak di garap dan hanya ditanda saja.

Dalam adat-istiadat antara masyarakat biasa dengan bangsawan terdapat perbedaan yang nantinya inilah yang diwarisi secara turun temurun dalam kekerabatannya. Dalam sistem perkawinan misalnya dalam adat-istiadat bangsawan ada yang dikenal dengan beteteh, selain itu berbeda juga isi dari resepsi adat istiadatnya dalam sebagian prosesi, seperti menggunakan wacan pada saat sorong serah bagi golongan bangsawa. Selain perbedaan dalam sistem perkawinan ini dalam bidang bahasa misalnya sebelum tahun 70-an anak-anak bangsawan diharuskan bisa berbahasa halus. Begitu juga dalam pergalan sehari-hari terdapat tata krama yang harus dipatuhi.

Adapun penyebab mundurnya status bangsawan yang secara umum terlihat sejak tahun 70-an baik dilihat dari status sosial tertutup maupun terbuka dapat di klasifikasikan menjadi dua sebab yaitu sebab internal dan sebab eksternal. Yang pertama adalah penyebab internal misalnya banyak dari bangsawan saat ini yang sudah tidak lagi nyaman dengan gelarnya sebagai Lalu atau Mamik sehingga ada juga yang menghilangkan gelarnya dan menghilangkannya terutama dalam catatan sipil. Sedangkan fator yang kedua yaitu faktor eksternal yaitu pendidikan dan ekonomi. Kedua fakyor ini sangat berpengaruh terhadap penurunan status bangsawan yang pada intinya bisa dikatakan digerus untuk mengikuti perubahan zaman.

Dalam bidang sosial kemasyarakatan di Jerowaru ada juga dikenal dengan Besiru, bebanjar dan gotong royong, hal ini berlaku selain kerabat dekat termasuk juga masyarakat secara umum. Besiru merupakan salah satu dari kebiasaan masyarakat terutama kerabat dekat ataupun tetangga dekat untuk sama-sama bekerja di salah satu sawah warganya, begitu juga sebaliknya jika dia bekerja maka orang yang pernah ditolongnya akan ikut juga bekerja disawahnya. Begitu juga halnya dengan bebanjar dan gotong royong merupakan aktifitas sosial masyarakat secara kolektif.

B. Saran

Adat-istiadat sebagai sarana pendukung dari norma-norma sosial sebagai aturan dalam masyarakat memang harus dilestarikan bahkan dijaga terutama adat-istiadat yang sangat bermanfaat bagi keserasian dalam bermasyarakat, karena seperti yang kita ketahui saat ini sifat individualisti sudah sangat menonjol sekali oleh karena itu penulis mengharapkan di desa Jerowaru akan selalu menjaga norma-norma adat yang baik untuk kehidupan bermasyarakat dan membuang beberapa dari adat-istiadat yang sekiranya kurang bermanfaat, karena adat-istiadat yang baik selain akan dikenal sebagai identitas kelompok yang baik sekaligus akan membentuk masyarakat yang memiliki kesadaran kolektif tinggi disaat individualistis merasuki jiwa-jiwa masyarakat. Oleh karenanya menjaga dan memelihara lokal genius kita adalah memelihara identitas sosial kemasyarakatan kita juga.

DAFTAR PUSTAKA 

Muhammad, Abdulkadir. 2005. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Citra Aditya Bakti, Jakarta.

May, Abdurrahman dkk. 1989. Tata Kelakuan di Lingkungan Pergaulan di Lingkungan Keluarga dan Masyarakat NTB. DEPDIKBUD, Mataram.

Amin, Ahmad dkk. 1978. Adat Istiadat Daerah Nusa Tenggara Barat. DEPDIKBUD.

Kran, Alfonso Van der. 1999. Lombok: Penjajahan dan Keterbelakangnnya. Lengge, Mataram.

Bungin, Burhan. 2008. Penelitian Kuantitatif. Kencana,Jakarta.

Depdikbud. 1983. Geografi Budaya Daerah Nusa Tenggara Barat.

Abdurrahman, Dudung. 1999. Metode Penelitian Sejarah. Logos Wacana Ilmu,Jakarta.

Budiwanti, Erni. 2002. Islam Sasak. LKIS,Yogyakarta.

Sjamsuddin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Ombak,Yogyakarta.

Koentjaraningrat. 1996. Pengantar Antropologi I. Rineka Cipta, Jakarta.

Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Tiara Wacana Yogya,Yogyakarta.

Lukman, Lalu. 2005. Pulau Lombok Dalam Sejarah.

Lexy J. Moleong. 2007. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Remaja Rosdakarya,Bandung.

Muhsipuddin. 2004. Kilas Balik 100 Tahun Pendidikan di Lombok Timur.

Tamburaka, Rustam E.. 2002. Pengantar Ilmu Sejarah. Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat dan IPTEK. Rineka Cipta, Sejarah.

Kartodirdjo, Sartono. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Gramedia,Jakarta.

Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Grafindo Persada,Jakarta.

Salam, Solechin. 1992. Lombok Pulau Perawan. Kuning Mas,Jakarta.

Rajasa, Sutan. 2002. Kamus Ilmiah Populer. Karya Utama,Surabaya.

Widjaya. 1981. Individu, Keluarga dan Masyarakat. Akademika Pressindo,Palembang.


WISATA SEJARAH (Sebuah Prolog Fungsi Sejarah Dalam Pengembangan wisata Sejarah Dan Penggalian Sejarah Lokal di Lombok Timur-NTB)

Standar

WISATA SEJARAH

(Sebuah Prolog Fungsi Sejarah Dalam Pengembangan wisata Sejarah Dan Penggalian Sejarah Lokal di Lombok Timur-NTB)

Lalu Murdi

A.  Prolog

Ketertarikan terhadap segala sesuatu yang ada di luar diri kita sesungguhnya merupakan ketertarikan yang bersifat fitriah. Hanya saja, ketertarikan yang seperti ini tidak muncul dalam kualitas yang selalu sama. Kita bisa mencontohkan bagaimana turis-turis asing datang ke Negara kita dan benar-benar kagum melihat deburan ombek di Pantai Kute, lambaian matahari saat menutup hari di Senggigi, cakaran kuat dan berdiri kokohnya Gunung Rinjani yang menyimpan daya pencar pesona luar biasa, Rumah-rumah adat yang sudah terkikis masa namun masih bermakna, situs-situs kerajaan yang amat terpelihara, tempat-tempat ibadah yang terus di keramatkan, sampai pada julang kokohnya Candi Borobudur yang ada di jawa. Bagi kita hal tersebut adalah suatu hal yang sudah biasa, karena kita sudah mengenalnya dan berbaur di dalamnya, namun akan laih halnya jika melihat menara Eiffel tentu banyak orang yang ingin pergi kesana walau sekedar minum kopi panas di bawahnya. Dan mengapa juga situs-situs sejarah seperti kerajaan dan tempat ibadah menjadi bagian dari objek wisata yang sangat digemari? Ternyata fitrah manusia sangat ingin mengetahui segala apa yang mereka tidak tahu di luar dirinya. Banyak wisatawan domestik dan mancanegara rela mengocek uang sakunya demi hanya untuk melihat Keindahan Gunung Rinjani, dan tidak sedikit Sejarawan dan Budayawan sebagai duta masa lampau menggali sumber-sumber kelampauan untuk di tuliskan supaya orang banyak bisa memahami kelampauan hidup manusia tersebut, karena pada dasarnya kita tidak hanya bertanya kenapa tempat ini indah melainkan ingin mencari latar belakang dan kesejarahannya, tentu hal ini berlaku bagi tempat-tempat khusus seperti makam, tempat ibadah, rumah adat dan lain sebagainya yang merupakan kreasi manusia pada masa dulu untuk menjalankan konsesus sosial bersama.

Menyadari fitrah manusia pada umumnya diatas, tempat pariwisata (baik yang dilakukan oleh orang domestik maupun Mancanegara) pada umumnya di Lombok dan di Lombok Timur pada hususnya jelas sampai saat ini banyak sekali tempat- tempat yang menjadi objek wisata masyarakat (masyarakat Lombok pada umumnya) seperti makam, tempat ibadah, rumah adat, atau juga beberapa kebudayaan yang dikembangkan masyarakat dan dirayakan dalam satu tahun sekali. Namun adakah satu usaha dari pemerintah, lembaga Perguruan Tinggi, atau perseorangan untuk memperhatikan secara cermat hal ini? menurt saya hal ini masih kurang. Memang pernah juga saya membaca beberapa brosur terkait dengan beberapa tempat wisata di Lombok Timur, namun saya kira pengenalan pariwisata seperti itu masih kurang efektif.

Sekali lagi pariwisata (yang bukan tempat pariwisata alamiah) bukan hanya ingin diketahui tempat dan bentuknya melainkan orang menanyakan mengapa. Artinya beberapa tempat wisata yang non alamiah memerlukan usaha dari beberapa pihak untuk memperkenalkan melalui usahanya menjadi duta masa lampau dari tempet pariwisata tersebut, karena walaupun selama ini kita tahu bahwa di setiap tempat wisata tersebut memiliki seorang juru kunci sebagai duta masa lampaunya, namun saya rasa apa yang mereka lakukan untuk menjembatani antara masa lampau tersebut sangtlah minim kalau sedikit lebih mengarah ke dongeng masa lampau. Karena itu disinilah pentingnya orang-orang yang mengerti metodologi sejarah. Orang yang mengerti tentang metodologi sejarah jelas orang yang berkecimpung dalam keilmuan sejarah, baik dosen sejarah maupun mahasiswa sejarah, atau mereka yang memiliki minat yang tinggi pada pengembangan sejarah walaupun tidak pernah mengenyam pendidikan sejarah secara formal.

Pengembangan kesejarahan dengan menggunakan metode sejarah untuk memahami kelampauan dari tempat wisata yang ada di Lombok timur, selain untuk memberikan pemehaman yang ilmiah kepada masyarakat sekaligus akan menjadi pengembangan sejarah local yang sangat penting untuk siswa. Karena bagaimana pun untuk saat ini pengembangan budaya local untuk diperkenalkan pada siswa maupun mahasiswa adalah salah satu yang urgen, sehingga mereka akan bisa membawa dirinya menjadi insan yang mampu berpikir global namun memiliki sopan santun dan tindakan kesehariannya sesuai dengan budaya lokal dimana mereka berada. Karena itu disinilah inti dari pemikiran saya ini yaitu selain pencerahan masyarakat akan kebenaran masa lampau dari sebuah tempat wisata, pengembangan lokal genius untuk pengenbangan di sekolah sekaligus memperkenalkan pariwisata Lombok Timur pada kancah yang lebih luas (melalui satu paket atau lebih).

Dengan mengkaji dan pemaparan yang holistik dari sebuah tempat wisata, terlebih lagi berupa makam, tempat ibadah, rumah adat, atau pun budaya tahunan yang dikembangkan masyarakat dengan pengkajian sejarah dan kekinian saya kira akan memberikan dampak yang sangat berarti bagi perkembangan pariwisata kita di Lombok Timur.

Penulisan kesejarahannya yang benar akan memberikan pencerahan bagi masyarakat yang notabenenya banyak dipengaruhi mistisme, kurangnya perhatian akan lokcal genius oleh pelajar dengan begitu akan bisa menjadi referensi bagi guru yang mengajarkannya, begitu juga akan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas jika mampu di promosikan dengan sebak mungkin.

B.  Pembahasan

Banyaknya pengunjung tempat-tempat wisata yang berupa wisata alam memang merupakan sesuatu yang lumrah, karena orang ingin mencari keindahan, menyegarkan pikiran atau sekedar menikmati angin spoi-spoi di pinggir pantai bersama keluarga atau mingkin pujaan hati bagi pemuda yang baru saja jatuh hati. Pegunungan, Air Terjun, Deburan ombak Pantai Sorga, Bukit indah dan pasir putih di Pantai Tanjung Ringgit dan lain sebagainya merupakan contoh wisata alam yang dikenal luas oleh masyarakat.

Namun apakah tempat-tempat wisata non alamiah seperti makam, situs kerajaan, tempat ibadah, budaya tahunan masyarakat lebih banyak menjadi prioritas masyarakat? Mungkin di Jawa dengan adanya Candi dan bangunan kuno seperti masjid makam, situs kerajaan dan lain sebagainya dikenal luas oleh masyarakat sampai mancanegara hal ini lebih mengarah pada promosi yang dilakukan terutama sekali dengan menggunakan pendekatan pemahaman kelampauan mengenai tempat pariwisata tersebut. Dengan kata lain pengenalan kesejarahan dari beberpa tempat tersebut sangat berarti bagi wisatawan. Berbeda halnya dengan beberapa tempat wisata yang non alamiah di Lombok Timur. Walaupun secara kualitatif tempat tersebut banyak namun promosinya masih sangat sedikit. Jika masyarakat sekitar sendiri tidak mengetahui, lalu bagaimana dengan masyarakat yang ada di luarnya? Ini merupakan suatu hal yang perlu di perhatikan bersama. Karena itu kita tidak heran orang tidak tertarik dengan wisata relijius atau wisata sejarah.

Dalaam artikel pendek ini yang menjadi perhatian saya sekali lagi bukan tempat wisata alami seperti pantai, pegunungan, air terjun, dan lain sebagainya melainkan tempat wisata non alamiah seperti, situs sejarah, makam kuno, tempat ibadah, budaya tahunan yang mencolok dari masyarakat dan lain sebagainya. Karena itu beberapa konsep yang saya buat di bawah ini akan mengarah pada tempat-tempat wisata non alamiah tersebut.

1. Tempat dan Jenis Wisata

Seperti penjelasan diatas, karena beraneka ragamnya tempat wisata non alamiah yang dimaksud maka saya akan mencoba mengklasifikasikannya menurut bentuk, kegunaan dan jenisnya untuk mempermudah penjelasan selanjutnya. Dengan begitu akan lebih mudah untuk menguraikan bagaimana seharusnya beberapa tempat wisata tersebut bisa dikembangkan. Pada artikel singkat ini juga hanya sebagian kecil dari tempat-tempat tersebut yang akan coba saya sebutkan sebagai contoh saja.

a. Situs Kerajaan

Terkait dengan pengembangan pariwisata, dalam hal ini lebih penting untuk kita mengkaji beberapa situs kerajaan yang bukti fisiknya masih ada, walaupun beberapa kerajaan yang tidak meninggalkan bukti fisik tentu perlu juga. Namun terkait dengan pengembangan pariwisata jelas yang ada bukti fisik saja yang menjadi tujuan, sedangkan untuk fungsi pendidikan pengembanagan budaya lokal perlu dikaji lebih mendalam.

Di Lombok Timur salah satu kerajaan yang paling dikenal luas masyarakat adalah Kerajaan Selaparang. Namun sampai saat ini beberapa aspek holistik  terkait dengan hal ini masih sangat suram, tentu hal ini karena beberapa bukti otentik sangat kurang. Karena itu dalam waktu mendatang hal ini perlu dikaji lebih intensif baik oleh pemerintah maupun oleh pemerhati sejarah, terutama sekali perguruan tinggi yang memiliki jurusan sejarah, karena secara langsung hasilnya bisa dinikmati sebagai pengembangan sejarah lokal. Walaupun kesejarahan dari situs ini masih belum memadai namun karena adanya situs yang dapat dikunjungi memang tidak sedikit masyarakat yang datang.

Mungkin dengan pengembangan lebih lanjut untuk mengetahui kelampauan dari kerajaan ini secara pasti sesuai dengan metodologi sejarah, sehingga apa yang akan disampaikan pada masyarakat unum seorang sejarawan sebagai duta masa lampau lebih meyakinkan dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam. Tentu hasilnya dapat dibuat menjadi satu paket dengan tempat dan jenis wisata non alamiah lainnya.

Pengembangan parawisata dengan penjelasan yang dapat dipercaya sera kemampuan memperkenalkan tempat tersebut pada masyarakat banyak adalah suatu hal yang akan menguntungkan. Karena apa gunanya sebuah situs yang notabenenya di lindungi oleh Negara sementara apa yang menjadi kontennya masih kabur. Tidak ada gunanya menjaga rumah rapuh kalau kesejarahannya sangat kabur, atau hanya ceritanya mistis belaka. Jadi dalam hal ini kesadaran kesejarahan sebagai bagian pengembangan wisata sejarah dalam hal ini sangat penting.

Lebih menarik lagi di Lombok Tengah walaupun ada situs kerajaan yang bagus sekali dikembangkan sebagai tempat wisata seperti situs Kerajaan Pejanggik ternyata belum mendapat perhatian yang serius. Padahal jika memang benar diperhatikan, berdasarkan kemashuran namanya sebagai salah satu kerajaan besar yang pernah ada di Lombok seharusnya banyak orang yang berkunjung ke tempat ini, namun nyatanya hal itu berbalik dengan namanya yang terkenal luas.

Salah satu penyebabnya adalah pelestarian situs kerajaan tersebut yang kurang memadai, begitu juga dengan kejelasan sejarahnya masih perlu diteliti lebih lanjut guna pengembangan kesejarahan yang lebih holistik. Sekaligus juga yang perlu disini adalah memperkenalkan pada masyarakat luas akan situs tersebut dengan media yang ada. Ini adalah tanggung jawab bersama baik pemerintah, perguruan tinggi dan lain sebagainya jika ingin mengembangkan lebih lanjut wisata sejarah yang berada di luar tempat wisata non alamiah tersebut.

Ada salah satu hal menarik terkait dengan dokumen sejarah tentang kerajaan Pejanggik. Pada saat kami mengedakan wawancara dengan juru kuncinya, beliau mengatakan bahwa dokumen historis tersebut baru dapat di baca supaya ceritanya dapat dimengerti harus ada prosesi sakral yaitu gawe dengan memotong seekor sapi. Pengkeramatan sumber dokumen historis ini merupakan suatu yang lumrah bagi kerajaan. Namun apakah hal tersebut untuk saat ini masih wajar?

Di Jawa misalnya Serat Surya Raja merupakan naskah berbahasa jawa yang hampir seluruh isinya bercerita tentang perang. Sejak beberapa puluh tahun lalu naskah itu telah menjadi salah satu pusaka keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Karya tradisi ini tidak lagi sekedar karya sastra biasa, melainkan salah satu versinya telah berubah menjadi Kanjeng kyai yang menjadi symbol keagungan kesultanan dan dipercayai hanya dapat “disentuh” oleh Sultan sebagai penguasa tertinggi di keraton. Tidak berbeda dengan cerita di atas walaupun bukan raja yang hanya boleh menyentuhnya namun memerukan syarat ritual husus yang pada intinya di keramatkan. Hal ini pula yang menyebabkan masih banyaknya perjalanan historis suatu kerajaan tersembunyi dengan kekeramatannya. Bukan hanya pada kerajaan banyak juga babat-babat yang sifatnya cerita perorangan yang sampai saat ini dikeramatkan, sehingga orang pada umumnya tidak boleh mengetahui isinya. Semoga saja kedepan beberapa dokumen sebagai salah satu sumber sejarah tersebut bisa dipelajari sehingga umum bisa mengetahuinya, sekaligus pengembangan wisata sejarah pada situs tersebut akan lebih maju.

b. Makam

Pada situs yang diperkirakan sebagai bekas kerajaan Selaparang, saat ini yang menjadi tujuan wisata adalah makam yang ada disana. Makam Tuan Guru M. Zainuddin Abdulmajid di Pancor, Makam TGH. Muh. Mutawalli di Kecamatan Jerowaru, Makam Pangeran Sangopati di Mengkuru, Makam TG. Tretetet di Sakra Pusat dan lain-lain memiliki daya tarik tersendiri untuk dijadikan tempat wisata religius.

Memang untuk beberapa makam seperti yang disebutkan di atas terutama sekali Makam TGH. M. Zainuddin Abdul Majid di Pancor saya rasa tidak perlu kita bahas lagi karena secara nyata sudah merupakan tempat wisata religius bagi masyarakat baik dari sekitar Lombok Sendiri maupun dari luar. Begitu juga halnya dengan Makam yang ada di Selaparang dengan adanya catatan yang penting tentang kesejarahan dari Kerajaan Selaparang walaupun saat ini belum memadai namun intensitas pengunjungnya sudah bisa dikatakan merupakan salah satu tempat wisata religius bagi masyarakat.

Adapun beberapa makam yang disebut belakangan tentu masih memerlukan sentuhan peneliti untuk bisa menghadirkan kesejarahan dari orang tersebut, sehingga paling tidak orang akan merasakan bagaimana kiprah mereka semasa hidupnya, namun karena penelitian mengenai kehidupan mereka masih sangat sedikit mengakibatkan sedikitnya peziarah yang mendatanginya. Dengan penyebaran melalui tulisan utuh tentang kiprah mereka justru orang akan lebih menyadari akan pentingnya orang tersebut dalam kehidupan pada masa lampaunya sehingga paling tidak orang akan merasa lebih resfek dengan keberadaannya.

Walaupun secara materi terkait dengan makam ini tidak akan menghasilkan uang untuk kas daerah karena memang tidak ada pungutan biaya untuk mengunjunginya, terkecuali sumbangan seihlasnya, karena keluarga dari tokoh tersebut yang memiliki wewenang akan makam tersebut. Namun paling tidak pengembangannya melalui tulisan-tulisan biografi dan sejarah akan memberikan kecerdasan pemahaman sejarah akan tokoh yang pernah berkiprah dalam membangun daerahnya.

c. Rumah Adat

Rumah adat masyarakat Bayan sudah tidak diragukan lagi keberadaannya. Karena itu tidak perlu lagi untuk diperkenalkan sebagai warisan dari budaya terdahulu kita, karena keberadaannya sudah demikian terkenal. Lain halnya dengan beberapa rumah adat yang lain seperti yang ada di Senyiur yang dikenal dengan Bale Belek, begitu juga di Jerowaru, merupakan dua contoh rumah adat yang perlu dilestarikan untuk memberikan penjelasan bagaimana keberagaman budaya masyarakat Lombok pada masa lalunya. Dengan menggali kesejarahan rumah adat yang jumlahnya walaupun tidakbegitu banyak namun paling tidak dengan pemahaman sejarah akan di dapatkan bagaimana orang terdahulu bergaul sesama, bagamana mereka menjalankan kehidupannya sehari-hari dan lain sebagainya. Hal ini mungkin sangat penting bagi pengetahuan lokal siswa. Karena selama ini yang menjadi pengetahuan mereka tertuju pada sejarah local yang mengajarkan perkembangan kerajaan.

d. Kebudayaan Masyarakat

Banyak sekali budaya masyarakat di Lombok yang di peringati setiap tahunnya. Di Lombok Timu bagian utara terdapat perayaan hari Rebo Bontong, di Bagian Selatan ada juga peringatan pemujaan atau sekedar pemberian sesaji pada ketobok, di Lombok Tengah tepatnya di kawasan pejanggik terdapat ritual tahunan masyarakat yaitu perang ketupat, dan lain sebagainya.

Apa yang saya sebutkan diatas hanya sbagai contoh saja dari adanya beberapa kebudayaan masyarakat yang di rayakan setiap tahunnya. Dan tentu adanya perayaan tersebut memiliki akar sejarah tersendiri yang sangat perlu untuk diteliti oleh kita semua yang memiliki perhatian besar terhadap kelampauan tersebut.

Beberapa kebudayaan masyarakat yang dirayakan setiap tahunnya itu perlu diperkenalkan dalam satu paket dengan beberapa wisata sejarah yang berupa materi seperti disebut sebelumnya. Karena dengan memperkenalkan beberapa budaya yang tidak bermateri seperti ini merupakan bgian penting bagi masyarakat luar untuk lebih tertarik dengan kebudayaan kita. Jadi kita tidak hanya menjual wisata yang secara materi memang ada pada masyarakat banyak baik yang berada di Nusa Tenggara Barat (NTB) hususnya di Pulau Lombok sendiri, melainkan pada masyarakat Indonesia pada umumnya.

Mengidentifikasi beberapa budaya masyarakat seperti ini dan menerangkannya dengan latar belakang sejarah, perkembangan sejarahnya sampai saat ini merupakan modal dasar untuk memberikan pembelaran pada peserta didik yang selama ini abai terhadap beberapa budaya lokal yang kita miliki. Sehingga ketika siswa belajar tentang budaya maka dapat dialihkan untuk lebih dahulu memahami beberapa budaya lokal yang kita miliki. Dengan begitu mereka tidak hanya mengetahui ritual sute pada masyarakat nan jauh di India sana, namun tahu juga kekayaan budaya sendiri.

e. Kesenian

Tentang kesenian di Lombok Timur hususnya dan di Pulau Lombok pada umumnya (karena cukup sulit untuk mengidentifikasi perbedaan beberapa kesenian dengan kabupaten yang berbeda di Pulau Lombok) banyak sekali. Mulai dari Rudat sampai kecimol, dari wayang sampai peresean, bahkan dari main manuk kumbur sampai main kaleng.

Beragam kesenian masyarakat diatas memang memiliki intensitas tersendiri untuk terus eksis sebagai bagian dari kesenian yang pernah ada sebagai bagian dari kesenian lokal. Peresean contohnya merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Lombok yang sampai saat ini masih terus dilestarikan, bahkan dalam hal ini sering kali pemerintah ikut untuk memberikan bantuan baik berupa dana dan sebagainya. Karena itu peresean ini tidak perlu diragukan lagi sudah dikenal di seantro Indonesia bahkan dunia sebagai bagian dari kesenian lokal pada masyarakat sasak. Bahkan terakhir untuk lebih mempopulerkan kesenian masyarakat ini H. Roma Irama dalam Film terbarunya yang berjudul “Diatas Sajadah Ka’bah” mengambil latar di Pulau Lombok sekaligus memperkenalkan presean ini sebagai bagian dari filmnya yang secara langsung bertujuan untuk memperkenalkan kesenian masyarakat sasak ini.

Namun beberapa kesenian lain semisal rudat saat ini sudah tidak ada lagi. Hal ini tidak lepas dari adanya beberapa hiburan masyarakat yang lebih mengikuti perkembangan zaman semisal kecimol, banyaknya ben-ben lokal, perkembangan hiburan media seperti adanya TV, CD, Komputer dan lain-lainnya sehingga keberadaannya saat ini hampir punah.

Beberapa kesenian masyarakat seperti yang saya sebutkan di atas sebenarnya dalam pengumpulannya sebagai bahan pustaka untuk mengenal beberapa kesenian lokal di Lombok Timur dan di Pulau Lombok pada umunya masih sangat langka. Apa lagi jika ada tulisan utuh yang mampu memperkenalkan beberapa kesenian tersebut dalam satu peket dengan beberapa wisata sejarah seperti disebutkan di atas. Keberadaan kesenian masyarakat ini saya rasa akan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar jika mampu diperkenalkan melalui tulisan utuh dengan disandingkan dengan beberapa wisata sebelumnya. Karena itu penelitian kearah itu perlu dilakukan, mulai dari latar sosial yang melatarinya, budaya masyarakatnya dan lain sebagainya, yang pada intinya selain membahas keberadaannya saat ini sekaligus juga menggali kelampauan (sejarah) dari beberapa kesenian masyarakat tersebut, sehingga ketika orang sudah mendapatkan gambaran yang holistik mengenai kesenian masyarakat Suku Sasak ini.

Begitu juga kegunaanya untuk pendidikan sejarah dan budaya local. Dengan adanya hasil penelitian ini siswa akan lebih jauh dapat memahami beberapa kesenian lokal yang mereka miliki. Sehingga paling tidak diharapkan mereka akan mampu memahami dan mengidentifikasi budaya local tersebut, dan warisan kesenian yang ada sampai hari ini merupakan proses sejarah yang terus menerus.

2. Fungsi Pengembangan Wisata Bagi Kalangan Umum

Ketertarikan akan sesuatu yang tidak melekat pada diri kita adalah sesuatu yang sangat fitrah pada diri manusia. Begitu juga ketertarikan akan latar belakang dari sesuatu budaya, phenomena dan segala perangkat sosial lainnya adalah bagian dari kesadaran manusia yang akan terus menerus untuk mereka pertanyakan sehingga muncul Sejawrawan sebagai duta masa lalu, Antropolog sebagai penolongnya dan Arkeolog sebagai bagian dari pekerjanya untuk memahami masyarakat yang ada sebelum mengenal tulisan.

Terkait dengan pengembangan wisata sejarah tentu kita tidak lepas dari pembicaraan detail sejarah dari jenis dan macam wisata sejarah yang kita ingin perkenalkan kepada masyarakat luas tersebut. Keberadaan seorang Sejarawan untuk memperkenalkan kelampauan dari wisata sejarah ini adalah suatau yang memang seharusnya dilakukan. Karena itu fungsi seorang Sejarawan, Mahasiswa Sejarah, Dosen Sejarah, atau peminat sejarah memiliki arti yang sangat penting untuk membantu memperkenalkan beberapa wisata sejarah seperti yang sudah kita bahas sebelumnya.

Pada akhirnya kita berharap dari adanya pengembangan penulisan sejarah dari adanya wisata sejarah tersebut akan berdampak pada pengenalan kebudayaan kita di Lombok Timur pada hususnya dan masyarakat Sasak pada umumnya pada masyarakat kita sendiri maupun pada masyarakat luar. Supaya paling tidak dengan upaya ini akan lebih menerik orang luar untuk mengetahui beberapa aspek dari kebudayaan masyarakat Sasak ini.

3. Fungsi Pengembangan Wisata Bagi Peserta Didik

Sejarah telah mengajarkan kita tentang apapun dalam hidup ini, mulai dari pasar ikan jaman Majapahit, pelecehan seksual, bangkit dan runtuhnya sebuah kerajaan, dalam sejarah kita diajarkan kebaikan, dalam sejarah pula bertengger kisah-kisah menjijikkan bahkan menakutkan, didalamnya norma-norma sosial yang baik diterapkan, didalamnya juga manusia buas digambarkan. Pada intinya seperti dikatakan almarhum Prof. Dr. Kuntowidjoyo, apapun bentuk peristiwa masalalu tersebut, sejarah akan menginforormasikan kepada kita.

Manusia bergerak dalam waktu yang sangat panjang, lahir musnah tumbuh berganti, menciptakan budaya-budaya baru yang kadang-kadang baik secara kolektif maupun pribadi, ataupun kadang-kadang menyengsarakan kebebasan individu. Namun yang jelas budaya-budaya yang tercipta dari sentuhan tangan-tangan dingin atau mungkin juga panas mengharuskan kita yang hidup pada saat ini, bukan  hanya untuk menghakiminya sebagai budaya-budaya tradisional yang kurang rasional, namun justru kita harus belajar  menggalinya sebagi sebuah pembelajaran bagi hidup yang serba aneh ini.

Berbicara mengenai kebudayaan (dalam arti luas) sudah jelas kita diajak untuk mengusik kembali budaya-budaya nenek moyang kita yang justru berakar dari ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Lalu apa untungnya kita mengemas kembali budaya-budaya nenekmoyang kita tersebut? Sudah jelas jawaban saya sebagi salah seorang yang sedikit tidak sudah terasuk dengan proses hidup manusia dibumi ini (sejarah) akan mengamini apa yang dikatakan oleh Prof. Dr. Nurcholis Madjid, M.A, yaitu mengambil hakikat hidup yang baik dari masa lalu tersebut. Sejalan dengan itu sudah barang tentu hal tersebut sesuai dengan agama kita yang sangat luhur yaitu agama islam yang sangat menginginkan adanya nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi.

Terlepas dari keberadaan agama yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi justru kita harus menggalinya pada praktik hidup sehari-hari dalam masyarakat yang bahkan sudah membudaya.

Sudah merupakan pengetahuan umum jika moderenisasi dalam segala bidang sudah menghembus pada masyarakat desa-desa sekalipun, sehingga terjadi arus globalisasi dalam segala bidang pula yang tidak bisa terhindarkan, karenanya dalam keadaan dunia yang sudah menggelobal ini kita sebagai bagian dari mahluk bumi yang hidup di abad nuklir ini dituntut untuk berpikir global. Yang harus kita garis bawahi adalah berpikir global, artinya kita tidak harus berprilaku global. Disinilah seperti yang dikatakan Nursid Sumaatmaja harus adanya tekanan dalam berperinsip yaitu think globally and act locally.

Berdasarkan pandangan diatas jelaslah bahwa disaat-saat dunia disatukan dengan media yang seolah-olah tanpa batas ini, kecendrungan budaya-budaya barat bagaikan meniup kapas di banyak negara bahkan kadang-kadang menggerus jauh budaya-budaya nasional bahkan budaya lokal, sehingga nyaris banyak kebajikan-kebajikan nenek moyang kita yang seharusnya masih menjadi tolak ukur kita dalam bertingkah laku sedikit-demi sedikit mulai berkurang. Sehingga pada akhirnya nanti kita bukan berpikir global berkelakuan lokal, malahan kita hanya sekedar buih yang tidak memiliki jati diri.

Menyadari pentingnya budaya lokal atau lokal genius ini maka sudah selayaknya kita menggalakkannya dalam berbagai bidang, yang pada akhirnya selain bermanfaat untuk menunjukkan jati diri dari sebuah bangsa, suku, sampai unit terkecil lainnya melainkan sekaligus akan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang luar.

Menyadari adanya proses global atau sering disebut globalisasi yang ditandai dengan adanya persaingan yang semakin tajam, padatnya informasi, dan keterbukaan telah membawa setiap bangsa untuk terus berkembang dan berinteraksi dengan bangsa lain. Pada dasarnya memang kita harus terbuka dengan dunia luar, tapi kita harus tetap kokoh dengan akar budaya bangsa kita. karena arus global bukan hanya membawa arus positif, sebaliknya globalisasi juga bisa menjadi ancaman terhadap budaya bangsa. Salah satu penyebabnya sudah tentu dalam hal ini adalah rendahnya tingkat pendidikan sehingga dengan cepatnya masyarakat terseret oleh arus globalisasi dengan menghilangkan identitas diri atau bangsa.

Setidaknya dari sedikit penjelasan diatas saya ingin mengulangi salah satu kalimat diatas yaitu think globally and act locally itulah pesan tersurat yang ingin saya sampaikan pada bagian pendahuluan ini. Salah satu jalan untuk megomunikasikannya tidak lain adalah melalui dunia pendidikan. Karenanya tujuan sebenarnya dari apa yang saya tulis ini tidak lain adalah bagaimana menjembatani karakter budaya bangsa atau paling tidak budaya lokal dalam dunia pendidikan. Sehingga akan tumbuh siswa-siswa yang selain berpikir global sekaligus menjiwai nilai luhur bangsa dan kearifan-kearifan lokal bangsanya.

Kembali pada pembicaraan awal bahwa apapun bentuk dari masyarakat atau paling tidak budaya masyarakat tersebut, sejarah akan memberitahukan kita maka jelaslah bahwa untuk menggali budaya bangsa, atau paling tidak budaya lokal tersebut kita harus menghadirkannya melelui pengkajian sejarah atau dalam istilah yang lebih dikenal dalam dunia ilmiah yaitu mengkaji sejarah budaya dengan menggunakan wisata sejarah.

C.  Epilog

Satu hal yang sangat perlu sekali lagi adalah adanya usaha untuk mengembangkan wisata sejarah yang ada di daerah kita Lombok Timur ini untuk lebih merangsang minat masyarakat pada umumnya baik yang ada di Pulau Lombok sendiri maupun masyarakat luar dan pengembangan pendidikan sejarah dan budaya lokal sebagai bagian dari upaya pencerdasan masyarakat secara keseluruhan akan beberapa asfek sejarah dan budaya daerah yang mereka miliki, dan bagi orang luar akan lebih memahami beberapa asfek dari sejarah dan kebudayaan masyarakat Sasak ini.

Pada intinya yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini adalah ajakan untuk pemerhai sejarah supaya beberapa wisata sejarah yang meupakan bagian dari budaya masyarakat Sasak pada umumnya baik berupa budaya materil maupun non materil dapat diperkenalkan dengan menggunakan perangkat wisata budaya dengan memperkenalkannya melalui satu paket utuh berdasarkan hasil penelitian ilmiah. Hasil penelitan yang sudah dijadikan menjadi buku utuh ini selain dipergunakan untuk memperkenalkan wisata sejarah yang ada di Lombok timur bagi masyarakat umum sekaligus juga akan bermanfaat bagi perkenalan budaya lokal melalui wisata sejarah bagi siswa sekolah maupun mahasiswa.