KAUSALITAS DAN SEJARAH SEBAGAI ILMU

Standar

KAUSALITAS DAN SEJARAH SEBAGAI ILMU

Oleh

Lalu Murdi

Dalam sebuah seminar seorang Profesor Sosiologi mengatakan bahwa dalam membangun keilmuan terdapat empat pilar pokok yang harus ada di dalamnya, meskipun dalam filsafat ada dua. Keempat pilar keilmuan tersebut yaitu penomena, konsep, generalisasi dan teori. Adapun tugas keilmuan adalah mencari sebab dan akibat dari penomena sosial tersebut (atau dikenal dengan hukum kausalitas). Dengan mencari kausalitas dari sebuah penomena sosial yang menjadi kajian kita maka kita akan mengetahui makna dibalik makna, sehingga yang kita dapatkan bukan hanya mengetahui bahwa pacar kita suka warna pink, namun apa yang menyebabkan sang pujaan hati  suka dengan warna tersebut.

Karena kita akan mencari makna dibalik makna yang tersembunyi, maka strategi analisis data (bukan metode analisis data) yang digunakan dalam hal ini bisa berupa strategi analisis data kualitatif-verifikatif dan strategi grounded research, atau mungkin pula bisa menggunakan strategi analisis data deskriptif-kualitatif yang sekedar menggambarkan penomena. Namun proses terakhir cendrung untuk hanya pengungkapan penomena tentang pertanyaan apakah, dimana, dan kapan.

Ketiga proses analisis data di atas sudah pasti yang dapat memberikan makna di balik penomena yang tampak adalah proses analisis yang pertama dan dan proses analisis yang kedua, sedangkan proses analisis yang ketiga hanya dapat memberikan gambaran. Sementara “saya kembali melanjutkan kata professor tadi” bahwa jika pertanyaan apakah yang ingin di jawab maka kita bermain pada ranah pengetahuan. Sedangkan pertanyaan kemengapaan baru kita bermain pada ranah keilmuan.

Lebih lanjut sang profesor mengatakan bahwa yang masih menggunakan pertanyaan apakah adalah Sejarah dan Bahasa sehingga keduanya bukan bertujuan untuk mengembangkan keilmuan, jadi keduanya juga bukan ilmu melainkan seni, berbeda dengan sosiologi, antopologi, ekonomi dan lain-lain yang bertujuan untk mengembangkan keilmuan, sehingga rumpun kajian tersebut adalah ilmu dan bukan hanya pengetahuan. Jadi kesimpulan sang profesor yang mungkin tidak pernah membaca metodologi sejarah atau perkembangan metodologi sejarah bahwa sejarah adalah pengetahuan atau seni bukan ilmu untuk membangun keilmuan.

Setelah mendengar secara langsung pernyataan sang professor tadi, saya kembali teringat dengan beberapa buku yang pernah saya abaca yang berkaitan dengan sejarah sebagai ilmu dan rivalitas sejarah dan bidang studi sosiologi yang tidak pernah akur padahal merupakan bidang studi serumpun yang sangat bertetangga dekat. Bagaimana rivalitas dan saling ketidak pengertian antara sosiolog dan Sejarwan dapat kit abaca pada bukunya Peter Burke yang berjudul Sejarah dan Teori Sosial. Saling tuduh yang berlebihan dapat kita simak pada pernyataan Sejarawan yang mengatakat bahwa “sosiologi adalah ilmu icak-icak yang mempersulit orang untuk memahami realitas sosial yang sudah jelas”. Sedangkan Sosiolog menyambutnya dengan menuduh Sejarawan hanya sebagai seorang kolektor bangunan yang belum tentu bahan yang mereka sediakan akan terpakai oleh seorang Sosiolog.

Terkait dengan hukum sebab akibat yang harus ada dalam ilmu sosial tersebut sehingga baru dikatakan sebuah ilmu, dan mengatakan sejarah bukan ilmu melainkan seni perlu kita diskusikan, walaupun tempat yang saya sediakan ini sangat singkat. Karena apa yang saya tulis ini merupakan jawaban saya terhadap tuduhan bahwa sejarah bukan ilmu, tentu dengan alasan yang sebisa mungkin saya akan jelaskan menurut paradigm keilmuan saya.

Dalam ilmu alam hukum sebab akibat ini memang sudah jelas adanya, hal ini sama dengan generalisasi dalam ilmu alam tersebut. Misalnya jika besi dipanaskan maka akibatnya akan meleleh dan semua besi yang di panaskan akan meleleh. Hal ini bukan saja penerangan adanya generalisasi dalam ilmu alam namun secara tidak langsung sebab akibat yang di timbulkan. Sedangkan dalam ilmu sosial, sudah barang tentu penomena sosial yang sama di tempat yang berbeda tidak akan menghasilkan akibat yang sama. Jadi hubungan sebab akibat dalam ilmu sisial bukan berupa sebab akibat mutlak melainkan sebab akibat yang berintaeraksi, malahan tidak jelas mana sebab dan mana akibat yang ditimbulkan. Lalu sebab akibat seperti apakan yang dicari pada ilmu sosial?

Beberapa hal tentang pencarian sebab dari sebuah penomena sosial sebagai jawaban dari pertanyaan kemengapaan yang merupakan tingkatan pertanyaan bahwa kita sedang bermain dalam ranah keilmuan memang tidak menjadi masalah. Namun yang menjadi permasalahan bagi saya adalah pernyataan bahwa sejarah bukan ilmu sehingga tidak akan dapat membangun keilmuan. Pada kesemmpatan ini saya tidak akan membahas mengenai kenapa sejarah dikatakan sebagai ilmu dan bilamana sejarah dikatakan seni. Namun yang menjadi titik perhatian saya berkisar pada ranah kemengapaan dalam ilmu sejarah.

Terkait dengan sejarah sebagai ilmu untuk sementara yang lebih jelas yang saya pernah baca terkait dengan kenapa sejarah berupa ilmu yang mampu membangun keilmuan yang sekaligus memiliki filsafat dapat di baca pada bukunya Prof. Dr. Kuntowijoyo yang berjudul “Pengantar Ilmu Sosial” Selain itu dapat juga di baca pada bukunya Prof. Dr. Sartono KartodirdjoPendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah”, Prof. Dr. Taufik Abdullah dan Abdurrachman SurjomihardjoIlmu Sejarah dan Historiografi” serta Pengatar Ilmu Sosial oleh Prof. Dr. Dadang Supardan, M.Pd. dan lain-lain.

Prof. Dr. H. M. Burhan Bungin, S.Sos., M.Si. dalam bukunya ‘Penelitian Kualitatif’ mengatakan bahwa hubungan kausalitas dalam phenomena sosial sifatnya asosiatif seperti yang saya katakana di atas. Artinya bahwa kadang tidak diketahui mana sebab dan mana akibat, karena variabel dalam melihat penomena sosial dengan menggunakan penelitian kualitatif bersifat interaktif (lihat pada bukunya Prof. Dr. Sugiyono).

Berhubung dengan pernyataan profesor sosiologi yang saya maksud di atas mengenai pernyataan kemengapaan sebagai dasar keimuan untuk menggambarkan hubungan kausalitas (dalam pengertian ilmu sosial) sebagai dasar keilmuan dan untuk membangun ilmu, dan hal tersebut tidak ada dalam sejarah sehingga bukan merupakan ilmu untuk membangun keilmuan, menurut hemat saya dan sejauh pemahaman saya dari mencarian keilmuan yang saya geluti terutama dengan membaca buku beberapa pakar sejarah maka saya dengan berani mengatakan apa yang dikatakan sang profesor adalah salah besar dan tidak berdasar, atau mungkin pernyataan itu merupakan kelanjutan ketidak senangan seorang sosiolog terhadap Ilmu Sejarah yang pada masa perdebatan sengit tersebut sudah mapan. Apakah ini bentuk rivalitas yang muncul lagi, atau sekedar embrio saling ketidak pengertian antara beberapa bidang kajian ilmu yang seolah tanpa batas, dimana dunia sosial yang dikaji sangat terbuka namun sangat membingungkan.

Jika pertanyaan kemengapaan menjadi dasar dari suatu bidang kajian dikatakan sebuah ilmu yang membangun keilmuan, mungkin jauh sebelum sang profesor ini mengatakan hal tersebut seorang Sejarawan terkemuka Indonesia Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo berteriak mengatakan bahwa yang dicari oleh seorang Sejarawan bukan hanya untuk menjawab pertanyaan siapa, apa, kapan, dimana, namun yang menjadi prioritas seorang sejarawan adalah mencari kemengapaan dari peristiwa tersebut. Artinya apa, jauh-jauh hari dalam pengkajian sejarah juga sangat pemperhatikan kemengapaan untuk memperjelas sebab akibat untuk memahami penomena sosial tersebut. Jadi dari hal ini saja kita dapat mengatakan bahwa pernyataan tersebut keliru dan perlu untuk di koreksi, dan belum lagi kita mencari dan menunjukkan beberapa ciri-ciri sejarah sebagai Ilmu yang dapat membangun Keilmuan. Jadi apa yang menjadi permasalahan di atas masih berupa kulit luarnya saja diantara beberapa ciri sejarah sebagai ilmu.

Lebih jauh saya ingin mengatakan bahwa apa yang menjadi persoalan kajian Ilmu Sejarah bukan hanya sebatas mencari sebab dan akibat dari penomena dalam satu temporal melainkan lebih dari itu Ilmu Sejarah mengkaji efek selanjutnya dari beberapa kausaltias (dalam arti sosial) yang pernah terjadi. Jika ilmu sosiologi mengkaji penomena sosial sebatas kausalitas pada satu temporal, maka kajian Ilmu Sejarah terutama dengan pendekatannya yang lebih baru menunjukkan bahwa apa yang dikaji bukan hanya persoalan sebab akibat dalam rentetan waktu melainkan beberapa kausalitas pada satu temporal, beranjak pada kausalitas temporal yang lainnya secara kronologis dan pada akhirnya beberapa kausalitas yang muncul sebelumnya akan memberikan satu efek sosial yang sangat perlu uuntuk di kaji.

Contoh, ketika kita ingin mengkaji lahirnya pemerintahan Orde Baru, dalam Ilmu Sejarah kita akan diajak terlebih  memahami baberapa masalah yang ada pada saat sebelumnya pada satu temporal yang berbeda. Misalny pada tahun 1948 terjadi pemberontakan PKI di Madiun yang dilatarbelakangi oleh beberapa hal yang mengakibatkan keantisipasian masyarakat terutama organisasi Islam terhadap organisasi ini (jelas dalam hal ini dalam ilmu sisial mana sebab dan akibat tidak jelas, karena PKI melakukan pemberontakan ada sebabnya, dan pemberontakan PKI juga menjadi sebab kewaspadaan dan dendam sosial). Begitu juga setelah dekrit Presiden 5 Juli 1955 melahirkan kekuasaan mutlak Presiden Soekarno yang diakibatkan oleh tidak berjalannya secara epektif konstituante, yang sekaligus melahirkan ketidaksenangan sebagian masyarakat atas tindakan Sukarno ini, termasuh salah satunya Drs. Muh. Hatta, yang dengan terang-terangan mengatakan konsep Sukarno tidak akan melebihi umurnya, dan ternyata hal ini benar adanya. Pada puncaknya pada tanggal 30 September muncullah apa yang dikenal dengan peristiwa G-30-S/PKI oleh masyarakat umum dan oleh beberapa ahli sejarah ditulis dengan G30S saja (dapat dibaca pada bukunya Asvi Warman Adam yang berjudul ‘Membongkar Manipulasi Sejarah’ dan ‘Menguak Misteri Sejarah’). Baberapa permasalahan ini secara singkat dapat dikatakan menyebabkan kelahirannya kelahiran Orde Baru dengan beberapa varian kausalitas yang melekat di dalamnya baik berdasarkan kausaltias pada temporal yang sama dalam kronologi maupun kausalitas yang diakibatkan oleh urutan kronologis itu sendiri yang bermuara pada peristiwa G30S dan munculnya Orde Baru.

Contoh diatas hanya sebagian kecil dari bagaimana penerapa hal yang secara langsung mengkaji tentang kemengapaan dan kausalitas dalam Ilmu Sejarah. Belum lagi kita mencoba untuk mengkaji tentang kebudayaan, kehidupan siosial masyarakat dan lain sebagainya yang bukan hanya menunjukkan penerapan kausalitas sosial di dalamnya melainkan makna dibalik apa yang tampak dari apa yang dikaji secara kronologis tersebut. Dalam hal ini bisa kita lihat pada bukunya Prof. Dr. Kuntowijoyo (Sejarawan UGM) “Budaya dan Masyarakat”. Begitu juga dalam Ilmu Sejarah dengan mengambil bagaimana memaknai penomena sosial dengan etik dan emik. Sehingga terlepas dari pro dan kontra seorang antropolog mengatakan bahwa anropologi adalah sejarah.

Sebagai bahan renungan tentang kebenaran ilmiah sebagai dasar pembangun ilmu sehingga dikatakan bidang studi tersebut merupakan ilmu atau bukan sebenarnya masih banyak terjadi perbedaan pendapat diantara beberapa hali. Goldstein (Dadang Supardan, 2011) menatakan bahwa:

In facat, the term scientific method is misleading. It may suggest thet there is a precisely formulated set of procedures that is followed will lead automatically to scientific discoveries. There is no much “scientific metod” in thet sesse at all, and one of the important things we want to covery in this book is the intuitive aand unpredictable way scientists actually work.

‘Sesungguhnya, istilah ilmiah adalah menyesatkan. Mungkin hal itu mengusulkan bahwa ada sesuatu yang dirumuskan dalam prosedur, jika diikuti akan menuntun secara otomatis ke penemuan ilmiah. Tidak ada satu “metode ilmiah” seperti itu dalam perasaan semuanya, dan salah satu dari berbagai hal penting yang kita ingin sampaikan dalam buku ini adalah cara ilmuan yang tidak dapat diramalkan dan yang benar-benar bekerja intuitif.

Karena itu sesungguhnya dari sanggahan tersebut mengingatkan kita untuk tidak tergesa-gesa memutlakkan keampuhan satu metode ilmiah atau satu pendekatan ilmiah baru dikatakan yang merupakan dasar pembangun ilmu. Sebab kata Kaplan (Dadang S, 2011)  bahwa yang penting bukanlah menetapkan satu garis yang tegas antara apa yang disebut ilmiah dan tidak ilmiah, melainkan bagaimana kita memanfaatkan setiap peluang dalam arti pendekatan, metode, dan teknik untuk mengembangkan ilmu itu. Oleh karenanya apa yang disebut sebagai metode ilmiah mencakup teknik, metode dan strategi riset yang digunakan para ilmuan untuk mencari dan sampai pada sesuatu ataupun penemuan kebenaran ilmiah, sejauh hal itu dapat dipertanggungjawabkan secara empiris.

Perlu kita sadari juga dari tujuan ilmu yang bukan hanya mencari sebab akibat sebagai pemutlakan keilmiahan baru dikatakan sebagai ilmu yang satu-satunya dikatakan pondasi dasar pembengun ilmu. Karena berdasarkan tujuan ilmu tersebt dapat dikelompokkan menjadi empat macam seperti dikatakan Sheldon G. Levy (Dadang S, 2011):

Science has there primary goals. The first is to be able to understand what is observed in the world. The second is to be able to predict the event and relationship of the real world. The thid is to control aspect of the real world. dan lebih lanjut Kerlinger mengatakan “The basic aim of science is theory”.

Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa tujuan daripada ilmu adalah untuk memahami, memperediksi dan mengatur berbagai aspek kejadian di dunia, disamping untuk menemukan atau mempormulasikan teori.

Jadi jelas bahwa sejarah adalah ilmu. Bukan seni atau filsafat, melainkan sebuah Ilmu yang bermain pada ranah keilmuan dan mampu melahirkan ilmu. Dan terakhir sebelum saya menutup tulisan yang jauh dari ilmiah ini, karena ditulis oleh orang yang baru mengetahui setitik ilmu tentang sejarah jelas apa yang saya tulis tidak luput dari kekeliruan yang mesti kita saling mengisi guna memperkuat keilmuan dan menambah wawasan kita tentang ilmu ini, terutama tentang Ilmu Sejarah.

Allah telah menciptakan kita sebagai manusia yang tidak sempurna, karena itu kesalahan dan kehilafan tentu tetap bersarang dalam diri kita, karena itu seorang profesor pun tidak akan luput dari kesalahan tersebut. Saya bangga dengan salah seorang dosen saya Prof. Dr. Hj. Rabihatun Idris, M.Si yang mengatakan bahwa dalam hal keilmuan yang berbeda saya mungkin tidak tahu dan anda mungkin yang pernah membacanya terlebih dahulu sehingga kalian terlebih dahulu tahu tentang hal tersebut. Dengan begitu sambung beliau tidak ada alasan untuk kita merasa sombong di muka bumi ini. Karena itu tinggal kita pilih predikat kita termasuk orang yang mana?

Orang yang tahu di tahunya

Orang yang tahu di tidaktahunya

Orang yang tidak tahu di tahunya, atau

Orang yang tidak tahu di tidaktahunya.

Makassar, Kamis malam

28 – 03 – 2012

LALU MURDI

Daftar Bacaan

-          Abdullah, Taufik & Abdurrachman Surjomihardjo. 1985. Ilmu Sejarah dan Historiografi. Jakarta: Gramedia

-          Adam, Asvi Warman. 2009. Membongkar Manipulasi Sejarah. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

-          Adam, Asvi Warman. 2010. Menguak Misteri Sejarah. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

-          Bungin, Burhan. 2008. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana.

-          Kartodirdjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia.

-          Kuntowijoyo. 1999. Budaya & Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

-          Kuntowijoyo. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang.

-          Moleong, J. Lexy. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

-          Soedjatmoko, Ali Muhammad (ed). 1995. Historiografi Indonesia: sebuah pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

-          Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung. Alfabeta.

-          Suriasumantri , Jujun. 2003. Filsafat Ilmu: sebuah pengantar popular. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

-          Supardan Dadang. 2011. Pengantar Ilmu Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s